Share

Bab 167

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2026-01-16 22:00:50

Kerumunan masih bergemuruh, lobi ruang sidang pengadilan Riani yang melibatkan Rendra dan Arkha juga menyeret nama Ben itu masih penuh awak media dengan kamera. Rendra dan Samuel berhasil menyelinap keluar melalui pintu samping. Udara luar terasa menusuk, bertolak belakang dengan kemenangan yang baru saja mereka raih.

Samuel sedang berbicara dengan nada rendah di teleponnya, menghubungi seorang kolega untuk mengatur pernyataan pers.

Tapi pikiran Rendra melayang jauh dari strategi mereka selanjutnya. Matanya menyapu area parkir, trotoar, dan setiap jendela mobil yang lewat, mencari satu sosok. Dara. Dia tidak hadir di ruang sidang itu.

“Semuanya berjalan sempurna, Rendra,” ucap Samuel setelah memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. “Kita akan menguasai narasi. Arkha dan Ben adalah target media yang berikutnya.”

Rendra hanya mengangguk pelan. Tidak begitu tertarik dengan percakapan itu.

“Dia tidak datang,” gumamny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 170

    Mobil Rendra berhenti kasar di depan klinik tempatnya praktik. Dia memarkir mobilnya lalu dengan segera masuk ke klinik. Dia mengabaikan teriakan para perawat, mengabaikan Maya, asistennya, dan menghentak masuk menuju tempat Adrian, dokter spesialis andrologi sekaligus mantan sahabatnya, praktik.Amarah yang sudah lama dipendam, yang tidak bisa dia lepaskan pada Riani atau Arkha karena kendali hukum, akhirnya menemukan sasarannya. Adrian adalah orang yang secara langsung mengkhianati kepercayaan dan privasinya.Dia melangkah masuk, melewati resepsionis yang mencoba menghalanginya dengan wajah panik. Langkahnya cepat, penuh tujuan, menuju ruang konsultasi pribadi Adrian. Tanpa mengetuk, dia mendorong pintu terbuka.Adrian, yang sedang duduk di belakang mejanya, langsung berdiri dengan wajah pucat. “Rendra, ada yang perlu aku bant—"Rendra tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah jas lab putih Adrian da

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 169

    Beberapa detik kemudian, Dara melangkah ke ruang tamu dengan wajah datar, membawa nampan berisi dua cangkir teh.“Oh, Tari. Udah lama datengnya? Aku cuma dengar suara motor tadi. Ternyata kamu,” ucapnya, seolah-olah baru saja menyadari kehadiran adik iparnya itu.Tari tersenyum tipis, tapi matanya dingin dan waspada. “Baru sampai, Mbak. Cuma mau nengokin kondisi Mas Arkha aja.”“Aku baik-baik aja padahal, tapi dia agak lebay pake nengokin ke sini. Katanya ibuku khawatir,” sahut Arkha cepat, mencoba tersenyum pada Dara. Senyum itu kini terlihat begitu palsu dan menjijikkan.Dara menaruh nampan. “Aku ada di dapur tadi. Ternyata selang air di bawah wastafel bocor. Bising banget suaranya, sampai nggak dengar apa-apa.”Dia menatap langsung ke mata Arkha, memberikan senyum kecil yang sama palsunya. “Tapi sekarang udah beres, Mas. Aku bisa perbaiki.”Dara kini tahu persis siapa musuhnya, dan betapa dalam re

