Share

Nyawa Darah Naga

Penulis: White Plum
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 15:45:30

“Angkat!” Perintah Zhao Yichen singkat.

Pengawal Bayangan bergerak cepat. Dua orang menopang tubuh Shen Yaoqing, sementara Qinglan menangis tertahan, tangannya gemetar hendak membantu, tapi tak berani mendekat.

“Pelan-pelan,” gumam Shen Yaoqing, suaranya nyaris tak terdengar.

Zhao Yichen meliriknya sekilas. Tatapannya datar, dingin, tapi tangannya terangkat memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.

“Jangan diguncang,” katanya. “Jika janin itu kenapa-kenapa, kalian ikut dikubur.”

Ancaman itu membuat langkah para pengawal langsung lebih berhati-hati.

Tak lama kemudian, suara langkah tergesa memecah kesunyian.

“Tabib kekaisaran telah tiba!”

Seorang pria tua berjubah hijau tua masuk tergopoh-gopoh, napasnya terengah. Begitu melihat Zhao Yichen, ia langsung menjatuhkan diri berlutut begitu dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu.

“Hamba tabib istana, Wei Shun, menghadap Huangshang!”

“Periksa Selir Mulia Shen!”

Wei Shun mengangkat kepala. Begitu matanya menangkap noda darah di lantai dan wajah pucat Shen Yaoqing, rona wajahnya langsung berubah.

“Izinkan hamba—”

“Sekarang.”

Wei Shun merangkak mendekat, lututnya gemetar. Ia mengeluarkan kain putih, menekan pergelangan tangan Shen Yaoqing, meraba denyut nadi. Keningnya berkerut semakin dalam dari detik ke detik.

“Bagaimana Yang Mulia Selir bisa berada di Istana Dingin dalam kondisi seperti ini?”

Zhao Yichen tak menjawab, tatapannya menusuk lurus ke tabib itu.

Wei Shun menelan saliva, lalu kembali menunduk lebih rendah.

“Nadi Selir Shen lemah,” lapornya tergesa. “Emosinya terguncang, ketakutan ekstrem, ditambah udara dingin dan lembap di Istana Dingin—” Ia berhenti sejenak, seolah takut melanjutkan.

“Katakan!” seru Zhao Yichen.

Wei Shun menghela napas pendek. “Kondisi ini bisa memicu keguguran, Huangshang. Terutama bila kecemasan terus berlanjut. Janinnya—” Suaranya nyaris berbisik. “Putra mahkota berada dalam bahaya besar.”

Kata bahaya membuat udara di aula kecil itu seperti terhenti.

Qinglan tersedu pelan.

Pengawal-pengawal menunduk lebih dalam.

Zhao Yichen mengepalkan tangannya.

“Bisakah diselamatkan?”

Wei Shun berlutut semakin rendah. “Masih ada kemungkinan, Yang Mulia. Tapi Selir Shen harus segera dipindahkan dari tempat ini. Istana Dingin bukan tempat untuk perempuan mengandung pewaris tahta.”

“Kenapa?” tanya Zhao Yichen dingin.

Wei Shun mengehela napas lirih. “Karena di sini minim pemanas, minim pelayan, dan—” Ia ragu sesaat, lalu memberanikan diri melanjutkan, “aura tempat ini sarat hukuman. Tekanan batin memperparah kondisi fisik. Ketakutan Selir Shen barusan sangat berbahaya.”

Shen Yaoqing membuka mata setengah. Pandangannya kabur, tapi ia mendengar cukup jelas.

“Jadi ...,” bisiknya lemah. “Aku belum mati?”

Tak ada yang menjawabnya.

Zhao Yichen menatap wajahnya sekilas, lalu kembali pada tabib.

“Tempat mana yang lebih layak?”

Wei Shun mengangkat kepala perlahan. “Paviliun Bunga Giok, Huangshang. Dahulu digunakan untuk selir berpangkat tinggi yang sakit. Di sana ada pemanas, ruang obat, dan pelayan terlatih.”

“Dia boleh keluar masuk?” tanya Zhao Yichen.

Wei Shun terdiam.

