تسجيل الدخولMeghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak.
Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya tarik tubuh yang tidak lagi digerogoti penyakit, dan ia yakin bahwa Ralph, seperti pria di masa lalunya, akan tunduk pada hasrat yang meluap. Ralph kemudian menuntunnya menuju ranjang besar berkelambu beludru merah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ketika punggung Meghan menyentuh kasur yang empuk dan Ralph merangkak naik di atasnya, Meghan menyunggingkan senyum kemenangan. Ia merasa telah berhasil menjerat sang Pangeran Mahkota dalam permainan godaan yang ia ciptakan sendiri. Namun, senyum itu membeku saat Ralph tidak menunjukkan tanda-tanda akan menciumnya. Alih-alih menyatukan tubuh mereka, Ralph justru meraih sebuah belati perak yang terselip di balik jubah yang ia lepaskan tadi. Mata pisau itu berkilat tajam tertimpa cahaya lilin. Meghan sempat menahan napas, mengira Ralph akan melukainya. Namun, pria itu justru membalikkan telapak tangannya sendiri. Dengan gerakan mantap dan tanpa ekspresi, Ralph menyayat telapak lengannya. Srett. Darah merah pekat yang hangat mulai merembes keluar, menetes deras ke atas kain putih yang bersih. Satu tetes, dua tetes, hingga membentuk noda kemerahan yang lebar dan berantakan. Persis menyerupai jejak malam pertama yang dinantikan oleh para pelayan istana esok pagi. Ralph meletakkan belati itu kembali, lalu menatap Meghan yang masih mematung tanpa busana di bawahnya. Ia menyunggingkan senyum miring yang penuh penghinaan. "Kau pikir aku akan melumat tubuhmu hanya karena kau menampilkannya dengan murah di hadapanku? Darah ini cukup untuk menipu dunia." Ralph bangkit dari atas tubuh Meghan, merapikan kembali pakaiannya seolah-olah wanita di depannya tidak lebih dari seonggok daging tak bermakna. "Aku tidak ingin menyentuhmu. Aku lebih tertarik menghancurkanmu," lanjut Ralph sambil berdiri di sisi ranjang, menatap Meghan yang kini merasa sangat kecil dan telanjang dalam arti yang paling menyedihkan. "Kau telanjang di depan seorang pria, tapi dia sama sekali tidak tertarik. Itu adalah sebuah kekalahan yang akan kau ingat sepanjang hidupmu, Selirku." Ralph berbalik dan melangkah menuju tempat duduk di sudut ruangan, meninggalkan Meghan yang gemetar di atas ranjang yang kini bernoda darah palsu. Nadira merasakan sesak yang familiar di dadanya. Rasa sakit karena ditolak kembali menghantamnya, tapi kali ini jauh lebih kejam karena pria ini memberinya harapan, hanya untuk menjatuhkannya ke dalam jurang kehinaan yang paling dalam. *** Meghan terbangun dengan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Ia menoleh ke sudut ruangan, menemukan Ralph sudah tidak ada di sana. Hanya sisa aroma tembakau dan kayu cendana yang menandakan keberadaan pria itu semalam. Tak lama kemudian, pintu diketuk dengan ritme yang teratur. Rombongan pelayan tua yang disebut sebagai Matron istana masuk dengan wajah datar. Tugas mereka hanya satu, memvalidasi kesucian yang telah hilang. Mereka menyisir sprei dengan tatapan tajam, lalu mengangguk puas saat melihat noda darah tersebut. "Selamat, Nona Valerius. Anda telah resmi menjadi bagian dari Pangeran Mahkota," ucap kepala pelayan dengan suara dingin. Setelah proses pembersihan tubuh yang melelahkan, Meghan didudukkan di meja rias. Di atas meja itu, terdapat sebuah kantung kulit kecil yang berat. Meghan membukanya dan menemukan kepingan koin emas yang berkilau. "Itu adalah Ducat emas dan beberapa Groshen perak. Uang saku bulanan Anda sebagai selir. Pangeran Mahkota juga telah mengirimkan sepuluh Mark perak kepada ayah Anda sebagai kompensasi atas status Anda," jelas kepala pelayan. Meghan menggenggam koin emas Ducat itu erat-erat. Di tahun 