Home / Fantasi / Selir Angkuh Kesayangan Paduka / Buka Pakaianmu Sekarang

Share

Buka Pakaianmu Sekarang

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-04-30 18:29:41

Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya.

Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman genderang perang di kepalanya.

Ia bukan lagi Nadira yang menunggu maut di bangsal rumah sakit yang steril. Di sini, di dunia yang penuh dengan aroma lilin lebah dan pengkhianatan ini, ia punya tubuh yang sehat dan dendam yang baru saja menemukan wadahnya.

Begitu pintu paviliun ditutup dan dikunci dari luar, Meghan langsung berjalan menuju cermin perunggu di sudut ruangan. Ia menyibakkan rambutnya yang berantakan, menatap pantulan tanda hitam yang masih berdenyut panas di tengkuknya.

RALPH

Nama itu tampak seperti noda yang merusak kulit putihnya. Meghan menyentuh permukaan ukiran itu dengan ujung jarinya, merasakan sisa-sisa tinta yang mengering. Air matanya hampir jatuh karena amarah yang terlalu besar untuk ditampung.

Di mata hukum kerajaan, Meghan bukan lagi seorang wanita bangsawan yang memiliki hak atas dirinya sendiri. Ia telah jatuh menjadi sebuah properti hidup, sebuah barang pajangan yang bisa dibuang kapan saja oleh sang Pangeran jika bosan.

"Jadi ini harganya? Kesehatan dan umur panjang, harus dibayar dengan kebebasan dan harga diri," bisik Meghan pada pantulannya sendiri.

Pintu paviliun terbuka perlahan. Ralph masuk tanpa perlu mengetuk, masih mengenakan jubah kebesarannya yang berat. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Meghan, menatap punggung wanita itu melalui pantulan cermin perunggu. Tanda hitam bertuliskan namanya di tengkuk Meghan membuatnya senang.

"Kau seharusnya menangis. Kebanyakan wanita akan pingsan jika kehilangan kehormatannya dalam semalam," ucap Ralph, suaranya kini lebih rendah.

Meghan tidak menjawab. Ia hanya menatap pantulan mata Ralph di cermin dengan tatapan kosong yang dalam. Tidak ada isakan, tidak ada permohonan ampun.

Ia memutar tubuhnya perlahan, membiarkan jubah tidurnya yang longgar sedikit melorot hingga memperlihatkan bahunya yang sehat.

Ia berjalan mendekati Ralph, hingga jarak mereka hanya seujung jari.Namun, mulutnya tetap terkatung rapat seolah suara adalah kemewahan yang tak ingin ia berikan pada pria itu.

Ralph terpaku. Ia menemukan keheningan yang membara. Sang Pangeran Mahkota merasa bahwa ia mungkin baru saja membawa masuk seekor singa ke dalam kandangnya sendiri. Makhluk yang diam bukan karena patuh, tapi karena sedang mengincar lehernya.

"Kau sangat berani untuk seorang peliharaan," desis Ralph, tangannya bergerak mencekik leher Meghan dengan lembut, ibu jarinya tepat berada di atas denyut nadi Meghan yang berdetak kuat.

Meghan hanya memejamkan mata sesaat, merasakan tekanan tangan Ralph. Ia tidak membalas ucapan itu. Ia justru menjangkau tangan Ralph yang berada di lehernya, membimbing telapak tangan kasar pria itu untuk meraba ukiran yang masih terasa panas di tengkuknya.

Sebuah penyerahan diri yang terasa seperti kutukan.

"Kau terlalu banyak bicara di dalam kepalamu," desis Ralph lagi, merasa terganggu karena tidak mendapat reaksi verbal.

"Kau tahu bagaimana malam pertama yang dilakukan seorang selir? Telanjang bersama pemiliknya, karena keesokan harinya akan ada pelayan yang mengecek ranjang ini, seberapa banyak darah yang mengering di atasnya. Itulah harga yang kukeluarkan untuk membelimu dari ayahmu."

Meghan merasakan denyut jantungnya berpacu karena takut. Ia menatap mata Ralph dengan tatapan yang semakin tajam, mencari celah di balik iris gelap yang mengingatkannya pada pria kejam di masa lalunya.

