Share

6. Gara-Gara Cicak

Penulis: Arthamara
last update Tanggal publikasi: 2025-07-24 01:25:44

Pagi itu Doni tidak berangkat ke kampus. Dia melakukan peregangan, setelah berlari pagi sekitar 1 jam keliling jalan sekitar kompleks. Karena dia orang baru disana, perlu sekiranya mengenal kawasan sekitar. Iya, minimal tahu dimana harus membeli sarapan atau galon isi ulang.

“Loh Mas Doni, gak masuk kuliah? Kok masih santai berjemur.” Sapa Ikhsan, suami Nadia.

Doni bangkit, melepas sepatu olah raga dan menjemurnya, “Iya nih mas. Dosen pembimbing keluar kota semua. Jadi banyak di apartemen saja. Musim gini di rumah memang gabut sih, tapi keluar bentar ya buat bangkrut.”

Ikhsan tertawa, dia mulai mengenakan sepatu dinas. “Benar. Semua mahal ya, gampang boncos.”

“Sudah mau berangkat dinas mas? Damkar sekarang lagi favorit dan bintang lima di masyarakat ya.”

“Iya begitulah Don. Ngrokok gak? “ Ujar Ikhsan sambil menyerahkan sekotak rokok.

“Ngerokok sih, tapi abis olah raga. Yah, gak papa sih ya..hahaha.” Jawab Doni, lalu mengambil sebatang rokok dan menyelipkan di bibir lalu menyulutnya.

“Mas, sorry nih. Aku kemarin gak sengaja dengar, pertengkaran Mbak Nadia dengan orang tua mas Ikhsan. Memang kenapa sih mas?” Doni sedikit sungkan tapi penasaran mengucapkan.

Ikhsan menyesap rokok, lalu menoleh ke Doni.

“Iya begitulah Don, rumah tangga. Kukira setelah nikah itu, langsung bahagia kayak di FTV gitu. Ternyata, gak gitu.” Iksan menghela napas panjang, “Problem itu selalu ada di setiap fase kehidupan. Semacam….sudah sepaket lah. Kayak gembok dengan kunci, saling klik. Sebelum nikah, ditanya kapan nikah. Sudah menikah, kapan punya anak? Iya itulah masalahnya.”

Doni mengangguk, “Emang sudah berapa lama sih mas, sama mbak Nadia?”

Ikhsan menyesap rokoknya lebih dalam, menghembuskan panjang, “sudah 6 tahun sih Don.”

“Lama juga ya mas, semoga segera punya ya mas.”

Ikhsan menoleh ke Doni, seperti kakak adik yang sedang bercengkrama di pagi hari.

“Makasih ya Don, aku juga minta tolong. Karena pekerjaanku sering meninggalkan rumah, kamu bantu Nadia ya kalau dia butuh bantuan. Rokok lagi gak? Aku mau berangkat piket nih, Don?” Ujar Ikhsan sambil menatap arjoli di tangan lalu berjalan meninggalkan apartemen pelan.

“Gak ah mas. Ini aja, bisa gelap gulita paru-paruku.” Jawab Doni, lalu masuk ke apartemennya.

Siang hari Ikhsan pulang, Doni sedang mengambil sepatu yang dia jemur sebelumnya. lalu terdengar pertengkaran lagi dari unit tetangganya.

“Mas Iksan, baru pulang sebentar. Mau balik lagi?” Suara Nadia terdengar.

“Iya. Aku ditugaskan keluar kota, seminggu.” Jawab Ikhsan parau.

“Mas ini tugas dan tugas terus! Kapan kita punya anak mas kalau mas hanya pentingin tugas dan tugas!” protes Nadia.

“Mau bagaimana lagi? sebelum menikah kamu sudah tahu, kan tugas Damkar itu juga rescue dan harus sedia 24 jam. Sudahlah, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa bisa minta tolong ke Doni itu samping, aku sudah bilang padanya. Aku berangkat.” Ujar Ikhsan lalu keluar meninggalkan Nadia. Dia menyempatkan menyapa Doni.

“Don, titip apartemen dan Nadia ya. Aku ada tugas ke luar semingguan.” Sapa Ikhsan.

“Siap, pantang pulang sebelum padam.” Jawab Doni seraya mengangkat tangan, hormat.

“Bukan. Ini pencarian korban kapan tenggelam di Selat Bali. Yok Don.” Pungkas Ikhsan lalu segera pergi meninggalkannya.

Sore hari menjelang petang, pintu apartemen Doni kembali diketuk. Dia yang sedang fokus membaca jurnal, segera keluar. Ternyata Nadia yang disana.

