Mag-log in"Memangnya Kakak bisa fokus menggambar kalau aku ada di pangkuan Kakak seperti ini?" Asha mendongak, menatap Angkasa dengan rasa penasaran. Angkasa mengangkat sebelah alis tebalnya beberapa detik. Ia mengambil kembali pensil mekanisnya, kemudian meletakkan penggaris di atas kertas rancangannya. Sebelum mulai bekerja, pria itu sempat mengecup pipi Asha singkat. "Bisa, Sayang," ujar Angkasa, lalu berdeham kecil, seolah menahan sesuatu. Sementara itu, Asha seketika tersipu. Ia menundukkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang terbit di bibirnya. Angkasa kemudian mengarahkan satu tangan mungil Asha ke penggaris yang ia letakkan di atas kertas rancangan. "Pegang ini sebentar, Sayang," pintanya. Asha segera meraih ujung penggaris tersebut. "Seperti ini?" "Hm, ke kanan sedikit." Asha menggesernya mengikuti arahan Angkasa. "Sudah pas, Kak?" tanya Asha. "Iya, tahan sebentar ya, Sayang," ujar Angkasa dengan suara beratnya yang menggetarkan dada Asha. Semu merah menjalar di pipi gadi
"Sudah aku bilang, kan, kalau aura perebutnya kuat. Play victim pula, terus menuduh orang lain sembarangan. Menyebalkan!" Keyra menggerutu sambil menusuk-nusuk es batu di dalam gelasnya menggunakan sedotan.Asha, Sabrina dan Noura mengangguk setuju. Mereka sedang berkumpul di sebuah gazebo di taman tengah kampus, menikmati minuman masing-masing setelah menyelesaikan urusan mereka.Asha dan Sabrina juga baru saja menceritakan kejadian yang melibatkan Sissy dan Gina kepada dua sahabat mereka tersebut.Asha kemudian menghela napas berat, ia mengangkat pandangannya pada Noura. "Dan jujur ya, aku seperti melihat kamu yang dulu di Gina. "Dia kayak rela melakukan apapun demi Kak Sissy tapi dia sendiri gak dihargai dan sampai ditampar."Sabrina berkomentar. "Gak usah panggil dia 'Kak' deh, Asha. Gak pantas. Dia saja mau merebut Kak Angkasa dari kamu."Asha melipat bibirnya sejenak sembari memainkan sedotan di gelas minumannya. "Tapi dia sudah jad
"Ada apa ini?" sahut pemilik suara bariton itu. Asha dan Sabrina kemudian menoleh ke arah sumber suara dan keduanya seketika membeku. "P-pak Ardo?" gumam kedua gadis itu. Sissy dan Gina juga ikut menoleh. Seorang pria dengan kemeja biru dan celana bahan hitam berjalan menghampiri mereka. Penampilannya rapi dengan wajah tampan dan pembawaan tenang. Ia adalah salah satu dosen yang cukup terkenal di Universitas Haster. Asha Sabrina sempat saling melirik. Dari tatapan itu, seolah mereka sedang bertukar pesan tanpa suara. Bagaimana ini? Sementara itu, Sissy segera mengubah ekspresinya. Ia menyeka air mata, kemudian mendongak menatap pria tersebut. "Pak, tolong saya," isak Sissy. Ia menunjuk Asha dan Sabrina dengan tangan gemetar. "Mereka merundung saya, Pak. Mentang-mentang saya baru di sini, mereka seenaknya memperlakukan saya seperti ini," tuding Sissy. Suaranya melem
Asha bersama Sabrina baru saja keluar dari gedung olahraga. Keduanya baru menyelesaikan wawancara dengan salah satu atlet kampus untuk memenuhi tugas kuliah mereka. "Untung wawancaranya berjalan lancar. Kalau tidak, bisa-bisa kita harus kembali lagi besok," keluh Sabrina sambil merapikan ponsel dan buku catatannya. Asha mengangguk setuju. "Iya, Sabby. Padahal tadi aku sudah pasrah kalau Kak Tryan memang menolak diwawancara." Sabrina merangkul Asha dan keduanya berjalan melewati pintu belakang gedung menuju area parkir. Mobil Sabrina terparkir tidak jauh dari sana. Namun, langkah mereka mendadak melambat ketika melihat dua perempuan di sudut area tersebut. "Eh, itu… perempuan itu, kan?" Sabrina menunjuk dengan dagunya. Asha mengikuti arah pandang sahabatnya. Ia langsung mengenali Sissy, perempuan yang ingin mendekati Angkasa kekasihnya. "Iya, itu dia. Sissy Angelina." Asha dan Sabrina sama-sama terperanjat begitu melihat Sissy melayangkan tamparan kepada perempuan yang berdiri
Angkasa keluar dari arena hoki sambil merapikan tali tas olahraga yang tersampir di bahu kanannya. Ia mengenakan kaus putih berlapis jaket varsity dipadukan dengan celana jeans. Di tengah perjalanannya itu, seseorang tiba-tiba muncul dari arah samping. "Aaah!" Perempuan itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di tubuhnya. Angkasa refleks mengulurkan tangan untuk menahan tubuh perempuan tersebut agar tidak terjatuh. Namun, ketika pandangan Angkasa mengenali wajah tersebut, ekspresinya seketika berubah dingin. Itu Sissy. Perempuan yang beberapa waktu lalu merekam dirinya diam-diam, kemudian mengunggah video mereka dengan tren yang seolah-olah menunjukkan kedekatan khusus. "Maaf, Kak. Aku keseleo, awwww…" lirih Sissy. Namun Angkasa melepaskan tangannya, membuat tubuh Sissy sedikit terdorong ke belakang karena kehilangan tumpuan. "Aduh!" Sissy mendongak dengan sorot terkejut di mata cokelatnya. "Kak Angkasa, kok mendorong aku begitu?" suaranya mencicit. "Jangan panggil saya Ka
Setelah hampir dua jam lamanya melepas rindu, Asha akhirnya duduk di depan meja makan dengan mengenakan kaus hitam milik Angkasa yang kebesaran di tubuhnya. Rambut cokelat gadis itu masih sedikit berantakan, namun wajahnya tampak begitu cerah dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Sementara itu, Angkasa duduk di sebelah Asha. Ia baru saja meletakkan dua piring berisi sandwich panggang dengan isian telur, keju, irisan daging asap dan selada di atas meja."Makasih, Kak," ucap Asha lembut.Angkasa mengusap puncak kepala gadis itu. "Iya, Sayang. Makan yang lahap ya."Asha mengangguk antusias. Ia langsung mengambil sandwich tersebut dan menggigitnya. Perpaduan keju yang meleleh, telur lembut serta daging asap membuatnya mengunyah dengan puas."Enak?" tanya Angkasa.Asha mengangguk. "Hm, selalu enak dong, Kak."Angkasa mengulas senyum dan keduanya melanjutkan sarapan. Setelah menghabiskan beberapa gigitan, Asha meletakkan sand







