Share

Ducat Meghan

Author: Ivorybeige
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-30 18:35:44

Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak.

Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya tarik tubuh yang tidak lagi digerogoti penyakit, dan ia yakin bahwa Ralph, seperti pria di masa lalunya, akan tunduk pada hasrat yang meluap.

Ralph kemudian menuntunnya menuju ranjang besar berkelambu beludru merah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ketika punggung Meghan menyentuh kasur yang empuk dan Ralph merangkak naik di atasnya, Meghan menyunggingkan senyum kemenangan.

Ia merasa telah berhasil menjerat sang Pangeran Mahkota dalam permainan godaan yang ia ciptakan sendiri.

Namun, senyum itu membeku saat Ralph tidak menunjukkan tanda-tanda akan menciumnya.

Alih-alih menyatukan tubuh mereka, Ralph justru meraih sebuah belati perak yang terselip di balik jubah yang ia lepaskan tadi. Mata pisau itu berkilat tajam tertimpa cahaya lilin.

Meghan sempat menahan napas, mengira Ralph akan melukainya. Namun, pria itu justru membalikkan telapak tangannya sendiri. Dengan gerakan mantap dan tanpa ekspresi, Ralph menyayat telapak lengannya.

Srett.

Darah merah pekat yang hangat mulai merembes keluar, menetes deras ke atas kain putih yang bersih. Satu tetes, dua tetes, hingga membentuk noda kemerahan yang lebar dan berantakan. Persis menyerupai jejak malam pertama yang dinantikan oleh para pelayan istana esok pagi.

Ralph meletakkan belati itu kembali, lalu menatap Meghan yang masih mematung tanpa busana di bawahnya. Ia menyunggingkan senyum miring yang penuh penghinaan.

"Kau pikir aku akan melumat tubuhmu hanya karena kau menampilkannya dengan murah di hadapanku? Darah ini cukup untuk menipu dunia."

Ralph bangkit dari atas tubuh Meghan, merapikan kembali pakaiannya seolah-olah wanita di depannya tidak lebih dari seonggok daging tak bermakna.

"Aku tidak ingin menyentuhmu. Aku lebih tertarik menghancurkanmu," lanjut Ralph sambil berdiri di sisi ranjang, menatap Meghan yang kini merasa sangat kecil dan telanjang dalam arti yang paling menyedihkan.

"Kau telanjang di depan seorang pria, tapi dia sama sekali tidak tertarik. Itu adalah sebuah kekalahan yang akan kau ingat sepanjang hidupmu, Selirku."

Ralph berbalik dan melangkah menuju tempat duduk di sudut ruangan, meninggalkan Meghan yang gemetar di atas ranjang yang kini bernoda darah palsu.

Nadira merasakan sesak yang familiar di dadanya. Rasa sakit karena ditolak kembali menghantamnya, tapi kali ini jauh lebih kejam karena pria ini memberinya harapan, hanya untuk menjatuhkannya ke dalam jurang kehinaan yang paling dalam.

***

Meghan terbangun dengan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Ia menoleh ke sudut ruangan, menemukan Ralph sudah tidak ada di sana. Hanya sisa aroma tembakau dan kayu cendana yang menandakan keberadaan pria itu semalam.

Tak lama kemudian, pintu diketuk dengan ritme yang teratur. Rombongan pelayan tua yang disebut sebagai Matron istana masuk dengan wajah datar.

Tugas mereka hanya satu, memvalidasi kesucian yang telah hilang. Mereka menyisir sprei dengan tatapan tajam, lalu mengangguk puas saat melihat noda darah tersebut.

"Selamat, Nona Valerius. Anda telah resmi menjadi bagian dari Pangeran Mahkota," ucap kepala pelayan dengan suara dingin.

Setelah proses pembersihan tubuh yang melelahkan, Meghan didudukkan di meja rias. Di atas meja itu, terdapat sebuah kantung kulit kecil yang berat. Meghan membukanya dan menemukan kepingan koin emas yang berkilau.

"Itu adalah Ducat emas dan beberapa Groshen perak. Uang saku bulanan Anda sebagai selir. Pangeran Mahkota juga telah mengirimkan sepuluh Mark perak kepada ayah Anda sebagai kompensasi atas status Anda," jelas kepala pelayan.

Meghan menggenggam koin emas Ducat itu erat-erat. Di tahun 1290, jumlah ini cukup untuk membeli sebuah desa kecil.

