MasukPelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum.
Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rumit agar tidak ada satu helai pun yang menutupi tengkuknya. Tujuannya hanya satu, membiarkan nama RALPH di atas kulitnya menjadi pusat perhatian, sebuah segel kepemilikan yang harus terbaca jelas oleh siapa pun yang berdiri di belakangnya. Namun, ketika tiba saatnya memilih busana, para pelayan tidak membawakan gaun sutra transparan atau pakaian yang menyingkap dada sebagaimana biasanya selir kerajaan di masa lalu dipersiapkan. Sebaliknya, mereka membentangkan sebuah gaun indah dari kain beludru tebal berwarna biru gelap, dengan kerah tinggi yang dihiasi renda kaku dan lengan panjang yang menyempit hingga ke pergelangan tangan. Ini adalah busana yang setara dengan status istri seorang Viscount. Perubahan ini bukan tanpa alasan. Semua bermula saat Raja, ayah Ralph, jatuh cinta secara obsesif pada selir ketiganya beberapa tahun lalu. Sang Raja, yang terbakar oleh rasa cemburu yang protektif, tidak sudi kecantikan wanita itu dinikmati oleh mata para menteri atau pengawal. Ia mengubah hukum protokol selir seketika. Setiap selir resmi kini harus berpakaian tertutup dan bermartabat, seolah-olah mereka adalah bangsawan tinggi yang terlarang untuk disentuh. Saat Meghan bercermin, ia melihat sosok yang berbeda. Ia tidak terlihat seperti pemuas hasrat yang murah. Ia terlihat seperti seorang permaisuri yang dingin dan berjarak. Jubah luarnya yang berat menyembunyikan lekuk tubuhnya. Namun, justru hal itu memberikan aura kemisteriusan yang mematikan. "Anda terlihat sangat agung, Nona Valerius," bisik salah satu pelayan sambil mengaitkan bros perak di dadanya. "Tapi jangan salah paham. Gaun ini bukan untuk menghormati Anda, melainkan untuk memastikan bahwa Pangeran Mahkota adalah satu-satunya pria yang boleh membayangkan apa yang ada di balik kain ini." Pelayan lain berkomentar. Meghan menyentuh kain beludru itu. Nadira di dalam dirinya tersenyum tipis. Gaun ini adalah perlindungan yang tidak sengaja diberikan oleh hukum Raja yang kuno. Semakin tertutup tubuhnya, semakin mahal harga yang harus dibayar orang lain untuk mengenalnya. Ketika ia melangkah keluar menuju aula perjamuan, para pengawal memberikan jalan dengan kepala tertunduk. Statusnya sebagai selir memang rendah, tetapi busananya memerintahkan rasa hormat yang membingungkan. Saat Meghan melangkah memasuki aula perjamuan, suasana seketika berubah. Sebagai selir, ia tidak berjalan di samping Ralph, melainkan harus turun ke aula beberapa langkah di belakang Pangeran Mahkota. Sesuai tradisi, Meghan harus berjalan perlahan dengan mata yang tertuju ke lantai, menunjukkan kepatuhan mutlak. Ia bukan tamu, melainkan kepemilikan hidup yang sedang dipamerkan. Meghan berhenti tepat di belakang kursi Ralph. Ia bersimpuh di atas bantalan rendah yang disediakan khusus untuk selir di sisi kaki sang Pangeran, menempatkan dirinya di posisi yang lebih rendah dari semua bangsawan yang duduk di meja. Ralph menyandarkan punggungnya, satu tangannya memegang piala anggur, sementara tangan lainnya dengan sengaja diletakkan di bahu Meghan yang tertutup beludru mahal. Ia mengusap tengkuk Meghan yang terbuka, memamerkan nama hitam yang terukir di sana kepada para tamunya. Ralph menunduk sedikit, menatap Meghan yang tetap diam bersimpuh di dekat kakinya. "Duduklah dengan tenang di bawah sini, Meghan. Biarkan mereka mengagumi pakaianmu yang terhormat, sementara hanya aku yang tahu betapa mudahnya kain ini lepas dari tubuhmu semalam." Para Count dari wilayah Utara saling bertukar pandang. Mereka adalah pria-pria yang terbiasa dengan kerasnya musim dingin dan hukum pedang, namun