Share

Selamat Tinggal, Mimpi Lama
Selamat Tinggal, Mimpi Lama
Penulis: Silas

Bab 1

Penulis: Silas
Tenggorokanku tercekat, sementara tanganku yang memegang ponsel gemetar tanpa henti.

Bagaimana mungkin?

Aku sudah mengenal Olivia lebih dari sepuluh tahun. Dia orang yang terus terang dan apa adanya.

Orang yang paling tidak dia sukai justru Joel. Menurutnya, pria itu hanya pandai menjaga citra dan tidak pernah benar-benar memperlakukanku dengan baik.

Karena itulah, setiap kali mereka bertemu, ujung-ujungnya selalu bertengkar.

Bahkan gara-gara Joel pernah menjelek-jelekkan Olivia, hubunganku dengan Joel nyaris kandas beberapa kali.

Lamunanku buyar oleh suara gadis kecil dari seberang telepon.

"Tante, Tante belum kasih tahu aku, kapan Papa akan pulang buat nemanin aku di Hari Anak?"

Sambil menahan nyeri yang mencengkeram dada, aku bertanya selembut mungkin, "Nak, sekarang umurmu berapa?"

"Enam tahun!"

Enam tahun ....

Kalau semua ini benar, berarti saat ini juga Olivia sedang mengandungnya.

Brak!

Ponselku terlepas dan jatuh ke lantai. Bulu kudukku seketika berdiri.

Baru kemarin kami pergi berbelanja, dan ukuran baju Olivia berubah dari M menjadi L.

Aku bahkan sempat menggodanya karena mengira dia mulai bertambah gemuk, sama sekali tidak menyadari kepanikan yang sempat melintas di wajahnya.

Tidak mungkin. Ini mustahil.

"Nak …."

Baru saja hendak bertanya lebih jauh, terdengar suara seorang pria dari seberang telepon.

"Nadya, lagi bicara sama siapa?"

Suara itu begitu familier. Suara pria yang telah tidur di sisiku selama empat tahun terakhir.

Nadya ....

Itu nama yang baru kupilih dua hari lalu.

Malam itu, aku memergoki Joel sedang membolak-balik kamus.

Katanya, dia sedang mencarikan nama untuk anak kami kelak.

Aku menggodanya. Kami bahkan belum menikah, kenapa sudah sibuk memikirkan nama anak?

Dia hanya menunduk sambil tersenyum, lalu berkata, "Nggak usah terburu-buru."

Tidak usah terburu-buru...

Rupanya karena anak itu memang bukan anak kami.

"Tante, aku sudah simpan nomor Tante. Nanti kita ngobrol lagi, ya."

"Sekarang aku mau rayain Hari Anak dulu!"

Sambungan telepon pun terputus. Aku segera menghentikan taksi dan pergi ke rumah sakit.

Saat melewati meja perawat, kulihat Joel berdiri di lorong ruang rawat.

Kemarin kami sempat bertengkar, lalu Olivia membelaku.

Mereka kembali berkelahi hingga akhirnya sama-sama masuk rumah sakit.

Asisten Joel bahkan mengatakan bahwa semalam dia sudah terbang ke Kota Nala.

Begitu Joel masuk ke ruang rawat, aku diam-diam menghampiri pintunya.

Dari balik pintu, kulihat Joel sedang memeluk Olivia dengan penuh kasih sayang.

"Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Olivia. Demi menjaga kandunganmu, kamu bahkan harus ikut bersandiwara begini. Begitu aku berhasil dapatin proyek baru dari keluarga Winata, aku akan putus dengan Fiona. Setelah itu, kamu dan anak kita akan kujaga seperti harta paling berharga."

Aku berdiri terpaku di luar pintu. Kuku jariku sampai menancap ke telapak tangan sendiri saat aku berusaha mati-matian menahan air mata.

Olivia menghela napas pelan.

