Share

Memanggil Ayah

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-06-20 20:49:13

"Paduka, hentikan itu!"

​Ralph mengerutkan dahi, sepasang alis tebalnya bertaut menatap reaksi defensif yang ditunjukkan wanita di hadapannya.

​"Bahkan kita belum memulainya," sahut Ralph rendah, suaranya tenang namun getaran kekuasaan di dalamnya tak bisa disembunyikan.

​"Maksudku, bualan barusan! Itu mustahil! Sangat mustahil!"

Meghan memundurkan langkahnya, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang mendadak menghantam.

Menjadi Ratu? Menikahinya? Skenario gila apa lagi yang sedang pri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
bakso mercon
ini apa coba? konyol sekali ini alur .SGT jelas di paksakan oleh penulis.rasanya mulai sayang KLO ngasih komentar.sumpah ngak banget.konyol dan mengada ada .stop deh..mulai ngak respect,terlalu merendahkan harga diri cewek.sebagai pembaca,merasa rendah baca novel ini.benar2 hancur JD cewek!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tidurlah

    Ekspresi Petter mendadak pias. Pegangannya pada belati di leher Meghan melebar sedetik karena syok dan rasa hancur yang teramat sangat. Menyarani bahwa adiknya telah dieksekusi di menara Alistair tanpa ampun, seluruh pertahanan psikologis Petter runtuh seketika. Pria itu lemas, kehilangan kekuatannya untuk mengancam lebih jauh. Belati di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai marmer sebelum berguling menjauh.​Ralph tidak menyia-nyiakan celah itu. Dengan satu gerakan kilat yang terukur, ia melangkah maju. Tangan kanannya menyentak Meghan ke belakang tubuhnya, mengamankan wanita itu dalam satu dekapan protektif yang begitu erat hingga rusuk Meghan terasa sesak. Bersamaan dengan itu, ujung sepatu bot baja Ralph menghantam dada Petter, membuat pria yang hancur itu terjerembap ke belakang.​Petter ambruk berlutut, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di atas lantai marmer yang mulai terasa panas karena api menjalar dari koridor luar. Air matanya pecah, bercampur dengan de

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tunduk Atau

    Cengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.​Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph.​"Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.​Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah.​"Kau pi

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Usus Adikmu

    Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tawaran

    ​Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.​Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan.​"Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.​Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya.​"Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik.​"Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meratakan

    Vespara.​Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.​Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.​Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.​Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Siapa Adikmu?

    "Tidak akan ada perbincangan nyaman di sebuah ranjang."Meghan menatap Petter tanpa secercah pun ketakutan di matanya. Sepasang manik matanya yang tajam mengunci pandangan pria itu, mengirimkan sinyal penolakan yang begitu mutlak. Ia tidak bergerak mundur setidapun, meski jarak di antara wajah mereka kini begitu dekat hingga ia bisa membaui aroma tembakau dari napas Petter.Satu hal yang tidak dipahami Petter. Meghan telah ditempa oleh kegilaan seorang tiran seperti Ralph. Ancaman atau godaan dari pria lain seperti Petter tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan baginya.Petter tertegun sejenak, senyum jenakanya membeku di sudut bibir. Ketegaran wanita di hadapannya ini sama sekali tidak sinkron dengan statusnya sebagai seorang tawanan yang tak berdaya. Bukannya menangis atau memohon belas kasihan, Meghan justru menatapnya seolah Petter-lah yang berada di posisi bawah angin.Sedetik, dua detik, keheningan mencekam menyelimuti ruang batu itu.Hingga akhirnya, Petter perl

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Gagah

    "Kau menyukai kejutan dariku?"Itu Ralph yang baru datang. Langkah kaki tegapnya terdengar begitu tenang saat memasuki kamar, seolah-olah hantaman kenyataan yang baru saja menghancurkan hati Meghan tidak lebih dari sekadar lelucon pagi hari baginya.Meghan memalingkan wajahnya, enggan menatap sepas

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Lady Beatrice

    "Ibu Ratu, tidak pantas menyambutku dengan masalah seperti ini," ucap Ralph, nadanya mendatar namun sanggup membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya merinding. Pangeran itu melangkah satu tapak ke depan, menegaskan dominasi jubah kebesaran yang tersampir di bahunya.Permaisuri Elara mendeng

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pasukanmu?

    Piringan besi gantung raksasa yang menampung puluhan lilin lemak menyala di langit-langit aula utama Kastel Burgundy, menumpahkan cahaya kekuningan yang bergetar tertiup angin malam. Asap tipis dari sumbu lilin dan obor dinding yang berkobar menciptakan bayangan-bayangan kelam yang menari di dindi

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Barang Bawaan

    Roda kereta akhirnya berhenti berputar saat mereka memasuki pelataran agung Kastel Burgundy. Kemegahan arsitektur batu putih yang menjulang tinggi, dihiasi panji-panji biru safir yang berkibar diterpa angin siang, menyambut kedatangan sang pangeran.Sesuai perintah mutlak Ralph, Meghan melangkah tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status