Mag-log inMeghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung.
Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya. "Mohon maaf, Nona Valerius. Perpustakaan ini hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga inti dan para murid istana," ucap pelayan itu dengan nada datar yang terkesan merendahkan. Meghan terdiam, tangannya yang menggenggam koin emas di balik saku gaunnya mengeras. "Aku adalah milik Pangeran Mahkota. Namanya ada di kulitku. Apakah itu tidak cukup sebagai izin?" "Status selir memberi Anda hak atas kemewahan, tapi bukan atas pengetahuan rahasia kerajaan," balas si pelayan tanpa emosi. "Namun, jangan berkecil hati. Pangeran Mahkota telah mengatur jadwal Anda. Sebagai selir baru, Anda wajib menghadiri Schola Gratiae, Sekolah Keanggunan." Meghan tidak punya pilihan selain mengikuti arah telunjuk pelayan itu. Ia dibawa menuju sebuah sayap bangunan yang tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk aula utama. Harapannya untuk mencari celah hukum di perpustakaan pupus, digantikan oleh rasa penasaran yang getir saat ia memasuki sebuah ruangan luas yang harum dengan aroma melati dan dupa mahal. Di sana, beberapa wanita muda dengan pakaian sutra tipis sedang duduk bersimpuh. Di depan mereka, seorang wanita tua dengan tatapan mata tajam, mereka menyebutnya Instruktur, berdiri dengan sebilah rotan kecil di tangannya. "Selamat datang, Nona Meghan! Di sini, Anda akan belajar bagaimana menjadi udara yang dihirup Pangeran, menjadi air yang membasuh dahaganya." Meghan duduk di salah satu kursi kayu, merasa asing di antara para wanita yang tampak begitu pasrah. Pelajaran pun dimulai, dan Meghan segera menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar sekolah, melainkan pabrik untuk mencetak alat pemuas yang sempurna. "Seorang selir yang hebat tahu kapan harus menjadi bayangan yang tenang dan kapan harus menjadi api yang menghangatkan. Anda harus belajar membaca otot yang menegang pada tubuh tuan Anda, memahami suasana hatinya hanya dari cara dia memegang piala anggur." Instruktur itu berjalan mengitari Meghan. Meghan mendengarkan dengan tatapan dingin. Nadira di dalam dirinya merasa terhina dengan semua doktrin ini. Baginya, ini bukan sekolah keanggunan, ini adalah pelatihan untuk menjadi pelayan tanpa jiwa. Namun, di tengah pelajaran tentang cara menuangkan anggur dengan gerakan jemari yang lentur, sebuah ide muncul di benak Meghan. Jika tempat ini adalah satu-satunya cara baginya untuk bisa terus berada di dekat Ralph tanpa dicurigai, maka ia akan menjadi murid terbaik. Ia akan mempelajari cara memuaskan ego Ralph, bukan karena ia tunduk, tapi agar ia bisa menyentuh titik terlemah pria itu saat Ralph merasa paling nyaman. "Mengapa Pangeran tidak menyentuhku semalam jika semua ini adalah hal yang dia inginkan?" batin Meghan sambil memperhatikan gerakan tangan teman-temannya. Saat matahari mulai terbenam dan sesi latihan berakhir, tubuh Meghan terasa pegal di bagian yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Otot perut, betis, dan leher yang dipaksa tegak sempurna. Saat ia berjalan keluar dari Schola Gratiae, ia tidak sengaja berpapasan dengan rombongan prajurit yang sedang berbaris. Di tengah-tengah mereka, berdirilah Carl. Wajah pria itu terlihat kuyu, matanya merah seolah tidak tidur semalam. Ketika mata mereka bertemu, Carl tampak ingin berlari mendekat. Namun, komandan pasukannya menahan bahunya dengan tegas. Carl hanya bisa menatap Meghan dari kejauhan, tatapannya penuh duka seolah-olah Meghan adalah jenazah yang sedang dibawa menuju liang lahat. Meghan tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan langkah tanpa suara yang baru saja dipelajarinya. Namun, saat ia melewati sudut lorong yang gelap menuju paviliunnya, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik lengannya dan membungkam mulutnya. Meghan nyaris menghujamkan sikunya. Namun, aroma kayu cendana dan anggur mahal yang familiar itu menghentikannya. Ralph. Pria itu menekannya ke dinding batu