Beranda / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Mahkota Yang Tak Ku Cari

Share

Mahkota Yang Tak Ku Cari

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-17 17:35:51

Bab 157

Aku masih berdiri di dekat jendela, tangan menyentuh kaca dingin, membiarkan pandanganku menyusuri halaman istana yang perlahan mulai dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju Aula Besar. Di dalam hati, ada ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya — namun di samping itu, ada juga kekhawatiran yang samar, seakan aku baru saja melangkah masuk ke dalam pusaran yang tak bisa lagi kuhentikan.

Belum lama, langkah kaki yang kukenal terdengar mendekat — cepat, man
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Selir Yang Terlupakan   Bayangan Di Balik Persahabatan

    Bab 166 Pagi itu, langit di atas istana tampak biru jernih tanpa awan, namun udara di sekitar Aula Besar terasa berat dan penuh ketegangan. Para penjaga berdiri berbaris ganda di sepanjang lorong, zirah mereka berkilau terkena cahaya matahari, dan setiap langkah kaki terdengar berirama dan tegas. Hari ini bukan pertemuan biasa — hari ini, dua kekaisaran yang dulu saling waspada akan duduk berhadapan untuk membicarakan masa depan. Dan aku, Lianhua, putri dari Kekaisaran Selatan yang kini menjadi Selir Utama Kekaisaran Utara, akan berdiri di tengah-tengah mereka. Hongwu berjalan di sampingku, jubah kekaisarannya yang berwarna emas dan hitam berkilau megah. Ia menoleh padaku sesaat, matanya menyiratkan kekuatan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam tanganku erat, seakan ingin menyalurkan seluruh keberaniannya kepadaku. "Jangan takut," bisiknya pelan, hanya untuk telingaku. "Kau bukan sekadar pengamat di sini.

  • Selir Yang Terlupakan   Angin Baru Di Sayap Timur

    Bab 165 Musim berganti, dan bunga melati di halaman Sayap Timur mekar lebih lebat dari sebelumnya, menebarkan harum manis yang memenuhi udara setiap kali angin berhembus. Tidak ada lagi bisik-bisik di lorong-lorong istana, tidak ada lagi tatapan curiga, dan tidak ada lagi bayangan yang mengintai dari balik tiang-tiang batu yang megah. Semuanya telah berubah — bukan karena kekuasaan yang menakutkan, melainkan karena ketenangan yang perlahan menyebar ke seluruh penjuru istana. Namun kedamaian ini, ternyata baru saja permulaan. Pagi itu, aku duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sedang menata meja sarapan di sampingku, wajah mereka selalu berseri-seri setiap pagi. "Nyonya, lihatlah," kata Mei Mei sambil menunjuk ke arah gerbang utama Sayap Timur. "Ada utusan dari Kekaisaran Selatan. Mereka membawa surat dan hadiah dari Kaisar Lian Cheng." Tanganku berhenti bergerak. Hatiku berdebar ken

  • Selir Yang Terlupakan   Kebenaran Yang Terungkap

    Bab 164 Dua hari berlalu sejak teh beracun itu ditemukan. Kami sengaja tidak melakukan tindakan apa pun, membiarkan Xiwu berpikir bahwa rencananya berjalan lancar — bahwa aku mungkin meminumnya, bahwa aku mulai terpengaruh. Setiap pagi, Hongwu berangkat ke Aula Besar dengan wajah yang tampak serius, seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sengaja membiarkan berita menyebar — bahwa aku merasa kurang sehat belakangan ini, bahwa aku sering merasa pusing dan lelah. Kabar itu perlahan menyebar ke seluruh penjuru istana, hingga akhirnya sampai ke telinga Xiwu. Pagi itu, saat Hongwu sedang duduk di singgasana, membahas urusan negara dengan para menteri, Xiwu tiba-tiba muncul di ambang pintu Aula Besar. Ia mengenakan jubah terbaiknya, wajahnya tampak penuh keprihatinan yang dibuat-buat, seakan ia benar-benar khawatir dengan kondisiku. "Yang Mulia," suaranya terdengar lembut namun cukup didengar semua orang. "Hamba mendengar kabar bahwa Nyonya Lianhua

  • Selir Yang Terlupakan   Jebakan Yang Tak Terlihat

    Bab 163 Tiga hari berlalu tanpa ada kejadian yang mencurigakan. Namun keheningan itu justru membuatku semakin waspada. Setiap kali melangkah melewati lorong-lorong istana, setiap kali menerima makanan atau minuman dari tangan pelayan yang tak kukenal, aku selalu teringat kata-kata Hongwu — Xiwu tidak akan diam saja. Dan keheningan ini, bagiku, terasa seperti ketegangan sebelum badai benar-benar melanda. Pagi itu, udara di Sayap Timur terasa lebih hangat dari biasanya. Aku duduk di meja kerjaku, kuas di tangan, namun pandanganku tak kunjung bisa fokus pada kertas kosong di hadapanku. Jasmine masuk membawa nampan berisi secangkir teh melati yang masih mengepul hangat, wajahnya tampak sedikit cemas. "Nyonya," bisiknya pelan sambil meletakkan cangkir itu di sudut meja, jauh dari lukisan yang belum kering. "Teh ini dikirim dari dapur utama. Katanya... Nyonya Xiwu mengirimkan pesan damai. Dia bilang — kutipan — 'tidak ada gunanya saling bermusuhan, lebih baik

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Dendam Yang Tumbuh

    Bab 162 Siang itu, matahari bersinar terik di atas atap istana yang berkilauan. Di Sayap Timur, suasana tetap tenang dan damai. Lianhua duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik untuk diseduh menjadi teh hangat. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sibuk menata rak buku di sudut ruangan, sesekali tertawa pelan — suara tawa yang dulu tak pernah terdengar di tempat ini. "Kau tersenyum terus sejak tadi," kata Mei Mei sambil meletakkan tumpukan buku di meja. "Seakan semua beban di dunia ini sudah hilang." Lianhua menatap ketiga sahabatnya itu dengan lembut. "Bukan beban yang hilang. Tapi aku belajar memikulnya bersama seseorang. Itu membuat segalanya terasa lebih ringan." Namun ketenangan itu tidak terasa di Paviliun Barat. Di sana, udara terasa berat dan pengap. Tirai jendela ditarik rapat, menutup cahaya siang yang terang. Xiwu berjalan mondar-mandir di ruangan itu, jubah sutranya berdesir kasar setiap kali ia berbalik. Wajah

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Kepercayaan Yang Tumbuh

    Bab 161 Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti taman Sayap Timur, menyembunyikan ujung-ujung dedaunan dan kelopak bunga melati yang baru saja mekar. Udara terasa sejuk dan segar, beraroma tanah basah dan kesederhanaan yang menenangkan. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon willow yang cabangnya menjuntai lembut hingga menyentuh permukaan kolam kecil. Di tanganku, kuas itu berhenti bergerak, mataku menatap ke arah pintu masuk taman tempat Hongwu biasanya muncul di pagi hari sebelum berangkat ke Aula Besar. Belum lama berselang, terdengar langkah kaki yang kukenal — mantap, tegas, namun kini tidak lagi terasa berat seakan memikul beban seluruh dunia. Hongwu muncul di balik tirai daun willow, jubahnya yang berwarna gelap berkilau terkena sisa embun pagi. Saat melihatku, senyumnya langsung merekah, mengubah wajahnya yang biasanya kaku menjadi lembut dan hangat. "Kau sudah bangun?" tanyanya pelan saat mendekat, lalu tanpa ragu ia berlutut di sampingku, me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status