“Mas, sibuk gak? Mau minta tolong.” Ucap Nadia. Dia terlihat baru saja mandi, handuk basah masih terikat di rambutnya. Dia mengenakan hot pants seperti biasa.

Doni menelan ludah melihat tetangganya itu, “Minta tolong apa mbak? Kalau yang susah ya Damkar. Bercandyaa mbak.”

“Aah, mas ini loh. Ini tolong pasangin gas LPG, biasanya mas Ikhsan. Nadia gak bisa.” Ucap Nadia, manja.

“Ooh, bisa itu mbak. Mana,” kata Doni, sok pahlawan. Dia mengikuti Nadia masuk ke dalam apartemen Nadia. Hatinya sebenarnya dag dig dug, karena untuk pertama kali dia masuk ke ruangan yang beberapa kali dia dengar desahan saat malam hari.

Setelah sampai di dapur, Doni langsung melepas selang regulator dan mengganti gas LPG yang baru. Dia mencoba menyalakan kompor, dan tasss gas menyala. Berati tugasnya sudah selesai.

“Sudah mbak, saya kembali ya.” Ucap Doni. Dia tidak mau lebih lama disana, menyiksa adik di dalam celana.

“Sama lampu di atas kamar ya mas. Entah itu mas Ikhsan gak pernah ngecek miliknya sendiri masih hidup apa gak, tapi selalu perhatian pada orang lain. “ Ujar Nadia lagi, bibirnya menyingsut.

Doni hanya bisa mengiyakan. Dia menambil tangga lipat lalu memasangnya, “mbak tolong pegangin tangganya ya, takut geser.” Pinta Doni dari atas. Dia mulai melepas bohlam lampu yang lama. Nadia mengikuti perintah Doni, memegangi kaki tangga.

Dari posisi tersebut, Doni bisa melihat dengan jelas dua buah gunung kembar yang ada di dada Nadia. Maka, fitting lampu yang seharusnya diputar ke kiri untuk melepas, malah diputar Doni sebaliknya. Jadi, dia lama melepas itu. Meskipun pada akhirnya bisa juga, karena dia segera sadar.

“Aku kesal, sama mas Ikhsan dan keluarganya. Semua nyalahin aku. Katanya aku perempuan tidak subur.” Gerutu Nadia.

Doni meliriknya kembali, dari atas. “Sabar mbak.”

“Rasanya kesabaranku sudah muncak mas. Aku sudah berulang kali tes kesuburan dan hasilnya tidak ada masalah. Masih saja aku dibilangin perempuan tidak bisa punya anak. Mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha.” Lanjut Nadia. Doni tidak menjawab, dia sudah mulai memutar bohlam lampu baru ke kanan.

Hlaaap lampu seketika menyala.

Namun, karena lampu yang bersinar  sangat terang tersebut. Seekor cicak jatuh tepat di rambut Nadia yang baru dilepas dari ikatan handuk sebelumnya.

“Eeeh, apaan ini? “ Nadia setengah kaget.

“Itu cicak mbak,” jawab Doni dari atas.

“Huaaaa…aku herpetophobia mas. Singkirkan mas, tolong.” Teriak Nadia. Dia melepaskan pegangan tangga. Doni terhuyung-huyung langsung turun dan melompat. Menghindari jatuh lebih parah.

Nadia langsung memeluk Doni, mengarahkan rambutnya. Wangi aroma shampo terasa menyeruak menggoyang bulu hidung Doni. Tubuh Nadia juga menempel erat ke Doni. Untuk pertama kalinya, dia bersentuhan kulit dengan tetangga yang desahannya selalu dia ingat itu.

Bruuk

Karena Doni tidak berada di posisi sempurna berdiri, mereka terjatuh ke tumpukan pakaian. Akibatnya, Nadia malah jadi berada di atas Doni. Lebih parah, gunung kembar yang dilihat dari atas menggoda tadi. Kini tepat berada di dekat sekali dengan bibir Doni.