"Aku juga nggak mau semuanya jadi begini. Tapi Fiona sahabatku sejak kecil. Aku nggak mau dia terluka. Bukannya belakangan ini kamu baru kenalan sama beberapa bos besar? Nanti kenalin saja beberapa di antaranya sama Fiona. Anggap saja itu sebagai ganti rugi kita untuk dia."

Tenggorokanku rasanya seperti disayat ribuan serpihan kaca. Sakit, sampai aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Padahal para bos besar yang baru dikenal Joel belakangan ini tak ada satu pun yang usianya di bawah lima puluh tahun.

Bahkan ada yang sudah tiga kali bercerai.

Aku berbalik menuju tangga darurat sambil menghapus air mata, lalu menghubungi Ayah.

"Ayah, batalin semua proyek Grup Winata yang rencananya akan dikasih ke Grup Gutama."

"Soal ngambil alih kantor cabang di luar negeri ... aku berubah pikiran. Minggu depan aku yang akan berangkat."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 9

    Begitu keluar dari bandara, Joel langsung menuju kantorku.Dia menunggu hingga malam. Saat aku dan Dennis keluar dari gedung perusahaan, barulah akhirnya dia melihat kami.Kami masih berjalan berdampingan sambil tertawa dan berdebat soal rencana kerja hari itu.Begitu melewati pintu keluar, langkah Dennis tiba-tiba terhenti.Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat sosok yang begitu kukenal.Joel berdiri di bawah lampu jalan, menatapku tanpa berkedip.Refleks aku hendak berbalik ke arah lain. Namun Joel berlari menghampiri, bahkan nyaris tertabrak mobil yang melintas.Dia mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga terasa nyeri."Joel! Apa sebenarnya maumu?""Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku pergi? Aku sudah pergi. Lalu sekarang kenapa kamu malah datang nyari aku?"Matanya merah karena kelelahan. Tatapannya dipenuhi kepanikan.Dia buru-buru menggeleng. "Fiona, jangan begini. Aku tahu aku salah.""Pulanglah sama aku. Aku janji semua ini nggak akan terulang lagi. Olivia

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 8

    Joel terdiam selama beberapa detik, seolah sengaja menungguku bertanya lebih banyak.Entah sejak kapan, dia mulai merindukan suaraku.Hanya mendengarnya sebentar saja sudah membuat hatinya merasa lebih tenang."Fiona, jangan marah lagi, ya. Cepat pulang.""Sekarang aku benar-benar butuh kamu."Aku hanya tertawa sinis. Di matanya, rupanya aku tak lebih dari seseorang yang bisa dipanggil kapan pun dia mau.Begitu dia merasa membutuhkan, aku harus selalu ada di sisinya.Keheninganku malah disalahartikan oleh Joel. Dengan suara yang jarang sekali selembut itu, dia kembali berkata, "Fiona, setelah semua ini selesai, aku akan menebus semuanya. Soal foto pernikahan yang dulu kamu inginkan, mau konsep tradisional ataupun gaya Barat, terserah kamu.""Atau kita ...."Aku sudah muak mendengarnya dan langsung menyela."Sudah cukup, Joel.""Kamu terlalu merasa dirimu penting. Memang, dulu aku pernah mencintaimu sepenuh hati selama bertahun-tahun. Tapi sejak tahu kamu mengkhianatiku, semuanya sudah

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 7

    Menyadari Olivia sedang marah, Joel menghela napas panjang.Dia meraih Olivia ke dalam pelukannya dan memeluknya erat."Sudahlah, jangan bicara begitu hanya karena emosi. Kamu 'kan tahu, orang yang paling aku cinta tetap kamu. Fiona cuma sedang ngambek. Tunggu dua hari lagi, begitu amarahnya reda, dia pasti pulang. Aku tinggal minta maaf dan mengalah sedikit. Dia pasti akan dengan senang hati ngasih aku proyek yang lebih besar."….Setibanya di di Kota Losanya, aku beristirahat selama dua hari.Setelah itu, aku langsung mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor cabang.Orang yang ikut berangkat bersamaku adalah Dennis Saputra, putra tunggal Pak Fredy, Presiden Direktur Grup Saputra.Ayah bilang, begitu Pak Fredy mendengar aku akan dikirim ke luar negeri untuk menimba pengalaman,beliau langsung memutuskan mengirim Dennis agar ikut ditempa.Yang masih membuatku heran, Keluarga Saputra memiliki begitu banyak perusahaan sendiri. Kenapa justru dia dikirim berlatih di perusahaan mi

