ログインCerita Sampingan 1: Kehidupan Tanpa Bayang-Bayang
Setelah kejatuhan Tuan Yuan dan perdamaian yang akhirnya terjalin antara Kekaisaran Utara dan Selatan, dunia seakan kembali bernapas. Tidak ada lagi pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, tidak ada lagi tatapan curiga di lorong-lorong istana, dan tidak ada lagi rasa takut bahwa seseorang yang dicintai bisa diambil kapan saja. Hari-hari yang dulu penuh ketegangan kini berganti menjadi hari-hari yang tenang — hari-hari di mana oraCerita Sampingan 2: Jejak Kecil di Dua Negeri Tahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu. "Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri." Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu
Cerita Sampingan 1: Kehidupan Tanpa Bayang-Bayang Setelah kejatuhan Tuan Yuan dan perdamaian yang akhirnya terjalin antara Kekaisaran Utara dan Selatan, dunia seakan kembali bernapas. Tidak ada lagi pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, tidak ada lagi tatapan curiga di lorong-lorong istana, dan tidak ada lagi rasa takut bahwa seseorang yang dicintai bisa diambil kapan saja. Hari-hari yang dulu penuh ketegangan kini berganti menjadi hari-hari yang tenang — hari-hari di mana orang bisa percaya lagi. Pagi yang Sederhana Matahari baru saja terbit, menyinari halaman Sayap Timur yang kini dipenuhi bunga melati yang tumbuh bebas tanpa dijaga ketat. Aku duduk di meja kayu di beranda, menyeduh teh sambil menonton Xiao Yu — putra kami yang berusia empat tahun — berlari mengejar kupu-kupu putih di rumput hijau. Tawanya yang renang terdengar hingga ke dalam ruangan, suara yang dulu tak pernah ada di istana ini. Hongwu keluar dari pintu,
Epilog Lima tahun telah berlalu sejak hari di mana Tuan Yuan ditangkap dan perdamaian antara Kekaisaran Utara dan Selatan akhirnya terjalin. Tidak ada lagi pasukan yang berbaris di perbatasan, tidak ada lagi utusan yang datang dengan wajah penuh curiga, dan tidak ada lagi bisik-bisik tentang perang yang akan datang. Langit di atas dua kekaisaran itu kini selalu biru dan tenang, sama seperti hati rakyatnya yang akhirnya bisa bernapas lega. Musim panas itu, taman di Sayap Timur bermekaran lebih indah dari sebelumnya. Bunga melati tumbuh subur di mana-mana, menebarkan harum lembut yang memenuhi udara setiap kali angin berhembus pelan. Di beranda yang sama tempat aku dulu duduk melukis sendirian, kini aku duduk di samping Hongwu, dan di antara kami, seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata gelap dan senyum cerah sedang bermain dengan karangan bunga melati yang baru saja kupetik. "Lihat, Ibu! Bunganya putih sekali!" serunya riang, m
Bab 171 Suara langkah kaki yang berat dan berirama semakin mengeras, menggema di seluruh ruang gua yang luas. Wajah Tuan Yuan yang tadi penuh kemenangan perlahan berubah pucat. Ia berbalik cepat ke arah mulut gua, di mana cahaya obor yang terang benderang mulai menembus kegelapan, diikuti oleh barisan prajurit yang rapi dan gagah — lambang naga emas Kekaisaran Selatan berkibar di atas kepala mereka. Di barisan paling depan, menunggangi kuda hitam yang tegap, berdiri seorang pria berwajah tegas namun matanya memancarkan kehangatan saat melihatku. Kaisar Lian Cheng — Ayahku — telah datang sendiri, membawa pasukan terbaiknya. "Kau terkepung, Tuan Yuan!" suara Ayahku menggelegar, menembus kebisingan di dalam gua. "Kau tidak punya jalan keluar. Lepaskan tawananmu dan menyerahlah sekarang, atau kau akan binasa di sini!" Tuan Yuan mundur selangkah, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat. Wajahnya yang tua kini tampak bengkok karena amarah dan
Bab 170 Tujuh hari berlalu sejak Xiwu diculik dan peringatan dari Kaisar Lian Cheng tiba. Tujuh hari di mana setiap detik terasa seperti satu jam penuh ketegangan. Istana kini berubah menjadi benteng — penjaga berlipat ganda, pintu-pintu dijaga ketat, dan setiap orang yang masuk atau keluar diperiksa dengan teliti. Namun di luar tembok istana, kabar buruk terus berdatangan. Pasukan Tuan Yuan semakin mendekat, dan bisik-bisik tentang perang yang akan datang mulai terdengar di jalan-jalan kota. Sore itu, aku duduk di ruang kerja Sayap Timur, menyusun peta perbatasan yang ditandai dengan garis-garis merah dan biru. Hongwu berdiri di sampingku, tangannya menunjuk sebuah titik di pegunungan yang curam. "Di sinilah kemungkinan besar markas mereka," katanya pelan namun tegas. "Gua-gua alami yang luas, tersembunyi di balik hutan lebat, dan hanya bisa dimasuki melalui satu jalur sempit. Tempat yang hampir mustahil untuk diserang secara langsung." Aku m
Bab 169 Siang itu terasa berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam saat kami menunggu kabar dari Kasim Zhou yang sedang menginterogasi ketiga pelayan itu. Aku duduk di beranda Sayap Timur, menatap bunga melati yang bergerak pelan tertiup angin, namun pikiranku melayang jauh — ke arah Selatan, ke arah Ayahku, dan ke arah musuh yang bersembunyi di balik semua ini. Hongwu keluar dari ruang kerja, wajahnya masih tampak serius namun sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Ia duduk di sampingku, meletakkan secangkir teh hangat di tanganku. "Kasim Zhou baru saja mengirim pesan," katanya pelan. "Mereka bicara. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengakui semuanya. Mereka adalah orang-orang yang disewa oleh orang kepercayaan Tuan Yuan. Tugas mereka hanya satu — memantau gerak-gerikmu, melaporkan kapan penjaga berganti, dan membukakan jalan jika diperlukan. Mereka tidak tahu rencana besarnya. Mereka hanya tahu bahwa mereka dibayar mahal untuk itu."







