LOGIN
"Aku akan melakukan yang kau inginkan, sekarang makanlah." Altherr menatap istrinya yang saat ini terbaring dengan wajah pucat di atas ranjang.
Lucianne telah mogok makan selama berhari-hari, awalnya Altherr mengabaikan Lucianne, tapi setelah lebih dari tiga hari Lucianne masih tidak menyentuh makanannya dan terus menyiksa dirinya sendiri, Altherr tidak tahan lagi.
Lucianne menatap suaminya dengan mata yang memerah. "Aku ingin mendengar Yang Mulia berjanji padaku."
"Aku berjanji padamu bahwa aku akan menikah lagi." Altherr mengatakannya dengan jelas. "Sekarang makanlah!"
Lucianne sangat lemah, tapi karena Altherr sudah berjanji padanya, ia segera bangkit dari tempat tidurnya seilah sudah mendapatkan kekuatannya kembali. "Aku akan makan."
Pelayan yang membawa bubur untuk Lucianne segera mendekat. Altherr mengambil mangkuk yang ada di sana lalu kemudian menyuapi Lucianne dengan perlahan.
Air mata Lucianne akhirnya jatuh. Ia senang, tapi juga sakit. Ia senang karena suaminya mau menikah lagi agar bisa mendapatkan keturunan, tapi ia juga sakit karena ia telah mendorong suaminya dengan kejam agar bersedia menikah lagi.
Ia tahu benar bahwa suaminya sangat setia dan tidak bersedia menikah lagi. Para tetua telah mendorongnya untuk terus menikah lagi agar memiliki keturunan, tapi Altherr selalu menolak.
Sebagai seorang istri, Lucianne tidak boleh egois. Ia yang memiliki kekurangan, ia tidak bisa membiarkan Altherr tutup usia tanpa memiliki anak yang bisa mendoakannya setelah tiada. Ia terus menerus membujuk Altherr untuk mengambil selir, tapi Altherr selalu tidak setuju dan berujung marah padanya.
Hingga akhirnya Lucianne mengambil langkah keras agar Altherr mau mengikuti kemauannya. Lucianne sangat tahu bahwa Altherr sangat menyayanginya, itulah sebabnya ia menggunakan dirinya sendiri untuk mengancam Altherr. Dan ya, cara ini akhirnya berhasil.
"Untuk apa kau menangis? Aku sudah mengikuti kemauanmu." Altherr berkata dengan dingin. Pria ini masih kecewa pada istrinya yang terus menerus mendorongnya untuk menikah lagi dengan mengancam menggunakan nyawanya sendiri.
"Aku menangis karena senang." Lucianne tersenyum lembut.
"Hanya kau wanita yang senang suaminya menikah lagi." Altherr membalas sinis.
Lucianne menerima kemarahan suaminya, ia tahu bahwa ia memang bersalah. "Semua untuk kebaikanmu, Yang Mulia."
"Karena kau sangat ingin aku menikahi wanita lain, maka kau sendiri yang harus menemukan wanita itu, Istriku."
Ruangan itu hening sejenak sebelum akhirnya Lucianne menjawab, "Baik, Yang Mulia."
Hati Altherr seperti ditusuk, istrinya bahkan bersedia untuk turun tangan sendiri mencari wanita yang akan menjadi madunya.
Altherr tidak ingin berdebat dengan Lucianne, meski sangat kecewa ia juga mengerti apa yang dirasakan oleh Lucianne. Berkali-kali Lucianne membujuknya sambil menangis dan mengatakan tentang kekurangannya yang tidak bisa memberikannya keturunan. Altherr tidak ingin Lucianne menyalahkan dirinya lagi. Hal yang paling Altherr benci di dunia ini adalah melihat Lucianne menangis.
Sejak bertunangan dan menikah dengannya, Altherr tidak pernah membuat Lucianne menangis. Baru beberapa waktu terakhir ini Lucianne sering sekali menangis hingga membuatnya tak tahan.
Bubur di dalam mangkuk telah habis. Altherr meletakan mangkuk itu ke meja kecil yang ada di sebelah ranjang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Altherr berdiri dan segera meninggalkan ruangan itu.
**
"Menikahlah dengan suamiku."
Kalimat yang diucapkan oleh wanita asing di depannya membuat Athena mengerutkan keningnya. Apakah wanita ini waras?
"Apa maksud ucapan Anda, Nyonya?" Athena bertanya tidak mengerti.
