LOGIN"Kamu susah tidur lagi?" ujar pria itu dengan suara serak tipisnya.
Napas hangat Angkasa yang menyapu kulit Asha, merajut arus hangat di sepanjang pembuluh nadi gadis itu. Pelupuk matanya bergetar samar, seolah berusaha mencerna kedekatan yang perlahan terkikis habis itu.Asha menelan ludah sekuat tenaga sebelum menjawab pertanyaan Angkasa dengan anggukan tipis.Gadis itu kemudian menyahut pelan sambil terus memandangi iris hitam Angkasa yang berkilat tajam. "M-maafAsha dan Angkasa kini berada di sebuah toko buku terbesar di kota Wellington. Tangan mereka saling bergandengan, menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi rak buku. Sebelum ke toko buku itu, mereka sempat singgah di suatu tempat untuk menuntaskan apa yang mereka mulai di depan apotek. Barulah setelah memanjakan Angkasa, pria itu mengajak Asha ke toko buku tersebut. Kini, Angkasa tampak sibuk memperhatikan bangunan toko buku tersebut. Pandangannya menyapu langit-langit, susunan lantai, pencahayaan, hingga tata letak rak dan area baca. Sesekali ia berhenti hanya untuk memperhatikan detail tertentu sebelum kembali melangkah. Asha yang mendampingi pria itu, menoleh pada Angkasa. "Memangnya benar Kakak ke sini cuma mau lihat toko buku ini?" "Hm." Pria itu mengangguk. "Proyek baru yang kuterima, mendesain perpustakaan baru yang akan dibangun di Grandchester. Aku sedang mencari referensi untuk konsep bangunan, sirkulasi pengunjung dan penataan ruangnya." "Ohh…" Asha mengangguk paham. Namu
Asha tanpa sadar mengangkat sudut-sudut bibirnya mendengar ucapan Angkasa. Merasa jika dirinya tidak sendirian karena terbayang hal semalam.Asha lalu menarik napas pelan sebelum mengeluarkan suara. "Apa kakak memindahkan aku ke kamar Sabby?"Angkasa mengusap tangan Asha lembut, kemudian menoleh pelan sambil mengulas senyum tipis. "Iya, pagi-pagi tadi aku bawa kamu ke kamar adik aku. Repot kalau sampai ada yang lihat."Asha mengangguk pelan, setuju dengan ucapan kekasihnya itu. Asha kembali menatap lurus ke depan dan menyadari mobil Angkasa berbelok ke jalan yang beda arah dari kampus."Kak, kayaknya kakak salah jalan," ucap Asha."Enggak, kok, Sayang," ujar Angkasa santai, sembari menyetir dengan satu tangannya."Kita memang mau ke mana, Kak?" tanya Asha. Mata gadis itu berkilat penasaran.Angkasa kembali mengecup punggung tangan Asha sebelum menjawab gadis itu. "Ngedate sama kamu."Asha mengatupkan bibir sesaat lalu mengangguk pelan.Angkasa kemudian menoleh lagi ke arahnya. "Yang i
"Atau kamu gak ingat lagi?" tanya Angkasa. Suaranya lembut namun terdengar mengintimidasi di saat yang sama. Asha segera menggeleng. "Ingat kok, Kak," jawabnya dengan pipinya yang terasa hangat. Sudut bibir Angkasa terangkat mendengar jawaban Asha. Lantas pria itu menarik wajahnya menjauh pelan-pelan, lalu segera menyalakan mesin mobil. Sementara itu, Asha mengulum bibirnya lagi dan menghirup sisa wangi maskulin Angkasa yang membuat jantungnya semakin berdebar. Tak lama kemudian, mobil Angkasa perlahan bergerak meninggalkan area mansion, menyusuri driveway panjang yang diapit pepohonan dan taman luas sebelum akhirnya keluar melalui gerbang utama. Sepanjang perjalanan, Asha lebih banyak diam. Jemarinya terus memainkan ujung rok, sesekali meremas kainnya tanpa sadar. Di sampingnya, Angkasa fokus mengemudi. Kedua tangan pria itu berada di kemudi dan pandangannya sesekali berpindah dari jalan ke kaca spion. Asha menarik napas pelan dan memejamkan matanya sejenak. Bayangan semalam k
Setelah sarapan berakhir, Angkasa menarik Sabrina masuk ke dalam ruangan musik saat Asha sedang membereskan barang-barangnya di kamar sang adik."Kenapa, Kak?" tanya Sabrina."Kakak mau jalan berdua dengan Asha," ungkap Angkasa. Suaranya datar, tetapi jelas ucapannya penuh penekanan.Sabrina menyipitkan matanya, lantas kedua tangan gadis berambut pendek itu terangkat, lalu tersimpul santai di atas perutnya."Ya sudah, Kak. Ajak orangnya langsung dong, kok malah aku yang diberi tahu," lontar Sabrina, mengedikkan bahu.Angkasa memalingkan pandangannya sejenak, membiarkan cahaya dari jendela besar menerpa wajah putih bersihnya.Beberapa detik kemudian, pria itu kembali menatap adiknya. "Pasti Asha tanya soal kamu, apalagi waktu sarapan tadi kalian rencananya balik ke asrama bersama."Angkasa menarik napas pendek. "Nanti kamu bilang kalau ada urusan tiba-tiba, jadi kamu gak bisa ikut di mobil kakak."Sabrina mengerj
Cahaya terang yang menyelinap melalui celah tirai membuat kelopak mata Asha bergerak pelan. Gadis itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan ruangan yang didominasi warna-warna pastel lembut. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer. Tunggu! Bukankah semalam dia berada dalam kamar Angkasa dan mereka— Asha segera bangun hingga terduduk. Rasa perih di bagian bawahnya membuat gadis itu meringis pelan. "Awww…" Asha menurunkan pandangannya, mata cokelatnya kemudian teruju pada tubuhnya sendiri yang terbungkus lengkap oleh piama warna biru muda. Ia mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Potongan-potongan ingatan bermunculan begitu saja. Sekilas. Tidak utuh. Seolah seseorang sedang membalik halaman buku terlalu cepat untuk dibaca. "Bukannya tadi malam aku ada di kamar Kak Angkasa dan kami melakukan itu…" Asha menggigit bibirnya sembari menarik napas. "Atau aku… mimpi lagi?" lanjut Asha, menggu
Asha tidak pernah seyakin ini untuk melakukan sesuatu. Pertanyaan Angkasa diangguki tanpa keraguan lagi. Dan ya, ia memang menginginkan Ketua BEMnya yang kini resmi jadi kekasihnya.Sementara itu, Angkasa yang menyaksikan sorot mantap di mata Asha, segera menggendong gadisnya itu kamarnya yang ada di lantai dua mansion.Setelah mengunci pintu kamar, Angkasa membawa Asha masuk sambil manautkan bibir mereka dalam ciuman yang lambat dan pelan.Lampu utama kamar tidak menyala. Hanya cahaya bulan yang menembus jendela besar di sisi ruangan, berpadu dengan semburat lampu koridor yang menyelinap dari celah bawah pintu. Dalam pencahayaan redup itu, furnitur-furnitur mahal di kamar luas tersebut hanya tampak sebagai siluet samar.Angkasa akhirnya berhenti di depan kasur super king yang mendominasi ruangan. Lalu dengan hati-hati, ia menurunkan tubuhnya ke tepi kasur dan memangku Asha yang masih melumat bibirnya.Cukup lama saling berbagi saliva dan







