Share

Bab 2

Author: Ges
Mungkin karena melihatku terus diam sepanjang perjalanan pulang, Rendra melirikku melalui kaca spion. Kali ini, dia akhirnya memberiku penjelasan.

“Lesha datang bulan hari ini. Dia nggak boleh kena hujan. Kamu jangan salah paham.”

Bos yang begitu perhatian sampai mengingat siklus menstruasi asistennya, tapi justru lupa bahwa luka di bahu pacarnya tak boleh terkena air.

Aku menahan bahuku yang mulai terasa nyeri. Tanpa sadar, aku ingin membantah.

Namun, kata-kata yang sudah berada di ujung lidah itu akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat.

“Nggak apa-apa.”

Memangnya, apa lagi yang bisa kukatakan?

Dia ‘kan cuma asisten. Kenapa kamu sampai ingat jadwal datang bulannya?

Kenapa kamu malah memberiku sisa udang udang miliknya?

Kenapa kamu begitu takut dia kehujanan?

Terlalu sering aku mempertanyakannya.

Sampai-sampai aku sendiri merasa muak mendengar pertanyaanku.

Karena sejak Alesha datang, hal-hal seperti ini terus terjadi setiap hari.

Aku masih ingat, pertama kali Alesha salah menuliskan nama kami terjadi saat kami sedang bekerja sama dengan seorang klien besar.

Karena itu merupakan proyek kerja sama pertama, perusahaan sangat menaruh perhatian.

Aku bahkan sampai begadang selama tujuh malam untuk menyelesaikan proposal tersebut.

Namun, saat Rendra bertemu langsung dengan klien, Alesha justru mencantumkan namanya sendiri di PPT.

Setelah kejadian itu, aku bertanya kepada Rendra kenapa dia tak mengubahnya.

Katanya, hal itu akan memberikan kesan buruk.

Dia khawatir klien akan menganggap perusahaan kami tak profesional.

Cukup orang-orang di dalam perusahaan yang tahu bahwa itu hasil kerjaku.

Namun, setelah proyek selesai, bonus sebesar dua puluh juta justru menjadi milik Alesha.

Begitu juga penghargaan rekomendasi dari industri.

Aku pergi menemui Rendra.

Diam-diam, dia mentransfer enam puluh juta kepadaku, lalu hanya berkata satu kalimat.

“Gimana, cukup?”

Hanya dua kata.

Namun, dua kata itu membuat seluruh rasa sakit yang kupendam tertahan di dada, menyisakan kepahitan.

Sejak saat itu, Alesha salah menyebut nama seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa.

Saat Rendra menyuruhnya memesan bunga untukku, nama penerimanya malah ditulis atas nama Alesha.

Bahkan ketika menghadiri acara bisnis, nama yang ditempel di kursi sebelah Rendra juga bertuliskan nama Alesha.

Setiap kali, Rendra selalu mencari berbagai alasan untuk membelanya.

Katanya, Alesha hanya adik tingkatnya.

Katanya, dia tak sengaja.

Katanya, aku tak perlu memperpanjang masalah.

Namun, aku benar-benar tak menyangka bahkan spanduk berisi ucapan agar kami bahagia dan langgeng pun tak dianggap penting olehnya.

Jadi, ya .…

Hubungan kami memang ditakdirkan untuk tidak bertahan lama.

Mobil berhenti di bawah apartemen.

Hujan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

“Kita sudah sampai. Cepat turun.”

Aku tak bergeming.

Tatapanku jatuh pada gantungan kelinci yang baru dipasang di dalam mobil.

“Gantungan macan kecil yang dulu kukasih, di mana?”

Dia terkekeh pelan.

“Lesha bilang gantungan yang dulu sudah terlalu lama, jadi dia kasih yang baru. Gimana? Lucu, ‘kan?”

“Cuma barang yang nggak seberapa harganya. Jangan berpikir yang macam-macam.”

Sebenarnya, yang sudah usang bukan gantungannya.

Melainkan orangnya.

Aku tak lagi menanggapi. Aku bersiap membuka pintu mobil untuk turun.

Barulah Rendra menyadari bahwa payung yang ada di dalam mobil sudah diberikan kepada Alesha.

Dia buru-buru menyerahkan jasnya kepadaku.

“Hujannya deras. Pakai ini dulu buat menghalangi hujan.”

Aku menunduk menatap jas tipis itu.

Aku tidak menerimanya.

Aku langsung menerobos hujan deras dan berjalan masuk ke apartemen.

Sesampainya di rumah, aku menghindari bagian yang terluka, mandi sekadarnya, lalu mengganti obat dan perban.

