Compartilhar

Mulai Angkuh

Autor: Ivorybeige
last update Data de publicação: 2026-05-23 15:37:01

Lonceng menara berdentang dua belas kali.

Suaranya berat menembus kabut malam yang pekat. Meghan duduk diam di tepi ranjang besar itu, masih mengenakan gaun beludru gelapnya yang kaku.

Ia tidak pergi ke hutan. Ia tidak menemui Vane.

Ada sesuatu yang lebih tajam dari rasa takut yang menahannya di sana. Mungkin harga diri yang terluka, atau keinginan untuk melihat seberapa jauh Ralph akan menghancurkannya.

Pintu kamar terbanting terbuka, menghantam dinding batu dengan dentuman yang memekakkan t
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Nama Putri

    Ralph, putraku." Suara Permaisuri memecah kebisingan, tenang namun menuntut perhatian seluruh meja. "Negeri ini sudah terlalu lama menunggu seorang calon ratu. Kastel ini membutuhkan pewaris dengan darah yang murni, bukan sekadar ... hiburan sementara."Cahaya dari ratusan lilin yang tergantung di kandil besi raksasa aula utama terasa menyilaukan mata. Namun, suasana di meja perjamuan itu justru terasa sedingin es bagi Meghan. Sebagai selir, posisinya bukanlah di atas kursi berukir yang sejajar dengan para bangsawan, melainkan di sebuah kursi kayu rendah tanpa sandaran yang diletakkan di samping kaki Ralph. Ia duduk di sana, praktis berada di bawah bayangan tubuh pria itu, sebuah pengingat visual akan statusnya yang hanya sekadar pelengkap kenyamanan sang Pangeran Mahkota.Suara denting piala perak dan tawa para Duke memenuhi ruangan, tapi telinga Meghan hanya terfokus pada suara tajam dan berwibawa di depannya. Permaisuri Elara, ibu Ralph, duduk tegak di ujung meja dengan mahkota

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Mulai Angkuh

    Lonceng menara berdentang dua belas kali.Suaranya berat menembus kabut malam yang pekat. Meghan duduk diam di tepi ranjang besar itu, masih mengenakan gaun beludru gelapnya yang kaku. Ia tidak pergi ke hutan. Ia tidak menemui Vane. Ada sesuatu yang lebih tajam dari rasa takut yang menahannya di sana. Mungkin harga diri yang terluka, atau keinginan untuk melihat seberapa jauh Ralph akan menghancurkannya.Pintu kamar terbanting terbuka, menghantam dinding batu dengan dentuman yang memekakkan telinga.Ralph masuk dengan langkah sempoyongan. Bau anggur merah yang tajam dan aroma asap medan perang menguar dari tubuhnya, menenggelamkan wangi mawar yang Meghan siapkan. Jubahnya terseret di lantai, dan mahkota kecilnya sudah entah berada di mana.Ia berhenti di tengah ruangan, matanya yang merah dan sayu karena mabuk berusaha memfokuskan pandangan pada sosok Meghan yang duduk tegak."Kau ...." Ralph mendesis, tawanya terdengar serak dan parau. "Kau masih di sini. Kupikir kau akan meringk

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pelarian

    Meghan terbangun saat fajar belum sepenuhnya pecah. Tubuhnya terasa remuk, dan setiap inci kulitnya seolah masih merasakan bekas cengkeraman Ralph.Tanpa suara, ia mengenakan pakaiannya yang sederhana. Menutupi lehernya yang penuh tanda kemerahan dengan syal rajut tua, dan menyelinap keluar menuju paviliun belakang. Ia butuh udara yang tidak berbau asap obor dan keringat pria itu.Di dekat sumur batu tua yang tertutup lumut, ia melihat sesosok pria yang masih mengenakan baju zirah ringannya. Kapten Vane sedang membersihkan pedangnya dengan kain kasar. Namun, gerakannya terhenti saat ia mendengar langkah kaki yang menyeret di atas kerikil.Vane berbalik. Matanya yang tajam segera menangkap wajah pucat Meghan dan cara wanita itu berjalan yang sedikit kaku."Kau bangun terlalu pagi, Nona." Suara Vane rendah, penuh dengan nada yang sulit diartikan.Meghan terhenti, tangannya refleks merapatkan syal di lehernya. "Aku hanya ingin mencari udara segar, Tuan."Vane meletakkan pedangnya di

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   21+

    Ralph melempar kemeja linennya ke lantai batu, membiarkan tubuhnya yang penuh bekas luka terlihat di bawah cahaya obor yang berderak. Ia menarik Meghan dengan satu sentakan kasar hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang yang dingin."Kau masih gemetar," desis Ralph. Ia merangkak naik ke atas ranjang, menghimpit Meghan hingga punggung wanita itu menyentuh bantal beludru. "Apa bau mawar ini hanya untuk menutupi kemarahanmu, Meghan?"Meghan memalingkan wajah, menolak menatap mata pria yang baru saja menghina usahanya. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta, Tuan. Aku sudah mandi, aku sudah membuang pie itu. Apa lagi yang kau inginkan?"Ralph mencengkeram rahang Meghan, memaksanya untuk kembali menatapnya. Jemarinya menekan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit pucat Meghan. "Kau milikku. Setiap jengkal kulitmu, setiap napasmu, dan setiap aroma yang kau pakai harus sesuai dengan kehendakku.""Kau sangat angkuh, Tuan," bisik Meghan, suaranya bergetar antara amarah dan rasa tak

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ralph VS Vane

    Sore itu, Meghan melarikan diri sejenak ke tepi danau di bagian paling belakang kompleks istana, tempat di mana bayangan pepohonan willow menyembunyikan sosoknya dari menara pengawas. Di pangkuannya terdapat piring kecil berisi potongan pie apel yang masih hangat. Campuran susu dan kayu manisnya terasa manis di lidah. Satu-satunya hal yang terasa benar-benar miliknya hari itu. Ia baru saja hendak menyuapkan potongan terakhir saat sebuah bayangan panjang jatuh menimpa rumput di depannya. Meghan tersentak, tangannya refleks meremas pinggiran piring. Namun, saat ia mendongak, bukan tatapan dingin Ralph yang ia temukan. Melainkan wajah Kapten Vane yang tampak sedikit canggung dengan seragam militernya. "Aku tidak bermaksud mengejutkanmu, Nona," ucap Vane pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara riak air danau. "Tapi aroma pie itu bisa tercium sampai ke pos penjagaan di balik bukit." Meghan menurunkan piringnya, mencoba mengatur napasnya yang sempat memburu. "Kapten Vane. Anda

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Flashback

    Matahari sore itu masih terasa hangat, menyinari jalanan setapak di area belakang istana yang jarang dilewati orang-orang penting. Meghan berjalan dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari biasanya, jemarinya mencengkeram erat anyaman keranjang kayu yang berisi penuh apel-apel merah ranum yang baru saja ia petik.Pikirannya sedang dipenuhi resep sederhana yang ia rindukan. Pie apel dengan campuran susu yang kental dan manis. Ia membayangkan aroma kayu manis yang menguar dari dapur kecil di paviliunnya, sebuah pelarian singkat dari kenyataan hidupnya yang menyesakkan.Namun, lamunannya buyar dalam sekejap.Dari arah tikungan koridor batu, sesosok pria berseragam militer muncul dengan langkah yang sangat terburu-buru. Pria itu tampaknya sedang mematangkan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari keberadaan Meghan di depannya.BRAK!Benturan itu tidak terhindarkan. Bahu tegap pria itu menghantam Meghan cukup keras hingga wanita itu terhuyung mundur. Keranjang di tangannya terlepa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status