Share

Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin
Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin
Author: Ges

Bab 1

Author: Ges
“Toh, semua orang tahu tokoh utama hari ini adalah kita. Nggak usah permasalahkan hal kecil seperti ini, oke?”

Alesha.

Alisha.

Bukankah semuanya sudah jelas?

Perlahan, kulepaskan balon yang sejak tadi kupegang.

“Ya, aku nggak akan mempermasalahkannya.”

Mulai sekarang, aku juga tak akan pernah mempermasalahkan apa pun lagi.

….

Balon yang kulepaskan perlahan melayang ke udara. Tampak begitu mencolok di tengah ruangan yang sunyi, sebelum akhirnya jatuh lemas ke lantai.

Di tengah suasana yang canggung, seseorang bersuara pelan.

“Kalau begitu … spanduk ini masih perlu dipasang atau nggak?”

Aku hanya memasang wajah datar.

“Pasang saja. Bagaimanapun, ada orang yang sudah bersusah payah membuatnya.”

Begitu aku selesai mengatakannya, mata Alesha langsung memerah.

“Kak Alisha, aku benar-benar nggak sengaja.”

“Spanduk ini kupesan tadi malam waktu lembur sampai jam sebelas. Mungkin karena sudah terlalu malam, aku nggak sengaja mengirim nama yang salah.”

“Aku benar-benar minta maaf!”

Aku bahkan belum sempat bicara, Rendra sudah lebih dulu mengernyit.

“Alisha, cuma beda satu huruf. Nggak perlu menyudutkannya.”

“Anggap saja itu namamu. Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi.”

Aku menatapnya.

Aku benar-benar tak mengerti bagaimana bisa aku lagi-lagi dianggap mempersulit Alesha.

Ketidaksenangan di mata Rendra semakin terlihat jelas. Saat dia hendak menegurku, seseorang segera maju mencairkan suasana.

“Kak, sini! Ayo, kita minum!”

“Benar! Besok ‘kan hari terakhir kalian sebagai lajang!”

Setelah beberapa kali bersulang, suasana kembali meriah.

Aku duduk di kursi.

Di sampingku, Rendra sedang mengupas udang karang kecil.

Gerakannya sangat cepat.

Karena aku menyukainya, selama sembilan tahun ini dia selalu mengupaskan udang untukku.

Tak lama kemudian, daging udang di dalam mangkuk sudah menumpuk hingga menggunung.

Aku baru saja hendak berkata bahwa aku sedang tak berselera makan. Namun, sebelum sempat mengatakannya, dia menggeser mangkuk itu ke sebelah kanan.

Tepat di depan Alesha.

Namun, perkataannya justru ditujukan kepadaku.

“Lesha lagi pakai kuku panjang, jadi nggak leluasa. Jangan salah paham.”

Hatiku terasa seperti digesek butiran pasir halus.

Perih dan kebas sekaligus.

“Lisha, seumur hidupku, aku hanya akan mengupaskan udang untukmu!”

Ucapan Rendra yang dulu pernah kudengar kembali terngiang di telingaku, membuatku tak habis pikir.

Bagaimana mungkin hati seseorang berubah secepat ini?

Daging udang di dalam mangkuk itu tampak merah mencolok hingga membuat mataku terasa perih.

Aku bangkit dan pergi ke toilet.

Saat kembali, baru saja sampai di depan pintu ruangan, aku mendengar tawa mengejek dari salah seorang rekan bisnis.

“Mas Bro, bentar lagi kamu ‘kan mau nikah. Kok masih perhatian banget sama Lesha?”

“Nah, itu poinnya. Jangan-jangan ... kamu mau punya dua sekaligus?”

Rendra tak menyangkal.

Namun, Alesha justru angkat bicara.

“Aduh, jangan sembarangan bicara!”

“Kak Rendra cuma sedang menjagaku.”

Namun, nada suaranya sama sekali tak terdengar seperti sedang menyangkal.

Justru terdengar seperti sedang bermanja.

Setelah itu, terdengar gelak tawa penuh ejekan.

Aku mendorong pintu dan masuk.

Orang-orang di dalam buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Senyum tadi masih tersisa di sudut bibir Rendra. Dia lalu mendorong sebuah mangkuk ke arahku.

“Beberapa hari lalu kamu bilang mau makan udang, ‘kan? Nih, untukmu.”

Aku menunduk dan melihat isinya.

Itu adalah sisa udang yang dimakan Alesha.

Ternyata dia masih ingat aku pernah bilang ingin makan udang.

