ログイン“Karena Pak Rendra peduli pada Anda,” jawab Samuel, menatapnya langsung. “Pak Rendra tahu Anda mungkin bertemu Bu Riani hari ini. Dia khawatir Anda termakan fitnah. Dia ingin Anda mendengar sisi lain, dari sisi klien saya sebelum mengambil kesimpulan.”“Jadi, semua ini ... foto saya dengan Rendra, foto suami saya di villa itu … juga ulah Ben?”Samuel menghela napas tipis. “Kami sedang menyelidiki itu. Sangat mungkin. Motifnya jelas, untuk menghancurkan Pak Rendra dengan cara apapun. Dan menyerang orang-orang di sekitarnya adalah taktik klasik. Menyerang Anda dan suami Anda akan melemahkan dukungan sosial dan bisnis Pak Rendra.”Logika itu terdengar benar. Terlalu rapi. Tapi rekaman CCTV tadi. .. itu nyata. Riani berbohong padanya. Atau, Riani sendiri dibohongi oleh Ben.“Bagaimana dengan isu kekerasan yang beredar sebelumnya?” tanya Dara, mencoba mencari kebenarannya.“Gosip tak berdasar yang dibesar-besarkan ole
Dara diam, menunggu kalimat selanjutnya.“Ada ... insiden. Dengan asistennya di klik, sebelum dia menjalin hubungan dengan kamu, Mbak Dara. Saya melihatnya.” Riani menggigit bibirnya.“Itu bukan pertama kalinya dia melakukan itu. Saya memiliki bukti. Rekaman suara. Dokumen medis yang disembunyikan,” kata Riani.Seketika udara dingin menjalar di tulang belakang Dara. “Maksudnya, kekerasan?”Riani mengangguk cepat, matanya penuh ketakutan. “ Bukan hanya fisik, Mbak Dara. Tapi manipulasi, ancaman. Dia punya cara untuk ... membuat orang tidak bisa bicara sejujurnya.” Dia menatap Dara.“Dan saya tahu Mbak Dara dekat dengannya. Saya melihat caranya memandang Mbak Dara. Saya melihat bagaimana dia membicarakan tentang kamu.”Dara merasa tenggorokannya kering. “Kenapa kamu justru memberitahu saya tentang hal ini? Saya bahkan tidak ada hubungannya dengan masalah itu.”“Karena Anda orang yang san
“Dan dia mengirim foto itu ke nomor aku. Karena aku marah, aku minta salah satu kenalanku, wartawan buat bikin berita itu heboh.” Suara Arkha terdengar frustrasi.Dara mendesah. “Akhirnya kamu mengakuinya, Mas. Aku lega. Ternyata selama ini benar-benar kamu yang bikin semua masalah jadi besar.”“Tapi aku menemukan sesuatu yang lain.” Dia mengeluarkan sebuah tablet, mengetuk layarnya, lalu memutarnya ke arah Dara. “Kamera keamanan di villa tempat foto itu diambil. Aku berhasil mendapatkan salinannya.”Di layar, tampak rekaman berwarna agak buram. Terlihat Arkha dan wanita itu, seperti dalam foto. Tapi rekaman itu berlanjut beberapa detik setelah momen dalam foto. Terlihat, wanita itu menepis pelukan Arkha dan berjalan cepat pergi, sementara Arkha berdiri terpaku, wajahnya … bukan wajah seseorang yang berselingkuh. Melainkan wajah kebingungan dan kemarahan.“Ini bukan perselingkuhan seperti yang diberitakan, Yang,” kata Arkha, su
“Pengirim foto ini. Dia sudah bikin kacau rumah tangga kita, Mas. Ranjang kita. Kepercayaan kita. Bahkan hal yang paling privat,” kata Dara.“Kita tetap menjadi suami-istri di atas kertas nggak akan bisa bikin dia berhenti.”Tangan Arkha mengepal. “Kita bisa keluar dari situasi ini dengan identitas yang tetap rahasia. Setelah kita temukan dia, kita baru bicara soal ... perpisahan.”Dia menyebut kata perpisahan dengan gugup, seperti lidahnya terbakar. Dara mendengarnya. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu.Mungkin bukan lagi tentang cinta. Mungkin itu gengsi, kesombongan, atau ketakutan akan kehilangan satu-satunya tanah yang masih dia pijak setelah dunia perselingkuhannya terbongkar.“Kamu takut ya Mas,” gumam Dara, bukan sebagai tuduhan, tapi sebagai pengamatan seorang istri. “Bukan takut kehilangan aku. Tapi takut kehilangan tentang citra pernikahan kita. Keluarga sempurna. Bisnis suami didukung istri
“Sekali lagi kamu bilang mau cerai, aku beberkan semua bukti foto mesra kamu sama Rendra ke media!” Ancaman itu sekali lagi keluar dari bibir Arkha.Dara tertawa getir. “Ternyata emang bener kamu, Mas? Aku udah nyangka kamu yang menyebarkan rumor itu.”Arkha menggeleng. “Sebenarnya aku dapat foto itu dari seseorang. Aku nggak kenal siapa orang itu, nomornya juga nggak aktif lagi.”Dara tertawa bukan tertawa lega. Tawa itu adalah suara getir yang keluar dari ruang hampa di dadanya. Ruang yang sudah lama ditinggalkan cinta, hanya diisi oleh tawar-menawar busuk dan ancaman yang selalu keluar dari bibirnya.“Kalau begitu,” ucap Dara, menatap lurus mata Arkha yang penuh kemenangan semu. “Kamu cuma pion yang dimanfaatkan atas semua ini. Sama seperti aku. Sama seperti Rendra.”Arkha mendelik. “Apa maksud kamu, Yang?”Dara berjalan pelan ke sisi meja riasnya, membuka laci paling bawah. Dari balik tumpukan pa
Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Yogya itu, deru mesin pembuat suara tangis Dara tenggelam, hampir tak terdengar. Air matanya tak bisa lagi tertahan. Selama ini, dia selalu berusaha kuat.Dia terdorong di kursi penumpang, tangannya masih tertahan oleh cengkeraman Arkha yang sesekali mengendur namun tetap mengancam. Pandangannya kabur oleh air mata, melihat lampu jalan dan pemandangan sawah yang dengan cepat berganti menjadi gelapnya jalan tol.Setiap kilometer yang menjauh dari Yogya terasa seperti menarik napas terakhir dari kebebasan yang baru saja ia dapatkan. Dia harus mengatakan kebenaran ini, sekalipun konsekuensinya tak terduga.Suara Dara parau karena terisak, namun kata-katanya jelas menusuk. “Ceraikan aku, Mas. Lepaskan aku. Kamu ... kamu bukan cinta sama aku. Yang kamu rasain ke aku itu bukan cinta. Itu obsesi, Mas. Kamu obsesi buat ngontrol aku, buat memiliki aku. Itu sakit banget!”Arkha menatap lurus ke jalan, rahangnya berkerut. Tapi tangannya di kemudi m







