Masuk
Dara terengah-engah saat merasakan pusat kenikmatannya berdenyut. Basah di dalam sana, tapi itu bukan berasal dari miliknya melainkan Arkha—suaminya yang sudah mendapatkan pelepasan.
Arkha, suaminya menarik selimut untuk dirinya sendiri. Tubuhnya sudah berpindah ke sisinya dengan senyum penuh kepuasan. “Makasih ya, Yang. Sekarang sebaiknya kita tidur. Aku capek banget, Yang, ” kata Arkha berbisik di telinga Dara. Dara tak menyahuti. Hatinya bergemuruh. Ia masih menginginkan sentuhan serta hujaman dari suaminya. Setiap melakukan hubungan seksual, ia tak pernah terpuaskan. Hanya Arkha yang selalu mendapatkan kepuasan. “Aku belum puas, Mas! Tidakkah kamu tahu itu. Aku bahkan belum keluar sama sekali! ” sungut Dara dalam hatinya. Ingin Dara mengatakan itu semua. Namun, teriakan itu hanya tertahan dalam pikirannya. Dara menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Denyut di antara pahanya perlahan mereda. Hatinya terus merasa hampa. Entah apa yang salah dengan dirinya sampai tak pernah merasakan kenikmatan lagi. Dara menarik selimut hingga ke dagu, merasakan dinginnya kain sutra yang yang menutupi tubuhnya. Hal itu terasa kontras dengan hawa panas yang masih terasa di bawah permukaan kulitnya. Di sampingnya suara napas Arkha sudah berubah menjadi dengkuran pelan dan teratur. Setiap tarikan dan embusannya seakan menegaskan jurang yang memisahkan mereka di ranjang yang sama. Dara memalingkan wajah, memandangi sosok suaminya yang sudah tertidur lelap. Ujung jari Dara bergerak, meraih tangan Arkha yang tergeletak lemas di atas seprai. Dengan sangat hati-hati dia membalikkan telapak tangan suaminya, laku perlahan-lahan menuntun tangan itu meletakkannya kembali di atas pusat kenikmatannya. Dia hanya sedang mencoba mencari kepuasannya. Tangan suaminya yang hangat dan berat itu hanya diam, tidak bergerak ataupun memberi sentuhan yang bisa menuntut lebih untuk menciptakan permainan baru. Hasrat Dara tak terbalas. Hampa itu kembali menyapa. Penasaran itu selalu terjadi setelah permainan suaminya usai. “Apa hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Tidak mendapatkan kepuasan di atas ranjang? ” Dara menarik napasnya dalam-dalam, menahan sesak di dadanya. Pertanyaan itu tidak berhenti berputar di kepalanya. Bukan hanya kepuasan secara fisik yang tidak didapatkannya, tetapi juga emosionalnya. Dara bangkit dari tempat tidur. Kakinya membawanya ke jendela. Dari balik kaca, dia melihat bayangan dirinya sendiri, samar. Seorang wanita dengan rambut berantakan usai percintaan yang menyesakkan. Matanya menyimpan kegelisahan yang tak terselesaikan. Sepasang mata Dara mengamati pasangan di seberang jalan yang sedang berpelukan di balkon, dari kaca jendela. Tawa mesra seolah dunia hanya milik berdua. Perasaan hampa di dalam dadanya semakin menjadi. Iri dengan apa yang dilihatnya. “Apa dia juga pura-pura puas dengan suaminya?” tanyanya dalam hati. Dara menatap tangannya yang kosong, mengingat kembali bagaimana jari-jarinya sendiri lebih setia memenuhi hasratnya dari pada pasangannya di ranjang. Setidaknya sentuhannya sendiri tak pernah membuatnya merasa sendirian. *** Keesokan harinya, untuk menemukan jawaban dari kegelisahannya, Dara membuat janji temu dengan Fanny, sahabatnya. Matahari siang menyelinap lewat jendela kaca Cafe de Luna. Suara gemericik air mancur di taman tengah mall hampir tenggelam oleh bunyi mesin pembuat kopi dan bisik-bisik