Share

Milik Ralph

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-04-30 18:23:02

“Aku menolak!”

Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana.

Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin.

Nadira, dalam jiwa Meghan, tidak bisa lagi membendung rasa muak yang ia rasakan. Ia baru saja mendapatkan kesehatan yang ia dambakan, dan ia tidak akan membiarkan hidup barunya dimulai dengan menjadi sekadar alat pelunas utang bagi keluarganya dan menikah dengan seorang anak selir.

"Aku menolaknya!”

Lagi. Suara Meghan memecah keheningan ruangan, tenang tapi begitu tajam hingga membuat Carl tersentak kecewa.

"Setelah merenungi posisi dan harga diri keluarga Valerius, aku memutuskan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan. Aku adalah putri dari garis keturunan bangsawan yang sah, dan bersanding dengan seorang anak selir adalah sebuah penghinaan yang dilemparkan tepat di wajahku!"

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Carl mematung dengan wajah merah padam karena malu yang luar biasa, sementara Baron Valerius gemetar hebat.

Sang Baron segera berlutut di hadapan Permaisuri, suaranya parau menahan murka sekaligus ketakutan.

"Maafkan putri hamba, Ibu Ratu! Maafkan kelancangannya! Meghan pasti sedang tidak sadar, dia ... dia hanya terlalu gugup!"

Baron Valerius menoleh ke arah Meghan dengan mata yang nyaris melompat keluar.

"Tarik ucapanmu, Meghan! Kau sudah berusia dua puluh dua tahun! Siapa lagi bangsawan yang mau meminangmu jika membuang kesempatan emas ini?!"

Di tengah kekacauan itu, Ralph yang sedari tadi hanya mengamati dari kursi kebesarannya mulai menunjukkan reaksi. Ia tidak marah atas kelancangan Meghan. Sebaliknya, ia merasa sangat terhibur.

Ralph kemudian memanggil penasihat kerajaan yang berdiri di sudut ruangan.

"Penasihat, ingatkan aku kembali, pada umur berapa Paduka Raja, ayahku, mengambil selir pertamanya?"

Penasihat itu membungkuk dalam, suaranya sedikit bergetar.

"Dua puluh tiga tahun, Pangeran Mahkota."

Ralph tersenyum miring. Ia melirik Meghan dari ujung kaki hingga ujung kepala, menikmati kepanikan yang mulai menjalar di ruangan itu.

"Ah, berarti aku setahun lebih cepat darinya," ucap Ralph dingin.

"Meghan Valerius menolak menjadi istri dari anak seorang selir karena ia merasa terlalu cantik dan terhormat untuk kasta serendah itu.”

Ralph kemudian berbalik, memberikan perintah yang menggelegar kepada para pengawal.

"Panggilkan pelukis tubuh kerajaan sekarang juga! Aku ingin dia mengukir namaku di tengkuk bangsawan kelas tiga ini. Jika dia merasa terlalu tinggi untuk menjadi istri seorang anak selir, maka biar dia merasakan bagaimana rasanya menjadi selir dari Pangeran Mahkota!"

Meghan terbelalak.

Di tahun 1290, tato kerajaan di tengkuk bukan sekadar hiasan, itu adalah tanda kepemilikan mutlak. Sebuah label peliharaan yang membuat seorang wanita tidak akan pernah bisa dinikahi oleh pria lain seumur hidup.

Sementara itu, Baron Valerius jatuh terduduk di lantai marmer, wajahnya pucat pasi seputih kapas. Harapannya untuk melihat putrinya menjadi istri sah dari seorang putra raja kini musnah, berganti dengan kenyataan pahit bahwa Meghan akan menjadi barang milik Pangeran Mahkota.

"Pangeran, kau tidak bisa melakukan ini! Ini adalah malam pertunanganku! Dia adalah calon istriku!" Carl berkata dengan suara yang pecah antara amarah dan kekecewaan.

Ralph hanya melirik Carl sekilas, sebuah tatapan yang penuh dengan kejijikan.

