Share

Bab 3

Author: Ges
Rendra sama sekali tak peduli.

Dia hanya mendengus sinis.

“Oke. Kalau kamu berani resign, aku juga berani menyetujuinya.”

“Kemampuan membualmu sekarang makin hebat saja.”

Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan kembali ke kamar.

Melihat punggungnya yang semakin menjauh, aku tahu dia sama sekali tak percaya kalau aku benar-benar rela pergi.

Keesokan paginya, begitu tiba di kantor, aku mendengar beberapa karyawan baru sedang bergosip tentang kejadian semalam.

“Hana, kemarin kamu lagi tugas, jadi nggak lihat betapa puasnya Alesha itu.”

“Salah pasang spanduk saja masih aman, nggak ada masalah. Semalaman dia malah nempel terus sama Pak Rendra, bahkan lebih dekat daripada Kak Alisha.”

“Kalian harus jaga sikap. Jangan sampai menyinggung Alesha.”

“Menurut kalian, kapan dia bakal gantikan Kak Alisha?”

Aku meletakkan tas di atas meja, lalu menjawab santai.

“Bentar lagi.”

Mereka langsung menatapku seperti melihat hantu.

Salah seorang dari mereka berkata dengan canggung.

“Kak Alisha, kami cuma asal ngomong. Jangan dimasukkan ke hati, ya .…”

Aku hanya tersenyum.

Tak lama, suara sepatu hak tinggi terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Alesha berjalan menghampiri sambil membawa setumpuk dokumen. Suaranya sengaja dibuat keras, seolah-olah ingin memastikan semua orang mendengarnya.

“Kak Alisha, tolong serah terimakan proyek Citra Langit ke aku. Kata Kak Rendra, mulai sekarang aku yang akan pegang proyek itu.”

Aku menatap wajahnya yang penuh ejekan tanpa mengatakan apa pun.

Aku mengirimkan seluruh dokumen kepadanya, lalu membubuhkan tanda tangan di lembar serah terima.

Alesha mendekat, kemudian membungkuk dan berbisik.

“Alisha, sebenarnya aku juga nggak mau merebut hasil kerja kerasmu. Tapi Kak Rendra yang kekeh mau kasih ke aku. Yah, mau gimana lagi? Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa.”

Dia pergi sambil menggoyangkan pinggangnya. Bahkan dari belakang pun, rasa bangga terpancar jelas dari tiap langkahnya.

Aku menyalakan komputer, mencetak surat pengunduran diri yang kutulis tadi malam, lalu membawanya ke ruangan Rendra.

Dari belakang terdengar suara bisik-bisik.

Aku bisa membayangkan apa yang mereka bicarakan.

Apa lagi kalau bukan tentang aku yang kalah lagi dan tak mampu menandingi Alesha.

Dulu, mendengar hal-hal seperti itu akan membuat hatiku sakit.

Sekarang, aku sudah tak peduli.

Saat aku masuk ke ruangannya, Rendra sedang menjelaskan proyek itu kepada Alesha.

Aku hampir tertawa.

Semua informasi yang sedang dia jelaskan itu sebenarnya akulah yang selama ini melaporkannya pada Rendra.

Dia mengambil buah yang kupetik dengan tanganku sendiri, lalu menyuapkannya sedikit demi sedikit kepada orang lain.

Aku menyerahkan surat pengunduran diri kepadanya.

Begitu membaca isinya, pupil matanya langsung menyusut.

“Kamu cemburu sama dia. Apa perlu sampai begini?”

Sampai sekarang, dia masih mengira aku sedang cemburu.

Nada suaraku tetap tenang.

“Tolong ditandatangani, Pak Rendra.”

Dia mendengus dingin, lalu mengambil pena.

“Kamu pikir dengan mengundurkan diri, kamu bisa menekanku?”

Tangannya bergerak cepat menuliskan tanda tangan.

Lanjut, dia melemparkan kertas itu ke arahku.

“Seperti yang kamu inginkan!”

Tujuanku sudah tercapai.

Aku berbalik dan pergi.

Baru saja kembali ke meja kerja, sebuah pesan muncul di grup besar perusahaan.

[Pemberitahuan: Terhitung mulai hari ini, karena kondisi Alisha belakangan ini kurang stabil, kelanjutan proyek kerja sama dengan Perusahaan Citra Langit akan ditangani oleh Alesha. Mohon seluruh departemen memberikan dukungan penuh.]