Tatapan Kaisar membuatnya gemetar.

“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Justru lebih baik Selir Shen tidak keluar sama sekali. Banyak pergerakan bisa membahayakan kandungan.”

Zhao Yichen berpikir sejenak.

Matanya menyapu Shen Yaoqing, wajah pucat, bibir kebiruan, tubuhnya nyaris tak mampu berdiri.

“Hukuman tetap berjalan,” katanya tegas. “Selir Shen dipindahkan, bukan dibebaskan.”

Ia berbalik pada pengawal.

“Pindahkan ke Paviliun Bunga Giok.”

Qinglan terisak lega. “Terima kasih, Huangshang—”

“Tapi dengar baik-baik!” potong Zhao Yichen dingin. “Paviliun itu dijaga ketat, tak seorangpun bisa menemuinya kecuali izin dari Kaisar. Selir Shen dilarang keluar sebelum melahirkan.”

Shen Yaoqing tersentak pelan.

“Yang Mulia.” Suaranya lemah. “Aku hanya ingin—”

“Kau tidak perlu banyak bicara,” kata Zhao Yichen datar. “Yang penting, putra mahkota selamat.”

Kata-kata itu jatuh seperti pisau tipis.

Shen Yaoqing terdiam.

Wei Shun segera menyahut, berlutut dalam. “Keputusan Huangshang bijak. Di Paviliun Bunga Giok, hamba bisa merawat Selir Shen dengan optimal. Obat penenang, ramuan penguat kandungan, semuanya tersedia.”

“Pastikan itu,” jawab Zhao Yichen.

Ia melangkah mundur selangkah.

“Jika terjadi sesuatu pada putra mahkota, kalian tahu akibatnya.” Sorot matanya menyapu semua orang.

Tak satu pun berani menjawab. Salju di luar terus turun, semakin lebat.

Shen Yaoqing diangkat ke atas tandu. Saat kain tebal menutup pandangannya, ia menggigit bibir, menahan getar di dadanya.

"Bukan aku yang diselamatkan, hanya anak di rahimku. Tapi nggak masalah, yang penting masih bisa hidup." pikirnya samar.

Tandu mulai bergerak.

Di balik tirai kain, Shen Yaoqing menutup mata, mengantuk sekali rasanya dan memutuskan tidur.

***

Istana Phoenix Agung

Para pelayan tersentak melihat Kaisar mereka melangkah tegap masuk. Beberapa nyaris menjatuhkan baki giok di tangan mereka. Tanpa aba-aba, mereka berlutut serempak, dahi menyentuh lantai.

“Keluar.”

Satu kata, tapi cukup untuk membuat semua orang bergerak seperti dikejar maut.

Para kasim mundur tergesa. Dayang-dayang menunduk dalam, berjalan cepat tanpa berani menoleh. Tirai-tirai ditarik, pintu-pintu ditutup. Dalam hitungan napas, aula itu kosong, menyisakan hanya dua orang.

Xiao Lianhua dan Kaisar.

Permaisuri berdiri di dekat meja teh, jemarinya masih memegang cangkir porselen. Uap hangat mengepul tipis, bergetar, entah karena panas, atau karena tangannya sendiri.

Ia menoleh perlahan.

“Huangshang,” ucapnya lembut. “Apa yang membawa Yang Mulia ke istana hamba—”

BRAK!

Cangkir teh meluncur dari tangannya, pecah menghantam lantai sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

Zhao Yichen berdiri tepat di hadapannya.

Begitu dekat hingga Xiao Lianhua bisa mencium aroma dingin dari jubah hitamnya.

“Apa yang kau lakukan di Istana Dingin?” tanya Zhao Yichen.

Nada suaranya datar, justru itu yang membuatnya menakutkan.

Xiao Lianhua terdiam sejenak, lalu berlutut.

Gerakannya anggun. “Hamba bersalah,” katanya lirih. “Hamba tak berniat melanggar titah Huangshang.”

“Kau mengirim pengawal membawa mandat eksekusi,” potong Zhao Yichen dingin. “Dan kau bilang tak berniat?”

