Share

Sekolah Selir

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-04-30 19:47:01

Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung.

Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.

"Mohon maaf, Nona Valerius. Perpustakaan ini hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga inti dan para murid istana," ucap pelayan itu dengan nada datar yang terkesan merendahkan.

Meghan terdiam, tangannya yang menggenggam koin emas di balik saku gaunnya mengeras.

"Aku adalah milik Pangeran Mahkota. Namanya ada di kulitku. Apakah itu tidak cukup sebagai izin?"

"Status selir memberi Anda hak atas kemewahan, tapi bukan atas pengetahuan rahasia kerajaan," balas si pelayan tanpa emosi.

"Namun, jangan berkecil hati. Pangeran Mahkota telah mengatur jadwal Anda. Sebagai selir baru, Anda wajib menghadiri Schola Gratiae, Sekolah Keanggunan."

Meghan tidak punya pilihan selain mengikuti arah telunjuk pelayan itu. Ia dibawa menuju sebuah sayap bangunan yang tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk aula utama.

Harapannya untuk mencari celah hukum di perpustakaan pupus, digantikan oleh rasa penasaran yang getir saat ia memasuki sebuah ruangan luas yang harum dengan aroma melati dan dupa mahal.

Di sana, beberapa wanita muda dengan pakaian sutra tipis sedang duduk bersimpuh. Di depan mereka, seorang wanita tua dengan tatapan mata tajam, mereka menyebutnya Instruktur, berdiri dengan sebilah rotan kecil di tangannya.

"Selamat datang, Nona Meghan! Di sini, Anda akan belajar bagaimana menjadi udara yang dihirup Pangeran, menjadi air yang membasuh dahaganya."

Meghan duduk di salah satu kursi kayu, merasa asing di antara para wanita yang tampak begitu pasrah. Pelajaran pun dimulai, dan Meghan segera menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar sekolah, melainkan pabrik untuk mencetak alat pemuas yang sempurna.

"Seorang selir yang hebat tahu kapan harus menjadi bayangan yang tenang dan kapan harus menjadi api yang menghangatkan. Anda harus belajar membaca otot yang menegang pada tubuh tuan Anda, memahami suasana hatinya hanya dari cara dia memegang piala anggur."

Instruktur itu berjalan mengitari Meghan.

Meghan mendengarkan dengan tatapan dingin. Nadira di dalam dirinya merasa terhina dengan semua doktrin ini. Baginya, ini bukan sekolah keanggunan, ini adalah pelatihan untuk menjadi pelayan tanpa jiwa.

Namun, di tengah pelajaran tentang cara menuangkan anggur dengan gerakan jemari yang lentur, sebuah ide muncul di benak Meghan. Jika tempat ini adalah satu-satunya cara baginya untuk bisa terus berada di dekat Ralph tanpa dicurigai, maka ia akan menjadi murid terbaik.

Ia akan mempelajari cara memuaskan ego Ralph, bukan karena ia tunduk, tapi agar ia bisa menyentuh titik terlemah pria itu saat Ralph merasa paling nyaman.

"Mengapa Pangeran tidak menyentuhku semalam jika semua ini adalah hal yang dia inginkan?" batin Meghan sambil memperhatikan gerakan tangan teman-temannya.

Saat matahari mulai terbenam dan sesi latihan berakhir, tubuh Meghan terasa pegal di bagian yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Otot perut, betis, dan leher yang dipaksa tegak sempurna.

Saat ia berjalan keluar dari Schola Gratiae, ia tidak sengaja berpapasan dengan rombongan prajurit yang sedang berbaris. Di tengah-tengah mereka, berdirilah Carl.

Wajah pria itu terlihat kuyu, matanya merah seolah tidak tidur semalam. Ketika mata mereka bertemu, Carl tampak ingin berlari mendekat. Namun, komandan pasukannya menahan bahunya dengan tegas.

Carl hanya bisa menatap Meghan dari kejauhan, tatapannya penuh duka seolah-olah Meghan adalah jenazah yang sedang dibawa menuju liang lahat.

Meghan tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan langkah tanpa suara yang baru saja dipelajarinya. Namun, saat ia melewati sudut lorong yang gelap menuju paviliunnya, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik lengannya dan membungkam mulutnya.

Meghan nyaris menghujamkan sikunya. Namun, aroma kayu cendana dan anggur mahal yang familiar itu menghentikannya.