"Dia baru saja menolakmu di depan seluruh bangsawan. Kau masih ingin memilikinya setelah dia meludahi harga dirimu?"

Dua orang pengawal bertubuh besar segera merangsek maju dan memegangi lengan Meghan.

Nadira, dalam tubuh Meghan, merasakan amarah yang memuncak. Ia baru saja mendapatkan tubuh yang sehat, baru saja menghirup napas lega tanpa bantuan mesin, dan sekarang ia akan ditandai seperti seekor hewan ternak.

"Lepaskan aku!" Meghan meronta, tapi tenaga pria-pria itu jauh lebih kuat.

Seorang pelukis tubuh kerajaan masuk dengan tergesa-gesa, membawa kotak kayu berisi jarum-jarum perak halus dan tinta hitam yang pekat. Suasana menjadi gelap dan mencekam saat Ralph mendekat ke arah Meghan.

Pangeran itu dengan kasar menyibakkan rambut panjang Meghan ke samping, mengekspos tengkuknya yang putih.

"Jangan bergerak, Meghan Valerius," bisik Ralph di telinganya, napasnya yang hangat terasa kontras dengan kata-katanya yang dingin.

"Kau menginginkan kehidupan yang panjang dan terhormat, bukan? Maka kau akan menjadi saksi bagaimana aku menghancurkan setiap pria yang berani menatapmu."

Tanpa ampun, jarum pertama menusuk kulit halus di tengkuk Meghan.

"Argh!"

Meghan memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakitnya tajam, menjalar hingga ke saraf tulang belakangnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, memorinya kembali berputar.

Wajah Ralph yang sangat dekat ini benar-benar serupa dengan pria di masa lalunya. Pria yang pernah berkata bahwa ia tidak mau menjadi duda karenanya.

'Dulu dia membuangku karena aku akan mati, sekarang dia memberiku tanda karena aku hidup.'

Tinta hitam itu mulai membentuk pola rumit. Lambang kerajaan beserta nama Ralph yang terukir permanen di sana. Setiap tusukan jarum seolah menjadi pengingat bagi Meghan bahwa perjuangannya baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan tanda ini menjadi belenggu.

Jika Ralph ingin menjadikannya selir, maka ia akan menjadi selir paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah kerajaan ini. Ia akan membuat pria ini bertekuk lutut, mencintainya sampai gila, lalu menghancurkannya tepat saat Ralph merasa telah memilikinya sepenuhnya.

Ralph tidak membiarkan Meghan menjauh. Tangannya yang besar dan kuat masih mencengkeram rahang Meghan, memaksanya untuk terus menatap mata yang penuh dengan kilat obsesi itu.

Di tengah aula yang kini mulai dikosongkan dari para tamu. Pelukis tubuh tadi sudah pergi, meninggalkan aroma tinta dan darah.

Meghan bisa merasakan sisa tinta hitam di tengkuknya mulai mengering, menarik kulitnya dengan rasa perih yang konstan. Namun, rasa perih itu justru membuatnya merasa sangat hidup.

Ia berdiri dengan kaki yang kokoh, tidak lagi gemetar seperti Nadira yang dulu selalu merasa kedinginan di bawah selimut rumah sakit.

Ralph memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap bibir Meghan yang sedikit terbuka, lalu beralih ke matanya yang tajam.

Prajurit yang mengawal Meghan tidak memberikan sedikit pun kesempatan baginya untuk berdiri tegak ketika Ralph mendekat. Dengan satu sentakan kasar di bahu, Meghan dipaksa jatuh.

Suara lututnya yang menghantam lantai marmer dingin bergema di seantero aula, memutus keheningan yang mencekam.

Baron Valerius hanya bisa terpaku dengan wajah pucat pasi, menyaksikan putri tunggalnya kini berada di posisi paling rendah di hadapan seluruh bangsawan.

