Mag-log inLampu desa mati.
Bukan redup—mati.
Gelap total.
Kabut buatan mulai menyebar pelan dari sisi lapangan, dingin, tipis, tapi cukup bikin jarak pandang jadi nol. Kamera night-vision aktif. Drone naik. Infrared mode.
Suara MC terdengar dari speaker.
Ara duduk di ruang pemulihan dengan laptop terbuka di depannya. Catatan keuangan dari Ian masih terpampang di layar—bukti hitam putih bahwa Zayn menyabotase Mahendra Corp 10 tahun lalu.Transfer dana. Tanda tangan persetujuan. Korespondensi email.Semuanya ada.Kaia tidur di boks bayi di sebelahnya—sudah keluar dari NICU kemarin karena kondisinya stabil. Keajaiban kecil yang tidur dengan damai, tidak tahu drama yang sedang terjadi di sekelilingnya.Pintu terbuka. Zayn masuk dengan plastik berisi makanan."Aku bawa sup ayam dari—" Dia berhenti ketika melihat layar laptop. Wajahnya langsung pucat. "Ara...""Duduk." Suara Ara dingin seperti es.Zayn
Tiga hari kemudian.Ara duduk di kursi roda dengan perawat mendorongnya ke NICU. Pemulihan setelah melahirkan berjalan lambat—secara fisik dan emosional.Papa dimakamkan kemarin. Ara tidak datang. Dia masih terlalu lemah untuk bepergian. Zayn yang menghadiri—sendirian, atas nama Ara.Leo dan Lia datang menjenguk kemarin. Canggung sekali. Mereka bilang "turut berduka" dengan mata yang tidak tulus. Nadine tidak muncul—entah dia di mana.Tapi Ara tidak peduli tentang itu semua sekarang.Yang dia peduli adalah Kaia.NICU. Ruangan yang penuh dengan inkubator dan monitor yang berbunyi. Hati Ara mencengkeram setiap kali melihat bayi-bayi mungil di sana—berjuang untuk hidup merek
Pukul 3 pagi. Ara terbangun karena perawat datang untuk mengecek tanda vitalnya. Pemantauan setelah melahirkan."Tekanan darah normal. Suhu normal." Perawat mencatat di catatan medis. "Anda bisa menjenguk bayi di NICU jam 6 pagi nanti, Nyonya Alaric.""Terima kasih." Ara tersenyum lemah.Begitu perawat pergi, Ara menatap ponselnya. Tidak ada kabar dari Zayn tentang Papa. Dia mengirim pesan:Ara: Bagaimana Papa?Tidak ada balasan.Ara merasakan kecemasan mulai merayap. Tapi dia berusaha tetap tenang. Zayn pasti sibuk dengan situasi di sana.Matanya jatuh ke tas di kursi—di mana flashdisk dari Ian masih tersimpan.
Rumah Sakit Bunda Jakarta, ruang emergency. Ara di-rush masuk dengan kursi roda, Zayn berlari di sampingnya sambil pegang tangannya erat."Nyonya Alaric, kondisi Anda sekarang?" Dr. Anita—obgyn Ara—muncul dengan cepat, langsung cek tanda vital."Kontraksi... lima menit sekali... air ketuban udah pecah..." Ara tersengal-sengal, pegang perutnya yang kram hebat. "Tapi ini terlalu cepat, Dok! Aku baru 34 minggu!"Dr. Anita menatapnya serius. "Persalinan prematur. Kita harus lihat kondisi bayi dulu. Segera ke ruang pemeriksaan."Ruang pemeriksaan. Ara berbaring di ranjang dengan mesin USG di sampingnya. Zayn berdiri di sebelahnya, tangannya gemetar saat menggenggam tangan Ara.Dr. Anita menggerakkan probe USG di perut Ara dengan
Starbucks Plaza Indonesia jam 1:45 siang. Ara duduk di pojok dengan tangan memegang cup latte decaf—karena caffeine is a no-go untuk ibu hamil—dan mata scanning setiap orang yang masuk.Zayn duduk dua meja di belakangnya, pakai hoodie dan kacamata hitam seperti intel murahan. Ara hampir ketawa waktu lihat dia. Tapi sekarang bukan waktnya.Jam 2 tepat, seorang pria masuk.Tinggi, mungkin 185 cm. Berkulit tan, rambut dark blonde yang rapi, mata biru-grey yang dingin. Setelan jas Armani yang perfectly tailored. Wajahnya... tampan, dalam arti yang intimidating. Ada aura power di sekeliling dia.Matanya langsung menemukan Ara.Dia tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya—dan berjalan mendekat."Nyonya Alaric." Dia mengulurkan tangan. "Ian Harrington."Ara menjabat tangannya dengan tegas. "Mr. Harrington. Atau... boleh aku panggil Ian?""Silakan." Ian duduk di depannya, memesan espresso dengan gaya santai
Tiga bulan setelah Bali, Ara berdiri di depan cermin kamar dengan tangan memegang perut yang sudah sangat besar—8 bulan. Hampir waktunya. Tapi kali ini, dia nggak takut lagi. Karena dia nggak sendirian."Kamu yakin mau keluar hari ini?" Zayn muncul di belakangnya lewat pantulan cermin, tangannya melingkar protektif di pinggang Ara. "Dokter bilang kamu harus istirahat."Ara tersenyum tipis. "Aku udah istirahat tiga bulan di Bali, Zayn. Aku bukan porselen yang akan pecah kalau kena angin.""Tapi—""Tuan Alaric udah di penjara. Marcus Huang juga. Ancaman udah hilang." Ara berbalik menghadap Zayn, matanya tajam. "Aku nggak akan bersembunyi lagi. Aku mau hidup."Zayn menghela napas panjang, tapi matanya melembut. "Baik. Tapi aku ikut kemana pun kamu pergi.""Deal."Mobil melaju pelan memasuki kawasan elite Jakarta Selatan. Ara menatap keluar jendela—pemandangan yang familiar tapi terasa asing setelah tiga bulan menghilang
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.
Setelah sesi terakhirnya selesai, Ara akhirnya diperbolehkan meninggalkan lokasi syuting.Malam itu juga diumumkan sebagai malam terakhir mereka menginap di hotel utama. Setelahnya, seluruh peserta akan dipindahkan ke l
Ara sama sekali tidak tahu bahwa Leo—aktor besar yang reputasinya sedang naik di industri hiburan—juga diundang ke acara variety show ini. Dunia memang tidak tahu hubungan darah mereka. Bahkan Leo sendiri tampaknya berusaha keras menyembunyikannya.
Sesuai kesepakatan, Ara dijemput oleh Ezra keesokan harinya. Karena Ara belum selesai berkemas, ia terpaksa masuk ke dalam rumah dan—seperti biasa—langsung menjadi pusat pertanyaan dari Nyonya Endra.“Apakah Ara benar-benar menginap di rumah temanmu kemarin malam? Bagaimana kalian bisa bertemu sebe