"Aku adalah istri Jenderal Agung Luminastra. Aku ingin kau menjadi selir suamiku." Lucianne memperjelas maksud kedatangannya ke gubuk Athena.
Athena diam, ia memandangi wajah Lucianne. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang berdiri di depannya saat ini adalah istri dari jenderal agung yang dipuja-puja oleh rakyat Luminastra.
"Kenapa harus saya?" Athena tidak pernah memiliki pemikiran untuk menjadi seorang selir. Tidak, lebih tepatnya ia tidak pernah ingin menikah, entah itu menjadi istri sah atau selir.
"Karena aku menyukaimu."
Beberapa hari lalu Lucianne melihat Athena membantu seorang wanita tua yang dipukuli karena tidak sengaja mengotori pakaian seorang nyonya di pusat perdagangan ibu kota Luminastra.
Setelahnya Lucianne meminta orang untuk menyelidiki tentang Athena. Dan ia pikir Athena adalah wanita yang cocok untuk menjadi istri kedua suaminya. Jika nanti Athena memiliki anak, maka anaknya pasti akan sama berbaktinya dengan Athena terhadap ibunya.
"Ibumu sakit keras, bukan? Kau membutuhkan uang untuk membeli obat yang mahal, kau juga membutuhkan tabib untuk memeriksa ibumu. Jika kau bersedia menikah dengan suamiku maka aku akan memberikanmu uang untuk membeli obat dan menyediakan tabib istana untukmu."
"Kenapa Anda ingin suami Anda menikah lagi? Sangat jarang seorang wanita meminta suaminya untuk menikah lagi."
"Karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Kau melahirkan satu nyawa untuk menyelamatkan satu nyawa lainnya, bukankah itu adil?" Lucianne sangat yakin Athena akan menerima permintaannya untuk menikah dengan Altherr.
Athena memikirkan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya. Ibunya adalah segalanya baginya, dalam beberapa waktu terakhir ini kondisi ibunya terus menurun. Jika ia kehilangan ibunya, maka ia akan sendirian di dunia ini.
"Saya bersedia."
Ibunya telah banyak berkorban untuk membesarkannya, oleh sebab itu sekarang adalah gilirannya untuk berkorban demi kesembuhan sang ibu.
tbc
Hari ini adalah hari ulang tahun Menteri Kehakiman. Altherr, Lucianne dan Athena datang ke perayaan ulang tahun orang penting di Luminastra itu.Setelah memberi salam dan hadiah pada Menteri Kehakiman, Athena membawa Lucianne berkumpul dengan para wanita, sementara Altherr, pria itu saat ini sedang mengobrol dengan beberapa petinggi kerajaan yang juga hadir di sana.Athena merasa tidak nyaman di lingkaran orang-orang kelas atas.“Kakak, aku akan keluar untuk mencari udara segar.”“Ya, Sopia akan menemanimu.”“Baik, Kakak.”Athena segera keluar dari tempat itu. Ia berjalan-jalan ke sekitar taman.“Sopia, aku meninggalkan kipasku. Bisakah kau mengambilkannya?”“Baik, Yang Mulia.”Sopia pergi, Athena kembali melangkah. Wanita itu berhenti hendak menuju ke jembatan lengkung, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang pria dan wanita sedang bercumbu penuh nafsu di balik pohon.Athena tidak memiliki keinginan untuk mengintip, tapi jika ia melanjutkan langkahnya maka ia akan menggan
“Ada apa ini? Apakah sesuatu yang baik terjadi?” Lucianne melihat ke meja makan yang dipenuhi oleh berbagai jenis hidangan yang tampaknya sangat menggugah selera.“Hari ini Ibu sudah sadarkan diri. Semua makanan ini adalah ungkapan terima kasihku pada Kakak karena telah membantuku.”Lucianne mengerti kenapa saat ini Athena tampak bahagia.“Itu adalah kabar yang sangat baik. Aku turut bahagia untukmu.”“Terima kasih, Kakak.”Lucianne membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman ringan.Altherr datang, pria itu melihat Lucianne dan Athena yang tampak akur.“Suamiku, kau sudah datang.” Lucianne segera menyambut suaminya.“Ya, Istriku.”“Ayo duduklah!”Altherr segera duduk. Meja makan yang dulunya hanya ada dua tempat duduk itu kini telah menambahkan tempat duduk yang baru.Lucianne ingin ia, Altherr dan Athena setiap harinya makan bersama.Altherr melihat ke meja makan, cukup banyak hidangan di sana dan Altherr yakin bukan Lucianne yang memasaknya, karena menu masakan itu baru ia lih