Xiao Lianhua menunduk lebih rendah, bahunya bergetar halus.

“Hamba hanya memikirkan kestabilan dinasti,” katanya pelan. “Selir Shen terlalu berbahaya.”

“Berbahaya?” Zhao Yichen tertawa pendek. “Perempuan setengah mati yang kau hampir bunuh itu mengandung anakku.”

“Hamba tahu,” jawab Xiao Lianhua cepat. “Justru karena itu hamba panik.”

Ia mengangkat kepala sedikit, matanya berkaca-kaca merah.

“Hamba mendengar bisikan tentang ayah Selir Shen yang memimpin pasukan besar di utara.”

Air mata jatuh satu tetes.

“Hamba takut,” bisiknya berlagak sendu. “Takut pemberontakan muncul dari dalam.”

Zhao Yichen menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau mengatasnamakan negara,” katanya pelan. “Untuk memalsukan titah?!”

“Hamba tidak menentang!” seru Xiao Lianhua, lalu segera merendahkan suaranya. “Hamba hanya ingin membantu.”

Ia menunduk lagi, dahinya hampir menyentuh lantai.

“Ayah hamba mempertaruhkan nyawanya demi dinasti ini,” lanjutnya. “Beliau berdiri di barisan depan saat kekaisaran nyaris runtuh. Menteri utama, pilar negara.”

Suaranya gemetar penuh perhitungan.

“Hamba hanya seorang perempuan yang dibesarkan untuk mengabdi. Jika tindakan hamba keliru, hamba siap menerima hukuman.”

Sunyi.

Lama.

Zhao Yichen melangkah mengitari tubuh Xiao Lianhua yang berlutut. Bayangannya jatuh panjang di lantai, menutupi sosok sang permaisuri.

“Kau tahu kesalahanmu di mana?” tanyanya akhirnya.

Xiao Lianhua menggeleng pelan. “Hamba bodoh.”

“Kau lupa bahwa aku yang menentukan siapa hidup dan mati di istana ini.”

Ia berhenti di belakangnya.

“Kau boleh membenci Selir Shen, kau boleh takut padanya,” lanjutnya dingin. “Tapi selama ia mengandung putraku, nyawanya berada di bawah perlindunganku.”

Xiao Lianhua mengepalkan jari-jarinya di lantai.

“Hamba paham.”

“Hukumanmu berlutut di Kuil Leluhur selama tiga puluh hari. Tanpa perhiasan dan pengawal kehormatan.”

Xiao Lianhua tersentak, tapi ia segera menunduk lagi.

“Hamba terima,” katanya lembut. “Terima kasih atas kemurahan hati Huangshang.”

Zhao Yichen melangkah pergi tanpa menoleh.

Pintu ditutup.

“AAAAAAARGH!”

Teriakan pecah memenuhi aula.

Xiao Lianhua bangkit, menyapu meja dengan satu gerakan liar. Porselen berjatuhan, hancur berkeping-keping.

“Selir rendahan itu—”

Dayang-dayang berlari masuk tergopoh, wajah mereka pucat pasi.

“Niangniang!” seru salah satu dari mereka ketakutan. “Mohon tenang—”

Xiao Lianhua berbalik, matanya merah menyala.

“Aku tidak bisa hamil,” desisnya. “Aku tidak bisa memberi putra mahkota.”

Tangannya mencengkeram dadanya sendiri.

“Dan perempuan itu ...,” lanjutnya dengan suara bergetar penuh kebencian. “Datang dan mengambil segalanya hanya dengan rahimnya.”

Ia tertawa patah di sela helaan berat napasnya. “Jika anak itu lahir, kekuasaan akan berpindah. Dinasti ini bukan lagi milikku.”

Ia menatap dayangnya satu per satu.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Matanya menyipit dingin.

“Shen Yaoqing harus mati,” katanya pelan. “Maka dengan begitu anak itu juga ikut lenyap!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pion Terkuat

    “Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pembunuh Bayaran

    Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pesta Bunga

    “Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Siasat Bertahan Hidup

    “Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Apakah Alur Berubah?

    “Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Membalaskan Sakit

    Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status