Baru setelah aku keluar dari kamar, Rendra melihat perban yang baru saja kuganti.

Dia tertegun sejenak.

Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah.

“Alisha, hari ini kamu sudah cukup menderita.”

Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya terasa jauh lebih dingin daripada hujan yang baru saja mengguyur tubuhku.

“Sebagai kompensasi, proyek Citra Langit yang sedang kamu tangani, biarkan Alesha yang mengambil alih sisanya.”

“Belakangan ini kamu terlalu capek. Sekalian buat istirahat.”

Aku benar-benar tak percaya.

Aku bahkan hampir tertawa.

Proyek itu sudah kukerjakan selama empat bulan penuh.

Permintaan pihak klien sangat tinggi. Bahkan detail sekecil apa pun sudah berkali-kali kuperiksa dan kusempurnakan.

Sekarang, saat semuanya hampir selesai, dia malah menyuruhku beristirahat?

“Kenapa?”

“Aku nggak setuju.”

Rasa bersalah di mata Rendra perlahan berubah menjadi ketidaksabaran.

“Kenapa? Karena perusahaan ini milikku, sedangkan kamu cuma karyawan.”

“Alisha, kenapa kamu selalu keras kepala seperti ini, hah?”

“Kamu nggak bisa belajar sedikit dari sikap Alesha? Nama kalian mirip, tapi kenapa sikap kalian bisa begitu berbeda!”

Seolah-olah ada sesuatu di dalam dadaku yang perlahan retak.

Dulu, saat merintis perusahaan ini, dia menggenggam tanganku dan berkata bahwa aku punya kemampuan.

Dia memintaku untuk membantunya.

Dia juga berjanji suatu hari nanti aku akan tinggal di rumah besar dan mengendarai mobil mewah terbaik.

Sekarang, dia sudah mampu membeli semua yang dia inginkan.

Hanya saja .…

Aku sudah tak lagi ada di matanya.

Aku tersenyum.

“Kasih saja ke dia.”

“Kalau begitu, aku resign.”

“Kebetulan, aku memang berniat pindah kerja.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 9

    Rendra melihat kami keluar bersama. Wajahnya seketika tampak kesal.Ganu meliriknya sekilas, lalu menundukkan kepala kepadaku.“Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”“Kalau ada apa-apa, telepon aku.”Rendra melangkah maju beberapa langkah.“Alisha, aku sudah membuat Alesha membayar semua perbuatannya.”“Aku tahu aku salah. Aku yang buta sampai salah mengira ikan biasa sebagai mutiara.”“Aku bisa menebus kesalahanku. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan. Beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon.”Aku mengangkat alis.“Apa pun itu?”Dia mengangguk kuat-kuat.Secercah harapan kembali muncul di matanya.“Kalau begitu, yang kuinginkan adalah … menjauhlah dariku.”Rendra tampak terhuyung. Suaranya sedikit tercekat.“Alisha, sudah sembilan tahun kita bersama. Aku nggak percaya … mana mungkin kamu bisa begitu saja mengakhirinya?”“Aku benar-benar mencintaimu!”Sambil berkata demikian, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, dia buru-buru mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.Sebuah gantungan b

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 8

    Aku mencari apartemen baru yang letaknya tak jauh dari kantor baruku.Aku hanya membawa beberapa pakaian sederhana.Hampir semua barang yang dulu diberikan Rendra kepadaku kutinggalkan begitu saja.Rekan-rekan di kantor baru semuanya baik. Aku pun tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.Beberapa hari kemudian, saat sedang lembur memeriksa sebuah laporan data, ponselku tiba-tiba berdering.Ternyata telepon dari mantan rekan kerja.“Alisha, kamu benar-benar pindah ke Citra Langit?”“Ya.”“Kamu sudah dengar belum? Pak Rendra menggugat Alesha.”Tanganku yang sedang memegang mouse berhenti sejenak.“Alesha ketahuan menerima uang dari kompetitor dan sengaja mengacaukan kerja sama kali ini.”“Dengar-dengar, dia dihukum dua tahun penjara, juga denda yang cukup besar!”“Alisha, Pak Rendra juga sudah mengembalikan semua pencapaian kerja yang dulu dicuri atas namamu.”“Kamu benar-benar nggak punya keinginan untuk kembali?”Aku mendengar suaraku sendiri.Begitu tenang.“Nggak.”Setelah telepon dit

