Share

Bab 67

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-12-06 20:00:27

Dengan hati berat, Dara mengemasi barang-barangnya dari rumah ibunya. Dia tahu tidak bisa terus tinggal di sana, apalagi dengan rencana barunya untuk berpura-pura kembali pada Arkha. Dia memberikan tugas merawat ibunya pada seorang perawat muda bernama Asya yang direkomendasikan Nina.

Saat menyerahkan perawatan ibunya, Dara memberikan instruksi dengan detail. “Obatnya diminum setelah makan, dua kali sehari. Tolong kamu jaga mentalnya juga, ya. Jangan sampai Ibu kepikiran yang tidak-tidak.”

Kemudian, dengan suara lebih rendah dan serius, dia menunjukkan foto Arkha di ponselnya. “Dan yang harus kamu hindari adalah kedatangan suamiku ini. Jika dia datang, bilang saja Ibu sedang istirahat dan tidak bisa ditemui. Kamu ngerti, Asya?”

Asya, seorang perawat yang cerdas dan waspada, mengangguk tegas. “Mengerti, Bu Dara. Saya akan jaga Bu Marini dengan baik.”

Dengan langkah yang pasti namun penuh beban, Dara meninggalkan rumah ibunya. Di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 141

    Rendra menunduk, napasnya mulai memburu. Riani, dengan gerakan tak sabaran membantunya untuk melepaskan satu-persatu kancing kemejanya.Keputusan di antara mereka dibuat bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan yang mungkin akan disesali. Rendra perlahan-lahan mulai menunduk, bibirnya menemukan leher Riani. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.Bukan dengan kelembutan seperti pada Dara, tapi dengan sebuah intensitas yang dipenuhi oleh kebingungan, amarah yang tertahan, dan sebuah kebutuhan mendesak untuk menghilangkan semua pikiran. Napasnya mulai memburu, panas, bertolak belakang dengan ketenangan Riani yang justru menjadi pemicu.Riani, yang biasanya pasif dan terukur, kali ini merespons dengan gerakan aktif yang tak sabaran. Tangannya yang biasanya dingin, kini hangat dan terburu-buru. Dia membantu Rendra, jari-jemarinya yang lincah membuka satu-persatu kancing kemeja Rendra dengan efisiensi yang mencengangkan, seolah ingin segera

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 140

    Kamar utama terasa lebih luas dan sunyi dari biasanya. Rendra berbaring telentang di atas ranjang. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar.Setiap sudut ruangan seolah bergema dengan keheningan yang ditinggalkan Dara. Pikirannya melayang ke Yogya, membayangkan apakah Dara sudah sampai dengan selamat, apakah dia dalam keadaan baik, apakah dia juga sedang memikirkan dirinya.Di meja rias, Riani dengan rutinitas malamnya yang biasa, duduk dengan cermat sambil mengoleskan berbagai serum dan krim di wajahnya. Pemandangan rutin itu kontras dengan kekacauan di dalam diri Rendra. Dari balik cermin, dia melirik suaminya yang terlihat hampa.Suara Riani datar, tanpa intonasi khusus, sambil menepuk-nepuk kulit wajahnya. “Kalau kamu kangen dia, bisa telpon, Ren. Jangan cuma melamun di situ. Itu nggak bakal ngubah apa-apa.”Nasehatnya terdengar seperti manajer yang memberi solusi pada klien. Tidak ada sarkasme, tidak ada sindiran. Han

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 139

    Dara menatap keluar jendela, meninggalkan tempat yang selama ini membesarkannya hingga menjalani hidup bersama Arkha. Dia mengirim pesan singkat pada Nina, meminta adiknya itu merahasiakan kepergiannya kali ini untuk menjauh dari suaminya.Perjalanan kereta yang panjang dan melelahkan akhirnya berakhir di Stasiun Tugu Yogyakarta. Udara lembab dan ramai kota itu menyambut Dara dengan suasana yang ia dambakan. Namun, begitu dia menyalakan ponsel utamanya setelah berhari-hari mematikan ponsel, deringan dan notifikasi langsung membanjiri layar.Puluhan panggilan tak terjawab. Puluhan pesan. Dan kebanyakan berasal dari satu nomor. Arkha, suaminya.Dengan jantung berdebar, Dara menjawab panggilan yang kesekian kalinya. Suara Arkha di seberang langsung menyerbunya, penuh dengan amarah yang tertahan dan sebuah kepanikan yang aneh.Suara Arkha parau, penuh ketegangan. “Kamu ngapain matiin hape, Yang? Sengaja banget menghindari aku? Eman