Ia tetap bungkam, membiarkan keheningan itu menjadi senjatanya untuk menguliti kesabaran Ralph.

Ralph tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa belas kasihan.

"Ya, dan itulah hargamu. Murah."

Ralph menyentak leher Meghan pelan, memaksa wanita itu mendongak lebih tinggi hingga napas mereka beradu. Ia menatap bibir Meghan yang terkatup rapat, merasa tertantang oleh ketenangan yang menghina itu.

Amarah dan gairah yang tidak terduga berkilat di matanya. Ralph ingin menghancurkan ketenangan itu, ingin mendengar Meghan memohon atau setidaknya menyebut namanya dengan gemetar.

"Jangan berpikir diammu bisa menyelamatkanmu dari kewajiban malam ini, Meghan Valerius," ucap Ralph sambil menarik paksa tali gaun Meghan hingga bahunya sedikit terekspos di bawah cahaya lilin yang temaram.

Ralph menyeringai tipis. Ia melepaskan jubah kebesarannya sendiri, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara berdebum yang berat.

"Selirku, Meghan, bukalah pakaianmu sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pembelajaran Ashton

    Pangeran Ashton yang kini menginjak usia sembilan tahun duduk di samping meja oak besar di Ruang Studi Diraja. Di hadapannya terbentang naskah perkamen kulit lembu yang ditulis dengan tinta empedu. Ia sedang mempelajari daftar kewajiban upeti dan pajak tanah (tithe) dari para penguasa lahan (landlord) di perbatasan.​"Ashton," panggil Meghan seraya meletakkan segel lilin merah di atas meja. "Jika seorang baron di wilayah barat menolak mengirimkan kavaleri berkuda saat panggilan perang dibunyikan, apa langkah hukum feodal yang harus kau ambil?"​Ashton mendongak. Matanya yang berwarna kelabu menatap ibunya tanpa ragu. "Sesuai Piagam Diraja tahun 1292, hak atas tanah (fiefdom) miliknya dicabut. Tanah itu kembali menjadi milik Mahkota, dan ia bisa dijatuhi hukuman pengasingan atas tindakan pembangkangan (felony)."​Ralph, yang sedang memeriksa mata pedang besi tempa milik garda depan di dekat perapian besar, mengangguk setuju.​"Bagus," ujar Ralph dengan suara beratnya. "Di era ini, t

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ashton dan Perkembangannya

    Musim dingin kembali menyapa lima tahun kemudian. Kali ini, benteng tak lagi menyambutnya dengan ketakutan atau kesiapsiagaan perang yang mencekam. Di balik dinding batu granit yang kokoh, tatanan pemerintahan berjalan presisi dan dingin.​Ashton kini berusia sembilan tahun. Ia tumbuh di bawah pengawasan ketat Ralph dalam ilmu militer dan disiplin kepemimpinan, serta tempaan Meghan dalam taktik diplomasi dan strategi hukum. Tidak ada ruang untuk memanjakan calon penguasa di Istana Agung. Ashton diajari membaca peta navigasi militer sebelum ia genap berusia tujuh tahun dan diwajibkan menghadiri setiap sidang kabinet harian dari sudut ruangan.​Siang itu, salju tipis mulai melapis papan-papan kayu di pelataran latihan. Ralph berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan Ashton yang sedang berlatih pedang kayu melawan dua prajurit instruktur Garda Utama. Gerakan bocah itu tegas, tangkas, dan tanpa ragu—ciri khas yang diwariskan langsung dari garis darahnya.​Langkah kaki Meghan terdengar

