Share

Bab 344

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2026-03-19 22:35:43

Irvan dan Rendra duduk di balkon, menikmati angin sore. Nina dan Dara di dalam, sibuk melihat-lihat foto bulan madu.

“Van, gimana bulan madunya? Seru nggak?” tanya Rendra, berusaha mengalihkan topik.

Irvan tersenyum. “Luar biasa, Ren. Tempat-tempat yang dulu cuma kita lihat di film, sekarang kita kunjungi. Nina seneng banget, Ren.”

“Bagus dong.”

“Iya.” Irvan menatap Rendra. “Tapi aku ngerasa bersalah pas balik dapat kabar kayak gini.”

Rendra menghela napas. “Van, jangan gitu. Hidup terus berjal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 352

    Ruang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 351

    Malam itu, Dara dan Rendra duduk di balkon. Biru tertidur di boks dalam kamar, diawasi oleh baby monitor.“Bi, kita akhirnya sampai di saat ini,” kata Dara.Rendra meraih tangannya. “Iya. Setelah perjalanan panjang.”Dara menatap langit berbintang. “Dulu, waktu aku sama Arkha, aku nggak pernah kebayang bisa bahagia kayak gini.”Rendra mengecup tangannya. “Kalau sekarang?”“Sekarang ... aku bahagia. Bukan karena sempurna, tapi karena aku punya kamu, punya Biru, punya keluarga dan sahabat yang peduli.”Rendra mengecup tangannya. “Kamu pantas bahagia, Sayang. Kamu sudah berjuang keras.”Dara tersenyum. “Kita berdua.”Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Biru bergerak, lalu kembali tidur.Di apartemen kecil itu, kehidupan terus berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada kenangan pahit yang perlahan memudar, dan ada cinta yang terus tumbuh.Karena pada akhirn

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 350

    Usai semua tamu pulang, apartemen kembali sunyi. Rendra dan Dara duduk di sofa, memandangi Biru yang tertidur di boksnya. Bayi mungil itu terbungkus selimut biru muda, tangannya yang kecil mengepal di samping wajahnya.“Lihat dia, Bi,” bisik Dara. “Dia tidur kayak malaikat.”Rendra tersenyum, merangkul bahu Dara. “Dia memang malaikat kita. Malaikat kecil yang datang setelah badai. Dia pelengkap hidup kita.”Dara bersandar di bahu suaminya. Matanya mulai sayu, tetapi senyumnya tidak pernah pudar.“Bi, aku mau cerita sesuatu.”“Apa, Sayang?”Dara menghela napas. “Waktu baby blues itu ... aku ngerasa kayak dunia runtuh. Aku ngerasa nggak becus jadi ibu. Aku ngerasa ... aku nggak pantas punya Biru.”Rendra tidak menyela. Ia hanya memeluknya lebih erat.“Tapi kamu …” Dara menatapnya. “Kamu nggak pernah berhenti berjuang. Kamu gendong Biru, kamu ganti popok, kamu bangun tengah m

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 349

    Di Rumah Sakit Ibu dan Anak itu, Dokter anak yang memeriksa Biru adalah dokter Anita, wanita muda dengan senyum ramah. Ia memeriksa Biru dengan teliti. Berat badan, tinggi, refleks, semuanya.Biru hanya sedikit rewel saat diukur, tapi cepat tenang begitu digendong Dara.“Biru sehat, Pak, Bu,” dokter Anita mencatat di berkas. “Berat badan naik bagus, tinggi sesuai usia, refleks normal. Semua perkembangannya baik.”Rendra dan Dara menghela napas lega.Dokter Anita menatap Dara. “Bu Dara, ASI-nya lancar?”Dara mengangguk. “Lancar, Dok. Biru menyusu kuat.”“Bagus. Pertahankan. ASI eksklusif sampai enam bulan, ya. Kalau ada masalah, segera konsultasi.”“Iya, Dok.”Dokter Anita tersenyum. “Selamat, ya. Anak Bapak Ibu sehat sempurna. Pertemuan berikutnya sebulan lagi untuk imunisasi.”Rendra menjabat tangannya. “Terima kasih banyak, Dok.”Mereka keluar

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 348

    Satu pekan kemudian, apartemen yang biasanya hangat kini terasa berbeda. Tumpukan popok bayi di sudut ruangan, botol susu di meja, dan bau bedak yang samar. Namun yang paling mencolok adalah Dara. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Biru menangis di boks, tapi Dara hanya diam, tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya kusut karena lama tak tersentuh sisir. Rendra masuk dari dapur dengan botol susu hangat. Begitu mendengar tangis Biru, ia segera meletakkan botol dan menggendong bayinya. “Ssst ... Nak, tenang. Ayah di sini.* Rendra mengayun-ayun Biru dengan lembut, menepuk punggung mungilnya. “Kamu laper, ya? Sebentar, ya., Biru terus menangis, wajahnya merah. Rendra mencoba menyusuinya dari ASI yang sudah diperah oleh Dara, tapi bayi itu menolak, terus meronta. Rendra menatap Dara. Istrinya masih duduk dengan tatapan kosong, tidak bereaksi.

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 347

    Rendra berlari kecil di lorong Rumah Sakit ke arah administrasi. Ia harus cepat. Dara membutuhkannya. Tapi di tengah jalan, ia bertemu dengan Samuel yang baru datang bersama Jasmine. “Ren! Gimana? Dara udah masuk ruang bersalin?” tanya Samuel. Rendra menghela napas. “Masih ada di ruang periksa. Pembukaan sembilan, sebentar lagi. Aku mau urus administrasi transfusi darah—” “Udah, biar aku yang urus itu.” Samuel menyela. “Mending kamu balik ke Dara. Dia butuh kamu.” Rendra menatap sahabatnya dengan haru. “Makasih Sam …” “Cepet! Jangan buang waktu!” Samuel setengah mendorongnya. “Aku akan urus di sini.” Jasmine menambahkan, “Kami doain juga. Semoga lancar, ya.” Rendra mengangguk, lalu berbalik dan berlari kembali ke ruang pemeriksaan. Sepuluh menit berselang, Dara sudah dipindahkan ke ruang bersalin. Kakinya terbuka, selimut tip

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 63

    Dara meninggalkan rumahnya dan menuju rumah sakit. Dia tiba di rumah sakit dengan langkah yang masih gemetar oleh amarah dan luka. Langkah gontainya berbelok ke ruang perawatan.Di ruang perawatan, ia justru menemui Nina yang sedang duduk di samping ibunya, dan Rendra. Sekali lagi,

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 73

    “Karena kamu memahami pelajaran pertama dengan baik, aku akan memberikan hadiah,” kata Rendra.Kalimat itu menggantung di udara, berbahaya dan menggoda. Sebelum Dara sempat bertanya hadiah apa, Rendra sudah membungkuk. Bibirnya tidak menuju bibir Dara, melainkan turun ke lehernya.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 70

    Rendra berdecak kesal, memutuskan ciuman yang mendalam itu. Ketukan di pintu yang tak henti-hentinya mengganggu momen pribadi mereka. Dengan gerakan kasar, ia berjalan membuka pintu.“Adrian? Ada apa?” tanyanya, suara datar namun berusaha menahan iritasi.Di luar, Adri

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 65

    Suasana di ruang pemeriksaan dokter terasa ringan, penuh harapan. Marini duduk di kursi roda dengan wajah masih pucat, namun senyum kecil sudah kembali menghiasi bibirnya. Dokter memandangi informasi riwayat medis milik Marini dengan puas sebelum menatap Dara dan Nina.“Hasil pemeri

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status