Compartilhar

Bab 343

Autor: Mita Yoo
last update Data de publicação: 2026-03-19 22:00:44

Dua jam berselang, Fanny sudah berganti baju lebih santai, duduk dengan semangkuk keripik kentang di pangkuannya. Dara dan Rendra di sofa, sesekali Biru menendang.

“Jadi, namanya Biru?” tanya Fanny.

“Iya. Biru Pratama Rendra,” jawab Rendra bangga.

Fanny mengangguk setuju. “Keren. Tapi kalau lahirnya cewek gimana?”

Dara dan Rendra bertukar pandang. “Kita udah siapin nama cadangan, kok. Tapi kata dokter kemarin, kemungkinan besar laki-laki
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 352

    Ruang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 351

    Malam itu, Dara dan Rendra duduk di balkon. Biru tertidur di boks dalam kamar, diawasi oleh baby monitor.“Bi, kita akhirnya sampai di saat ini,” kata Dara.Rendra meraih tangannya. “Iya. Setelah perjalanan panjang.”Dara menatap langit berbintang. “Dulu, waktu aku sama Arkha, aku nggak pernah kebayang bisa bahagia kayak gini.”Rendra mengecup tangannya. “Kalau sekarang?”“Sekarang ... aku bahagia. Bukan karena sempurna, tapi karena aku punya kamu, punya Biru, punya keluarga dan sahabat yang peduli.”Rendra mengecup tangannya. “Kamu pantas bahagia, Sayang. Kamu sudah berjuang keras.”Dara tersenyum. “Kita berdua.”Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Biru bergerak, lalu kembali tidur.Di apartemen kecil itu, kehidupan terus berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada kenangan pahit yang perlahan memudar, dan ada cinta yang terus tumbuh.Karena pada akhirn

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 350

    Usai semua tamu pulang, apartemen kembali sunyi. Rendra dan Dara duduk di sofa, memandangi Biru yang tertidur di boksnya. Bayi mungil itu terbungkus selimut biru muda, tangannya yang kecil mengepal di samping wajahnya.“Lihat dia, Bi,” bisik Dara. “Dia tidur kayak malaikat.”Rendra tersenyum, merangkul bahu Dara. “Dia memang malaikat kita. Malaikat kecil yang datang setelah badai. Dia pelengkap hidup kita.”Dara bersandar di bahu suaminya. Matanya mulai sayu, tetapi senyumnya tidak pernah pudar.“Bi, aku mau cerita sesuatu.”“Apa, Sayang?”Dara menghela napas. “Waktu baby blues itu ... aku ngerasa kayak dunia runtuh. Aku ngerasa nggak becus jadi ibu. Aku ngerasa ... aku nggak pantas punya Biru.”Rendra tidak menyela. Ia hanya memeluknya lebih erat.“Tapi kamu …” Dara menatapnya. “Kamu nggak pernah berhenti berjuang. Kamu gendong Biru, kamu ganti popok, kamu bangun tengah m

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 349

    Di Rumah Sakit Ibu dan Anak itu, Dokter anak yang memeriksa Biru adalah dokter Anita, wanita muda dengan senyum ramah. Ia memeriksa Biru dengan teliti. Berat badan, tinggi, refleks, semuanya.Biru hanya sedikit rewel saat diukur, tapi cepat tenang begitu digendong Dara.“Biru sehat, Pak, Bu,” dokter Anita mencatat di berkas. “Berat badan naik bagus, tinggi sesuai usia, refleks normal. Semua perkembangannya baik.”Rendra dan Dara menghela napas lega.Dokter Anita menatap Dara. “Bu Dara, ASI-nya lancar?”Dara mengangguk. “Lancar, Dok. Biru menyusu kuat.”“Bagus. Pertahankan. ASI eksklusif sampai enam bulan, ya. Kalau ada masalah, segera konsultasi.”“Iya, Dok.”Dokter Anita tersenyum. “Selamat, ya. Anak Bapak Ibu sehat sempurna. Pertemuan berikutnya sebulan lagi untuk imunisasi.”Rendra menjabat tangannya. “Terima kasih banyak, Dok.”Mereka keluar

