FAZER LOGIN"Ra-Raka..." ucap Kiera terbata. "Bisakah kamu menggunakan cara lain?""Cara lain? Memangnya kenapa?" tanya Raka sambil tetap melakukan pijatan pada bagian panggul kanan Kiera."Nggak apa-apa," jawab Kiera tertahan.Raka tampak bingung, tetapi ia tidak terlalu memikirkan perkataan Kiera dan kembali memusatkan perhatian pada terapinya.Kiera merapatkan rahang. Bukan karena sakit, melainkan karena sedang berusaha menahan sensasi nikmat yang mulai dirasakannya."Akh... Raka!" desis Kiera ketika Raka memberikan tekanan pada area panggulnya."Apakah sakit?" tanya Raka."Ti-tidak." Kiera menarik napas pelan. "Teruskan saja terapinya.""Oke." Raka mengangguk. "Sekarang aku akan melakukan pijatan pada bagian pangkal tulang belakang."Mendengar ucapan tersebut, Kiera mulai membayangkan sensasi seperti apa yang akan dirasakannya. Apalagi letak pangkal tulang belakang cukup dekat dengan area intimnya.Raka mulai menyentuh area pangkal tulang belakang dan mengurutnya perlahan sambil tetap mengali
Ekspresi Kiera kembali berubah. Bahkan tubuhnya terlihat sedikit menegang setelah mendengar pertanyaan Raka."Iya," jawab Kiera akhirnya. "Waktu itu aku berusaha mengubah arah setelah melewati pemain lawan. Kaki kananku menerima beban... lalu semuanya terjadi."Pak Fajar mengembuskan napas pelan sambil menatap Kiera."Setelah mengalami cedera berat dan berulang, masalah seorang atlet kadang bukan hanya soal stabilitas fisik dan kekuatan," jelas Pak Fajar. "Tubuh juga bisa membentuk respons perlindungan terhadap gerakan yang sebelumnya menimbulkan rasa sakit."Raka dan Kiera sebenarnya sudah menyadari hal tersebut. Namun, Kiera sendiri tidak menyangka bahwa bahkan ketika melakukan gerakan ringan, tubuhnya masih secara refleks menghentikan gerakan tersebut."Baiklah, kita sudahi latihan hari ini—""Tapi, Raka, aku masih belum mau berhenti," potong Kiera. "Aku mau mencobanya sekali lagi."Pak Fajar memahami alasan Kiera bersikeras untuk melanjutkan latihan. Namun, memaksakan pengulangan
Di ruangan itu kini hanya tersisa Pak Fajar, Raka, Kiera, Maharani, dan sekretaris pribadinya, Intan.Pak Fajar mulai memberikan instruksi kepada Kiera untuk melakukan pemanasan. Raka berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan setiap gerakan, sedangkan Maharani duduk di salah satu kursi bersama Intan.Setelah Kiera selesai melakukan pemanasan, Pak Fajar kembali mengukur rentang gerak kaki kanannya."Tekuk perlahan kakimu dan rasakan sampai batas nyaman yang bisa diterima," perintah Pak Fajar.Kiera mulai menekuk lutut kanannya. Pak Fajar memperhatikan alat ukur yang diposisikan di sisi kaki Kiera sebelum mencatat hasilnya pada lembar evaluasi."Bagaimana, Pak Fajar?" tanya Raka. "Apakah ada perubahan dari pemeriksaan sebelumnya?""Masih konsisten dengan pemeriksaan pagi tadi," jawab Pak Fajar. "Artinya, efek dari terapi yang anda lakukan kemarin masih bertahan."Raka mengangguk puas. Ia memang belum mengharapkan peningkatan besar. Selama tubuh Kiera mampu mempertahankan perkemban
Maharani tidak langsung menjawab usulan Raka. Ia justru menoleh kepada Pak Fajar seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan."Bagaimana menurut Anda, Pak Fajar?" tanya Maharani. "Apakah ruangan kosong itu cukup untuk melakukan latihan?""Kalau cuma untuk latihan ringan sebenarnya ruangan itu cukup," jawab Pak Fajar. "Tapi kalau kita mau melakukan evaluasi dan latihan di sini selama beberapa hari, saya tetap butuh beberapa perlengkapan. Alat ukur rentang gerak, alat ukur kekuatan otot, resistance band, balance pad, step box, matras, dan beberapa alat latihan dasar lainnya."Mendengar penjelasan Pak Fajar, Raka mulai memahami bahwa usulannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan."Oke, baiklah." Maharani mengangguk pelan."Kalau memang nggak memungkinkan dilakukan di tempat ini, nggak apa-apa," ujar Raka. "Aku nggak mau membuat semuanya jadi rumit.""Diam dulu, Raka." Maharani tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.Raka mengernyit. "Kamu mau apa, Maharani?""Katanya
Keesokan paginya, setelah Pak Fajar melakukan evaluasi dan mendampingi latihan ringan Kiera di fasilitas klub, ketiganya datang ke Panti Pijat Cakra Sehat tidak lama setelah Raka membuka tempat tersebut."Raka..." Kiera berjalan pelan menghampiri Raka dengan ekspresi murung yang membuat Ririn, Anin, dan Rania langsung memperhatikannya."Apa yang terjadi, Kiera?" tanya Raka khawatir.Kiera tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.Raka langsung menatap Pak Fajar, tetapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara Maharani justru memalingkan wajah seolah tidak ingin ditanya."Apa yang sebenarnya terjadi?" Raka semakin penasaran. "Kenapa ekspresi kalian seperti itu?""Sabar dulu," sahut Maharani. "Lebih baik kita duduk dan membicarakannya.""Benar juga." Raka akhirnya mempersilakan ketiganya duduk. "Ayo, kita duduk dulu."Setelah semuanya duduk, Raka langsung menatap ketiga orang di hadapannya."Jadi bagaimana?" tanyanya tidak sabar. "Cepat jelaskan. Jangan bikin ak
Raka kembali menempelkan kedua tangannya pada tubuh Kiera. Kali ini, ia tidak mengalirkan energi Cakra Asmara sebanyak saat terapi pertama mereka dahulu. Raka justru mengalirkannya secara perlahan menuju Nadi Kehidupan Kesepuluh dan Nadi Kehidupan Kesebelas yang menjadi sasaran pertamanya.Perlahan, kedua jalur tersebut dihubungkan menuju Nadi Kehidupan Kedua Belas. Raka berusaha menyelaraskan keduanya agar jalur saraf dan aliran menuju kaki kanan Kiera dapat kembali bekerja dalam irama yang sama.Kiera memejamkan mata. Ia sempat khawatir akan kembali mendesah akibat efek terapi Raka seperti yang pernah dialami sebelumnya. Namun, ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Sensasi yang dirasakannya kali ini justru lebih menenangkan."Kenapa rasanya berbeda?" tanya Kiera pelan. "Sekarang rasanya nyaman.""Tentu saja." Raka tersenyum tipis. "Karena sekarang aku mengatur efeknya secara bertahap. Waktu itu aku lebih fokus membuat kakimu kembali membaik secepat mungkin."Kiera diam-diam meras