keheningan Meghan yang bermartabat di bawah kaki Ralph menciptakan suasana yang tidak nyaman. "Dia memiliki ketenangan yang langka, Yang Mulia," ucap Count Hrothgar, pria tertua di antara mereka, sambil mengangkat gelas pialanya ke arah Ralph. "Biasanya, wanita dari keluarga yang jatuh akan meratap atau mencoba merayu. Tapi putri Baron Valerius ini diam seperti badai yang sedang menunggu waktu." Ralph tertawa sinis, jemarinya semakin dalam mengusap tengkuk Meghan, tepat di atas tato namanya. "Itu adalah kepatuhan yang sudah kupatahkan sejak malam pertama." Ralph kemudian memberikan isyarat dengan jarinya yang memakai cincin stempel kerajaan. "Tidakkah kau lihat, Count? Dia dibalut kain setinggi bangsawan bukan karena dia terhormat, tapi karena aku tidak ingin ada satu pasang mata pun yang mendahuluiku melihat bagaimana tanda namaku di tengkuknya merona saat aku menyentuhnya di balik pintu kamar nanti."Pembersihan Pasca-Pemberontakan dan konsolidasi kekuasaan tidak berjalan dalam semalam. Meski Elanor dan Lord Vane telah dijatuhi hukuman pengkhianatan tingkat tinggi, dampak kekacauan politik yang mereka tinggalkan merembet ke tatanan birokrasi dan militer.Dua minggu setelah peristiwa di Menara Utara, Aula Barat dipenuhi oleh tumpukan naskah penyitaan aset. Ralph duduk di meja kerja utamanya, didampingi Lord Silas dan Bapa Anselm. Mereka tidak lagi membahas legitimasi, melainkan restrukturisasi Dewan Kabinet yang kehilangan hampir separuh anggotanya akibat pembersihan pengikut Vane."Tujuh fraksi bangsawan dari Wilayah Selatan mengajukan penundaan pembayaran pajak musim dingin, Paduka," ujar Lord Silas seraya menyodorkan perkamen berstempel lilin hijau. "Mereka beralasan bahwa penangkapan Lord Vane mengganggu jalur perdagangan gandum mereka."Ralph mengambil perkamen tersebut, membacanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja. "Vance menggunakan dana pajak Selatan untuk m
Udara di atas jurang terasa membeku. Dalam hitungan detik yang memotong napas, Ralph melemparkan separuh tubuhnya melewati celah benteng yang runtuh. Jemari besarnya mencengkeram tebalnya selimut kain beludru Ashton yang melayang. Hanya beberapa inci sebelum bayi itu sepenuhnya tersedot oleh gravitasi kehampaan!Dengan sisa kekuatan di lengan kanannya, Ralph menahan bobot tubuhnya sendiri yang tergantung di tepi dinding batu yang licin oleh salju. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram tepian batu kasar sambil memeluk erat Ashton ke dadanya. Suara tangis Ashton kecil yang memecah dinginnya malam menjadi bukti bahwa bayi itu masih bernapas di dalam dekapannya."Aku menangkapmu ... aku memegangmu, Nak," bisik Ralph, suara bass-nya serak, terengah-engah melawan deru angin yang meraung dari dasar jurang.Di atas pelataran benteng, situasi pecah menjadi kegelapan yang buas.Melihat pembunuh bayaran itu melepaskan Ashton, Meghan tidak lagi bertindak sebagai seorang wanita yang membutu
Salju pertama yang turun mulai membasahi pelataran batu puncak benteng Menara Utara. Angin pegunungan berembus kencang, mengibarkan mantel bertudung milik wanita yang berdiri tepat di tepi jurang curam. Di bawah sana, batu-batu karang yang tajam membisu dalam kegelapan jutaan meter ke bawah. Siap menelan siapa pun yang terjatuh tanpa ampun.Ashton kecil menangis kencang dalam dekapan pembunuh bayaran bertopeng, suara tangisannya melengking menembus deru angin dan kepulan asap yang masih membumbung dari kamar di bawah."Princess Genevieve," bisik Ralph, suara Sang Raja bergetar hebat. Pedang di tangannya terangkat kaku, bukan karena ragu memotong leher musuhnya, melainkan karena keriapan ketakutan yang mengunci persendiannya. "Kau ... kau seharusnya mati di Benteng Barat saat tragedi kudeta dua belas tahun lalu."Wanita itu Genevieve, putri tertua dari garis keturunan raja terdahulu yang dianggap telah tewas terbakar bersama seluruh kubu pemberontak. Iaerkekeh pelan. Ia menyibak r