1290, jumlah ini cukup untuk membeli sebuah desa kecil. Namun di tangannya, uang ini terasa seperti logam panas yang membakar telapak tangan. Ralph benar-benar membelinya. Ia diperlakukan seperti barang mewah yang dipajang, tapi tak disentuh. Saat ia berjalan keluar paviliun menuju taman istana, bisik-bisik mulai terdengar. Para pelayan dan bangsawan rendahan yang berpapasan dengannya menunduk. Meghan bisa merasakan cemoohan di balik tatapan mereka. "Lihatlah, itu dia si Peliharaan Pangeran, cantik. Tapi tetap saja, hanya selir yang ditandai seperti ternak," bisik seorang lady dari keluarga Viscount yang lewat. Meghan terus berjalan, dagunya tetap terangkat meski hatinya mendidih. Di kejauhan, ia melihat Ralph sedang berdiri di balkon istana, sedang berbincang dengan para jenderal. Ralph melirik ke arahnya, tatapannya datar, seolah-olah Meghan hanyalah bagian dari dekorasi taman yang baru dibelinya. 'Dia pikir dia menang karena tidak menyentuhku. Di memberi uang dan status, tapi dia lupa satu hal. Di kehidupan ini aku punya waktu yang lama. Dan aku akan menggunakan setiap Ducat ini untuk menghancurkan tembok keangkuhannya sampai dia sendiri yang memohon untuk menyentuhku.' Meghan kemudian berbalik menuju arah perpustakaan istana. Ia butuh lebih dari sekadar kecantikan untuk menang, ia butuh informasi. Dan ia akan memulai perang dingin ini dengan cara yang paling tidak terduga oleh Ralph. "Kau mungkin sudah memahat namamu di atas kulitku agar dunia tahu siapa pemilikku. Tapi di perpustakaan ini, aku akan mencari cara untuk mengukir namaku di atas nisanmu, agar sejarah tahu siapa yang sebenarnya menghancurkanmu.”Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, mengunci kebisingan dari pelataran luar. Ralph menyeret Meghan menuju tengah ruangan, di mana cahaya matahari pagi hanya masuk melalui celah-celah jendela tinggi."Berlutut," perintah Ralph.Meghan bersimpuh tanpa suara. Gaun sutra tipisnya menyapu lantai, sementara rambut emasnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya yang tetap tenang. Ia menatap lantai dengan patuh, tapi di dalam kepalanya, bayangan wajah Ralph terus berputarWajah pria masa lalunya yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan penuh amarah.Ralph melangkah menuju sebuah lemari kecil, mengambil seutas tali kain sutra hitam yang halus dan kuat. Ia kembali berdiri di depan Meghan, lalu dengan kasar menarik wajah wanita itu agar mendongak."Ah, aku mulai benci ketika Selirku melihat lelaki lain," bisik Ralph sambil melingkarkan tali itu di kepala Meghan. Ia menariknya kencang, menutupi kedua mata Meghan dengan kain hitam tersebut, mengikatnya denga
"Rapikan rambutmu, Meghan. Aku tidak ingin anak selir itu mengira aku tidak memberimu waktu untuk sekadar bernapas," ucap Ralph dingin tanpa menoleh.Mereka menuju balkon batu yang menghadap ke pelataran dalam paviliun. Di bawah sana, Carl berdiri mematung di bawah pengawasan dua ksatria penjaga Raja. Kehadiran penjaga pribadi tersebut menandakan bahwa Raja telah merestui pertemuan singkat ini sebagai bentuk belas kasihan terakhir bagi putra bungsunya.Carl mendongak. Wajahnya yang semula penuh harap seketika mengeras saat melihat Meghan muncul dengan rambut pirang keemasan yang terurai bebas hingga ke punggung. Sebuah tanda keintiman yang hanya terjadi di balik pintu tertutup."Kakakku Pangeran Ralph, terima kasih telah mengijinkanku berbicara dengannya." Suara Carl berat, ia membungkuk singkat tapi matanya tetap tertuju pada Meghan.Ralph tertawa rendah, bersandar pada pagar balkon dengan gaya merendahkan. "Bicaralah, Carl."Carl melangkah maju, sedekat yang diizinkan oleh ujung