percakapan pengunjung lain. Fanny duduk bersebrangan dengan Dara. “Kamu kayaknya harus ke profesional deh, Ra. It's serious! Kamu nggak akan bisa kalau cuma curhat ke aku!” kata Fanny. Dara menatap sedotan panjang di gelasnya, mengaduk-aduk bubble yang sudah habis. Sisa milk tea-nya yang mencair itu seolah menjadi gambaran pernikahannya dengan Arkha. Rasa manis di awal kemudian pudar dan jadi tawar seiring waktu. “Aku bingung, Fan,” ujarnya. Suaranya lirih namun sarat beban. “Tiap kali kayak gini tuh rasanya aneh. Aku juga pengen kayak kamu. Bisa puas. Hasratku bisa ... terpenuhi.” Fanny mendesah pelan, matanya yang tajam menangkap setiap kerutan kekhawatiran di wajah Dara. Dia meraih tangan Dara di atas meja, menggenggamnya erat. “Dengerin aku, Ra. Ini bukan cuma soal kamu nggak klimaks. Ini soal kamu yang merasa sendiri di ranjang tiap kali kalian berhubungan. Itu masalah serius!” ucap Fanny menekankan, suaranya terdengar khawatir. “Kamu harus ke profesional, Ra. Aku punya rekomendasi tempat yang bagus. Ada seorang sex therapist yang terkenal. Kamu dateng ke sana buat dapet solusi, bukan cuma tempat curhat.” Dara mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Fanny yang penuh keyakinan. Ada sebentuk harapan kecil yang mulai menyala di dadanya yang sempat beku. “Terapis ... seks?” gumannya, mencoba mengucapkan kata itu di lidahnya. Rasanya asing, sedikit menakutkan, tetapi juga menjanjikan sesuatu yang selama ini ia rindukan. Sebuah kepuasan untuk hubungan romantis dengan suaminya. “Iya,” sahut Fanny meyakinkan. “Itu bukan aib, Ra. Itu sama kayak kamu periksa ke dokter kalau sakit gigi. Coba kamu bayangin, kamu bisa belajar bukan cuma soal tubuh kamu sendiri, tapi juga cara komunikasiin yang kamu inginkan ke Arkha.” Dara menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sebuah harapan kecil akhirnya terlihat di matanya yang biasanya pasrah. “Iya deh,” katanya, sambil memainkan ujung sedotan. “Nanti ... nanti aku coba omongin sama Arkha.” “Iya, Ra. Ini serius. Kamu harus pikirin saran aku kalau mau hubungan kalian di ranjang bisa balik harmonis. Percaya, deh!” Fanny terus membujuknya. Namun di balik kata-kata yang terucap dari bibirnya itu, sebuah pertanyaan menggelitik di benaknya. Bagaimana cara menyampaikan hal seserius itu pada suami yang selalu ‘selesai’ lebih dulu, saat mereka berada di dalam permainan ranjang mereka? “Terapis … seks? Apa aku harus mencobanya?” ***Dara terbangun dengan tubuh yang masih hangat dalam pelukan Rendra. Di luar, sinar matahari mulai meninggi. Pelan, Dara menggeser tangan Rendra dari pinggangnya. Rendra melenguh, lalu membuka mata. Dia menatapnya dengan tersenyum. “Pagi, Sayang. Istriku yang cantik.” “Pagi, Bi.” Rendra bersandar pelan di ranjang. “Mau sarapan apa?” Dara berpikir sejenak lalu berbisik. “Mau sarapan kamu.” Rendra tertawa, menariknya lebih dekat. “Boleh. Tapi nanti, kita harus jemput Biru dulu biar Nina sama Irvan nggak ngamuk.” Mereka tertawa. Rendra menarik Dara untuk berbaring sebentar, menikmati keheningan pagi. Dara meletakkan kepalanya di dada Rendra, mendengarkan detak jantung yang berdetak pelan. “Bi,” panggilnya. Rendra mengusap rambutnya dengan lembut, “Apa, Sayang?” “Aku suka permainan malam tadi,” katanya sambil malu-malu. Rendra mengecup keningnya. “Aku juga. Kita harus lebih sering, Sayang.” “Iya. Tapi nggak usah gaya baru setiap kali.” “Memang kenapa, Sayang? Katanya kamu suka?”