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ashton Kecil

    Tahun-tahun berikutnya bergulir membawa keemasan yang kian mengakar di seluruh penjuru negeri. Musim panas berganti musim gugur yang sejuk, menyelimuti perbukitan sekitar ibu kota dengan warna keemasan dan tembaga. Di bawah kepemimpinan Ralph dan Meghan, Kerajaan tidak hanya menjadi benteng militer yang tak menembus di utara, tetapi juga pusat perdagangan dan kebudayaan terkemuka di seluruh daratan.​Pangeran Ashton kini tumbuh menjadi seorang bocah berusia empat tahun yang tangkas dan cerdas. Matanya mewarisi ketajaman iris kelabu milik Ralph, namun ketenangan dan kecermatannya bertutur berasal dari sang ibu. Setiap pagi, Ashton kecil sudah terbiasa duduk di sudut Ruang Studi Diraja, memperhatikan ibunya mendengarkan laporan menteri atau melihat ayahnya memeriksa peta-peta navigasi armada laut.​Di pelataran tengah Istana Agung, tumpukan dokumen traktat lama telah digantikan oleh Kodifikasi Hukum Baru—sebuah kitab undang-undang terpadu yang dirancang oleh Ratu Meghan bersama Bapa A

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Membakar Duri

    Musim semi perlahan berganti menjadi musim panas yang hangat. Lembah di sekeliling Istana melimpah dengan warna hijau segar, sementara pepohonan di sepanjang jalan ibu kota berbuah lebat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, kedamaian yang sesungguhnya dapat dirasakan bukan hanya di dalam dinding benteng, melainkan hingga ke pelosok desa terpencil.​Di Aula Pesta Kerajaan, persiapan besar sedang berlangsung. Perayaan Fajar Kerajaan. Sebuah tradisi tahunan untuk memperingati kemakmuran dan persatuan, akan digelar dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya. Duta besar dan perwakilan dari Dewan Tiga Negara, kerajaan tetangga di Wilayah Selatan, hingga para pedagang besar dari Selat Selatan telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Peristiwa ini bukan sekadar pesta dansa biasa, melainkan panggung resmi untuk menunjukkan kekuasaan mutlak Wangsa Diraja yang bersatu.​Meghan berdiri di balkon kamar utamanya, memandangi kesibukan para pelayan dan prajurit yang menghiasi pelataran denga

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Era Baru

    Memasuki pertengahan musim semi, seluruh wilayah kerajaan menikmati stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dekade terakhir. Nama Ratu Meghan tak lagi diucapkan dengan nada meremehkan oleh para bangsawan; ia kini dihormati sebagai pengatur strategi hukum dan ekonomi yang ulung di samping kekuatan militer Sang Raja.​Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna di permukaan, sebuah laporan rahasia mendarat di meja kerja Ralph pada suatu malam yang sunyi.​Bapa Anselm masuk tanpa mengetuk pintu—sebuah tindakan tidak biasa yang menandakan kegentingan situasi. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung tembaga berisi kertas perkamen tipis dari jaringan mata-mata kerajaan yang beroperasi di pinggiran Pegunungan Utara.​"Paduka," panggil Bapa Anselm dengan suara diredam. "Laporan dari pos pemantau jauh di Benteng Celah Hitam. Ini bukan mengenai Kerajaan Barat atau klan Vance."​Ralph yang sedang mempelajari peta pertahanan pesisir mendongak. Matanya yang tajam menangkap ket

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Perjanjian Ini Sah

    Dua bulan pasca-penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat, konsolidasi kekuatan internal mencapai puncaknya. Salju di sekitar benteng mulai mencair, membuka akses jalan utama menuju Wilayah Selatan dan Barat. Di bawah arahan Ratu Meghan, jalur logistik baru tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga memperkuat pos-pos pemeriksaan militer di seluruh perbatasan.​Namun, kedamaian di permukaan itu pecah saat Fajar pertama musim semi tiba.​Bapa Anselm memasuki Aula Kerja Kerajaan dengan langkah tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu hitam tanpa ukiran yang dikirimkan oleh kurir anonim dari pelabuhan perbatasan Wilayah Timur. Jalur laut yang selama ini dianggap paling aman dan netral.​"Paduka, Ratu Meghan," panggil Bapa Anselm, suaranya mengandung nada kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Kotak ini tiba bersama stempel segel milik Konsul Dagang Wilayah Timur. Namun operatesi pemeriksaan di perbatasan menemukan noda darah yang mengering di bawah alasnya."​

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Protokol Selir

    Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Sekolah Selir

    Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ducat Meghan

    Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Milik Ralph

    “Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status