Senjata di balik celana Doni mulai mengeras. Bulu kuduknya berdiri, darahnya mendesir, palpitasi. Apa yang harus Doni lakukan sekarang? Hanya ada mereka berdua di kamar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Erine Widyia N
waduhhhhhhhh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   Bab 150. Mira dan Shinta

    Apakah alkohol akan menjadi pelarian Doni, lagi? Entah. Yang jelas dia masih berusaha melanjutkan sesuatu yang sudah dia kerjakan. Sore itu, Doni kembali berdiri di depan pintu apartemen Mira. Pintu yang pernah menjadi saksi tawa mereka, mimpi mereka, dan rencana masa depan mereka. Sebuah titik juga, saat dia merasa dijebak namun akhirnya menerima dan memperjuangkan. Namun kali ini pintu itu terasa asing—dingin, kaku, seperti dinding yang menolak harapan.Tok. Tok. Tok.“Mira… ini aku,” ucap Doni lirih. “Kita harus bicara. Tolong buka pintunya.”Tak ada jawaban.Tok. Tok. Tok. Ia kembali mengetuk, sedikit lebih keras. “Mira, aku mohon… apa pun itu, jangan sembunyi dariku.”Senyap.Beberapa detik berlalu. Lalu menit. Dan seperti sebelumnya… tak ada gerakan apa pun dari dalam. Tak ada bayangan kaki di bawah pintu, tak ada suara kunci diputar, tak ada isyarat bahwa Mira bersedia membuka celah hatinya walau sedikit saja.Hanya keheningan yang menusuk.Akhirnya, setelah menunggu terlalu

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   Bab 149. Keluarga Mira ternyata

    Tanpa menunggu semua penumpang turun, Doni bangkit tergesa. Pramugari sampai menegur berulang karena gerakannya terlalu buru-buru.“Pak… silakan kembali ke tempat duduk. Bergantian keluar ya pak. Space pintu keluar terbatas. “Ia tidak peduli. Langkahnya cepat, hampir berlari keluar dari bandara.Ia sengaja memasukan koper ke kabin, sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama koper keluar dari antrean. Sebuah strategi kecil, karena dia pasti ingin segera keluar bandara. Ia tidak memesan taksi on-line. Ia gunakan taksi konvensional dan segera memberikan arahan untuk lewat jalur tikus agar lebih cepat. “Langsung ke alamat ini pak? Tarifnya sesuai argo ya pak. “ Ucap sopir taksi tersebut,”kalau lewat jalan tikus pasti agak jauh tetapi memang tidak macet. ““Iya Pak. Pokoknya segera sampai. “ Jawab Doni dengan kilat. “Baik Pak. Kenakan sabuk pengaman dan duduk dengan nyaman. “Perjalanan dari bandara ke rumah Mira adalah perjalanan paling panjang meski hanya puluhan menit. Doni memutar

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   Bab 148. Siapa sebenarnya Doni?

    Mundur beberapa jam dari sudut pandang Sylvi. Pesawat yang ditumpangi Doni mulai bergerak perlahan menjauhi landasan Bandara Ngurah Rai. Kebetulan di bandara internasional yang terletak di Kabupaten Badung ini, terminal keberangkatan domestik semua maskapai sama, sehingga mudah diamati. “Don… Hati-hati. Kamu harus selamat dan bisa memilih mana yang harus di pilah. “ lirih Sylvi, netranya terpana ke arah pesawat yang mulai bergerak. Meski beberapa jam sebelumya Sylvi berpura-pura tidak terlalu peduli, namun secara hati ia tidak membiarkan Doni sendiri. Tanpa Doni ketahui, Sylvi menyusul ke bandara buktinya. Tentu setelah Sylvi menyiapkan Action Plan sebagai tindak lanjut dari presentasi Doni sebelumnya. Sebagai tahap lanjutan, Sylvi mulai menyusun Letter of Intent (LoI) sebelum masuk ke MoU. Ia mengumpulkan seluruh dokumen hasil presentasi berikut Action Plan untuk diserahkan kepada tim legal. Meskipun seharusnya itu adalah tugas Doni. Dari balik kaca ruang tunggu VIP, Sylvi berdi

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   Bab 147. Kejutan dari Mira

    Pagi harinya, Sylvi membangunkan Doni. Kepalanya berat, namun anehnya ia merasa jauh lebih tenang daripada malam sebelumnya.“Doni,” ujar Sylvi pelan, “kita harus berangkat sekarang.”“Heemh.” Doni membuka kelopak matanya malas. Pengaruh alkohol masih terasa benar di otaknya. “ Kamu harus segera sadar! “Pekik Sylvi. Dia segera menyeret Doni ke kamar mandi dan mengguyur Doni dengan kran air sebanyak mungkin. Setelah keluar dari kamar mandi, segelas susu steril sudah tersaji. Lengkap dengan roti sebagai penyela cacing di perut. “Minum ini dan isi perutmu dengan ini. Semoga bisa meredakan pengaruh alkohol di tubuhmu. “ Pinta Sylvi. Doni menurut dan langsung menyantap apa yang ada dihadapannya. Sylvi berulang mengecek ponsel. Memastikan waktu masih cukup. “Ayo berangkat. “ Perintah Sylvi yang langsung diikuti Doni. Dalam perjalanan, Doni hanya diam. Pikirannya masih kelabu, namun ia memaksa fokus.“Don.. Ini kesempatan terakhir mu. Kesempatan utama kita. Please jangan kecewakan ak