Ralph tidak segera bicara. Ia membiarkan Meghan tetap dalam posisi terhina itu, membiarkan mata semua orang menguliti harga diri wanita itu.

"Kau sangat tenang untuk wanita yang baru saja kehilangan masa depannya. Atau mungkin, kau memang sudah merencanakan ini? Menolak adikku yang lemah demi merangkak ke ranjangku?" desis Ralph, napasnya hangat berbau anggur kerajaan yang telah lama difermentasi.

Meghan tidak bisa melawan secara fisik. Ia tetap berlutut, tapi ia menolak untuk memalingkan wajah. Ia membiarkan matanya menatap langsung ke dalam mata elang pria itu, memberikan tatapan yang tenang namun sarat akan harga diri yang tersisa.

"Bawa dia ke Paviliun Barat. Pastikan dia tidak meninggalkan kamar itu sampai aku sendiri yang datang untuk menjemput sisa keberaniannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ratumu

    Ralph duduk di tepi ranjang, membelakangi Meghan seraya mengenakan kembali jubah hitamnya yang sempat tanggal. Gerakannya begitu tenang, efisien, dan tanpa beban. Kamar yang beberapa saat lalu dipenuhi kepasrahan yang menyakitkan, kini mendadak berubah sedingin es. Tidak ada sisa kehangatan, tidak ada afeksi. Udara di sekitar mereka terasa seperti medan perang yang baru saja usai, menyisakan jasad-jasad tak kasat mata."Jangan tunjukkan wajah mati seperti itu ke arahku," ucap Ralph dingin tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Suaranya datar, sedikit menuntut. "Aku tidak suka melihat wanita yang baru saja kupeluk terlihat seolah dia sedang bersiap menghadiri pemakamannya sendiri."Meghan perlahan menarik selimut beludru yang kusut untuk menutupi tubuhnya yang pias dan gemetar. Keheningan malam seolah menertawakan kehancurannya. Sebuah senyum getir yang sarat akan racun terukir di bibirnya yang terluka akibat ciuman kasar pria itu."Bukankah ini memang pemakaman, Paduka?" Suara Me

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Calon

    Meghan tersentak. Rasa hangat yang sempat singgah di dadanya seketika menguap, digantikan oleh gelombang hawa dingin yang menjalar ke sekujur tubuh. Kata-kata Ralph barusan bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah mutlak yang merendahkan eksistensinya hingga ke titik terendah."Seorang putra?" Meghan mengulang kalimat itu dengan parau, menyentakkan kepalanya kasar untuk melepaskan diri dari cengkeraman Ralph. Ia mundur dua langkah hingga tumitnya menghantam kaki meja kayu, napasnya memburu naik-turun menahan sesak."Kau mengurungku setahun seperti binatang, membiarkanku gila dalam ketidaktahuan, sementara di luar sana kau bersiap memenggal Elanor karena bayinya meninggal!" Suara Meghan naik satu oktaf, bergetar hebat oleh akumulasi luka dan amarah yang meledak. Air mata kemarahan mengalir deras di pipinya yang kacau. "Dan sekarang ... setelah semua kekejaman itu, kau datang kemari menuntut rahimku? Kau ingin aku melahirkan darah dagingmu? Kau gila! Aku membencimu! Aku l

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Seorang Anak

    Meghan merindukannya.​Di antara seluruh rasa muak, trauma, dan dendam yang ia pelihara dalam setahun isolasi, sebuah kenyataan pahit menghantam dadanya tanpa ampun, hatinya masih berdesir hangat saat namanya dipanggil oleh orang yang dia cintai. Namun di saat yang sama, jantungnya serasa dibelah pedang. Rasa cinta dan benci itu melebur menjadi racun yang mencekik tenggorokannya.​Setelah satu tahun lamanya terkurung dalam radius lima meter, setelah bermusim-musim mereka tidak saling bertemu dan bertukar pandang, hari ini matanya kembali menatap iris abu itu. Iris mata yang selalu menjanjikan surga sekaligus neraka dalam waktu yang bersamaan.​"Meghan," panggil Ralph lagi. Suaranya tidak sekasar setahun lalu, melainkan ada nada rendah yang sarat akan kerinduan yang terpendam.​Meghan mundur selangkah. Kakinya yang bebas dari rantai terasa lemas. Kepalanya mendadak pening saat menyadari sesuatu yang keliru, sesuatu yang merusak semua spekulasi dan ingatan raga yang ia tempati.​Wajah