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 7

    Rendra seolah membeku di kursinya.Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Alesha masih berusaha membelanya.“Dia jelas cuma sedang melampiaskan dendam pribadinya!”“Kak Rendra, aku nggak percaya Pak Ganu akan membiarkannya melakukan hal seperti ini!”Sesuatu tiba-tiba melintas di benak Rendra.Ya, benar!Sekalipun Alisha benar-benar pergi ke Citra Langit demi membalas dendam kepadanya, dia tetap tak percaya Pak Ganu akan membiarkan Alisha berbuat sesuka hati setelah mengetahui kebenarannya.Asalkan dirinya memberi tahu Pak Ganu bahwa Alisha telah merugikan perusahaan demi kepentingan pribadi, Alisha pasti akan dipecat lagi.Dengan begitu, wanita itu hanya punya satu pilihan.Kembali kepadanya!….Saat keluar dari tempat itu, cuaca di luar begitu cerah.Akhirnya, sesak yang selama ini mengganjal di dadaku bisa kuhembuskan.Sebenarnya, saat pertama kali mulai menangani proyek Citra Langit, aku baru mengetahui bahwa pemilik perusahaan tersebut adalah Ganu, kakak t

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 6

    Langkah Rendra terhenti.Dia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka percakapannya dengan Alisha.[Besok sore kita pergi mengurus surat nikah.]Menurutnya, kali ini Alisha seharusnya sudah tak marah lagi. Toh, dia sendiri sudah tak mempermasalahkan hal itu.Namun, percakapan mereka tetap sunyi tanpa balasan.Rendra meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, seolah dengan begitu dia bisa menghindari sesuatu. Setelah itu, dia mulai membantu Alesha merapikan data proyek.Ketika semuanya selesai, hari sudah larut.Akhirnya, Rendra memilih tidur di kantor.….Keesokan paginya, di sebuah ruang VIP di lantai paling atas sebuah klub.Rendra datang lebih awal bersama Alesha.Alesha terlihat agak gugup.“Kak Rendra, aku nggak tahu seperti apa manajer baru Citra Langit. Gimana kalau orangnya lebih sulit dihadapi?”Rendra menepuk punggung tangan Alesha dengan lembut, berusaha menenangkannya.“Jangan khawatir. Aku sudah mencari tahu. Manajer baru itu perempuan dan masih muda. Kalau nggak sa

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 5

    Setelah pernyataan itu dikeluarkan, Rendra tampak begitu lelah.Dia memijat pelipisnya, lalu menatap Alesha yang bahunya masih bergetar.“Untuk kali ini, lupakan saja. Tapi lain kali, kamu harus lebih teliti dan berhati-hati. Jangan mudah percaya pada siapa pun.”Mendengar itu, Alesha masih merasa sangat terzalimi. Dia ingin kembali bermanja kepada Rendra seperti biasanya.“Kak Rendra .…”Namun, Rendra hanya melambaikan tangan, menyuruhnya keluar.Hatinya sedang kacau, terutama karena tatapan Alisha sebelum meninggalkan ruangan tadi.Tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia benar-benar sudah memaksa Alisha sampai sejauh itu.Padahal, jelas-jelas Alisha yang lebih dulu memukul. Kalau dia tak membiarkan Alesha membalas, orang-orang di perusahaan pasti akan mengira dirinya sengaja memihak.Memangnya, di mata Alisha, apakah dia benar-benar akan membiarkannya begitu saja?Rendra hanya ingin sedikit meredam kesombongan Alisha.Selama bertahun-tahun, Alisha perlahan membangun posisinya di peru

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 4

    Dia berdiri tegak. Ekspresinya berubah menjadi senyum yang sulit ditebak.“Alisha, cukup! Jangan buat masalah lagi.”“Kamu sudah bersamaku sembilan tahun, Alisha. Semua orang di lingkaran kita tahu itu.”“Lagi pula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun?”“Kamu sendiri tahu. Tanpa perusahaan ini, tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”Ternyata, inilah isi hatinya yang sebenarnya.Meski hatiku sudah benar-benar mati rasa, jantungku tetap terasa seperti ditusuk, menyisakan rasa sakit yang menusuk.Aku menekan kuat rasa getir yang naik ke tenggorokan.“Aku nggak sedang membuat masalah. Aku juga sudah membatalkan reservasinya. Tepat hari itu ....”Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, ponsel Rendra tiba-tiba berdering.Nada suaranya seketika berubah lembut.“Ada apa, Lesha? Bagaimana kata pihak Citra Langit?”Dari seberang telepon terdengar suara yang diselingi isak tangis.Ekspresi Rendra langsung berubah.Begitu menutup telepon, dia bergegas menuju pintu.“Uru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status