Se connecter"Kau sangat pandai bersandiwara di depan Ibuku, Meghan," ucap Ralph sambil menurunkannya perlahan di tengah ruangan.Meghan mengerjap, menyesuaikan penglihatannya yang baru saja kembali. Ia menatap kain jubah yang kini tergeletak di lantai. Kain yang tadi membutakannya. "Aku tidak bersandiwara. Aku hanya mengatakan apa yang kau tunjukkan pada dunia melalui kain itu."Ralph melangkah mendekat, mengikis jarak hingga ujung sepatu botnya menyentuh ujung gaun Meghan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menelusuri garis rahang Meghan dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan."Kau memberitahu Permaisuri bahwa aku tidak punya ruang untuk wanita lain," bisik Ralph, suaranya kini merendah, parau oleh gairah yang berbaur dengan sisa amarah. "Kau sangat percaya diri untuk seseorang yang posisinya bisa kuganti hanya dengan satu tanda tangan di atas perkamen pernikahan.""Kalau begitu, tanda tangani saja," tantang Meghan, dagunya terangkat tinggi. "Tanda tangani dan bebas
Meghan melangkah dengan sangat hati-hati, tangannya sesekali meraba udara untuk mencari tumpuan pada pilar-pilar batu koridor kastel yang dingin. Kain robekan jubah Ralph yang melilit matanya terasa kasar dan menyesakkan. Namun, ia menolak untuk melepasnya di tempat umum, ia tahu Ralph pasti memiliki mata-mata di mana pun. Setiap beberapa langkah, ujung sepatunya tersangkut pada celah lantai batu, membuatnya tersandung kecil yang nyaris menjatuhkannya ke lantai.Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur dan angkuh terdengar mendekat, diiringi suara gesekan gaun sutra yang mahal. .Meghan berhenti. Aroma wewangian yang menyengat segera menyerbu indranya. Aroma khas Permaisuri Elara."Berhenti di sana, Selir." Suara itu terdengar sedingin salju di puncak gunung utara.Meghan merunduk dalam, memberikan hormat yang sempurna meski pandangannya gelap gulita. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan sinis dari para pelayan yang mengekor di belakang Permaisuri, kemungkinan besar sedang menertaw
"Belum, Meghan. Aku belum ingin membunuh," bisik Ralph saat ia berada tepat di belakang punggung Meghan.Suaranya tidak lagi menggelegar, tapu justru ketenangan itu yang membuat bulu kuduk Meghan meremang. Ralph berhenti sejenak, membungkuk hingga embusan napasnya yang panas menerpa tengkuk Meghan yang terbuka."Jika aku melihatmu berlutut demi pengampunan lelaki lain lagi, sungguh Meghan saat itu juga kau yang kubunuh."Meghan hanya diam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah bayangan lilin yang menari di dinding. Tak ada setetes pun air mata yang jatuh. Rasa takutnya telah bermutasi menjadi sebentuk ketegaran yang dingin.Ralph berpindah ke depan Meghan, memaksanya untuk mendongak dengan menaruh telapak tangannya di bawah dagu wanita itu. "Apa kau tidak merasa bersalah?""Tidak," jawab Meghan pendek. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata biru Ralph yang berkilat."Beri aku alasannya," tuntut Ralph, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang."Karena aku bahkan ti
Lampu minyak yang berkedip di sudut kamar besar itu melemparkan bayangan panjang dan distorsi di dinding batu. Aroma kayu cendana yang terbakar bercampur dengan bau kertas perkamen tua yang kering. Meghan duduk di kursi kayu berukir, jari-jarinya yang halus memegang gulungan perkamen berisi laporan pajak dan pergerakan pasukan dari seorang Duke di Utara. Suaranya yang lembut tadinya mengalun stabil, membacakan angka-angka dan nama-nama wilayah.Sementara Ralph bersandar di kursi besarnya dengan mata terpejam, seolah sedang menikmati setiap intonasi dari bibir selirnya.Namun, kalimat Meghan terputus di tengah jalan. Ia berhenti tepat saat paragraf mengenai pengiriman gandum dimulai. Keheningan mendadak yang menggantung di udara terasa lebih berat daripada suara apa pun."Kenapa Tuan begitu?" tanya Meghan tiba-tiba. Suaranya kecil, tapi cukup bergema dengan rasa penasaran yang sudah ia pendam sejak jamuan makan tadi.Ralph tidak membuka matanya, tapi Meghan bisa melihat otot rahang p
Meghan terpaku, berdiri di samping kursi tinggi Ralph dengan botol kristal yang masih digenggamnya erat. Setetes cairan merah yang jatuh di punggung tangan sang Pangeran Mahkota tampak seperti noda darah di atas kulit yang kaku. Permaisuri Elara menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi emasnya, sebuah senyum simpul yang tajam terukir di wajahnya yang angkuh. Ia tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya seolah sedang menikmati kehancuran Meghan yang sedang dipamerkan di depan para petinggi kerajaan. "Bersihkan, Meghan," ulang Ralph. Suaranya kini lebih rendah, lebih parau, dan membawa nada ancaman yang membuat bulu kuduk Meghan berdiri. Meghan melirik ke sekeliling meja. Para Duke dan Duchess menatapnya dengan berbagai ekspresi. Mereka sedang menunggu, menonton bagaimana seorang selir akan tunduk pada perintah hina dari tuannya di depan publik. Meghan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan tersumbat oleh harga diri yang sedang diperas habis-habisan. Ia menatap punggung tan
Ralph, putraku." Suara Permaisuri memecah kebisingan, tenang namun menuntut perhatian seluruh meja. "Negeri ini sudah terlalu lama menunggu seorang calon ratu. Kastel ini membutuhkan pewaris dengan darah yang murni, bukan sekadar ... hiburan sementara."Cahaya dari ratusan lilin yang tergantung di kandil besi raksasa aula utama terasa menyilaukan mata. Namun, suasana di meja perjamuan itu justru terasa sedingin es bagi Meghan. Sebagai selir, posisinya bukanlah di atas kursi berukir yang sejajar dengan para bangsawan, melainkan di sebuah kursi kayu rendah tanpa sandaran yang diletakkan di samping kaki Ralph. Ia duduk di sana, praktis berada di bawah bayangan tubuh pria itu, sebuah pengingat visual akan statusnya yang hanya sekadar pelengkap kenyamanan sang Pangeran Mahkota.Suara denting piala perak dan tawa para Duke memenuhi ruangan, tapi telinga Meghan hanya terfokus pada suara tajam dan berwibawa di depannya. Permaisuri Elara, ibu Ralph, duduk tegak di ujung meja dengan mahkota







