Share

Bab 4

Author: Ges
Dia berdiri tegak. Ekspresinya berubah menjadi senyum yang sulit ditebak.

“Alisha, cukup! Jangan buat masalah lagi.”

“Kamu sudah bersamaku sembilan tahun, Alisha. Semua orang di lingkaran kita tahu itu.”

“Lagi pula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun?”

“Kamu sendiri tahu. Tanpa perusahaan ini, tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”

Ternyata, inilah isi hatinya yang sebenarnya.

Meski hatiku sudah benar-benar mati rasa, jantungku tetap terasa seperti ditusuk, menyisakan rasa sakit yang menusuk.

Aku menekan kuat rasa getir yang naik ke tenggorokan.

“Aku nggak sedang membuat masalah. Aku juga sudah membatalkan reservasinya. Tepat hari itu ....”

Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, ponsel Rendra tiba-tiba berdering.

Nada suaranya seketika berubah lembut.

“Ada apa, Lesha? Bagaimana kata pihak Citra Langit?”

Dari seberang telepon terdengar suara yang diselingi isak tangis.

Ekspresi Rendra langsung berubah.

Begitu menutup telepon, dia bergegas menuju pintu.

“Urusan surat nikah kita tunda dulu. Ada masalah dengan Lesha.”

Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, dia sudah buru-buru pergi.

Aku tersenyum mencemooh diri sendiri.

Masalah Alesha selalu berhasil membuat Rendra kehilangan ketenangannya.

Setelah menunggu cukup lama, aku mengeluarkan koper, memasukkan barang-barangku, lalu pergi ke perusahaan untuk mengurus pengunduran diri.

Namun, begitu tiba di perusahaan, suasana seisi kantor terasa suram.

Hana mendekat dan berbisik seperti suara nyamuk.

“Kak Alisha, ada masalah dengan proyek Citra Langit. Ada kesalahan di beberapa data penting. Mereka jadi sangat marah.”

Dalam sekejap, aku tertegun.

Tepat saat itu, Alesha keluar dari ruangan.

“Kak Alisha, Pak Rendra memanggilmu.”

Melihat senyum tipis di sudut bibirnya, firasat buruk langsung muncul di hatiku.

Begitu masuk ke ruangan, aku melihat Rendra duduk dengan dahi berkerut.

“Alisha, kamu sengaja melakukannya?”

Aku refleks bertanya.

“Sengaja? Melakukan apa?”

Mata Alesha memerah.

“Kak Rendra, file yang Kak Alisha berikan padaku langsung kukirim ke pihak sana tanpa kuubah sedikit pun. Aku benar-benar nggak tahu kenapa dia melakukan ini.”

“Kalaupun dia nggak suka sama aku, apa perlu sampai merugikan perusahaan!”

Dua kalimat yang diucapkannya dengan begitu ringan membuat darahku seketika mendidih hingga ke kepala.

Aku menatap Rendra tak percaya.

“Kamu mengira aku yang memberikan data yang salah?”

Wajah Rendra tampak suram, tapi dia tak menyangkalnya.

Ujung jariku sampai gemetar karena marah.

“Rendra, kapan aku pernah melakukan kesalahan seperti ini?”

Selama bertahun-tahun, tak pernah ada satu pun masalah dalam proyek yang kutangani. Dia lebih tahu daripada siapa pun betapa telitinya aku.

Namun, setelah mendengar perkataanku, Rendra tetap tak bergeming.

“Selain kamu, nggak ada orang lain yang punya alasan untuk menghancurkan proyek ini. Belakangan ini kamu juga terus membuat masalah denganku.”

“Kamu nggak rela aku memberikan proyek ini ke Alesha, jadi kamu sengaja membuatnya melakukan kesalahan agar aku menyesal. Begitu, ‘kan?”

Perkataannya seperti seember air es yang disiramkan tepat ke kepalaku, membuat seluruh tubuhku terasa dingin hingga ke tulang.

Aku tak lagi mengharapkan kepercayaannya.

Aku hanya tertawa dingin.

“Riwayat file yang kukirim ke dia masih ada. Kamu bisa memeriksanya sendiri.”

Sedikit keraguan melintas di mata Rendra.

Pada saat itu, Alesha menangis dan maju menarik lenganku.

“Kak Alisha, nggak masalah kalau kamu nggak suka sama aku. Tapi kenapa kamu harus menghancurkan perusahaan?”

Aku tak tahan melihat kepura-puraannya.

Aku langsung menepis tangannya. Jari-jariku tanpa sengaja menggores wajahnya.