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 138

    Pelukan Rendra kali ini terasa berbeda. Bukan lagi pelukan penghiburan atau pelindung, tetapi pelukan perpisahan yang pahit. Setelah pertengkaran dengan Arkha, rumah Rendra yang semula dianggap sebagai tempat paling aman, kini telah runtuh. Keamanan itu seolah hanya ilusi. Rendra memeluk erat Dara, suaranya berat. “Sayang, sepertinya di sini kamu nggak aman lagi. Dia sekarang tau kamu pasti ada di sekitarku. Aku nggak mau dia bisa ngedeketin kamu lagi kali ini.” Rendra akhirnya mengaku meski sulit, tetapi pengakuan itu jujur. Dia gagal melindunginya di sini. Dara mengangguk, memeluk bahunya. “Aku tahu. Tadi Mas Arkha ke sini ‘kan? Aku denger suaranya. Dia makin ... makin gila.” Dara mendadak takut. Suara Arkha yang mengamuk tadi adalah bukti bahwa ancaman itu sangat nyata dan dekat. Dan dia tidak bisa tetap tinggal di sana. “Iya. Dan aku nggak mau dia mengganggu di sini. Nggak untuk k

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 137

    Di balik layar, di kamar tamu yang terkunci, Dara menyaksikan siaran langsung itu dengan air mata berlinang. Campuran rasa lega, takut, dan haru melihat Rendra dan Riani berjuang untuk melindunginya.Strategi mereka berhasil untuk saat ini. Mereka telah memukul balik dengan mengubah narasi. Namun pertempuran belum selesai.Ancaman rekaman suara dan paket cerita lengkap masih membuatnya khawatir. Dan musuh di balik layar, yang mendengar konferensi pers ini, pasti sedang merencanakan pembalasan berikutnya. Namun, setidaknya, mereka telah mengambil alih panggung, dan menyatakan perlawanan balik.Suasana di rumah Rendra yang baru saja ditinggalkan keriuhan konferensi pers, tiba-tiba berubah menjadi tegang. Setelah awak media meninggalkan rumah Rendra, Arkha tiba-tiba menyelinap masuk ke rumah itu.Dia tidak berteriak. Suaranya rendah, namun penuh dengan getaran kebencian yang mematikan. “Keluar kamu, Rendra! Di mana kamu sembunyiin

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 136

    Rendra perlahan melepaskan pelukannya, menatap mata Dara.“Dengerin aku, Sayang. Kamu tenang, istirahat yang cukup malam ini. Karena besok pagi, sebelum jam 7, kita akan lebih dulu menggelar konferensi pers. Kita akan bilang ke media bahwa kita sedang jadi korban pemerasan dan penguntitan. Samuel udah ngurus laporan polisi. Kita ubah ceritanya.”Rendra mencoba meyakinkan Dara, dan dirinya sendiri. “Mereka pikir kita akan ketakutan dan bersembunyi. Tapi kita justru akan maju. Itu yang nggak mereka duga.”Rendra tak ingin meninggalkan Dara barang sejenak. Dia meraih ponselnya segera menelepon Samuel yang hanya berjarak beberapa meter, memberitahukan tentang panggilan ancaman dan detail rekaman suara. Samuel menyumpah serapah di telepon, tetapi dia segera menyusun rencana tambahan.Dia akan melaporkan ancaman itu ke polisi sebagai tambahan bukti, dan mempercepat semua persiapan untuk konferensi pers sebelum fajar.Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status