yang dingin, tubuhnya yang tinggi membayangi Meghan sepenuhnya. Ralph tidak lagi mengenakan jubah Surcoat berat yang penuh bordir lambang kerajaan. Ia hanya mengenakan Cote, tunika dalam dari sutra halus berwarna putih gading yang pas di tubuh, dengan leher berbentuk slit yang dibiarkan terbuka tanpa kancing, menyingkap sedikit kulit dadanya. "Bagaimana harimu di sekolah, Selirku?" bisik Ralph, suaranya serak dan mengandung intimidasi yang kental. "Apakah mereka sudah mengajarimu cara berlutut yang benar? Ataukah kau masih sibuk menyusun rencana pembunuhan di dalam kepala cantikmu itu?" Meghan tetap diam, sesuai dengan pelajaran Silent Devotion yang baru saja ia terima. Ia hanya menatap mata Ralph dengan tatapan kosong, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada dinding. Namun, tangannya diam-diam meraba saku gaunnya, memastikan Ducat emasnya masih di sana. Ralph menyeringai, merasa puas melihat Meghan yang tampak 'patuh'. Ia mendekatkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Meghan, mencoba mencari sisa-sisa api yang ia lihat tadi malam. "Kau tahu, Meghan, aku paling benci pada benda yang tidak bisa bersuara," desis Ralph sambil melepaskan bungkamannya, beralih mencengkeram rahang Meghan dengan satu tangan. "Malam ini akan ada perjamuan kecil dengan para Count dari wilayah Utara. Kau akan ikut. Aku ingin mereka semua melihat nama siapa yang terukir di tengkukmu saat kau menuangkan anggur untuk mereka."Ralph telah memanggil tiga orang paling tepercaya di seluruh kerajaan.Gomund, Panglima Garda Utama yang memiliki parut luka silang di pipinya. Bapa Anselm, kepala arsiparis Istana Agung yang memegang naskah-naskah hukum kuno. Lord Silas, seorang bangsawan senior dari Wilayah Barat yang sejak awal diam-diam berseberangan dengan kubu Lord Vance.Meghan duduk di dekat perapian yang menyala, menimang Ashton yang terlelap tenang. Gaun beludru birunya telah berganti dengan pakaian sutra tebal berwarna merah tua, warna kebesaran keluarga yang secara tidak resmi kini ia kenakan. "Ini bukan sekadar pelanggaran adat, Paduka." Suara Bapa Anselm bergetar, jemari tuanya yang keriput menunjuk sebuah gulungan hukum berusia ratusan tahun yang lapuk dimakan usia. "Pernikahan di hadapan Tetua Agung tanpa persetujuan Ratu Resmi yang masih bertakhta adalah perbuatan yang belum pernah tercatat sejak era Perang Tiga Takhta. Jika ini dilakukan sebelum fajar, Dewan Kabinet bisa menganggapnya sebagai k
Suara gemertak kayu pintu tebal yang tertutup rapat bergema, menyisakan keheningan yang mencekam di Ruang Sidang.Ralph berdiri dalam diam. Jemari tangannya yang terkepal erat memutih, menahan amarah yang membakar dada. Nama Carl kini kembali diangkat dari kegelapan oleh Elanor. Dijadikan mata pisau tajam yang diacungkan tepat ke leher putranya.Di bawah sana, di balik rerimbunan taman rahasia, Meghan tampak mendongak ke arah jendela tinggi tempat sang Raja berdiri. Seolah sanggup merasakan kerapuhan yang membayang di bahu gagah suaminya.Meghan mempererat dekapan pada Ashton kecil, menatap dari kejauhan dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.Ralph mengembuskan napas berat, mencoba memadamkan gelora murkanya sebelum ia melangkah keluar. Konflik beracun ini tidak boleh menyentuh Meghan yang masih dalam masa pemulihan.Beberapa saat kemudian, pintu berat Menara Utara terdorong pelan. Meghan yang tengah membenahi selimut tipis di atas pembaringan Ashton, berbalik seketika. Tat
Ruang Sidang di Sayap Timur kastil biasanya hanya digunakan untuk urusan-urusan paling krusial yang enggan disentuh oleh Dewan Menteri. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin, dilingkupi aroma kayu cedar tua dan bau lilin lebah yang membakar pelan di sudut-sudut meja bundar.Ralph berdiri membelakangi pintu masuk, menatap keluar jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan taman rahasia di bawah sana. Dari ketinggian ini, ia masih bisa melihat bayangan sayup Meghan yang sedang menggendong Ashton dalam balutan kain tebal. Jemari Ralph mengepal di belakang punggungnya, cengkeramannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Suara langkah kaki yang teratur dan penuh keanggunan bergema di atas lantai, memecah kesunyian ruangan. Elanor masuk tanpa didampingi pengawal. Ia mengenakan gaun beludru hitam bercorak perak.Pakaian kebesarannya sebagai Ratu yang belum pernah dicopot meski dekrit baru saja disebarkan."Langkah yang sangat mengagumkan, Paduka." Suara Elanor mengalun l