Aku sama sekali tak menggunakan banyak tenaga, tapi dia justru memegangi wajahnya lalu jatuh tersungkur ke lantai.

Rendra langsung maju dan mencengkeram pergelangan tanganku. Wajahnya dipenuhi rasa jijik.

“Kamu benar-benar nggak pernah belajar dari kesalahan!”

Dia menoleh ke arah Alesha.

“Lesha, berdiri! Balas tampar dia!” ucap Rendra dengan suara berat.

Amarah yang sejak tadi tertahan di dadaku hampir meledak.

Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, tapi cengkeramannya terlalu kuat.

Senyum tipis melintas di mata Alesha.

Aku menatap tajam ke arah Rendra.

“Rendra, penyesalan terbesar dalam hidupku adalah saat dulu aku memutuskan bergabung dengan perusahaanmu .…”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku.

Wajahku terlempar ke samping.

Suasana seketika hening.

Rendra refleks melepaskan tanganku, tapi nada bicaranya masih terdengar angkuh.

“Aku nggak bisa membiarkanmu terus melakukan kesalahan.”

Aku menatapnya sekilas, lalu langsung berbalik dan pergi.

Namun, begitu sampai di rumah, aku melihat perusahaan telah mengeluarkan pernyataan resmi.

[Pegawai Alisha Renata telah melakukan kelalaian berat dalam pekerjaannya dan dengan sengaja membocorkan data inti perusahaan. Dengan ini, perusahaan secara resmi memberhentikan yang bersangkutan.]

Kepalaku mendadak berdengung. Pikiranku seketika kosong.

Demi Alesha, dia bahkan tega mencemarkan namaku di seluruh industri, benar-benar menutup semua jalan bagiku.

Di saat yang sama, pesan darinya masuk.

[Begitu proyek ini selesai, asalkan kamu mau minta maaf sama Alesha, aku akan mengizinkanmu kembali ke perusahaan.]

Aku mengepalkan tangan erat-erat, membiarkan kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan. Rasa sakit itu justru membuat pikiranku semakin jernih.

Aku tak membalas pesannya.

Aku mengambil koper dan tanpa ragu meninggalkan rumah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 9

    Rendra melihat kami keluar bersama. Wajahnya seketika tampak kesal.Ganu meliriknya sekilas, lalu menundukkan kepala kepadaku.“Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”“Kalau ada apa-apa, telepon aku.”Rendra melangkah maju beberapa langkah.“Alisha, aku sudah membuat Alesha membayar semua perbuatannya.”“Aku tahu aku salah. Aku yang buta sampai salah mengira ikan biasa sebagai mutiara.”“Aku bisa menebus kesalahanku. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan. Beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon.”Aku mengangkat alis.“Apa pun itu?”Dia mengangguk kuat-kuat.Secercah harapan kembali muncul di matanya.“Kalau begitu, yang kuinginkan adalah … menjauhlah dariku.”Rendra tampak terhuyung. Suaranya sedikit tercekat.“Alisha, sudah sembilan tahun kita bersama. Aku nggak percaya … mana mungkin kamu bisa begitu saja mengakhirinya?”“Aku benar-benar mencintaimu!”Sambil berkata demikian, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, dia buru-buru mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.Sebuah gantungan b

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 8

    Aku mencari apartemen baru yang letaknya tak jauh dari kantor baruku.Aku hanya membawa beberapa pakaian sederhana.Hampir semua barang yang dulu diberikan Rendra kepadaku kutinggalkan begitu saja.Rekan-rekan di kantor baru semuanya baik. Aku pun tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.Beberapa hari kemudian, saat sedang lembur memeriksa sebuah laporan data, ponselku tiba-tiba berdering.Ternyata telepon dari mantan rekan kerja.“Alisha, kamu benar-benar pindah ke Citra Langit?”“Ya.”“Kamu sudah dengar belum? Pak Rendra menggugat Alesha.”Tanganku yang sedang memegang mouse berhenti sejenak.“Alesha ketahuan menerima uang dari kompetitor dan sengaja mengacaukan kerja sama kali ini.”“Dengar-dengar, dia dihukum dua tahun penjara, juga denda yang cukup besar!”“Alisha, Pak Rendra juga sudah mengembalikan semua pencapaian kerja yang dulu dicuri atas namamu.”“Kamu benar-benar nggak punya keinginan untuk kembali?”Aku mendengar suaraku sendiri.Begitu tenang.“Nggak.”Setelah telepon dit

