Share

Lady Beatrice

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-06-03 20:17:08

"Ibu Ratu, tidak pantas menyambutku dengan masalah seperti ini," ucap Ralph, nadanya mendatar namun sanggup membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya merinding.

Pangeran itu melangkah satu tapak ke depan, menegaskan dominasi jubah kebesaran yang tersampir di bahunya.

Permaisuri Elara mendengus kaku, melipat tangan di dada dengan keangkuhan yang tak mau goyah.

"Dan seharusnya kau menyingkirkan sumber masalahnya, Putraku Ralph."

Ralph mengangguk lambat. Sepasang mata elangnya melirik seki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Menerkam

    Hening untuk beberapa lama. Tidak ada lagi suara bot berat yang menggilas salju, tidak ada lagi teriakan bariton yang menggema marah. Meghan mengembuskan napas lega yang panjang, uap putih terakhir keluar dari bibirnya yang kaku. Di dalam rongga akar yang membekukan itu, ia berpikir bahwa mungkin Ralph sudah menyerah dan memilih pulang ke istananya yang nyaman dan hangat. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Meghan merangkak keluar dari persembunyiannya. Tubuhnya menggigil hebat saat ia berhasil berdiri tegak di atas hamparan putih. Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik. Seketika, darahnya terasa berhenti mengalir. Tepat di depannya, terpisah jarak kurang dari lima meter, ada tiga ekor serigala hutan berbulu abu-abu pekat yang langsung mengunci tatapan mereka padanya. Mata binatang-binatang itu berkilat lapar, lidah mereka menjulur meneteskan air liur yang langsung membeku jadi es di udara. Meghan menelan ludah dengan susah payah. Rasa takut yang baru bergejolak, melump

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Menguji Kesabaran

    Sesuai dugaannya, Ralph tidak menemukan Meghan di kamarnya. Wanita itu tidak pernah sudi menjadi tontonan penurut, terutama setelah apa yang terjadi di panggung eksekusi fajar tadi. Seorang pelayan tua tertunduk sopan di belakang tubuh tegap sang Raja, jemarinya bertautan gemetar karena takut menjadi sasaran amarah baru. "Nona Meghan menolak bertemu Yang Mulia," lapor pelayan itu dengan suara yang nyaris berbisik. Ralph berdecih pelan, rahangnya mengetat. Pemberontakan kecil Meghan selalu berhasil menguji batas kesabarannya, namun di saat yang sama, ia tahu wanita itu sedang hancur. "Ke mana larinya dia?" "Hutan arah selatan, Yang Mulia. Beberapa penjaga melihat Nona berjalan ke sana sendirian." Hutan selatan adalah wilayah berburu yang liar, penuh dengan pepohonan pinus yang rapat dan jurang-jurang es tersembunyi, terlebih di tengah musim dingin yang pekat seperti sekarang. Berada di sana tanpa jubah tebal sama saja dengan menyerahkan diri pada kematian. Ralph menghela na

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pengkhianatan Tingkat Tinggi

    "Berhenti mendebatku, Meghan!" Bentakan Ralph menggelegar, menggetarkan dinding-dinding batu paviliun selir yang mendadak terasa begitu sempit. Napas pria itu memburu, rahangnya mengeras karena amarah yang hampir meledak. Namun, Meghan tidak berniat mundur selangkah pun. Rasa ngeri, muak, dan kemarahan yang telah lama ia pendam kini pecah menjadi keberanian yang nekat. "Kenapa kau mengambil selir jika untuk dipenggal?!" jerit Meghan, air matanya mendesak keluar bukan karena rapuh, melainkan karena rasa frustrasi yang teramat sangat. Meghan maju, memukul dada bidang Ralph berulang kali dengan kedua tangannya. Ia tidak peduli jika tindakan ini bisa membuat kepalanya sendiri melayang. Ia hanya ingin menghancurkan dinding batu tak berotak yang ada di dalam dada pria itu. BUGH! BUGH! Ralph mendengus kasar, lalu dengan satu sentakan dominan, ia mencengkeram pergelangan tangan Meghan dan mendorong wanita itu mundur hingga terjerembap di atas ranjang. "Kelak kau akan tahu alasannya

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Leher Terpenggal

    Dini hari yang sunyi itu seketika pecah ketika Meghan merasakan sebuah beban berat yang dingin mendadak menindih tubuhnya. Napasnya tercekat saat aroma anyir darah dan besi langsung menyerbu indra penciumannya, merusak kehangatan selimut bulu di kamar selirnya.Meghan membuka mata dengan terengah, mendapati sepasang mata elang Ralph sedang menatapnya tajam dalam keremangan."Paduka!" seru Meghan, suaranya parau karena terkejut."Hm," sahut Ralph rendah, gumaman baritonnya terdengar begitu lelah namun tetap sarat akan dominasi.Saat kesadaran Meghan terkumpul sepenuhnya, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah pendaran tipis sisa lilin dinding, ia bisa melihat dengan jelas bahwa wajah tampan Ralph penuh dengan bercak dan percikan darah yang mulai mengering."Apakah kau terluka?" tanya Meghan panik. Rasa cemas yang spontan itu membuat Meghan langsung bangkit dari posisi berbaringnya, memaksa Ralph unt

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Mengandung

    Gemerlap perjamuan makan malam pertama untuk merayakan penobatan Raja Ralph tidak mampu menghalau hawa dingin yang berembus dari luar dinding The Great Hall. Di bawah langit malam musim dingin yang pekat, aula itu dipenuhi oleh gelak tawa palsu para bangsawan dan denting cawan perak yang saling beradu. Di atas panggung tinggi, Ralph duduk di takhta emasnya dengan mahkota rubi yang berkilau angkuh, didampingi Elanor yang anggun sebagai Permaisuri baru. Namun, di sudut bawah aula yang remang-remang, suasananya jauh berbeda. Meghan duduk dengan anggun dalam balutan gaun sutra mewahnya, sementara beberapa meter di sampingnya, Beatrice bersimpuh di atas lantai batu. Jurang perbedaan kasta yang sengaja diciptakan Ralph di antara kedua selirnya itu terpampang nyata malam ini. Pertunjukan musik baru saja dimulai ketika sebuah suara debuman halus memecah konsentrasi Meghan. Ia menoleh dan mendapati tubuh Beatrice su

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ralph Alistair

    "Karung badai menghantam lambung kapal di teluk Utara, Paduka. Puing-puing lambung emas lambang kerajaan ditemukan terdampar di pesisir berbatu pagi ini. Tidak ada satu pun yang selamat. Raja dan Permaisuri ... telah tiada." Laporan dari panglima armada laut itu jatuh seperti hantaman palu godam, seketika membekukan udara di dalam Aula Agung kastel. Kastel dalam sekejap berubah menjadi lautan hitam. Bendera kerajaan diturunkan setengah tiang, digantikan oleh pataka berkabung yang berkibar lesu ditiup angin dingin musim dingin. Di dalam aula yang beberapa minggu lalu dipenuhi gelak tawa pernikahan, kini hanya ada keheningan yang mencekik. Ralph berdiri kaku di depan takhta kosong ayahnya, jubah kebesarannya telah berganti menjadi beludru hitam pekat tanpa hiasan. Di sampingnya, Tuan Muda Carl—sang adik—tertunduk dalam-dalam dengan bahu yang bergetar hebat, meremas lambang keluarga di dadanya, berusaha menaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status