Ralph.

Pria itu menekannya ke dinding batu yang dingin, tubuhnya yang tinggi membayangi Meghan sepenuhnya. Ralph tidak lagi mengenakan jubah Surcoat berat yang penuh bordir lambang kerajaan. Ia hanya mengenakan Cote, tunika dalam dari sutra halus berwarna putih gading yang pas di tubuh, dengan leher berbentuk slit yang dibiarkan terbuka tanpa kancing, menyingkap sedikit kulit dadanya.

"Bagaimana harimu di sekolah, Selirku?" bisik Ralph, suaranya serak dan mengandung intimidasi yang kental.

"Apakah mereka sudah mengajarimu cara berlutut yang benar? Ataukah kau masih sibuk menyusun rencana pembunuhan di dalam kepala cantikmu itu?"

Meghan tetap diam, sesuai dengan pelajaran Silent Devotion yang baru saja ia terima. Ia hanya menatap mata Ralph dengan tatapan kosong, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada dinding. Namun, tangannya diam-diam meraba saku gaunnya, memastikan Ducat emasnya masih di sana.

Ralph menyeringai, merasa puas melihat Meghan yang tampak 'patuh'. Ia mendekatkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Meghan, mencoba mencari sisa-sisa api yang ia lihat tadi malam.

"Kau tahu, Meghan, aku paling benci pada benda yang tidak bisa bersuara," desis Ralph sambil melepaskan bungkamannya, beralih mencengkeram rahang Meghan dengan satu tangan.

"Malam ini akan ada perjamuan kecil dengan para Count dari wilayah Utara. Kau akan ikut. Aku ingin mereka semua melihat nama siapa yang terukir di tengkukmu saat kau menuangkan anggur untuk mereka."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Membakar Duri

    Musim semi perlahan berganti menjadi musim panas yang hangat. Lembah di sekeliling Istana melimpah dengan warna hijau segar, sementara pepohonan di sepanjang jalan ibu kota berbuah lebat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, kedamaian yang sesungguhnya dapat dirasakan bukan hanya di dalam dinding benteng, melainkan hingga ke pelosok desa terpencil.​Di Aula Pesta Kerajaan, persiapan besar sedang berlangsung. Perayaan Fajar Kerajaan. Sebuah tradisi tahunan untuk memperingati kemakmuran dan persatuan, akan digelar dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya. Duta besar dan perwakilan dari Dewan Tiga Negara, kerajaan tetangga di Wilayah Selatan, hingga para pedagang besar dari Selat Selatan telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Peristiwa ini bukan sekadar pesta dansa biasa, melainkan panggung resmi untuk menunjukkan kekuasaan mutlak Wangsa Diraja yang bersatu.​Meghan berdiri di balkon kamar utamanya, memandangi kesibukan para pelayan dan prajurit yang menghiasi pelataran denga

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Era Baru

    Memasuki pertengahan musim semi, seluruh wilayah kerajaan menikmati stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dekade terakhir. Nama Ratu Meghan tak lagi diucapkan dengan nada meremehkan oleh para bangsawan; ia kini dihormati sebagai pengatur strategi hukum dan ekonomi yang ulung di samping kekuatan militer Sang Raja.​Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna di permukaan, sebuah laporan rahasia mendarat di meja kerja Ralph pada suatu malam yang sunyi.​Bapa Anselm masuk tanpa mengetuk pintu—sebuah tindakan tidak biasa yang menandakan kegentingan situasi. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung tembaga berisi kertas perkamen tipis dari jaringan mata-mata kerajaan yang beroperasi di pinggiran Pegunungan Utara.​"Paduka," panggil Bapa Anselm dengan suara diredam. "Laporan dari pos pemantau jauh di Benteng Celah Hitam. Ini bukan mengenai Kerajaan Barat atau klan Vance."​Ralph yang sedang mempelajari peta pertahanan pesisir mendongak. Matanya yang tajam menangkap ket