Keesokan harinya Ean menemui Altherr, pria itu telah menyelidiki mengenai identitas Athena.Athena berasal dari sebuah desa kecil, wanita itu awalnya tinggal bersama dengan paman dan juga ibunya. Pamannya adalah seorang prajurit yang saat ini sudah gugur saat desa tempat tinggal mereka diserang olah para pemberontak beberapa tahun lalu.Setelah itu Athena pindah ke beberapa tempat bersama dengan ibunya dan akhirnya menetap di ibukota. Ibu Athena menderita penyakit serius hingga membuat wanita itu hanya bisa terbaring di ranjang. Setelah ibunya sakit, Athena yang saat itu masih berusia enam belas tahun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan ibunya juga untuk biaya pengobatan ibunya.Athena bekerja di sebuah kedai mie di pusat ibu kota, selain itu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecil, tempat tabib yang biasa mengobati ibunya membuka usaha.“Saat ini ibu Selir Athena dirawat di rumah sakit kerajaan.” Ean mengakhiri laporannya.Di luar, Athena berdiri. Di
Athena sedang memberi makan seekor anak kucing di taman. Wanita itu menyukai kucing, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki hewan peliharaan karena dia terlalu sibuk.Athena bisa saja mengambil kucing liar dan membawanya ke rumah, tapi dia tahu menelantarkan kucing di rumahnya adalah tindakan tidak bertanggung jawab.Beberapa langkah tidak jauh dari Athena saat ini ada Declan. Pria itu tersenyum misterius lalu kemudian melangkah menuju Athena.Saat ini Athena dan anak kucing itu terlihat sangat manis, tapi Declan benar-benar tahu bahwa Athena jelas bukan kucing yang manis melainkan kucing liar yang memiliki cakar tajam.“Salam, Tuan Declan.” Sopia segera memberi salam pada Declan.Athena yang tadinya berjongkok segera berdiri, wanita itu kini menatap Declan.“Nona, kita bertemu lagi.” Declan tersenyum pada Athena.Athena hanya membalas dengan anggukan singkat.“Apakah Nona berasal dari kediaman Adipati Miles?”“Tuan, ini adalah Selir Athena, Selir Jenderal Agung.” So
Altherr pergi ke tenda tempat para bandit yang tertangkap di siksa.“Apakah mereka bicara?” Altherr bertanya pada Ean.“Ya, Tuan.” Ean menggunakan metode penyiksaan yang paling kejam untuk membuat beberapa bandit bicara, tapi beberapa yang lainnya memilih tetap bungkam meski sangat tersiksa. “Pasukan berpakaian hitam tidak berasal dari kelompok bandit. Mereka berasal dari organisasi Elang Hitam.”“Organisasi Elang Hitam?”“Benar, Jenderal Agung. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak lagi tentang organisasi ini dari para bandit, tapi mereka tidak mengetahui apapun, bahkan mereka juga baru bertemu dengan orang-orang itu hari ini. Tampaknya yang berhubungan dengan orang-orang dari oganisasi itu adalah pemimpin para bandit langsung.”Altherr tidak puas dengan hal ini, jika tidak ada informasi tentang organisasi itu maka dia tidak bisa menangkap pria yang melukai istrinya.“Apakah mereka menyebutkan tentang tempat persembunyian mereka?”“Saya telah menggambar peta tempat mereka tinggal, Y
Upaya penyergapan itu gagal, beberapa bandit berhasil melarikan diri begitu juga dengan Declan dan pasukan rahasianya yang tersisa.Altherr memerintahkan para pasukannya untuk mengejar bandit yang melarikan diri.Setelahnya ia juga memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan mayat para bandit untuk digantung di benteng kota Azure. Pria itu menunjukan bahwa siapapun yang mencoba untuk mencelakai Luminastra hanya akan berakhir dengan tragis.Altherr kembali ke kereta, ia masuk ke dalam sana dan tabib baru saja selesai menangani Lucianne.“Bagaimana keadaan Istriku, Tabib?”“Luka yang dialami oleh Putri Lucianne cukup dalam, tapi itu tidak mengancam nyawanya. Saat ini Putri Lucianne sedang tidur karena pengaruh obat. Dalam beberapa jam ke depan Putri Lucianne akan sadarkan diri.”Altherr lega mendengarnya. Untung saja tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya.Di luar kereta, Athena juga mendengar apa yang dikatakan oleh tabib. Wanita itu juga merasa lega.Perjalanan dihentikan sementar