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 168

    Ketenangan yang dirasakan Dara setelah sidang bukanlah kedamaian. Saat dia kembali ke rumah, kenyataan kembali menyambutnya.Rumah mewah itu, yang dulu menjadi panggung sandiwara kebencian mereka, kini berubah menjadi semacam ruang tahanan yang sunyi. Arkha, dengan karakternya yang arogan telah hancur bersama reputasi dan bisnisnya, kembali menjadi jati dirinya yang d dulu.Dia berjalan seperti hantu, matanya merah dan wajahnya lesu.Malam itu, di ruang keluarga yang dingin, Arkha mendatanginya. Dia tidak lagi mengancam, tidak lagi menuntut. Energinya seolah telah habis.“Dara,” suaranya parau, pecah. ,Aku ... aku nggak tahu lagi harus berkata apa.”Dara, yang sedang membalik halaman buku tanpa benar-benar membaca, tidak menoleh. “Maka jangan berkata apa-apa, Mas.”Tapi Arkha tidak pergi. Dia terduduk di lantai di dekat kakinya, sebuah pose yang begitu asing dan memalukan dari pria yang dulu selalu m

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 167

    Kerumunan masih bergemuruh, lobi ruang sidang pengadilan Riani yang melibatkan Rendra dan Arkha juga menyeret nama Ben itu masih penuh awak media dengan kamera. Rendra dan Samuel berhasil menyelinap keluar melalui pintu samping. Udara luar terasa menusuk, bertolak belakang dengan kemenangan yang baru saja mereka raih.Samuel sedang berbicara dengan nada rendah di teleponnya, menghubungi seorang kolega untuk mengatur pernyataan pers.Tapi pikiran Rendra melayang jauh dari strategi mereka selanjutnya. Matanya menyapu area parkir, trotoar, dan setiap jendela mobil yang lewat, mencari satu sosok. Dara. Dia tidak hadir di ruang sidang itu.“Semuanya berjalan sempurna, Rendra,” ucap Samuel setelah memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. “Kita akan menguasai narasi. Arkha dan Ben adalah target media yang berikutnya.”Rendra hanya mengangguk pelan. Tidak begitu tertarik dengan percakapan itu.“Dia tidak datang,” gumamny

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 166

    Dara menarik napas dalam. “Karena apa yang ada di antara kita mungkin dimulai dari tempat yang kelam, Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa perasaan aku nyata. Dan karena,” dia melanjutkan, matanya berbinar dengan ketegasan baru, “aku bukan lagi wanita yang mau dibuang atau dijadikan alat oleh siapa pun. Aku membersihkan kekacauan ini untuk diriku sendiri. Kebetulan juga, itu akan membersihkan nama kamu.”Dara akhirnya berdiri. “File-file digital dan salinan fisik semua bukti ini akan aku serahkan ke pengacaramu dalam satu jam. Gunakan dengan bijak. Untuk Riani ... tolong, meski dia dimanipulasi, dia tetap terluka. Jangan buat dia lebih terluka.”Rendra berdiri dengan cepat, hampir menjatuhkan kursinya. “Dara. Tunggu!”Dara berhenti, tapi tidak menoleh sepenuhnya.“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Rendra.“Menghadapi konsekuensi pilihanku sendiri,” jawab Dara.“Tanpa bersembunyi di belak

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 165

    Arkha kemudian melanjutkan, tangan dan mulutnya menjelajahi tubuh Dara dengan ritme yang terburu-buru dan penuh amarah yang tertahan. Tidak ada pemanasan, tidak ada rayuan. Dia memberikan Dara sebuah penghukuman yang dibungkus sebagai hubungan suami-istri.Saat Arkha akhirnya memasuki dirinya, dia bergabung dengan tubuh Dara, gerakannya keras dan mendalam, menggebu-gebu, penuh dengan gelora yang seolah ingin menghapus segala kenangan tentang pria lain.Setiap hentakan Arkha terasa seperti paku yang menancap di peti mati pernikahan mereka. Keras.Dara memejamkan mata lebih rapat, mencoba memusatkan pikirannya pada satu hal. Bukan pada sentuhan suaminya, melainkan pada bukti itu. File video di ponsel Arkha.Metadata. Itu adalah kunci. Itu adalah jalan keluar. Dia harus mendapatkannya.Saat ritme Arkha semakin cepat, erangannya mulai terdengar, Dara membuka matanya. Dia melihat wajah suaminya yang tegang, dihantui ol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status