Tanganku menggenggam ponsel erat-erat.

Kondisi kurang stabil?

Dia bahkan tak repot-repot mencari alasan yang lebih layak.

Dia sengaja membuat seluruh perusahaan menertawakanku.

Semua orang mengalihkan pandangan ke arahku.

Wajahku tetap tenang.

Aku justru menjadi orang pertama yang membalas.

[Baik, Pak.]

Sepulang kerja, Rendra tak pulang.

Aku duduk di sofa menunggunya.

Namun, aku malah melihat unggahan story Whatsapp Alesha.

[Bos terbaik yang rela begadang membantuku merapikan proyek. Aku akan mengikutinya seumur hidup!]

Aku mencibir, lalu masuk ke kamar dan tidur.

….

Keesokan paginya, Rendra baru pulang.

Sambil melepas sepatu, dia berkata, “Semalam aku lembur sampai malam, jadi tidur di kantor. Oh iya, ngomong-ngomong … sudah lewat sehari, ‘kan? Harusnya kamu sudah nggak marah lagi.”

“Lain kali, jangan ngambek seperti itu lagi. Nggak masalah kalau kamu pilih resign, silakan saja. Toh, sebentar lagi kita mau urus surat nikah. Mulai sekarang, aku yang akan kasih kamu nafkah.”

Setelah mengatakannya, dia berjalan ke depan sofa dan membungkuk, hendak memelukku.

Aroma parfum manis yang menyengat langsung memenuhi hidungku.

Itu aroma parfum Alesha.

Begitu menjijikkan.

Aku mengangkat tangan untuk menahannya.

“Rendra, kita putus.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 9

    Rendra melihat kami keluar bersama. Wajahnya seketika tampak kesal.Ganu meliriknya sekilas, lalu menundukkan kepala kepadaku.“Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”“Kalau ada apa-apa, telepon aku.”Rendra melangkah maju beberapa langkah.“Alisha, aku sudah membuat Alesha membayar semua perbuatannya.”“Aku tahu aku salah. Aku yang buta sampai salah mengira ikan biasa sebagai mutiara.”“Aku bisa menebus kesalahanku. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan. Beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon.”Aku mengangkat alis.“Apa pun itu?”Dia mengangguk kuat-kuat.Secercah harapan kembali muncul di matanya.“Kalau begitu, yang kuinginkan adalah … menjauhlah dariku.”Rendra tampak terhuyung. Suaranya sedikit tercekat.“Alisha, sudah sembilan tahun kita bersama. Aku nggak percaya … mana mungkin kamu bisa begitu saja mengakhirinya?”“Aku benar-benar mencintaimu!”Sambil berkata demikian, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, dia buru-buru mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.Sebuah gantungan b

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 8

    Aku mencari apartemen baru yang letaknya tak jauh dari kantor baruku.Aku hanya membawa beberapa pakaian sederhana.Hampir semua barang yang dulu diberikan Rendra kepadaku kutinggalkan begitu saja.Rekan-rekan di kantor baru semuanya baik. Aku pun tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.Beberapa hari kemudian, saat sedang lembur memeriksa sebuah laporan data, ponselku tiba-tiba berdering.Ternyata telepon dari mantan rekan kerja.“Alisha, kamu benar-benar pindah ke Citra Langit?”“Ya.”“Kamu sudah dengar belum? Pak Rendra menggugat Alesha.”Tanganku yang sedang memegang mouse berhenti sejenak.“Alesha ketahuan menerima uang dari kompetitor dan sengaja mengacaukan kerja sama kali ini.”“Dengar-dengar, dia dihukum dua tahun penjara, juga denda yang cukup besar!”“Alisha, Pak Rendra juga sudah mengembalikan semua pencapaian kerja yang dulu dicuri atas namamu.”“Kamu benar-benar nggak punya keinginan untuk kembali?”Aku mendengar suaraku sendiri.Begitu tenang.“Nggak.”Setelah telepon dit