Fajar baru saja menyingsing ketika pesan dari Menara Utara tiba di meja kerja Ratu Elanor.Tiga bilah belati berlambang Aula Barat yang sebelumnya dibawa oleh para penyusup, kini tertancap di atas meja kayu jati milik sang Ratu. Tidak ada surat, tidak ada pesan tertulis. Hanya darah kering di ujung bilahnya yang menjadi bukti bisu bahwa Ralph tidak hanya menggagalkan rencana senyap itu, tetapi juga mengirimkan ancaman balik yang sangat mematikan.Elanor berdiri mematung di dekat mejanya. Wajahnya yang biasa anggun kini tampak mengeras, mata kelabunya berkilat penuh amarah yang tertahan. Di hadapannya, Lord Vance dari Dewan Altar menunduk dalam-dalam dengan gemetar."Dia ... Paduka Raja telah menyita seluruh dokumen Dewan Altar pagi ini, Yang Mulia," lapor Lord Vane dengan suara bergetar. "Beliau juga mengumumkan bahwa Dewan tidak lagi memiliki hak veto atas urusan garis keturunan kerajaan.""Paduka Ralph sudah gila," desis Elanor, suaranya sangat rendah namun sarat akan racun.
Ralph tidak membuang waktu. Pria itu sadar betul, keamanan Menara Utara ada di bawah kendalinya secara penuh, dan tidak ada satu pun orang luar yang bisa menyusup tanpa terdeteksi oleh pengawal pribadinya.Namun, fakta bahwa ada pergerakan tidak wajar di koridor luar menunjukkan bahwa Aula Barat sedang mencoba menguji batas kesabarannya dengan mengirimkan penyusup amatir."Meghan, tetap di ranjang dan jaga Ashton," bisik Ralph tenang namun dingin. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya. Ini adalah wilayahnya, dan ia adalah Raja di istana ini.Meghan terbangun pelan, matanya langsung tertuju pada Ralph yang sudah berdiri tegap. Tanpa bersuara, Meghan mendekap Ashton lebih erat dalam pelukannya, percaya penuh pada pria yang berdiri menjaga mereka.Ralph melangkah mantap menuju pintu utama, tanpa perlu bersembunyi. Dengan satu gerakan cepat dan berwibawa, ia memutar kunci besi tebal dan membuka pintu ek tersebut selebar-lebarnya.Di luar koridor, dua komandan pengawal pribadin
"Ashton Phoenix Alistair." Ralph mengulanginya dengan nada yang dalam, seolah sedang meresmikan nama itu di dalam dinding menara mereka sendiri. "Nama yang kuat untuk anak yang lahir di tengah badai.""Dia harus kuat, Paduka," ujar Meghan pelan, jemarinya mengusap pipi halus Ashton. "Karena dia tidak lahir di dunia yang ramah."Ralph perlahan bangkit, lalu mendudukkan diri di lengan kursi malas Meghan, menopang bahu wanita itu dengan lengan kokohnya. "Dunia luar bisa sekotor yang mereka mau, Meghan. Tapi selama dia berada di menara ini, dia adalah Ashton. Putraku. Dan tidak ada satu pun orang di Aula Barat yang bisa mengubah kenyataan itu."Meghan menyandarkan kepalanya di dada Ralph, mendengarkan detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan. Di dalam kamar yang sunyi ini, di antara kehangatan pelukan Ralph dan napas teratur Ashton, Meghan merasa benteng pertahanan mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi apa pun yang sedang disiapkan oleh kerajaan di luar sana.
Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum
Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t
"Tundukkan kepalamu lebih dalam, Meghan! Kau ingin kita semua dihukum gantung sebelum acara dimulai?" bisik Baron Valerius dengan tangannya yang mencengkeram lengan Meghan hingga kain sutra gaunnya berkerut.Suara terompet kerajaan membahana, memekakkan telinga saat pintu ganda aula utama terbuka l
"Meghan! Jawab Ayah!"Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada.Hal pertama yang ia rasakan adalah paru