Hanya saja, sekarang di hatinya, aku hanya pantas memakan sisa orang lain.

Sampai acara selesai dan kami berfoto bersama, peralatan makan di depanku tak pernah lagi tersentuh.

Namun, Rendra sudah tak lagi melihatnya.

Setelah acara selesai, hujan deras turun di luar.

Aku berdiri di depan pintu, menunggu Rendra.

Pintu mobil terbuka.

Rendra datang sambil membawa payung.

Dia melewatiku begitu saja.

Sebaliknya, dia justru merangkul Alesha yang berdiri di belakangku, melindunginya saat mengantarnya masuk ke mobil.

Setelah mereka berdua duduk dengan nyaman, barulah Rendra memanggilku.

“Kenapa bengong? Hujannya deras sekali. Cepat masuk!”

Bahu kiriku baru saja terluka seminggu lalu.

Aku tak boleh terkena hujan.

Dia sudah melupakannya.

Hujan deras malam itu sekaligus memadamkan kobaran api terakhir yang masih tersisa di hatiku.

Aku menarik sudut bibirku dengan getir, lalu membuka pintu mobil di tengah guyuran hujan dan masuk ke dalam.

Sepanjang perjalanan, Alesha terus mengobrol dengan Rendra tentang hal-hal sepele.

Mulai dari pakaian apa yang akan dikenakan besok ke kantor, hingga anjing yang mereka pelihara di rumah yang belakangan ini tak berselera makan.

Rendra sesekali menanggapi sambil tersenyum.

Seolah-olah dia bukan orang yang dulu pernah berkata kepadaku …

“Jangan ganggu aku saat sedang menyetir.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Di layar masih terlihat halaman reservasi untuk mengurus surat nikah di Kantor Urusan Sipil yang kubuat seminggu lalu.

Jadwalnya lusa.

Jariku sedikit gemetar.

Lalu ….

Kutekan tombol batalkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 9

    Rendra melihat kami keluar bersama. Wajahnya seketika tampak kesal.Ganu meliriknya sekilas, lalu menundukkan kepala kepadaku.“Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”“Kalau ada apa-apa, telepon aku.”Rendra melangkah maju beberapa langkah.“Alisha, aku sudah membuat Alesha membayar semua perbuatannya.”“Aku tahu aku salah. Aku yang buta sampai salah mengira ikan biasa sebagai mutiara.”“Aku bisa menebus kesalahanku. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan. Beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon.”Aku mengangkat alis.“Apa pun itu?”Dia mengangguk kuat-kuat.Secercah harapan kembali muncul di matanya.“Kalau begitu, yang kuinginkan adalah … menjauhlah dariku.”Rendra tampak terhuyung. Suaranya sedikit tercekat.“Alisha, sudah sembilan tahun kita bersama. Aku nggak percaya … mana mungkin kamu bisa begitu saja mengakhirinya?”“Aku benar-benar mencintaimu!”Sambil berkata demikian, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, dia buru-buru mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.Sebuah gantungan b

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 8

    Aku mencari apartemen baru yang letaknya tak jauh dari kantor baruku.Aku hanya membawa beberapa pakaian sederhana.Hampir semua barang yang dulu diberikan Rendra kepadaku kutinggalkan begitu saja.Rekan-rekan di kantor baru semuanya baik. Aku pun tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.Beberapa hari kemudian, saat sedang lembur memeriksa sebuah laporan data, ponselku tiba-tiba berdering.Ternyata telepon dari mantan rekan kerja.“Alisha, kamu benar-benar pindah ke Citra Langit?”“Ya.”“Kamu sudah dengar belum? Pak Rendra menggugat Alesha.”Tanganku yang sedang memegang mouse berhenti sejenak.“Alesha ketahuan menerima uang dari kompetitor dan sengaja mengacaukan kerja sama kali ini.”“Dengar-dengar, dia dihukum dua tahun penjara, juga denda yang cukup besar!”“Alisha, Pak Rendra juga sudah mengembalikan semua pencapaian kerja yang dulu dicuri atas namamu.”“Kamu benar-benar nggak punya keinginan untuk kembali?”Aku mendengar suaraku sendiri.Begitu tenang.“Nggak.”Setelah telepon dit

