LOGINStevi mengangguk."Baik."Anastasia kembali menatap surat dari Ansel yang masih berada di atas meja. Besok ia harus pergi, dan apa pun yang menunggunya di luar sana mungkin akan mengubah banyak hal, ia hanya bisa berharap rencana Stevi tidak berubah menjadi masalah baru sebelum ia sempat bertemu dengan kakaknya.Sementara di luar kamar, suara langkah pelayan masih terdengar samar di sepanjang koridor kastil. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu itu, Anastasia sedang mempersiapkan sesuatu yang harus dilakukan secara diam-diam.I mulai merasa bahwa masalah yang dihadapinya tidak lagi hanya tentang Jasper dan Mary. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di belakang semua ini.***Pagi itu, Anastasia baru saja keluar dari kamarnya ketika ia bertemu Jasper di lorong menuju ruang makan. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah malam yang melelahkan, ia hanya ingin sarapan dengan tenang lalu menjalani hari seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti keti
Anastasia akhirnya berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Lior. Ia hanya merapikan ujung gaunnya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu meninggalkan meja makan. Malam itu, ia tidak peduli apakah Lior masih ingin berbicara dengannya atau tidak. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.Begitu keluar dari Paviliun Barat, Anastasia berjalan kembali menuju kastil dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh. Perkataan Lior terus terngiang di benaknya, begitu pula kejadian beberapa jam sebelumnya. Jasper, perceraian, Mary, keluarganya, bahkan pertanyaan tentang Lior yang belum juga mampu ia jawab. Semuanya datang bersamaan hingga Anastasia tidak ingin memikirkan satu pun.Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu. Anastasia berdiri beberapa saat di tengah ruangan tanpa melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, seolah tubuhnya sudah berada di sana, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh di belaka
Lior masih menatap Anastasia setelah wanita itu meminta agar mereka tidak membicarakan Jasper. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang dan sulit dibaca, tetapi jelas bahwa ia belum berniat mengakhiri percakapan. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja."Mengapa aku tidak boleh membicarakan suamimu?"Anastasia terdiam. Ia menatap hidangan di hadapannya, berharap dengan begitu pembicaraan itu akan berhenti dengan sendirinya. Namun Lior tidak mengalihkan pandangan darinya. Ia tahu pria itu sedang menunggu jawaban, sementara dirinya sendiri tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa tanpa membuka sesuatu yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan."Bukankah seharusnya kau merayakan hubungan baikmu dengan suamimu?" lanjut Lior.Anastasia akhirnya menghela napas panjang. Ia mengangkat wajah dan menatap Lior dengan tatapan yang mulai menunjukkan kelelahan."Apa maksud Anda dengan hubungan baik?"Lior tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Tat
Tidak ada lagi yang dikatakan Jasper, ia hanya berdiri di sana seolah tidak percaya bahwa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Anastasia.Namun Anastasia tidak menarik kembali ucapannya. Ia sudah terlalu lama menahan semuanya.Jasper akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar.Pintu tertutup perlahan.Begitu ia benar-benar pergi, lutut Anastasia kehilangan kekuatannya. Tubuhnya merosot ke lantai di sisi ranjang. Tangannya buru-buru menarik gaun yang robek untuk menutupi tubuhnya, lalu ia menyandarkan punggung pada ranjang.Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.Anastasia menundukkan kepala. Tangannya menggenggam erat kain gaunnya yang koyak, seolah sedang berusaha mengumpulkan kembali sisa harga dirinya yang terasa telah dihancurkan di hadapan orang yang seharusnya melindunginya.Bahu Anastasia bergetar.Ia tidak menangis karena Jasper pergi. Ia menangis karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan harga dirinya sebagai seorang
Mary membelalak."Anastasia!""Aku serius."Anastasia menatap Jasper."Setelah kita bercerai, Anda bisa menikahi Mary secara resmi. Dia tidak perlu lagi merasa terganggu dengan keberadaanku, dan aku juga tidak perlu terus berada di antara kalian."Jasper membeku. Ia jelas tidak menyangka Anastasia akan mengucapkan hal itu dengan begitu mudah. Anastasia kemudian melanjutkan dengan suara tetap tenang."Kalian berdua bisa hidup bahagia tanpa seorang pengganggu seperti saya."Mary justru menjadi orang pertama yang bereaksi."Baron, setujui saja. Wanita seperti ini memang tidak tahu diri."Jasper menoleh tajam kepadanya. Mary masih belum menyadari bahwa ucapannya justru membuat suasana semakin buruk."Dia sudah tidak menghormatimu sebagai suaminya. Untuk apa mempertahankan wanita seperti itu?"Jasper membuka mulut. Namun sebelum sempat menjawab, suara dingin terdengar dari belakang mereka."Mary."Semua orang menoleh.Nyonya Tua Silas berdiri di ujung koridor. Wajahnya tidak menunjukkan ke
Tatapan Lior tidak berubah, Anastasia merasa pria itu sedang memperhatikannya lebih lama dari sebelumnya."Kenapa?"Anastasia mengerutkan kening."Kenapa apa?""Kenapa kau ingin membantuku?"Pertanyaan itu membuat Anastasia kembali diam.Ia sebenarnya bisa memberikan banyak alasan. Karena Jasper menginginkannya mati. Karena Lior mungkin tidak bersalah. Karena keberadaannya berkaitan dengan rencana Jasper. Karena Ansel mungkin bisa mendapatkan keuntungan jika Lior selamat.Tetapi entah mengapa, tidak satu pun jawaban itu terasa tepat untuk dikatakan sekarang."Karena saya tidak ingin melihat seseorang mati hanya karena saya tahu ada cara untuk menyelamatkannya." Jawab Anastasia.Lior tidak menjawab. Ia hanya menatap Anastasia beberapa saat, lalu kembali melangkah dan Anastasia mengikutinya."Jangan membicarakan tempat itu kepada siapa pun." Ucap Lior akhirnya.Anastasia sedikit terkejut."Yang Mulia?""Aku akan mempertimbangkannya.""Anastasia."Anastasia mengangkat wajah.Lior menoleh