Rendra memilih restoran di lantai 33 sebuah hotel berbintang. Dari jendela kaca besar, lampu-lampu Kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.Dara duduk di hadapannya, gaun putih sederhana yang ia kenakan terlihat anggun di bawah cahaya lilin. Rendra tidak bisa berhenti memandang.“Kenapa ngeliatain aku terus, Bi? Aku belepotan?” tanya Dara sambil mengusap sudut bibirnya.“Bukan.” Rendra tersenyum. “Kamu cantik. Masih sama kayak dulu waktu pertama kali aku lihat kamu waktu kita masih sama-sama mahasiswa.”Dara tertawa. “Sekarang aku udah tua, Bi.”“Tua? Kamu malah makin cantik di mataku.”Dara tersenyum. “Gombal.”“Bukan gombal. Itu fakta, Sayang.”Mereka tertawa bersama. Pelayan datang dengan menu, mempersilakan mereka memilih.Dara memesan pasta, Rendra memilih steak. Mereka memilih wine ringan untuk menemani malam.“Aku
“Tapi beberapa minggu belakangan, saya merasa makin berat. Saya takut suatu saat suami saya muak. Saya takut dia melihat saya sebagai orang yang aneh. Saya takut …”“Takut kehilangan dia?” lanjut Rendra, setengah menebak.Sarah mengangguk. Air matanya jatuh.Rendra menghela napas. “Bu Sarah, perjalanan Anda tidak akan mudah. Ada luka masa lalu yang perlu dipahami, ada rasa malu yang perlu dikelola. Tapi Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit: bicara.”Sarah mengusap air matanya. “Apa saya bisa sembuh, Dok?”Rendra tersenyum tipis. “Sembuh mungkin bukan kata yang tepat, Bu Sarah. Tapi saya yakin, Anda bisa belajar menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan suami Anda, tanpa beban rasa bersalah atau malu.”Mereka berbicara lebih lama. Tentang masa kecil, tentang orang tua yang bercerai, tentang rasa tidak aman yang selalu mengikuti. Rendra mendengarkan, kadang berta
Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me
Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara
Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
Jari Dara perlahan menekan tombol hijau “terima” seolah memiliki kehendak sendiri. Sebelum sempat berpikir, wajah Rendra sudah muncul di layar. Rambutnya sedikit acak, berbaring di atas bantal, dengan senyum kecil yang membuat Dara menahan napas.‘Dia semakin tampan sekarang,’ bisik
“Kamu nggak marah, Mas?” Suara Dara lirih, hampir seperti bisikan anak kecil yang takut dimarahi. Matanya menatap Arkha dengan hati-hati, mencari tanda-tanda kekecewaan atau amarah di wajah suaminya.Namun yang ia temukan justru senyum lembut. Arkha mengangkat tangan, menyibak helaian rambut Dara y
Dara berdiri di depan cermin kamar mandi, jari-jarinya dengan hati-hati menyentuh bekas kemerahan di kulitnya. Sentuhan Arkha tadi memang berbeda. Lebih sabar, lebih memperhatikan responnya. Bahkan saat dia mengerang kesakitan sesekali, Arkha langsung melambat atau berganti gerakan.
Esok harinya, Dara kembali beraktivitas normal seolah tak pernah terjadi hal besar apa pun kemarin. Tangannya cekatan membuat sarapan telur mata sapi yang bulat sempurna, persis seperti yang disukai Arkha. Aroma roti panggang dan kopi pahit tanpa gula, sesuai pesanan suaminya memenuhi udara.