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 6

    Langkah Joel langsung terhenti.Dengan wajah tak percaya, dia menatap Ayah yang berdiri di atas panggung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.Dari berbagai penjuru ruangan terdengar tawa-tawa kecil yang menyakitkan, cukup jelas hingga menusuk telinganya.Perwakilan Grup Saputra berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya hingga dia terdorong ke samping.Tatapan pria itu penuh ejekan."Maaf ya, Pak Joel. Kesempatan kali ini jatuh ke tangan kami.""Proyek sebesar ini memang bukan perkara mudah. Mungkin Pak Andre khawatir Anda yang terbiasa hidup nyaman belum sanggup menanganinya."Selama ini Joel selalu diperlakukan bak tamu kehormatan. Penghinaan di depan banyak orang itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.Dia terpaku di tempat, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.Begitu melihat kedua pihak hendak menandatangani kontrak dan membubuhkan stempel, dia langsung menerobos ke depan seperti kehilangan akal."Jangan! Kontrak itu nggak boleh ditandatanga

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 5

    Tak lama setelah aku pergi, Joel membuka kembali pintu rumah.Olivia keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang baru selesai dicuci.Gerak-geriknya begitu santai, seolah rumah itu memang sudah lama menjadi miliknya."Lagi lihat apa?"Joel menoleh ke arah luar, tetapi aku sudah tak terlihat lagi.Entah mengapa, hatinya mendadak diliputi kegelisahan."Nggak ... cuma buang sampah."Olivia duduk di sofa lalu langsung membongkar kebohongannya."Tempat sampahnya masih penuh.""Joel, kalau kamu benar-benar cinta sama Fiona, aku akan gugurkan kandungan ini. Jangan pakai sandiwara murahan begini untuk mempermainkan kami berdua."Joel menghela napas, lalu berjongkok di atas karpet.Tangannya mengusap lembut perut Olivia sambil membujuknya dengan suara pelan."Olivia, jangan ngomong begitu. Nanti bayinya kaget.""Sudah kubilang, perusahaan sangat butuh proyek dari Grup Winata. Aku cuma khawatir Fiona pulang dalam keadaan marah lalu dia minta ayahnya batalin semuanya."Joel menunduk dan m

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 4

    Setelah semua barang selesai kukemas dan kukirim, seluruh tenagaku seolah ikut terkuras. Aku terduduk lemas di sofa.Aku mengirim beberapa pesan kepada Nadya, tetapi tak satu pun dibalas.Baru menjelang sore, dia meneleponku lewat panggilan video.Begitu kuangkat, pemandangan di layar terasa begitu familier.Dia berada di kantor Ayah, tempat aku tumbuh besar.Ibu meninggal saat aku masih kecil. Sejak itu Ayah tak pernah menikah lagi dan membesarkanku seorang diri.Karena tak ingin aku kesepian di rumah, ke mana pun pergi Ayah selalu membawaku."Nadya, kenapa kamu ada di Grup Winata?"Nadya menoleh ke sekeliling, lalu mengamati ruangan itu."Tante ngomong apa, sih? Ini kantor Papa, kok.""Sekarang ini perusahaan Papa. Grup Winata sudah lama nggak ada."Dadaku seolah ditusuk ribuan jarum hingga terasa sesak."Nadya, kamu anak pintar, 'kan? Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"Mendengar pujian itu, dia langsung bercerita tanpa curiga."Tahu dong. Papa pernah cerita semuanya. Kakek dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status