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 7

    Rendra seolah membeku di kursinya.Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Alesha masih berusaha membelanya.“Dia jelas cuma sedang melampiaskan dendam pribadinya!”“Kak Rendra, aku nggak percaya Pak Ganu akan membiarkannya melakukan hal seperti ini!”Sesuatu tiba-tiba melintas di benak Rendra.Ya, benar!Sekalipun Alisha benar-benar pergi ke Citra Langit demi membalas dendam kepadanya, dia tetap tak percaya Pak Ganu akan membiarkan Alisha berbuat sesuka hati setelah mengetahui kebenarannya.Asalkan dirinya memberi tahu Pak Ganu bahwa Alisha telah merugikan perusahaan demi kepentingan pribadi, Alisha pasti akan dipecat lagi.Dengan begitu, wanita itu hanya punya satu pilihan.Kembali kepadanya!….Saat keluar dari tempat itu, cuaca di luar begitu cerah.Akhirnya, sesak yang selama ini mengganjal di dadaku bisa kuhembuskan.Sebenarnya, saat pertama kali mulai menangani proyek Citra Langit, aku baru mengetahui bahwa pemilik perusahaan tersebut adalah Ganu, kakak t

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 6

    Langkah Rendra terhenti.Dia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka percakapannya dengan Alisha.[Besok sore kita pergi mengurus surat nikah.]Menurutnya, kali ini Alisha seharusnya sudah tak marah lagi. Toh, dia sendiri sudah tak mempermasalahkan hal itu.Namun, percakapan mereka tetap sunyi tanpa balasan.Rendra meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, seolah dengan begitu dia bisa menghindari sesuatu. Setelah itu, dia mulai membantu Alesha merapikan data proyek.Ketika semuanya selesai, hari sudah larut.Akhirnya, Rendra memilih tidur di kantor.….Keesokan paginya, di sebuah ruang VIP di lantai paling atas sebuah klub.Rendra datang lebih awal bersama Alesha.Alesha terlihat agak gugup.“Kak Rendra, aku nggak tahu seperti apa manajer baru Citra Langit. Gimana kalau orangnya lebih sulit dihadapi?”Rendra menepuk punggung tangan Alesha dengan lembut, berusaha menenangkannya.“Jangan khawatir. Aku sudah mencari tahu. Manajer baru itu perempuan dan masih muda. Kalau nggak sa

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 5

    Setelah pernyataan itu dikeluarkan, Rendra tampak begitu lelah.Dia memijat pelipisnya, lalu menatap Alesha yang bahunya masih bergetar.“Untuk kali ini, lupakan saja. Tapi lain kali, kamu harus lebih teliti dan berhati-hati. Jangan mudah percaya pada siapa pun.”Mendengar itu, Alesha masih merasa sangat terzalimi. Dia ingin kembali bermanja kepada Rendra seperti biasanya.“Kak Rendra .…”Namun, Rendra hanya melambaikan tangan, menyuruhnya keluar.Hatinya sedang kacau, terutama karena tatapan Alisha sebelum meninggalkan ruangan tadi.Tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia benar-benar sudah memaksa Alisha sampai sejauh itu.Padahal, jelas-jelas Alisha yang lebih dulu memukul. Kalau dia tak membiarkan Alesha membalas, orang-orang di perusahaan pasti akan mengira dirinya sengaja memihak.Memangnya, di mata Alisha, apakah dia benar-benar akan membiarkannya begitu saja?Rendra hanya ingin sedikit meredam kesombongan Alisha.Selama bertahun-tahun, Alisha perlahan membangun posisinya di peru

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 4

    Dia berdiri tegak. Ekspresinya berubah menjadi senyum yang sulit ditebak.“Alisha, cukup! Jangan buat masalah lagi.”“Kamu sudah bersamaku sembilan tahun, Alisha. Semua orang di lingkaran kita tahu itu.”“Lagi pula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun?”“Kamu sendiri tahu. Tanpa perusahaan ini, tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”Ternyata, inilah isi hatinya yang sebenarnya.Meski hatiku sudah benar-benar mati rasa, jantungku tetap terasa seperti ditusuk, menyisakan rasa sakit yang menusuk.Aku menekan kuat rasa getir yang naik ke tenggorokan.“Aku nggak sedang membuat masalah. Aku juga sudah membatalkan reservasinya. Tepat hari itu ....”Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, ponsel Rendra tiba-tiba berdering.Nada suaranya seketika berubah lembut.“Ada apa, Lesha? Bagaimana kata pihak Citra Langit?”Dari seberang telepon terdengar suara yang diselingi isak tangis.Ekspresi Rendra langsung berubah.Begitu menutup telepon, dia bergegas menuju pintu.“Uru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status