"ASHTON!"Jeritan Meghan memecah keheningan Aula Utama, melengking sarat akan kepanikan yang menghancurkan seluruh keanggunannya dalam sekejap. Tanpa memikirkan gaun beludru mewahnya atau mahkota Ratu yang melingkar di kepalanya, Meghan berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar, didorong oleh naluri murni seorang ibu."Gomund! Amankan seluruh aula! Tutup gerbang utama!" perintah Ralph dengan suara menggelegar bagaikan guntur. Pedang pusaka di pinggangnya terhunus dalam satu gerakan kilat. Mata Sang Raja berkilat merah penuh murka, namun fokus utamanya saat ini hanyalah keselamatan putra dan istrinya. Ralph melompati meja dewan, mengejar Meghan yang sudah berlari menembus koridor utama.Di belakang mereka, kekacauan pecah seketika. Para menteri berteriak panik, saling dorong mencoba menyelamatkan diri. Elanor berdiri mematung di tengah kerusuhan itu, matanya membelalak menatap kepulan asap hitam di Menara Utara. Ia menatap Lord Vane yang tersenyum gila di dekat pintu
Sinar matahari fajar menerobos celah-celah jendela tinggi Aula Utama Istana Agung, membiaskan cahaya keemasan di atas meja panjang tempat para menteri dan bangsawan senior Dewan Kabinet berkumpul. Udara di dalam ruangan itu begitu berat, dipenuhi aura ketegangan dan ambisi yang tertahan.Di barisan paling depan, Lord Vane berdiri dengan dada terangkat. Di sisinya, Elanor duduk di atas kursi kayu berukir—bukan di takhta samping Raja, melainkan di kursi kehormatan Ratu Resmi. Ia mengenakan gaun beludru hitam bercorak perak yang megah, wajahnya kaku seperti patung pualam, memancarkan keyakinan mutlak bahwa hari ini ia akan memenangkan pertempuran politik terbesar dalam hidupnya."Fajar telah menyingsing, Lord Vane," bisik Elanor tanpa memalingkan wajahnya. "Apakah seluruh fraksi sudah memegang draf penolakan legitimasi Pangeran Ashton?""Semua sudah terikat rapat, Ratuku," jawab Lord Vane seraya tersenyum penuh kemenangan. "Tujuh fraksi telah menandatangani maklumat. Begitu Paduka mel
Ralph telah memanggil tiga orang paling tepercaya di seluruh kerajaan.Gomund, Panglima Garda Utama yang memiliki parut luka silang di pipinya. Bapa Anselm, kepala arsiparis Istana Agung yang memegang naskah-naskah hukum kuno. Lord Silas, seorang bangsawan senior dari Wilayah Barat yang sejak awal diam-diam berseberangan dengan kubu Lord Vance.Meghan duduk di dekat perapian yang menyala, menimang Ashton yang terlelap tenang. Gaun beludru birunya telah berganti dengan pakaian sutra tebal berwarna merah tua, warna kebesaran keluarga yang secara tidak resmi kini ia kenakan. "Ini bukan sekadar pelanggaran adat, Paduka." Suara Bapa Anselm bergetar, jemari tuanya yang keriput menunjuk sebuah gulungan hukum berusia ratusan tahun yang lapuk dimakan usia. "Pernikahan di hadapan Tetua Agung tanpa persetujuan Ratu Resmi yang masih bertakhta adalah perbuatan yang belum pernah tercatat sejak era Perang Tiga Takhta. Jika ini dilakukan sebelum fajar, Dewan Kabinet bisa menganggapnya sebagai k
“Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal
"Tundukkan kepalamu lebih dalam, Meghan! Kau ingin kita semua dihukum gantung sebelum acara dimulai?" bisik Baron Valerius dengan tangannya yang mencengkeram lengan Meghan hingga kain sutra gaunnya berkerut.Suara terompet kerajaan membahana, memekakkan telinga saat pintu ganda aula utama terbuka l
Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t
Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen







