Share

Protokol Selir

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-05-05 20:32:39

Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum.

Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rumit agar tidak ada satu helai pun yang menutupi tengkuknya. Tujuannya hanya satu, membiarkan nama RALPH di atas kulitnya menjadi pusat perhatian, sebuah segel kepemilikan yang harus terbaca jelas oleh siapa pun yang berdiri di belakangnya.

Namun, ketika tiba saatnya memilih busana, para pelayan tidak membawakan gaun sutra transparan atau pakaian yang menyingkap dada sebagaimana biasanya selir kerajaan di masa lalu dipersiapkan.

Sebaliknya, mereka membentangkan sebuah gaun indah dari kain beludru tebal berwarna biru gelap, dengan kerah tinggi yang dihiasi renda kaku dan lengan panjang yang menyempit hingga ke pergelangan tangan. Ini adalah busana yang setara dengan status istri seorang Viscount.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Semua bermula saat Raja, ayah Ralph, jatuh cinta secara obsesif pada selir ketiganya beberapa tahun lalu. Sang Raja, yang terbakar oleh rasa cemburu yang protektif, tidak sudi kecantikan wanita itu dinikmati oleh mata para menteri atau pengawal.

Ia mengubah hukum protokol selir seketika. Setiap selir resmi kini harus berpakaian tertutup dan bermartabat, seolah-olah mereka adalah bangsawan tinggi yang terlarang untuk disentuh.

Saat Meghan bercermin, ia melihat sosok yang berbeda. Ia tidak terlihat seperti pemuas hasrat yang murah. Ia terlihat seperti seorang permaisuri yang dingin dan berjarak.

Jubah luarnya yang berat menyembunyikan lekuk tubuhnya. Namun, justru hal itu memberikan aura kemisteriusan yang mematikan.

"Anda terlihat sangat agung, Nona Valerius," bisik salah satu pelayan sambil mengaitkan bros perak di dadanya.

"Tapi jangan salah paham. Gaun ini bukan untuk menghormati Anda, melainkan untuk memastikan bahwa Pangeran Mahkota adalah satu-satunya pria yang boleh membayangkan apa yang ada di balik kain ini." Pelayan lain berkomentar.

Meghan menyentuh kain beludru itu. Nadira di dalam dirinya tersenyum tipis. Gaun ini adalah perlindungan yang tidak sengaja diberikan oleh hukum Raja yang kuno. Semakin tertutup tubuhnya, semakin mahal harga yang harus dibayar orang lain untuk mengenalnya.

Ketika ia melangkah keluar menuju aula perjamuan, para pengawal memberikan jalan dengan kepala tertunduk. Statusnya sebagai selir memang rendah, tetapi busananya memerintahkan rasa hormat yang membingungkan.

Saat Meghan melangkah memasuki aula perjamuan, suasana seketika berubah. Sebagai selir, ia tidak berjalan di samping Ralph, melainkan harus turun ke aula beberapa langkah di belakang Pangeran Mahkota.

Sesuai tradisi, Meghan harus berjalan perlahan dengan mata yang tertuju ke lantai, menunjukkan kepatuhan mutlak. Ia bukan tamu, melainkan kepemilikan hidup yang sedang dipamerkan.

Meghan berhenti tepat di belakang kursi Ralph. Ia bersimpuh di atas bantalan rendah yang disediakan khusus untuk selir di sisi kaki sang Pangeran, menempatkan dirinya di posisi yang lebih rendah dari semua bangsawan yang duduk di meja.

Ralph menyandarkan punggungnya, satu tangannya memegang piala anggur, sementara tangan lainnya dengan sengaja diletakkan di bahu Meghan yang tertutup beludru mahal. Ia mengusap tengkuk Meghan yang terbuka, memamerkan nama hitam yang terukir di sana kepada para tamunya.

Ralph menunduk sedikit, menatap Meghan yang tetap diam bersimpuh di dekat kakinya.

"Duduklah dengan tenang di bawah sini, Meghan. Biarkan mereka mengagumi pakaianmu yang terhormat, sementara hanya aku yang tahu betapa mudahnya kain ini lepas dari tubuhmu semalam."

Para Count dari wilayah Utara saling bertukar pandang. Mereka adalah pria-pria yang terbiasa dengan kerasnya musim dingin dan hukum pedang, namun keheningan Meghan yang bermartabat di bawah kaki Ralph menciptakan suasana yang tidak nyaman.

"Dia memiliki ketenangan yang langka, Yang Mulia," ucap Count Hrothgar, pria tertua di antara mereka, sambil mengangkat gelas pialanya ke arah Ralph.

"Biasanya, wanita dari keluarga yang jatuh akan meratap atau mencoba merayu. Tapi putri Baron Valerius ini diam seperti badai yang sedang menunggu waktu."

Ralph tertawa sinis, jemarinya semakin dalam mengusap tengkuk Meghan, tepat di atas tato namanya.

"Itu adalah kepatuhan yang sudah kupatahkan sejak malam pertama."

Ralph kemudian memberikan isyarat dengan jarinya yang memakai cincin stempel kerajaan.

"Tidakkah kau lihat, Count? Dia dibalut kain setinggi bangsawan bukan karena dia terhormat, tapi karena aku tidak ingin ada satu pasang mata pun yang mendahuluiku melihat bagaimana tanda namaku di tengkuknya merona saat aku menyentuhnya di balik pintu kamar nanti."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tidurlah

    Ekspresi Petter mendadak pias. Pegangannya pada belati di leher Meghan melebar sedetik karena syok dan rasa hancur yang teramat sangat. Menyarani bahwa adiknya telah dieksekusi di menara Alistair tanpa ampun, seluruh pertahanan psikologis Petter runtuh seketika. Pria itu lemas, kehilangan kekuatannya untuk mengancam lebih jauh. Belati di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai marmer sebelum berguling menjauh.​Ralph tidak menyia-nyiakan celah itu. Dengan satu gerakan kilat yang terukur, ia melangkah maju. Tangan kanannya menyentak Meghan ke belakang tubuhnya, mengamankan wanita itu dalam satu dekapan protektif yang begitu erat hingga rusuk Meghan terasa sesak. Bersamaan dengan itu, ujung sepatu bot baja Ralph menghantam dada Petter, membuat pria yang hancur itu terjerembap ke belakang.​Petter ambruk berlutut, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di atas lantai marmer yang mulai terasa panas karena api menjalar dari koridor luar. Air matanya pecah, bercampur dengan de

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tunduk Atau

    Cengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.​Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph.​"Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.​Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah.​"Kau pi

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Usus Adikmu

    Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tawaran

    ​Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.​Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan.​"Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.​Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya.​"Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik.​"Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meratakan

    Vespara.​Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.​Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.​Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.​Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Siapa Adikmu?

    "Tidak akan ada perbincangan nyaman di sebuah ranjang."Meghan menatap Petter tanpa secercah pun ketakutan di matanya. Sepasang manik matanya yang tajam mengunci pandangan pria itu, mengirimkan sinyal penolakan yang begitu mutlak. Ia tidak bergerak mundur setidapun, meski jarak di antara wajah mereka kini begitu dekat hingga ia bisa membaui aroma tembakau dari napas Petter.Satu hal yang tidak dipahami Petter. Meghan telah ditempa oleh kegilaan seorang tiran seperti Ralph. Ancaman atau godaan dari pria lain seperti Petter tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan baginya.Petter tertegun sejenak, senyum jenakanya membeku di sudut bibir. Ketegaran wanita di hadapannya ini sama sekali tidak sinkron dengan statusnya sebagai seorang tawanan yang tak berdaya. Bukannya menangis atau memohon belas kasihan, Meghan justru menatapnya seolah Petter-lah yang berada di posisi bawah angin.Sedetik, dua detik, keheningan mencekam menyelimuti ruang batu itu.Hingga akhirnya, Petter perl

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   18+ Sialan

    Pintu kayu ek itu tertutup dengan dentuman yang memutus sisa kebisingan dari luar. Ralph melangkah mendekat, bayangannya yang besar menyelimuti tubuh Meghan yang hanya berbalut linen tipis di atas ranjang. Ia melepas sabuk kulitnya dengan gerakan kasar, matanya yang kelam menguliti setiap inci kul

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Persembahan

    Aula perjamuan malam itu terasa membosankan. Bau daging babi hutan panggang yang berlemak bercampur dengan aroma dupa mur dan keringat para pelayan yang berlalu-lalang di bawah cahaya obor yang berderit. Meghan bersimpuh di lantai yang dingin, posisinya berada tepat di bawah kaki Ralph. Sebuah pen

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Posisi

    Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, mengunci kebisingan dari pelataran luar. Ralph menyeret Meghan menuju tengah ruangan, di mana cahaya matahari pagi hanya masuk melalui celah-celah jendela tinggi."Berlutut," perintah Ralph.Meghan bersimpuh tanpa suara. Gaun sutr

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Raupan Ralph

    "Rapikan rambutmu, Meghan. Aku tidak ingin anak selir itu mengira aku tidak memberimu waktu untuk sekadar bernapas," ucap Ralph dingin tanpa menoleh.Mereka menuju balkon batu yang menghadap ke pelataran dalam paviliun. Di bawah sana, Carl berdiri mematung di bawah pengawasan dua ksatria penjaga Ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status