LOGINDara kembali ke rumah saat jam menunjuk pukul lima sore. Dua jam sebelum Arkha tiba di rumah. Dia memutuskan untuk merendam diri dengan air hangat, menaburkan bath salt aromaterapi lavender ke dalam airnya.
Uap air hangat mengepul, membuat kaca kamar mandi mengembun. Dara berendam di bathtub, air hangat membuat otot-ototnya yang kaku melentur. Wangi lavender yang menenangkan membuat otaknya rileks, namun tidak mampu meredam debaran jantungnya yang tak karuan. Dara memejamkan mata, membiarkan dirinya terbenam lebih dalam, hingga air hampir menyentuh dagunya. Bayangan percakapan dengan Fanny dan wajah Arkha yang acuh tak acuh bergantian menghantui pikirannya. “Gimana kalau aku lakukan saran Fanny ya? Dateng ke seks terapis?” bisiknya pada dinding. Dara tak pernah membayangkan seperti apa proses seks terapis itu. Menceritakan masalah hubungan intim ke orang asing? Bahkan membayangkannya saja dia sudah malu sendiri. Terlebih lagi, apa yang akan dikatakan Arkha nanti jika dia tiba-tiba meminta hal itu? Pasti suaminya akan tersinggung dan berunjung pada pertengkaran lagi. Padahal Dara hanya ingin yang terbaik untuk pernikahan mereka. “Tapi kayaknya aku memang harus mencobanya. Ini demi hubunganku dengan Mas Arkha.” Malamnya, saat Arkha tiba di rumah, Dara segera menyambut suaminya itu dengan senyum manis. Dia menunggu hingga Arkha selesai membersihkan diri, mengajaknya makan malam bersama. “Makan dulu, Mas,” ujarnya, mencoba membuat suaranya tak terdengar gemetar karena gugup. Dara menatap suaminya yang asyik dengan ponselnya di sela-sela makan. Hal itu membuat dadanya sesak. Dia menarik napas dalam. “Mas,” Dara memanggil suaminya dengan suara sedikit serak. Arkha mengangkat pandangan, alisnya naik tanda bertanya. “Aku ... aku mau bicara sesuatu sama kamu.” Dara mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menghilangkan rasa gugup dan keraguannya sendiri. “Aku ... aku mau coba untuk pergi ke ... seorang terapis. Terapis … seks.” Seketika itu juga, udara di ruang makan seperti membeku. Senyum santai Arkha menghilang, digantikan oleh kerutan di dahinya. Tatapannya yang tadinya hangat, berubah menjadi dingin dan penuh curiga. “Terapis seks?” tanyanya, suaranya datar namun tajam. Ponselnya ia letakkan di atas meja. “Buat apa, Yang? Apa ada yang nggak beres sama kita?” “Bukan gitu, Mas. Aku cuma mau kehidupan ranjang kita makin harmonis. Makin romantis.” Dara menjelaskan dengan nada selembut mungkin. “Itu nggak perlu, Yang. Kamu selama ini selalu puas ‘kan tiap kali kita main? Kamu aja yang pergi, aku sibuk sama kerjaanku.” “Mas, nggak bisa gitu dong. Kita suami istri, harus datang berdua.” Arkha menggeleng. “Aku nggak mau. Masalahnya di kamu, bukan aku!” “Ya udah anggap aja aku yang bermasalah, oke? Tapi kamu harus temenin aku ke sana besok!” “Ya udah. Aku cuma nemenin aja, kamu yang terapi.” “Iya!” Dara terpaksa mengalah, tak ingin ada perdebatan di antara mereka. Namun pengorbanan kecil dengan mengalah itu segera tenggelam oleh sikap dingin Arkha. Suaminya langsung kembali menatap piringnya, menghabiskan makan malam dengan santai, seolah percakapan penting sebelumnya tidak pernah terjadi. Ruang makan kembali sunyi. Usai makan malam, Dara segera mencuci piring bekas makan mereka. Lalu, Arkha segera menariknya ke kamar. Memaksanya ke tempat tidur mereka. “Aku lagi pengen banget, Yang,” Arkha berbisik di telinganya. Tanpa menunggu persetujuannya, jari-jari Arkha yang mahir segera membuka kancing blus Dara satu per satu, terlalu bersemangat bahkan buru-buru. Lidah Arkha mulai menjelajah. Dimulai dari lekuk lehernya, lalu turun lebih rendah, mencium dan meninggalkan rasa hangat di ujung sensitif dadanya. Setiap ciuman, setiap sentuhan Arkha, terasa seperti sebuah rutinitas yang monoton dalam kehidupan ranjangnya selama pernikahan mereka. Dia hanya pasrah saat Arkha memaksanya, tubuhnya bergerak mengikuti ritme yang ditentukan Arkha. ‘Sampai kapan aku harus seperti ini? Apakah ini semua salahku?’ bisik hatinya. *** Esoknya, Dara pergi bersama suaminya ke klinik yang direkomendasikan Fanny. Klinik itu jauh dari bayangan Dara. Ruang tunggunya terang, minimalist, dan berhiaskan lukisan abstrak berwarna earth tone yang menenangkan. Namun, ketenangan itu kontras dengan antrean panjang di depan mereka. Hampir semua kursi terisi oleh pasangan dengan ekspresi yang beragam. Ada yang cemas, penuh harap, atau justru kosong seperti Arkha. Dara tak bisa menahan decak kagum. “Banyak banget yang dateng,” gumannya lirih, matanya memandang setiap wajah di ruangan itu. “Katanya terapisnya ganteng banget lho,” ucap seorang wanita dengan suara berbisik yang terdengar jelas di keheningan ruang tunggu yang tenang itu. Teman wanitanya menyenggol bahunya sambil cekikikan. Dara tidak sengaja mendengar, dan secercah rasa penasaran yang tak pada tempatnya menyelinap di hatinya. Dara mencuri pandang ke arah