Di dalam kamar paviliun yang baru, keheningan hanya dipecahkan oleh suara sikat yang menyisir rambut pirang keemasan Meghan. Saat pelayan mencabut jepit perak, rambut itu tergerai jatuh seperti aliran emas murni hingga mencapai pinggangnya.Pintu terbuka. Ralph melangkah masuk, membiarkan langkah botnya bergema di lantai marmer. Para pelayan segera membungkuk dan undur diri, meninggalkan Meghan sendirian dengan pria yang telah menjadikannya alat pembalas dendam.Ralph berdiri di belakangnya, menatap pantulan Meghan di cermin. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar membelai helai pirang keemasan itu sebelum menariknya dengan sentakan kecil, memaksa Meghan mendongak menatapnya."Jangan bergerak, Meghan. Biarkan aku menikmati pemandangan jatuhnya martabat," bisik Ralph tepat di telinganya.Begitu jepit rambut terakhir dilepas, rambut pirang keemasan Meghan terurai jatuh seperti air terjun emas, menutupi punggungnya yang kini hanya dibalut sutra tipis. Meghan menatap pantulan dirinya
"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Tuan," jawab Meghan serak. Ia menyerahkan tumpukan laporan pajak yang sudah ia salin dengan tangan gemetar. Semalam, selain meminta membersihkan sepatunya, Ralph juga menyuruh Meghan untuk memeriksa perkamen para Baron dari Utara.Ralph menyeringai, tapi sebelum ia sempat membalas, suara terompet dari arah gerbang utama menggelegar. "Raja telah kembali, mari kita sambut ayahku. Jangan berani-berani merapihkan rambutmu, Meghan. Biarkan mereka berpikir bagaimana buasnya malam kita," gumam Ralph. Ia menarik dagu Meghan, memaksanya berdiri dengan sentakan pelan.Aula utama dipenuhi kemegahan saat pintu besar terbuka. Permaisuri melangkah maju dengan keanggunan yang kaku, menyambut Raja Rowan yang baru saja tiba dari perjalanan panjang. "Selamat datang kembali, suamiku," ucap Sang Permaisuri sembari membungkuk hormat, mencoba mencuri perhatian pria yang telah lama meninggalkannya.Namun, langkah kaki Sang Raja terhenti. Matanya mengabaikan sambutan is
"Kau seharusnya tidak berada di lorong ini, Nona Valerius," ucap Carl. Suaranya rendah, tertahan oleh protokol yang mencekik lehernya sendiri. Ia berdiri kaku, menjaga jarak dua langkah sesuai aturan kesopanan antara seorang bangsawan dan selir saudaranya. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ia menatap gaun beludru biru tinggi itu dengan luka yang dalam, menyadari bahwa pakaian tertutup itu adalah tanda bahwa Meghan kini adalah wilayah terlarang bagi siapa pun kecuali kakaknya.Meghan berhenti, tapi tidak berbalik sepenuhnya. Ia membiarkan profil wajahnya terlihat di bawah cahaya obor. "Tuan Muda Carl, saya hanya sedang mengikuti perintah untuk kembali ke paviliun.""Perintah." Carl mendesiskan kata itu, tapi segera menundukkan kepalanya saat seorang pengawal melintas di ujung lorong. Ia harus menjaga sapaannya tetap formal. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau diperlakukan dengan pantas. Sebagai pria yang pernah meminta tanganmu pada Baron Valerius, melihatmu berdiri di kaki s
Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rumit agar tidak ada satu helai pun yang menutupi tengkuknya. Tujuannya hanya satu, membiarkan nama RALPH di atas kulitnya menjadi pusat perhatian, sebuah segel kepemilikan yang harus terbaca jelas oleh siapa pun yang berdiri di belakangnya. Namun, ketika tiba saatnya memilih busana, para pelayan tidak membawakan gaun sutra transparan atau pakaian yang menyingkap dada sebagaimana biasanya selir kerajaan di masa lalu dipersiapkan. Sebaliknya, mereka membentangkan sebuah gaun indah dari kain beludru tebal berwarna biru gelap, dengan kerah tinggi yang dihiasi renda kaku dan lengan panjang yang menyempit hingga ke pergelangan tangan. Ini adalah busana yang setara dengan status istri seorang Vis







