Share

Kadaluarsa

Penulis: Ivorybeige
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 20:56:59

Dua bulan telah berlalu sejak malam di mana semua aturan di kamar ini ditulis ulang.

Dua bulan sejak Meghan kembali menduduki posisinya sebagai selir kesayangan Ralph, dan ia tidak lagi segan menampakkan rona bahagia di wajahnya. Langkah kakinya di sepanjang koridor istana kini terasa lebih ringan, dagunya terangkat, dan senyum tipis hampir selalu menghiasi bibirnya yang ranum.

Meghan tahu benar, ada banyak pasang mata di bagian-bagian terdalam istana ini yang menatapnya dengan benci. Mereka, p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tidurlah

    Ekspresi Petter mendadak pias. Pegangannya pada belati di leher Meghan melebar sedetik karena syok dan rasa hancur yang teramat sangat. Menyarani bahwa adiknya telah dieksekusi di menara Alistair tanpa ampun, seluruh pertahanan psikologis Petter runtuh seketika. Pria itu lemas, kehilangan kekuatannya untuk mengancam lebih jauh. Belati di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai marmer sebelum berguling menjauh.​Ralph tidak menyia-nyiakan celah itu. Dengan satu gerakan kilat yang terukur, ia melangkah maju. Tangan kanannya menyentak Meghan ke belakang tubuhnya, mengamankan wanita itu dalam satu dekapan protektif yang begitu erat hingga rusuk Meghan terasa sesak. Bersamaan dengan itu, ujung sepatu bot baja Ralph menghantam dada Petter, membuat pria yang hancur itu terjerembap ke belakang.​Petter ambruk berlutut, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di atas lantai marmer yang mulai terasa panas karena api menjalar dari koridor luar. Air matanya pecah, bercampur dengan de

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tunduk Atau

    Cengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.​Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph.​"Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.​Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah.​"Kau pi

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Usus Adikmu

    Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tawaran

    ​Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.​Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan.​"Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.​Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya.​"Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik.​"Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meratakan

    Vespara.​Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.​Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.​Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.​Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Siapa Adikmu?

    "Tidak akan ada perbincangan nyaman di sebuah ranjang."Meghan menatap Petter tanpa secercah pun ketakutan di matanya. Sepasang manik matanya yang tajam mengunci pandangan pria itu, mengirimkan sinyal penolakan yang begitu mutlak. Ia tidak bergerak mundur setidapun, meski jarak di antara wajah mereka kini begitu dekat hingga ia bisa membaui aroma tembakau dari napas Petter.Satu hal yang tidak dipahami Petter. Meghan telah ditempa oleh kegilaan seorang tiran seperti Ralph. Ancaman atau godaan dari pria lain seperti Petter tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan baginya.Petter tertegun sejenak, senyum jenakanya membeku di sudut bibir. Ketegaran wanita di hadapannya ini sama sekali tidak sinkron dengan statusnya sebagai seorang tawanan yang tak berdaya. Bukannya menangis atau memohon belas kasihan, Meghan justru menatapnya seolah Petter-lah yang berada di posisi bawah angin.Sedetik, dua detik, keheningan mencekam menyelimuti ruang batu itu.Hingga akhirnya, Petter perl

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Nama Putri

    Ralph, putraku." Suara Permaisuri memecah kebisingan, tenang namun menuntut perhatian seluruh meja. "Negeri ini sudah terlalu lama menunggu seorang calon ratu. Kastel ini membutuhkan pewaris dengan darah yang murni, bukan sekadar ... hiburan sementara."Cahaya dari ratusan lilin yang tergantung d

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pelarian

    Meghan terbangun saat fajar belum sepenuhnya pecah. Tubuhnya terasa remuk, dan setiap inci kulitnya seolah masih merasakan bekas cengkeraman Ralph.Tanpa suara, ia mengenakan pakaiannya yang sederhana. Menutupi lehernya yang penuh tanda kemerahan dengan syal rajut tua, dan menyelinap keluar menuju

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   21+

    Ralph melempar kemeja linennya ke lantai batu, membiarkan tubuhnya yang penuh bekas luka terlihat di bawah cahaya obor yang berderak. Ia menarik Meghan dengan satu sentakan kasar hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang yang dingin."Kau masih gemetar," desis Ralph. Ia merangkak naik ke atas ran

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ralph VS Vane

    Sore itu, Meghan melarikan diri sejenak ke tepi danau di bagian paling belakang kompleks istana, tempat di mana bayangan pepohonan willow menyembunyikan sosoknya dari menara pengawas. Di pangkuannya terdapat piring kecil berisi potongan pie apel yang masih hangat. Campuran susu dan kayu manisnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status