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 7

    Rendra seolah membeku di kursinya.Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Alesha masih berusaha membelanya.“Dia jelas cuma sedang melampiaskan dendam pribadinya!”“Kak Rendra, aku nggak percaya Pak Ganu akan membiarkannya melakukan hal seperti ini!”Sesuatu tiba-tiba melintas di benak Rendra.Ya, benar!Sekalipun Alisha benar-benar pergi ke Citra Langit demi membalas dendam kepadanya, dia tetap tak percaya Pak Ganu akan membiarkan Alisha berbuat sesuka hati setelah mengetahui kebenarannya.Asalkan dirinya memberi tahu Pak Ganu bahwa Alisha telah merugikan perusahaan demi kepentingan pribadi, Alisha pasti akan dipecat lagi.Dengan begitu, wanita itu hanya punya satu pilihan.Kembali kepadanya!….Saat keluar dari tempat itu, cuaca di luar begitu cerah.Akhirnya, sesak yang selama ini mengganjal di dadaku bisa kuhembuskan.Sebenarnya, saat pertama kali mulai menangani proyek Citra Langit, aku baru mengetahui bahwa pemilik perusahaan tersebut adalah Ganu, kakak t

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 6

    Langkah Rendra terhenti.Dia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka percakapannya dengan Alisha.[Besok sore kita pergi mengurus surat nikah.]Menurutnya, kali ini Alisha seharusnya sudah tak marah lagi. Toh, dia sendiri sudah tak mempermasalahkan hal itu.Namun, percakapan mereka tetap sunyi tanpa balasan.Rendra meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, seolah dengan begitu dia bisa menghindari sesuatu. Setelah itu, dia mulai membantu Alesha merapikan data proyek.Ketika semuanya selesai, hari sudah larut.Akhirnya, Rendra memilih tidur di kantor.….Keesokan paginya, di sebuah ruang VIP di lantai paling atas sebuah klub.Rendra datang lebih awal bersama Alesha.Alesha terlihat agak gugup.“Kak Rendra, aku nggak tahu seperti apa manajer baru Citra Langit. Gimana kalau orangnya lebih sulit dihadapi?”Rendra menepuk punggung tangan Alesha dengan lembut, berusaha menenangkannya.“Jangan khawatir. Aku sudah mencari tahu. Manajer baru itu perempuan dan masih muda. Kalau nggak sa

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 5

    Setelah pernyataan itu dikeluarkan, Rendra tampak begitu lelah.Dia memijat pelipisnya, lalu menatap Alesha yang bahunya masih bergetar.“Untuk kali ini, lupakan saja. Tapi lain kali, kamu harus lebih teliti dan berhati-hati. Jangan mudah percaya pada siapa pun.”Mendengar itu, Alesha masih merasa sangat terzalimi. Dia ingin kembali bermanja kepada Rendra seperti biasanya.“Kak Rendra .…”Namun, Rendra hanya melambaikan tangan, menyuruhnya keluar.Hatinya sedang kacau, terutama karena tatapan Alisha sebelum meninggalkan ruangan tadi.Tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia benar-benar sudah memaksa Alisha sampai sejauh itu.Padahal, jelas-jelas Alisha yang lebih dulu memukul. Kalau dia tak membiarkan Alesha membalas, orang-orang di perusahaan pasti akan mengira dirinya sengaja memihak.Memangnya, di mata Alisha, apakah dia benar-benar akan membiarkannya begitu saja?Rendra hanya ingin sedikit meredam kesombongan Alisha.Selama bertahun-tahun, Alisha perlahan membangun posisinya di peru

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 4

    Dia berdiri tegak. Ekspresinya berubah menjadi senyum yang sulit ditebak.“Alisha, cukup! Jangan buat masalah lagi.”“Kamu sudah bersamaku sembilan tahun, Alisha. Semua orang di lingkaran kita tahu itu.”“Lagi pula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun?”“Kamu sendiri tahu. Tanpa perusahaan ini, tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”Ternyata, inilah isi hatinya yang sebenarnya.Meski hatiku sudah benar-benar mati rasa, jantungku tetap terasa seperti ditusuk, menyisakan rasa sakit yang menusuk.Aku menekan kuat rasa getir yang naik ke tenggorokan.“Aku nggak sedang membuat masalah. Aku juga sudah membatalkan reservasinya. Tepat hari itu ....”Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, ponsel Rendra tiba-tiba berdering.Nada suaranya seketika berubah lembut.“Ada apa, Lesha? Bagaimana kata pihak Citra Langit?”Dari seberang telepon terdengar suara yang diselingi isak tangis.Ekspresi Rendra langsung berubah.Begitu menutup telepon, dia bergegas menuju pintu.“Uru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status