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 348

    Satu pekan kemudian, apartemen yang biasanya hangat kini terasa berbeda. Tumpukan popok bayi di sudut ruangan, botol susu di meja, dan bau bedak yang samar. Namun yang paling mencolok adalah Dara. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Biru menangis di boks, tapi Dara hanya diam, tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya kusut karena lama tak tersentuh sisir. Rendra masuk dari dapur dengan botol susu hangat. Begitu mendengar tangis Biru, ia segera meletakkan botol dan menggendong bayinya. “Ssst ... Nak, tenang. Ayah di sini.* Rendra mengayun-ayun Biru dengan lembut, menepuk punggung mungilnya. “Kamu laper, ya? Sebentar, ya., Biru terus menangis, wajahnya merah. Rendra mencoba menyusuinya dari ASI yang sudah diperah oleh Dara, tapi bayi itu menolak, terus meronta. Rendra menatap Dara. Istrinya masih duduk dengan tatapan kosong, tidak bereaksi.

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 347

    Rendra berlari kecil di lorong Rumah Sakit ke arah administrasi. Ia harus cepat. Dara membutuhkannya. Tapi di tengah jalan, ia bertemu dengan Samuel yang baru datang bersama Jasmine. “Ren! Gimana? Dara udah masuk ruang bersalin?” tanya Samuel. Rendra menghela napas. “Masih ada di ruang periksa. Pembukaan sembilan, sebentar lagi. Aku mau urus administrasi transfusi darah—” “Udah, biar aku yang urus itu.” Samuel menyela. “Mending kamu balik ke Dara. Dia butuh kamu.” Rendra menatap sahabatnya dengan haru. “Makasih Sam …” “Cepet! Jangan buang waktu!” Samuel setengah mendorongnya. “Aku akan urus di sini.” Jasmine menambahkan, “Kami doain juga. Semoga lancar, ya.” Rendra mengangguk, lalu berbalik dan berlari kembali ke ruang pemeriksaan. Sepuluh menit berselang, Dara sudah dipindahkan ke ruang bersalin. Kakinya terbuka, selimut tip

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 44

    Rendra melepaskan pelukannya, meninggalkan rasa hampa di tubuh Dara yang masih kaku. Langkahnya terayun percaya diri menuju meja kerjanya. Dengan gerakan tenang, ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas hadiah berwarna navy. Di atas kotak itu dihiasi pita satin ya

    last updateÚltima atualização : 2026-03-19
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 42

    Di balik cahaya temaram kamar, Dara menatap mata Arkha yang berada di atasnya. Dalam pandangan itu, ia tak lagi melihat dinginnya kekecewaan, melainkan api cinta yang dulu pernah membara. Kulit mereka menyatu dalam kehangatan, setiap sentuhan terasa seperti hujan setelah kemarau panjang, meresap

    last updateÚltima atualização : 2026-03-19
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 51

    Sepanjang perjalanan pulang, dada Dara dipenuhi kecemasan. Pikirannya sibuk membayangkan reaksi Arkha jika tahu ia mengizinkan Tari menginap di rumah teman laki-lakinya. Begitu taksi berhenti di depan rumah, langkahnya hampir tersendat.Di teras rumah, sebuah pemandangan tak terduga

    last updateÚltima atualização : 2026-03-19
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 53

    "Mbak. Aku … aku hamil, Mbak.”Pengakuan itu menggantung di udara antara mereka. Dara terdiam, tak menyangka bahwa rahasia yang coba disembunyikan Tari ternyata sebesar itu.Dua kata itu terucap seperti desahan terakhir, penuh dengan rasa takut dan harap. Tari menatap

    last updateÚltima atualização : 2026-03-19
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status