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 7

    Rendra seolah membeku di kursinya.Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Alesha masih berusaha membelanya.“Dia jelas cuma sedang melampiaskan dendam pribadinya!”“Kak Rendra, aku nggak percaya Pak Ganu akan membiarkannya melakukan hal seperti ini!”Sesuatu tiba-tiba melintas di benak Rendra.Ya, benar!Sekalipun Alisha benar-benar pergi ke Citra Langit demi membalas dendam kepadanya, dia tetap tak percaya Pak Ganu akan membiarkan Alisha berbuat sesuka hati setelah mengetahui kebenarannya.Asalkan dirinya memberi tahu Pak Ganu bahwa Alisha telah merugikan perusahaan demi kepentingan pribadi, Alisha pasti akan dipecat lagi.Dengan begitu, wanita itu hanya punya satu pilihan.Kembali kepadanya!….Saat keluar dari tempat itu, cuaca di luar begitu cerah.Akhirnya, sesak yang selama ini mengganjal di dadaku bisa kuhembuskan.Sebenarnya, saat pertama kali mulai menangani proyek Citra Langit, aku baru mengetahui bahwa pemilik perusahaan tersebut adalah Ganu, kakak t

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 6

    Langkah Rendra terhenti.Dia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka percakapannya dengan Alisha.[Besok sore kita pergi mengurus surat nikah.]Menurutnya, kali ini Alisha seharusnya sudah tak marah lagi. Toh, dia sendiri sudah tak mempermasalahkan hal itu.Namun, percakapan mereka tetap sunyi tanpa balasan.Rendra meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, seolah dengan begitu dia bisa menghindari sesuatu. Setelah itu, dia mulai membantu Alesha merapikan data proyek.Ketika semuanya selesai, hari sudah larut.Akhirnya, Rendra memilih tidur di kantor.….Keesokan paginya, di sebuah ruang VIP di lantai paling atas sebuah klub.Rendra datang lebih awal bersama Alesha.Alesha terlihat agak gugup.“Kak Rendra, aku nggak tahu seperti apa manajer baru Citra Langit. Gimana kalau orangnya lebih sulit dihadapi?”Rendra menepuk punggung tangan Alesha dengan lembut, berusaha menenangkannya.“Jangan khawatir. Aku sudah mencari tahu. Manajer baru itu perempuan dan masih muda. Kalau nggak sa

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 5

    Setelah pernyataan itu dikeluarkan, Rendra tampak begitu lelah.Dia memijat pelipisnya, lalu menatap Alesha yang bahunya masih bergetar.“Untuk kali ini, lupakan saja. Tapi lain kali, kamu harus lebih teliti dan berhati-hati. Jangan mudah percaya pada siapa pun.”Mendengar itu, Alesha masih merasa sangat terzalimi. Dia ingin kembali bermanja kepada Rendra seperti biasanya.“Kak Rendra .…”Namun, Rendra hanya melambaikan tangan, menyuruhnya keluar.Hatinya sedang kacau, terutama karena tatapan Alisha sebelum meninggalkan ruangan tadi.Tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia benar-benar sudah memaksa Alisha sampai sejauh itu.Padahal, jelas-jelas Alisha yang lebih dulu memukul. Kalau dia tak membiarkan Alesha membalas, orang-orang di perusahaan pasti akan mengira dirinya sengaja memihak.Memangnya, di mata Alisha, apakah dia benar-benar akan membiarkannya begitu saja?Rendra hanya ingin sedikit meredam kesombongan Alisha.Selama bertahun-tahun, Alisha perlahan membangun posisinya di peru

  • Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin   Bab 4

    Dia berdiri tegak. Ekspresinya berubah menjadi senyum yang sulit ditebak.“Alisha, cukup! Jangan buat masalah lagi.”“Kamu sudah bersamaku sembilan tahun, Alisha. Semua orang di lingkaran kita tahu itu.”“Lagi pula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun?”“Kamu sendiri tahu. Tanpa perusahaan ini, tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”Ternyata, inilah isi hatinya yang sebenarnya.Meski hatiku sudah benar-benar mati rasa, jantungku tetap terasa seperti ditusuk, menyisakan rasa sakit yang menusuk.Aku menekan kuat rasa getir yang naik ke tenggorokan.“Aku nggak sedang membuat masalah. Aku juga sudah membatalkan reservasinya. Tepat hari itu ....”Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, ponsel Rendra tiba-tiba berdering.Nada suaranya seketika berubah lembut.“Ada apa, Lesha? Bagaimana kata pihak Citra Langit?”Dari seberang telepon terdengar suara yang diselingi isak tangis.Ekspresi Rendra langsung berubah.Begitu menutup telepon, dia bergegas menuju pintu.“Uru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status