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   146. Presentasi Doni

    Malam itu seharusnya menjadi waktu istirahat setelah presentasi yang melelahkan. Namun bagi Doni, malam itu justru menjadi awal dari kekacauan baru.Sylvi memencet pintu kamar hotel, sejak kejadian sebelumnya Doni memang sengaja mengunci pintu.Setelah membuka pintu, Doni kembali ke dalam dengan wajah tegang sambil membawa laptop.“Don, kita harus revisi materi untuk besok. Investor yang datang beda dari rundown awal. Kita perlu menyesuaikan beberapa poin.”Doni melihat ke jari Sylvi, tidak ada cincin. Lalu dia segera mengangguk lemas. “Oke, Bu Sylvi, Sini.”Mereka duduk di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, suara ombak Bali terdengar jauh. Membuat suasana khas yang sangat nyaman untuk berpikir dan mencari ketenangan. Baik sekadar liburan atau bekerja. Namun ketenangan alam itu tidak mampu menjinakkan badai di kepala Doni.Ketika Sylvi membuka draft materi yang Doni kerjakan sore tadi, ia langsung mengerutkan dahi.“Don… ini salah semua. Bagian data keuangan tidak jeli. ”Doni

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   145. Mira Menghilang

    Venue itu mewah, tempat perusahaan besar dan pemilik modal berkumpul. Bisa sekadar untuk mendengar proposal kerja sama baru, ataupun guna menggugurkan kewajiban undangan wajib dari pemerintah.Sylvi tampil rapi, rambut terikat, seragam kantor menyatu dengan aura profesionalismenya. Sementara Doni… hanya berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang hancur.“Don,” panggil Sylvi pelan begitu mereka masuk lift. “Kamu baik-baik aja? Sejak tadi diam banget.”“Oh, iya. Aku… cuma kurang tidur.”Sylvi menatapnya dalam, seolah mencari celah dari kebohongan kecilnya.“Kamu yakin?”Doni mengangguk cepat.Tapi bagaimanapun, ketidaktenangan itu tidak bisa ditutupi. Matanya sembab, konsentrasinya buyar, bahkan ia salah menekan tombol lift.Juga berbagai kesalahan kecil lain. Apakah itu semua pertanda akan kejadian lain hari?Ruangan besar itu dipenuhi para petinggi perusahaan. Projector menyala. Slide pertama muncul. Sylvi berdiri di samping Doni dan memberi anggukan kecil.“Tenang ya, Don. Kit

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   9. Mimpi Apa Semalam?

    “Mas Doni, sembunyi dulu disini ya,” kata Sandra yang langsung dituruti Doni. Tidak ada jalan keluar memang, kecuali hanya sembunyi sementara. Dia juga tidak akan bisa dengan mudah menjelaskan keberadaannya ke suami Sandra tersebut.Sandra segera mengenakan handuk kembali, lalu merapikan rambut dan

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   8. Tragedi Wadah Sayuran

    Tok..tok..tok“Permisi mas, saya sudah selesai. Mana Syakilanya?” Tanya Sandra. Buliran air masih menetes dari rambutnya.Doni segera menunduk. Dia tidak bisa membayangkan kalau handuk itu sampai jatuh. Lagian, untuk sampai ke atas juga harus melewati anak tangga yang lumayan banyak. Mengapa Sandra

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   7. Gagal Bimbingan Lagi

    Doni segera mengusap mata. Menekan ujung senjata torpedo di balik celana. “Mengecilah, memalukan.” Gumamnya pelan. Nadia yang menindihnya malah memeluk Doni lebih erat.“Aku takut hewan reptil mas. Phobia.” Ucap Nadia, tubuhnya sedikit bergetar.“Sudah gak ada mbak, aman.” Doni, semakin tidak kuat

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   5. Tetangga Sebelah

    “Aah jangan. Aku harus fokus mengerjakan skripsi. Supaya cepat lulu, dan buktikan ke keluarga kalau aku bisa!” lirihnya. Doni kembali menatap layar laptop hingga malam. Dia melakukan revisi sesuai arahan dari dosen pembimbing satu. Merubah judul, cakupan penelitian sampai jumlah sampel yang akan d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status