Arkha. Suaminya itu duduk bersandar, kakinya disilangkan. Matanya tak pernah lepas dari jam tangan mewahnya. Jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan gerakan tidak sabar. Arkha hadir secara fisik di sana, tetapi jarak antara kursinya dengan Dara kini terasa lebih jauh. Dara hanya bisa menunggu, meremas-remas ujung jaketnya. Dia terlihat gelisah dan cemas, sementara suaminya tampak lebih tertarik pada jarum jam daripada pada kecemasan yang hampir membuat istrinya mual. “Lama banget sih?” keluh Arkha dengan suara rendah, sambil menggeser posisi duduknya untuk kesekian kalinya. Decak sebal dari mulutnya terdengar jelas di antara musik instrumental lembut yang mengalun di ruang tunggu. “Antriannya panjang lho, Mas. Kita nomor enam puluh dua,” balas Dara. Dara menepuk punggung tangan Arkha dengan lembut, sebuah isyarat untuk membujuk Arkha, seperti yang sering ia lakukan. Namun kali ini, tangan Arkha langsung menarik diri, berpura-pura mengusap debu dari celana panjangnya. “Nggak lama lagi, Mas. Tunggu dulu ya,” bisiknya, mencoba menatap pandangan Arkha. Namun tatapan suaminya itu kosong, tertuju pada lukisan abstrak di dinding. Seolah-olah ia sedang memecahkan kode rahasia di dalam lukisan itu. Bahunya tegang dan jarinya tak henti mengetuk-ngetuk ponselnya. Tanda itu memberi pesan tersirat yang dimengerti Dara. Bahwa secara emosional, suaminya sudah pergi dari sana. Hanya fisiknya yang berada di sisinya. Dara menarik napas dalam. Melihat sosok Arkha di sampingnya yang mulai bosan dan terlihat marah, hati Dara mulai diselimuti keraguan. Setelah menunggu beberapa lama, seorang perawat menyeru nomor antrean mereka. Lalu suara perawat itu menghentikan lamunan Dara. Dia langsung berdiri, jantungnya berdebar kencang. Arkha baru bergerak setelah Dara menyentuh lengannya, dengan ekspresi ogah-ogahan yang tak terlihat jelas. Dara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dara melangkah masuk pertama kali, dengan Arkha di belakangnya. ‘Ini untuk kebaikan kami,’ bisiknya dalam hati, seperti sebuah mantra. Ruangan itu tidak seperti yang dibayangkan Dara. Tidak ada sofa panjang atau poster anatomi tubuh manusia. Hanya sebuah ruang yang lapang dengan pencahayaan hangat, beberapa kursi empuk berhadapan, dan sebuah meja rendah dengan vas berisi bunga segar. Di sisi ruangan, di depan jendela besar yang membanjiri ruangan dengan cahaya sore, seorang pria dengan setelan jas abu-abu segera membalikkan badan. Senyum hangat dan profesional menghiasi bibirnya, dan sepasang mata jernih, mata yang terlalu familiar bagi Dara langsung menatapnya. Pria itu bukan sekadar ‘terapis yang ganteng’ seperti yang didengarnya. Namun, pria itu adalah Rendra. Mantan kekasihnya. “Silakan duduk, Bu Dara dan … Pak Arkha,” katanya. ***Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”
Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan
Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z
Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga
Di ruang konsultasi kantor polisi yang sempit, Samuel duduk berhadapan dengan Rendra yang terlihat semakin lesu namun matanya masih memancarkan tekad yang membara. Laporan pencemaran nama baik terhadap Adrian sudah diajukan, tapi jalan itu terbentur oleh fakta bahwa Adrian sedang cuti dan menghilang—sebuah kebetulan yang terlalu tepat.“Aku sudah buat laporan pencemaran nama baik itu, Ren. Tapi, Adrian sedang cuti. Dia tidak bisa ditemui,” jelas Samuel.Rendra tidak lagi fokus pada Adrian. Pikirannya kini tertuju pada satu orang. Riani.Kunci untuk keluar dari jerat KDRT ini ada padanya. Jika laporan itu dicabut, setidaknya ia bisa bernapas lega dan fokus melawan musuh yang sebenarnya.Rendra merasa energinya habis. Dengan suara rendah, dia memohon. “Sam, kita harus pikirkan cara agar Riani mencabut laporannya. Karena malam itu, bukan aku yang menamparnya.”Rendra menatap pengacaranya dengan intens. “Dia pergi dar
Suasana di kantor polisi panas oleh emosi yang meledak. Rendra, yang masih dalam status ditahan dan digiring, melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sana, saat itu. Ben, si wartawan yang selama ini ia curigai sebagai dalang dari berita yang menjatuhkan namanya. Namun Ben tidak datang sebagai tertuduh.Dia datang dengan percaya diri, bahkan dengan senyum tipis yang mengejek di bibirnya.Saat melihatnya, amarah Rendra yang sudah memuncak meledak. “Ternyata kamu pengecut!!” teriaknya, berusaha menerobos penjagaan polisi. “Selama ini kamu selingkuh dengan istri saya dan menyakiti dia!!” Tuduhannya langsung, berdasarkan asumsi bahwa Ben dan Riani bersekongkol untuk menjatuhkannya.Tapi Ben hanya mengangkat alis, terlihat tenang bahkan meremehkan. Dia melangkah lebih dekat, memastikan hanya Rendra dan polisi yang mendengar suaranya.Suuara rendah Ben terdengar lemah, namun jelas dan menusuk, “Anda salah alamat, Pak Rendra. Bukan saya yan