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meghan

    Satu tahun. Waktu yang teramat panjang untuk dihabiskan dalam radius lima meter.​Meghan tetaplah Meghan. Jiwa Nadira di dalam raga ini terlalu keras kepala untuk menekur dan memohon ampun pada seorang diktator. Ia menolak untuk bersikap baik pada Ralph, menolak menjadi binal seperti selir ayah pria itu, dan alhasil, di sinilah ia sekarang. Terdampar di sudut kamar dengan satu kaki yang masih setia dibungkus besi bundar berantai tebal.​Ia tidak lagi tahu tentang kabar di istana ini. Dunia luar seolah telah menghapus keberadaannya.​Semua pelayan yang datang mengantar makanan, membersihkan ruangan, dan membantunya berganti baju memiliki satu kesamaan, mereka bisu. Mereka tak pernah dibiarkan berbincang terlalu lama dengan Meghan. Setiap kali Meghan mencoba membuka mulut untuk bertanya, tentang Elanor, tentang politik, atau sekadar hari apa sekarang, para pelayan itu akan langsung gemetar ketakutan dan bergegas pergi.​Awalnya, Meghan marah besar dengan aturan isolasi itu. Ia sering

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Aku Benci Selir

    "Aku tidak perlu untuk memohon apa pun." Suara Meghan terdengar serak, tidak ada nada gentar di dalamnya. Ia mendongak, menantang sepasang mata gelap di balik bayangan obor itu. Ralph menunduk, menatapnya dengan senyum miring yang sarat akan cemoohan. "Tidak ingin bebas? Tidak ingin tahu bagaimana hukum berjalan?" Pertanyaan itu sempat membuat pertahanan Meghan goyah. Jiwa Nadira di dalam dirinya menjerit, ingin tahu apakah Elanor masih bernapas di paviliun seberang, atau apakah hukum gantung telah merenggut nyawa Ratu malang itu. Namun, melihat binar manipulatif di mata Ralph, Meghan lekas menarik kembali egonya. Ia mengeraskan rahang, kembali bersikap angkuh. "Tidak perlu. Kebengisanmu sudah terbaca olehku." "Aku bengis bagimu?" Ralph mengangkat sebelah alisnya. Meghan mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Ralph perlahan melangkah maju. Gemerincing rantai di kaki Meghan berbunyi kaku saat wanita itu mencoba menggeser tubuhnya ke belakang. Menjauh hingg

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pahlawan

    Belati di leher Meghan ditarik kembali, menyisakan goresan tipis kemerahan yang terasa perih. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tubuh ringkih Meghan diseret kasar menjauh dari paviliun Ratu Elanor, melewati lorong-lorong dingin, dan diempaskan begitu saja ke lantai kamarnya sendiri. ​"Aku tidak suka bagaimana selir mencoba mengaturku!" gertak Ralph, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengirimkan sensor ketakutan yang instan pada setiap pelayan yang berjaga di luar. ​Mata Meghan merah, wajahnya kacau balau bercampur air mata dan keringat. Ia mendongak, menatap sang tirani dengan napas yang memburu satu-satu. ​Dia memang bukan pemilik tubuh Meghan yang asli. Ingatan-ingatan masa lalu raga ini tidak sepenuhnya Nadira pahami. Karena jika saja Nadira paham, jika saja ia memiliki ketakutan yang sama dengan Meghan yang asli, ia pasti tahu bahwa menaikkan nada tinggi di depan sang Raja akan langsung dihadiahi hukuman mati yang kejam. Meghan yang asli pasti tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status