Share

Bab 16

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-11-21 16:05:54
Rendra tak menanggapi kekesalan Dara dan memilih untuk fokus ke jalanan. Ada senyum kecil di wajah tampannya melihat Dara kesal ketika ulahnya.

“Apa semalam kamu tidur nyenyak?” tanya Rendra, matanya masih fokus pada jalanan.

Dara menyahut ketus. “Iya.”

“Gimana hubungan kalian di ranjang? Apa kamu masih belum merasa puas?”

“Jangan bahas itu dulu, aku lagi mau fokus kirim paket buat customer aku!” Dara protes.

Rendra tertawa pelan. “Oke, oke. Kita tidak akan bahas itu di luar terapi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 296

    “Sial!”Arkha membanting ponselnya ke kursi penumpang. Dia memukul setir dengan kedua telapak tangan, membuat klakson melengking sebentar, memecah keheningan malam.Beberapa pejalan kaki menoleh, tapi cepat-cepat berpaling begitu melihat ekspresi Arkha. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol, matanya menyala dengan api kemarahan yang mengerikan.“Rendra,” desisnya, meludahkan nama itu seperti racun. “Pasti Rendra yang suruh. Dia memang seneng banget bikin aku emosi.”Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Amarah tidak akan membantu. Dia harus berpikir jernih.Ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Ben.“Gimana?” suara Ben di seberang.“Nomorku diblokir sama Dara. Aku nggak bisa hubungi dia.”Ben tertawa kecil. “Udah kuduga. Rendra pasti tahu.”“Iya. Sekarang gimana?”Keheningan di seberang beberapa saat. Lalu Ben berka

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 295

    Dara berlari, memeluk suaminya erat. “Nggak akan, Bi. Nggak akan pernah.”Mereka berpelukan di tengah ruangan, meja makan dengan makanan setengah tersentuh jadi saksi. Rendra memeluknya balik, erat, seolah takut jika dilepas, Arkha akan datang dan merenggutnya.“Maaf,” bisik Rendra sambil mengusap lembut  rambut Dara. “Maaf aku marah-marah.”“Maafin aku juga, Bi. Harusnya aku cerita dari awal,” bisik Dara.Rendra melepas pelukan, menatap Dara. “Janji, mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kamu cerita. Sekecil apa pun. Bahkan kalau Arkha cuma lewat di depan apartemen.”Dara tersenyum tipis di sela air mata. “Iya. Aku janji.”Mereka kembali berpelukan, kali ini lebih lama. Di luar, malam semakin larut.“Kita hapus nomornya,” kata Rendra. “Blokir semua kontak. Nggak ada lagi akses dia ke kamu dan sebaliknya. Aku nggak sanggup kalau harus ngelihat dia deketin kamu. Nggak akan.”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 294

    Malam itu, Dara berusaha keras melupakan pertemuan singkat dengan Arkha. Dia ingin percaya bahwa itu hanya badai kecil yang bisa ia lewati. Fokusnya kembali pada hal yang paling berarti saat ini. Dirinya sendiri, kesehatannya, dan program kehamilan yang tengah ia jalani dengan penuh harap.Rendra duduk di seberang meja makan. Suasana hangat menemani mereka—nasi goreng buatan Dara, dua gelas jus alpukat, dan canda ringan yang mengisi sela-sela suapan. Untuk sesaat, semuanya terasa normal. Bahagia.Lalu ponsel Dara berdering.Getaran itu mengganggu ketenangan, meninggalkan bekas di permukaan kayu. Rendra, dengan refleks seorang suami yang terbiasa melayani, mengulurkan tangan.“Biar aku aja yang ambil hape kamu, Sayang,” katanya, santai.Dara mengangguk tanpa curiga, menyuap nasi goreng berikutnya.Rendra meraih ponsel itu. Layar menyala, memperlihatkan sebuah nama yang membuat jantungnya berhenti berd

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 293

    Arkha berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan kemeja biru muda yang sengaja dia pilih untuk bertemu Dara. Warna itu, dia tahu, adalah favorit Dara. Dia mulai berlatih ekspresi wajahnya.Dia menunduk sedikit, mata berkaca-kaca, bibir bergetar. Ekspresi penyesalan sempurna yang dia latih berhari-hari di depan cermin.“Kamu bisa melakukan ini, Arkha,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Dia perempuan yang hatinya lemah. Dia akan luluh.”Di meja rias, sebuah kotak cincin terbuka. Bukan cincin pernikahan mereka yang dulu, itu sudah menjadi kenangan. Cincin itu baru dibelinya. Cincin soliter dengan berlian besar, simbol bahwa dia bisa memberikan lebih dari Rendra.Ponselnya bergetar. Pesan dari Ben.[Dia lagi sendirian di apartemen. Rendra baru berangkat ke klinik. Lakukan sekarang atau kita tidak punya kesempatan sama sekali].Arkha tersenyum. Waktu yang sempurna.Dia mengambil kotak cin

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 292

    Pagi itu berbeda dari biasanya. Rendra sudah berdiri dengan kemeja putih rapi dan jas kerja yang sudah lama tidak dia kenakan. Dia merasa ada campuran antara gugup dan bahagia. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.Dara masih setengah duduk di ranjang, rambut acak-acakan, mata masih berat oleh kantuk. Namun senyumnya merekah melihat suaminya yang tampak begitu bersemangat.“Udah kayak anak pertama kali masuk sekolah,” godanya.Rendra tertawa, lalu duduk di tepi ranjang. Dia meraih Dara, menariknya ke dalam pelukan hangat.“Kamu istirahat di rumah ya, jangan capek-capek, Sayang.” Dia mengecup kening Dara dengan lembut. “Inget, kita lagi program.”Dara tersenyum, merasakan hangatnya ciuman di keningnya. “Iya, Bi.”Rendra mengecup pipinya, lama. “Jangan lupa makan.”Dara kembali menangguk. “Iya, Bi.”Ciuman terakhir, di bibir. Ciuman pagi yang manis, penuh janji untuk kembali.“Telepon aku kalau ada apa-apa,” bisik Rendra di sela ciuman.Dara tertawa kecil. “Rendra, aku pergi ke toi

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 291

    Malam itu, di kediaman Lidya …Rumah mewah yang sempat terlihat kusam dan suram kini berubah wajah. Lampu-lampu dinyalakan terang benderang. Hiasan bunga dan balon berwarna emas memenuhi ruang tamu. Puluhan tamu yang terdiri dari kerabat jauh, kolega bisnis, dan beberapa wajah yang hanya muncul saat ada acara atau kegiatan yang memberi keuntungan, memenuhi ruangan dengan suara riuh rendah.Di tengah keramaian itu, Lidya duduk di kursi utama layaknya ratu yang baru memenangkan perang. Gaun mahal membalut tubuh ringkihnya, perhiasan berkilau di leher dan tangannya. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, wajahnya berseri-seri dengan senyum kemenangan yang tak bisa disembunyikan.Di sampingnya, Arkha duduk dengan setelan mahal baru, rambut tertata rapi, dan senyum angkuh yang dulu pernah hilang kini kembali menghiasi wajahnya. Dia mengangkat gelas sampanye, bersulang dengan para tamu yang datang memberikan selamat.“Untuk kebebasan Arkha!” seru seorang tamu.“Untuk kemenangan Arkha!”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status