LOGIN"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Sabrina.
Asha menggeleng pelan. "Aku gak berencana ikut organisasi atau klub apapun sih. Aku lebih prioritaskan cari kerjaan paruh waktu untuk sekarang.""Oh." Sabrina mengangguk singkat, lalu lanjut menyuap makanannya.Sementara itu, Asha menyapu suasana kantin yang semakin ramai. Beberapa mahasiswa tampak mengenakan jaket dengan logo yang sama. Ada pula yang membawa tote bag dan mengenakan pin identik di dada."Sabby," guma[Kita perlu meeting soal konsep video baru. Temui aku sekarang]Pesan itu muncul di layar ponsel Asha yang tergeletak di sebelah wastafel. Sembari membaca pesan itu, Asha mengusap tangannya menggunakan tisu.Asha mengerjap pelan. Ada sedikit keheranan di wajahnya, tetapi ia segera membalas pesan Della tersebut sebelum bergegas keluar dari toilet.Namun, baru saja ia melewati pintu, seseorang tiba-tiba menyergap Asha dari belakang."Mmphh!"Sebuah tangan membekap mulutnya dengan kain. Asha sontak meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman orang asing itu. Namun, aroma menyengat dari kain tersebut membuat kepalanya pening. Pandangan Asha berangsur kabur, tubuhnya kehilangan tenaga, hingga akhirnya kesadaran Asha lenyap.***Byurrrr!Asha tersentak bangun saat air dingin menerjang wajahnya.Gadis itu terbatuk kecil, mengerjapkan mata berkali-kali sebelum akhirnya bisa melihat sosok Caramel yang berdiri di hadapannya.Ia kemudian merasakan pergerakannya terbatasi lantaran sebuah t
Asha memejamkan matanya, berusaha mengingat kembali apa yang baru saja diceritakan Angkasa kepadanya. Ia mencoba merangkai potongan-potongan ingatan yang terlintas samar, berharap bisa menemukan sesuatu. Namun, saat Asha mencoba memaksa mendapat gambaran, justru bayangan kabur yang muncul di benaknya. Lalu bukannya menemukan Angkasa di masa lalu, sebuah potongan lain melintas begitu saja. Asha melihat sesuatu yang tidak begitu jelas, disusul perasaan menyakitkan yang tiba-tiba menyergap dadanya. Kening Asha berkerut, jemarinya mencengkeram ujung selimut dan napasnya sempat tertahan. Ada sesuatu dalam bayangan itu yang membuat hatinya terasa nyeri. Namun, sebelum bisa menangkap gambaran itu lebih jauh, Asha buru-buru membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengusir sisa-sisa bayangan yang masih mengganggu pikirannya. "Maaf, Kak…" Asha menunduk, tampak sedikit kecewa pada dirinya sendi
Angkasa mengulas senyum sembari mengusap pucuk kepala Asha. "Tapi itu bukan pertemuan pertama kita, Sayang?"Asha mengerutkan kening. "Kok bisa, Kak. Memang kita sudah pernah ketemu sebelum wawancara beasiswa itu?"Angkasa terdiam sejenak, menatap lekat wajah bening Asha, kemudian mengerjap pelan."Hm," sahutnya singkat.Asha menggeser kepalanya ke samping hingga bisa menatap wajah Angkasa lebih jelas. "Serius, Kak?""Terus kita pertama kali bertemu di mana? Kok aku gak ingat apa-apa?" cecar Asha, menampilkan wajahnya yang syok.Angkasa mengangkat satu sudut bibirnya tipis sebelumnya akhirnya mengenang momen itu sambil menceritakannya pada Asha.Sekitar tujuh tahun yang lalu.Ada hari yang menjadi salah satu hari terburuk dalam hidup Angkasa Reynard.Sang kakek, satu-satunya anggota keluarga yang selalu berada di pihaknya, telah pergi untuk selamanya. Belum genap sehari ia kehilangan sosok yang begitu disayanginya, Angkasa kembali terlibat pertengkaran dengan sang papa. Pria itu lagi-
Angkasa benar-benar memberi Asha kendali penuh malam itu. Bahkan Asha yang tadinya bingung dan kaku melakukan segala hal kini bergerak dengan liar di atas Angkasa."Arghh… Asha," geram Angkasa tertahan. Tangan pria itu menahan kedua pinggang Asha yang maju mundur cepat dan tak terkendali.Gadis itu memejamkan mata, merasakan kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhnya. "Aahh… Kak…""Enghh… Hghh… Ahh… Aaahh…"Di bawahnya, Angkasa menggertakkan gigi kala menatap Asha yang begitu cantik. Benda kembar Asha yang memantul indah membuat hasrat pria itu makin bergejolak. Tak ayal ia menggerakkan pinggulnya untuk menghentak Asha dari bawah gadis itu."Ouhh… Kak…" Asha membuka mata, menatap iris hitam Angkasa yang sayu. Lantas gerakan maju mundurnya berhenti dan membiarkan pria itu yang bekerja.Asha pelan-pelan menurunkan tubuhnya, merapatkan benda kembarnya ke dada bidang Angkasa. Sentuhan kulit dengan kulit itu membuat rasa panas makin
"Aku mau kamu, Asha… apa kamu juga mau denganku?"Ucapan Angkasa luruh dalam keheningan, menyisakan debar jantung yang terdengar tidak beraturan di telinga Asha. Tatapan pria itu terpaku pada Asha yang berada begitu dekat dengan wajahnya.Asha merapatkan bibirnya sekilas, membalas tatapan Angkasa yang intens.Sebenarnya, tanpa perlu Angkasa meminta, Asha sudah memahami apa yang diinginkannya. Gadis itu pun diam-diam menginginkan hal yang sama. Jantungnya berdebar kencang, darahnya berdesir hangat dan nadinya berdenyut semakin cepat apalagi saat Angkasa mengusap pipinya dengan lembut.Tatapan mereka bertaut. Lantas Asha menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran yang semakin tak karuan dalam dadanya. Jemari lentik gadis itu bergerak meraih tangan Angkasa yang masih berada di pipinya, lalu merapatkan wajahnya pada sentuhan hangat itu."Kenapa, Sayang?" bisik Angkasa, senyum tipis terukir di bibir pria itu.Asha menggeleng kecil.
"Kakak sebenarnya kenapa bisa babak belur begini?" tanya Asha.Angkasa terdiam sejenak. Pria itu masih memandanginya lekat, memperhatikan kerutan di antara kedua alis Asha yang menunjukkan betapa khawatirnya gadis itu."Aku berantem sama Samudra tadi," jawab Angkasa pada akhirnya.Asha mengerjap pelan sebelum melontarkan komentar. "Kak Samudra?" ulangnya tak percaya. "Kok bisa, Kak?"Angkasa mengembuskan napas pendek sebelum menjelaskan. "Karena dia awalnya gak mau memberikan klarifikasi soal foto kalian di toko buku. Dia malah mau bilang kalau kalian sedang dalam tahap pendekatan."Asha merapatkan bibir sekilas. Ia menundukkan pandangan sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Angkasa yang rahangnya mengeras."Aku sudah memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya dengan baik-baik. Tapi dia malah bersikeras dengan perkataannya. Aku kesal, jadi kami berkelahi."Asha terdiam beberapa saat. Ia kemudian meletakkan kompr