Namun di tangannya, uang ini terasa seperti logam panas yang membakar telapak tangan. Ralph benar-benar membelinya. Ia diperlakukan seperti barang mewah yang dipajang, tapi tak disentuh.

Saat ia berjalan keluar paviliun menuju taman istana, bisik-bisik mulai terdengar. Para pelayan dan bangsawan rendahan yang berpapasan dengannya menunduk. Meghan bisa merasakan cemoohan di balik tatapan mereka.

"Lihatlah, itu dia si Peliharaan Pangeran, cantik. Tapi tetap saja, hanya selir yang ditandai seperti ternak," bisik seorang lady dari keluarga Viscount yang lewat.

Meghan terus berjalan, dagunya tetap terangkat meski hatinya mendidih. Di kejauhan, ia melihat Ralph sedang berdiri di balkon istana, sedang berbincang dengan para jenderal.

Ralph melirik ke arahnya, tatapannya datar, seolah-olah Meghan hanyalah bagian dari dekorasi taman yang baru dibelinya.

'Dia pikir dia menang karena tidak menyentuhku. Di memberi uang dan status, tapi dia lupa satu hal. Di kehidupan ini aku punya waktu yang lama. Dan aku akan menggunakan setiap Ducat ini untuk menghancurkan tembok keangkuhannya sampai dia sendiri yang memohon untuk menyentuhku.'

Meghan kemudian berbalik menuju arah perpustakaan istana. Ia butuh lebih dari sekadar kecantikan untuk menang, ia butuh informasi. Dan ia akan memulai perang dingin ini dengan cara yang paling tidak terduga oleh Ralph.

"Kau mungkin sudah memahat namamu di atas kulitku agar dunia tahu siapa pemilikku. Tapi di perpustakaan ini, aku akan mencari cara untuk mengukir namaku di atas nisanmu, agar sejarah tahu siapa yang sebenarnya menghancurkanmu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Sah

    ​Ralph telah memanggil tiga orang paling tepercaya di seluruh kerajaan.Gomund, Panglima Garda Utama yang memiliki parut luka silang di pipinya. Bapa Anselm, kepala arsiparis Istana Agung yang memegang naskah-naskah hukum kuno. Lord Silas, seorang bangsawan senior dari Wilayah Barat yang sejak awal diam-diam berseberangan dengan kubu Lord Vance.​Meghan duduk di dekat perapian yang menyala, menimang Ashton yang terlelap tenang. Gaun beludru birunya telah berganti dengan pakaian sutra tebal berwarna merah tua, warna kebesaran keluarga yang secara tidak resmi kini ia kenakan. ​"Ini bukan sekadar pelanggaran adat, Paduka." Suara Bapa Anselm bergetar, jemari tuanya yang keriput menunjuk sebuah gulungan hukum berusia ratusan tahun yang lapuk dimakan usia. "Pernikahan di hadapan Tetua Agung tanpa persetujuan Ratu Resmi yang masih bertakhta adalah perbuatan yang belum pernah tercatat sejak era Perang Tiga Takhta. Jika ini dilakukan sebelum fajar, Dewan Kabinet bisa menganggapnya sebagai k

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ego

    Suara gemertak kayu pintu tebal yang tertutup rapat bergema, menyisakan keheningan yang mencekam di Ruang Sidang.​Ralph berdiri dalam diam. Jemari tangannya yang terkepal erat memutih, menahan amarah yang membakar dada. Nama Carl kini kembali diangkat dari kegelapan oleh Elanor. Dijadikan mata pisau tajam yang diacungkan tepat ke leher putranya.​Di bawah sana, di balik rerimbunan taman rahasia, Meghan tampak mendongak ke arah jendela tinggi tempat sang Raja berdiri. Seolah sanggup merasakan kerapuhan yang membayang di bahu gagah suaminya.Meghan mempererat dekapan pada Ashton kecil, menatap dari kejauhan dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.​Ralph mengembuskan napas berat, mencoba memadamkan gelora murkanya sebelum ia melangkah keluar. Konflik beracun ini tidak boleh menyentuh Meghan yang masih dalam masa pemulihan.​Beberapa saat kemudian, pintu berat Menara Utara terdorong pelan. Meghan yang tengah membenahi selimut tipis di atas pembaringan Ashton, berbalik seketika. Tat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Hak

