LOGIN"GABY, CUKUP!"
Semua kepala dalam gudang seketika menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, Felix berdiri dengan wajah mengeras.Tatapan lelaki itu berpindah dari Asha yang masih terikat, Noura yang menangis, hingga Gaby yang kini tampak kehilangan ketenangannya."Fe-Felix…" lontar Gaby, ia melangkah maju. Untuk sesaat, ekspresi dinginnya runtuh, digantikan sorot mata yang penuh syok."Kenapa kamu bisa ada di sini?" lirih Gaby."Harusnya aku y"Ahhh! Lepas!" Semua orang dalam gudang terbengkalai sontak menoleh. Gaby yang tadi melarikan diri kini terlihat meronta-ronta di cengkeraman tangan Hayden yang menahan kedua lengan gadis berponi hitam itu. Ya, Angkasa sebelumnya memang sudah meminta back up Hayden sekiranya Angkasa kesulitan. Namun, ternyata lawan pria itu tidak seberapa hingga ia bisa menghajar orang-orang Gaby. Di sisi lain, Keyra segera menghampiri Hayden. Begitu melihat wajah pria itu, ekspresinya yang semula tegang berubah cerah. "Hai, Baby!" Hayden melambaikan satu tangan dengan riang, seolah mereka sedang bertemu di kampus dan bukan di sebuah gudang terbengkalai setelah melewati kejadian menegangkan. Keyra membalas dengan senyuman cerah. "Hai, Baby. Kamu ternyata di sini juga." Setelah menjelaskan situasinya pada Keyra, Hayden segera memaksa Gaby berlutut di lantai agar gadis berponi hitam itu berhenti me
BRAKKK!Pintu besi yang semula tertutup terayun lebar setelah ditendang dari luar. Suara itu begitu keras hingga semua orang dalam gudang spontan menoleh ke arah pria yang berdiri di ambang pintu. Itu adalah Angkasa."Lepaskan mereka!" titah pria tersebut. Napasnya memburu.Angkasa berjalan memasuki gudang dengan tatapan tajam dan rahang mengeras. Kemeja hitamnya kusut, tetapi pembawaannya tetap memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Namun, yang paling mencolok adalah kondisi wajah Angkasa. Sudut bibirnya terluka dan sebuah lebam tampak jelas di tulang pipinya.Asha yang menyaksikan kehadiran pria itu—seketika membelalak. Ia memang memperkirakan Angkasa akan datang. Mereka sudah bicara sebelum Asha berangkat ke lokasi."Kalau kamu gak keluar sampai 30 menit, aku bakalan masuk."Dan sekarang, Asha sama sekali tak menyangka akan melihat Angkasa datang dalam keadaan babak belur.Apa yang terjadi? Mengapa wajah pr
"GABY, CUKUP!"Semua kepala dalam gudang seketika menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, Felix berdiri dengan wajah mengeras.Tatapan lelaki itu berpindah dari Asha yang masih terikat, Noura yang menangis, hingga Gaby yang kini tampak kehilangan ketenangannya."Fe-Felix…" lontar Gaby, ia melangkah maju. Untuk sesaat, ekspresi dinginnya runtuh, digantikan sorot mata yang penuh syok."Kenapa kamu bisa ada di sini?" lirih Gaby."Harusnya aku yang tanya bertanya." Felix melangkah masuk. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan?""Ini bukan kamu yang aku kenal," imbuh Felix.Gaby menggeleng, seolah tak percaya bahwa lelaki yang selama ini ingin ia dapatkan justru datang untuk menghentikannya."Aku melakukan semua ini karena kamu!" tekan Gaby.Felix mengernyit. "Jangan bawa nama aku buat membenarkan tindakan kamu.""Dari dulu aku suka sama kamu!" Suara Gaby meninggi. "Tapi kamu gak pernah melihat ak
Setelah berdiskusi cukup lama, Asha akhirnya sepakat untuk mendatangi lokasi yang dikirimkan Noura. Meski Keyra dan Sabrina sempat menentang keras, gadis itu meyakinkan mereka bahwa ia tak akan bertindak gegabah.Pada akhirnya, dua sahabatnya itu tetap bersikeras untuk mengawasi Asha dari kejauhan. Mereka tak akan membiarkan Asha menghadapi situasi mencurigakan itu sendirian tanpa bantuan.Asha juga sudah menghubungi Angkasa dan menceritakan semuanya. Awalnya, pria itu jelas keberatan membiarkannya pergi, terlebih setelah mengetahui bahwa Noura meminta Asha datang seorang diri. Namun, setelah memastikan Keyra dan Sabrina akan memantau dari jarak aman, Angkasa akhirnya mengizinkan Asha.Ketika malam baru saja mengambil alih langit, Asha sudah berdiri di depan sebuah gudang terbengkalai di sudut kota. Bangunan tua itu tampak mengerikan dalam balutan kegelapan. Sebagian atapnya berlubang, dindingnya dipenuhi noda kecokelatan dan rumput liar tumbuh di sepanjang halaman yang tak terawat.A
Noura kembali meronta, berusaha menyampaikan sesuatu melalui suaranya yang tertahan. Sementara itu, Gaby melepaskan dagu Noura dengan kasar, lalu mundur selangkah. "Apa?" tantangnya. "Sekarang kamu mau bilang apa? Mau cari alasan lagi?" Noura menggeleng cepat. Matanya memohon agar Gaby mau mendengarkannya. Namun, gadis berponi itu justru mengeluarkan ponsel dari saku, memeriksa layarnya sekilas, lalu mendecakkan lidah. Nama Asha yang muncul di benaknya membuat amarahnya kembali membara. Ia mengira semuanya akan berjalan sesuai rencana. Asha akan kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya, sementara dirinya tetap bisa berlindung di balik citra gadis baik-baik yang tak pernah terlibat dalam masalah. Gaby juga berpikir kalau Felix jadi benci Asha karena postingan itu, tetapi cowok yang ia sukai sejak dulu itu malah membela Asha. Gaby mengembuskan napas panjang, berusaha meredam kekesalan yang masih menggelegak di dadanya. Ia menyibakkan rambut ke belakang, lalu kembali menata
"Kamu teleponan sama siapa, Sha?" Celetukan Keyra membuat Asha berbalik cepat. Gadis itu hampir saja menjatuhkan ponselnya karena tak menyangka Keyra sudah berdiri di belakangnya bersama Sabrina. "Oh!" Asha tertawa kecil, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia baru saja mengakhiri panggilan dengan Angkasa. Namun tak mungkin ia memberi tahu Keyra bahwa dirinya sudah berpacaran dengan sang ketua BEM. Apalagi hubungan itu masih dirahasiakan. "Itu… anak FEB yang sekelas sama Noura. Teman kelompok aku dan Sabby waktu orientasi juga." Asha mengangkat ponselnya sedikit, berusaha terlihat santai. "Aku tanya dia pernah lihat Noura seharian ini atau enggak. Kebetulan dia kenal sama beberapa anak seangkatannya, jadi dia mau bantu cari tahu. Hehe." Keyra mengangguk-angguk, tampak cukup puas dengan penjelasan itu. "Oh, baguslah. Setidaknya ada bantuan dari orang lain." Asha hanya tersenyum lega. Untung saja Keyra tak bertanya lebih jauh. Kalau sampai sahabatnya itu mengetahui siapa seben