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Perjanjian Ini Sah

    Dua bulan pasca-penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat, konsolidasi kekuatan internal mencapai puncaknya. Salju di sekitar benteng mulai mencair, membuka akses jalan utama menuju Wilayah Selatan dan Barat. Di bawah arahan Ratu Meghan, jalur logistik baru tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga memperkuat pos-pos pemeriksaan militer di seluruh perbatasan.​Namun, kedamaian di permukaan itu pecah saat Fajar pertama musim semi tiba.​Bapa Anselm memasuki Aula Kerja Kerajaan dengan langkah tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu hitam tanpa ukiran yang dikirimkan oleh kurir anonim dari pelabuhan perbatasan Wilayah Timur. Jalur laut yang selama ini dianggap paling aman dan netral.​"Paduka, Ratu Meghan," panggil Bapa Anselm, suaranya mengandung nada kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Kotak ini tiba bersama stempel segel milik Konsul Dagang Wilayah Timur. Namun operatesi pemeriksaan di perbatasan menemukan noda darah yang mengering di bawah alasnya."​

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Keputusan Baru

    Penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat dari garis perbatasan di Pegunungan Utara membawa keheningan yang serasa asing bagi Benteng Celah Hitam. Asap dari perkemahan militer di seberang jurang perlahan meluruh, menyisakan hamparan salju putih yang tak lagi ternoda oleh derap sepatu paku para prajurit.​Di balai utama benteng, Ralph berdiri melipat tangan di depan perapian batu yang menyala membara. Suara kayu terbakar dan desis angin luar yang menghantam dinding tebal menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan. Meski ancaman perang terbuka berhasil ditangkis tanpa perlu meneteskan darah di perbatasan, ekspresi di wajah Sang Raja tetap menyiratkan kewaspadaan yang tak sedikit pun memudar.​Meghan melangkah mendekat, membiarkan jubah wol tebalnya terurai sedikit saat ia berdiri di samping Ralph. Di dalam pelukan inang pengasuh di ruang dalam yang hangat, Ashton sedang terlelap, jauh dari ketegangan politik yang baru saja mengancam masa depannya.​"Kau tampak tidak sepuas yang kuba

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Invasi

    Tiga minggu berikutnya berlalu dalam kesibukan yang dingin dan terukur di seluruh penjuru benteng. Musim dingin menyelimuti ibu kota dengan lapisan es tebal, membekukan kolam-kolam batu dan melapisi benteng granit dengan warna putih yang pucat. Namun di dalam Ruang Strategi Istana Agung, pergerakan justru berlangsung hangat dan intens.​Ralph tidak membuang waktu. Sebagai penguasa yang dibesarkan di medan perang, ia tahu betul bahwa ancaman dari Kerajaan Barat di balik Pegunungan Utara bukanlah gertakan belaka. Tiga divisi infantri yang disiagakan di perbatasan adalah kekuatan tempur nyata yang sanggup menembus celah-celah gunung jika jalur pertahanan tidak diperkuat sebelum es mencair.​"Panglima Gomund telah menempatkan empat ratus prajurit pemanah di Benteng Celah Hitam," ujar Lord Silas, menunjuk maket kayu yang menggambarkan garis perbatasan utara di atas meja besar. "Namun masalah utamanya bukan pada jumlah prajurit kita, Paduka. Masalahnya ada pada legalitas traktat tersebut di

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Badai Reda

    Pembersihan Pasca-Pemberontakan dan konsolidasi kekuasaan tidak berjalan dalam semalam. Meski Elanor dan Lord Vane telah dijatuhi hukuman pengkhianatan tingkat tinggi, dampak kekacauan politik yang mereka tinggalkan merembet ke tatanan birokrasi dan militer.​Dua minggu setelah peristiwa di Menara Utara, Aula Barat dipenuhi oleh tumpukan naskah penyitaan aset. Ralph duduk di meja kerja utamanya, didampingi Lord Silas dan Bapa Anselm. Mereka tidak lagi membahas legitimasi, melainkan restrukturisasi Dewan Kabinet yang kehilangan hampir separuh anggotanya akibat pembersihan pengikut Vane.​"Tujuh fraksi bangsawan dari Wilayah Selatan mengajukan penundaan pembayaran pajak musim dingin, Paduka," ujar Lord Silas seraya menyodorkan perkamen berstempel lilin hijau. "Mereka beralasan bahwa penangkapan Lord Vane mengganggu jalur perdagangan gandum mereka."​Ralph mengambil perkamen tersebut, membacanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja. "Vance menggunakan dana pajak Selatan untuk m

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Buka Pakaianmu Sekarang

    Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Milik Ralph

    “Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Protokol Selir

    Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ducat Meghan

    Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status