    Ruang Sidang di Sayap Timur kastil biasanya hanya digunakan untuk urusan-urusan paling krusial yang enggan disentuh oleh Dewan Menteri. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin, dilingkupi aroma kayu cedar tua dan bau lilin lebah yang membakar pelan di sudut-sudut meja bundar.​Ralph berdiri membelakangi pintu masuk, menatap keluar jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan taman rahasia di bawah sana. Dari ketinggian ini, ia masih bisa melihat bayangan sayup Meghan yang sedang menggendong Ashton dalam balutan kain tebal. Jemari Ralph mengepal di belakang punggungnya, cengkeramannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.​Suara langkah kaki yang teratur dan penuh keanggunan bergema di atas lantai, memecah kesunyian ruangan. Elanor masuk tanpa didampingi pengawal. Ia mengenakan gaun beludru hitam bercorak perak.Pakaian kebesarannya sebagai Ratu yang belum pernah dicopot meski dekrit baru saja disebarkan.​"Langkah yang sangat mengagumkan, Paduka." Suara Elanor mengalun l

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Resmi

    Fajar baru saja menyingsing ketika pesan dari Menara Utara tiba di meja kerja Ratu Elanor.​Tiga bilah belati berlambang Aula Barat yang sebelumnya dibawa oleh para penyusup, kini tertancap di atas meja kayu jati milik sang Ratu. Tidak ada surat, tidak ada pesan tertulis. Hanya darah kering di ujung bilahnya yang menjadi bukti bisu bahwa Ralph tidak hanya menggagalkan rencana senyap itu, tetapi juga mengirimkan ancaman balik yang sangat mematikan.​Elanor berdiri mematung di dekat mejanya. Wajahnya yang biasa anggun kini tampak mengeras, mata kelabunya berkilat penuh amarah yang tertahan. Di hadapannya, Lord Vance dari Dewan Altar menunduk dalam-dalam dengan gemetar.​"Dia ... Paduka Raja telah menyita seluruh dokumen Dewan Altar pagi ini, Yang Mulia," lapor Lord Vane dengan suara bergetar. "Beliau juga mengumumkan bahwa Dewan tidak lagi memiliki hak veto atas urusan garis keturunan kerajaan."​"Paduka Ralph sudah gila," desis Elanor, suaranya sangat rendah namun sarat akan racun.

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Dekrit

    Ralph tidak membuang waktu. Pria itu sadar betul, keamanan Menara Utara ada di bawah kendalinya secara penuh, dan tidak ada satu pun orang luar yang bisa menyusup tanpa terdeteksi oleh pengawal pribadinya.​Namun, fakta bahwa ada pergerakan tidak wajar di koridor luar menunjukkan bahwa Aula Barat sedang mencoba menguji batas kesabarannya dengan mengirimkan penyusup amatir.​"Meghan, tetap di ranjang dan jaga Ashton," bisik Ralph tenang namun dingin. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya. Ini adalah wilayahnya, dan ia adalah Raja di istana ini.​Meghan terbangun pelan, matanya langsung tertuju pada Ralph yang sudah berdiri tegap. Tanpa bersuara, Meghan mendekap Ashton lebih erat dalam pelukannya, percaya penuh pada pria yang berdiri menjaga mereka.​Ralph melangkah mantap menuju pintu utama, tanpa perlu bersembunyi. Dengan satu gerakan cepat dan berwibawa, ia memutar kunci besi tebal dan membuka pintu ek tersebut selebar-lebarnya.​Di luar koridor, dua komandan pengawal pribadin

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ashton

    ​"Ashton Phoenix Alistair." Ralph mengulanginya dengan nada yang dalam, seolah sedang meresmikan nama itu di dalam dinding menara mereka sendiri. "Nama yang kuat untuk anak yang lahir di tengah badai."​"Dia harus kuat, Paduka," ujar Meghan pelan, jemarinya mengusap pipi halus Ashton. "Karena dia tidak lahir di dunia yang ramah."​Ralph perlahan bangkit, lalu mendudukkan diri di lengan kursi malas Meghan, menopang bahu wanita itu dengan lengan kokohnya. "Dunia luar bisa sekotor yang mereka mau, Meghan. Tapi selama dia berada di menara ini, dia adalah Ashton. Putraku. Dan tidak ada satu pun orang di Aula Barat yang bisa mengubah kenyataan itu."​Meghan menyandarkan kepalanya di dada Ralph, mendengarkan detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan. Di dalam kamar yang sunyi ini, di antara kehangatan pelukan Ralph dan napas teratur Ashton, Meghan merasa benteng pertahanan mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi apa pun yang sedang disiapkan oleh kerajaan di luar sana.

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Protokol Selir

    Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Sekolah Selir

    Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Buka Pakaianmu Sekarang

    Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Milik Ralph

    “Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status