LOGINPerdebatan dengan Arkha membuat Dara memutuskan pergi seorang diri ke klinik tempat terapi itu. Namun, sesi terapi itu terasa berbeda. Dara duduk di ruang tunggu seorang diri.
“Kok sepi, ya? Kemarin pas dateng rame banget antriannya. Aneh. Apa cuma aku yang ada jadwal terapi hari ini?” Seorang perawat memanggil nama Dara. Dia lalu berdiri, melangkah pelan masuk ke ruangan. Jantung Dara berdebar-debar. Terlebih saat melihat Rendra berdiri dari kursinya untuk menyambutnya. Matanya yang terbingkai kacamata, kemejanya yang menampilkan sedikit otot di lengannya itu, membuat Dara menundukkan pandangan agar tak terlihat gugup. “Duduk dulu ya, Dara.” Rendra memanggilnya Dara tanpa sapaan ‘Bu’ seperti pertemuan sebelumnya. “Sa-saya …” “Rileks, tenang aja. Kita lama nggak ketemu. Anggap aja ngobrol biasa sekalian nostalgia.” Dara merasa ruangan itu mendadak panas. Rendra melepas kacamatanya. “Gimana kabar kamu, Ra?” tanyanya. Dara merasa napasnya tertahan. Panggilan “Ra” yang keluar dari mulut Rendra begitu akrab, memanggil kembali kenangan yang lama terpendam. Dia mencoba menelan ludah, mulutnya terasa kering. “Baik,” jawabnya singkat, suaranya sedikit serak. Tangannya meremas-remas ujung jaketnya. “Kabarmu ... gimana?” Rendra tersenyum kecil, meletakkan kacamatanya di atas meja. Gesturnya santai, jauh dari kesan kaku seorang terapis. “Aku? Sibuk kerja. Tapi aku seneng bisa ketemu lagi sama kamu.” Pria itu menatap Dara dengan tatapan mata cokelatnya yang jernih, seolah bisa menembus langsung ke jiwa Dara. “Aku nggak nyangka ternyata kamu nikah sama sepupuku sendiri,” katanya. “Iya, Ren. Aku … baru tahu kalau kamu sepupunya Mas Arkha,” sahut Dara. “Sekarang coba ceritakan apa keluhan kamu sampai harus ketemu aku di sini?” tanya Rendra, matanya menatap Dara. Dara mengalihkan pandangan, memutus tatapan mata Rendra. “Aku … aku bingung harus mulai dari mana, Ren. Aku …” “Apa kamu nggak nyaman?” tanya Rendra. Dara mengangguk pelan. Rendra tersenyum. “Di sini, semua cerita aman. Kamu bisa ceritakan semua masalah dalam hubungan kamu. Termasuk … hubungan suami istri di ranjang.” Dara mendesah. Keraguannya kembali. “Nggak, Ren. Aku … baik-baik aja,” katanya. Rendra tidak terburu-buru. Dia memberi Dara ruang untuk bernapas, untuk merasakan kesedihan dan sensasi perasaan apa pun. Kemudian, dengan suara yang lebih lembut, hampir seperti bisikan, dia bertanya, “Apa kamu bahagia, Dara?” Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, sederhana namun menghancurkan. Pertanyaan yang bahkan tidak berani dia tanyakan pada dirinya sendiri di tengah malam yang sunyi. Dara mengangkat wajahnya. Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Tanpa kata-kata, tangisannya yang senyap itu sudah menjawab segalanya. Rendra berdiri, mendekat ke sisi Dara. Untuk beberapa saat, pria itu tidak kembali ke kursinya. Dia tetap berada di dekat Dara, memberinya beberapa lembar tisu. “Jangan takut. Kamu bisa cerita semuanya. Semua rahasia kamu aman di sini,” kata Rendra. “Oke, kalau gitu, kita balik ke sesi terapi hari ini, ya?” ujarnya, mencoba mengembalikan fokus. Dia berdiri dan berjalan perlahan ke sisi mejanya, memberi Dara ruang untuk mengumpulkan kembali niatnya untuk bercerita. Dara dengan cepat mengusap air matanya, menarik napas dalam-dalam. “Iya,” jawabnya. Dengan suaranya yang masih sedikit bergetar, Dara memulai ceritanya. “Aku nggak tahu harus mulai ngomong dari mana. Dan aku nggak tahu apa aku yang salah atau gimana. Tapi, selama ini aku nggak puas sama hubungan ranjangku dengan Mas Arkha.” Kata-kata itu keluar, pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia jujur pada seseorang dan pada dirinya sendiri. Tentang betapa hancurnya pernikahannya. Dan di ruangan yang sunyi itu, di hadapan pria yang pernah mengenalnya dengan sangat baik, Dara merasa sebuah beban berat perlahan mulai terangkat dari pundaknya. “Masalah rumah tangga kamu sama Arkha serius banget ternyata,” kata Rendra. Dara masih diam. Dia hanya bisa mengangguk pelan. Rendra duduk, mengambil clipboard-nya. Tatapannya penuh perhatian, namun kini lebih netral. Rendra terdiam sejenak, sebelum melontarkan pertanyaan pada Dara. “Sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Rendra. Dara menyahut pelan, “empat tahun.” Rendra kembali menatapnya. “Selama itu, apa yang kamu, sebagai Dara, benar-benar butuhkan dan rindukan dari sebuah hubungan intim?” Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa jauh lebih menantang dan personal daripada yang Dara bayangkan. Dara terdiam sejenak, matanya menatap lantai seolah-olah jawabannya tersembunyi di antara pola kayu yang mengkilap. Suara Rendra yang tenang namun penuh ketegasan membuka pintu yang lama terkunci di hatinya. “Aku …” suaranya parau, hampir seperti bisikan. Dia mengangkat tangan, menekan dadanya tepat di atas jantung yang berdebar kencang. “Aku mau …” Dara menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kata-kata yang bahkan tak pernah dia akui pada dirinya sendiri. Air mata mulai menggenang lagi di matanya, tetapi kali ini dia tidak berusaha menahannya. “Apapun yang kamu inginkan, keinginan kamu valid, Dara. Keintiman yang sehat dibangun dari rasa dihargai sebagai seorang pribadi, bukan hanya sebagai pasangan seksual.” Rendra berdiri dari kursinya. Tangannya terulur menyentuh rambut Dara. Dara segera menghindar, berusaha menepis tangan Rendra tapi tangan Rendra lebih dulu menahannya. “Kamu cantik, Ra. Makin cantik dari terakhir kali kita ketemu,” kata Rendra dengan berbisik di telinganya. Dara menatap Rendra, matanya membesar. Pipinya memerah, bukan hanya malu, namun karena getaran yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Sebuah kehangatan yang telah lama hilang. Dara ingin berlari menjauh, namun hatinya berteriak sesuatu yang sangat berbeda. Rasanya seperti ada bunga yang mekar di dadanya yang beku. Rendra tersenyum, bibirnya kembali berbisik di telinga Dara. “Dan aku bisa memenuhi kebutuhanmu itu.” ***Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”
Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan
Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z
Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga
Di ruang konsultasi kantor polisi yang sempit, Samuel duduk berhadapan dengan Rendra yang terlihat semakin lesu namun matanya masih memancarkan tekad yang membara. Laporan pencemaran nama baik terhadap Adrian sudah diajukan, tapi jalan itu terbentur oleh fakta bahwa Adrian sedang cuti dan menghilang—sebuah kebetulan yang terlalu tepat.“Aku sudah buat laporan pencemaran nama baik itu, Ren. Tapi, Adrian sedang cuti. Dia tidak bisa ditemui,” jelas Samuel.Rendra tidak lagi fokus pada Adrian. Pikirannya kini tertuju pada satu orang. Riani.Kunci untuk keluar dari jerat KDRT ini ada padanya. Jika laporan itu dicabut, setidaknya ia bisa bernapas lega dan fokus melawan musuh yang sebenarnya.Rendra merasa energinya habis. Dengan suara rendah, dia memohon. “Sam, kita harus pikirkan cara agar Riani mencabut laporannya. Karena malam itu, bukan aku yang menamparnya.”Rendra menatap pengacaranya dengan intens. “Dia pergi dar
Suasana di kantor polisi panas oleh emosi yang meledak. Rendra, yang masih dalam status ditahan dan digiring, melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sana, saat itu. Ben, si wartawan yang selama ini ia curigai sebagai dalang dari berita yang menjatuhkan namanya. Namun Ben tidak datang sebagai tertuduh.Dia datang dengan percaya diri, bahkan dengan senyum tipis yang mengejek di bibirnya.Saat melihatnya, amarah Rendra yang sudah memuncak meledak. “Ternyata kamu pengecut!!” teriaknya, berusaha menerobos penjagaan polisi. “Selama ini kamu selingkuh dengan istri saya dan menyakiti dia!!” Tuduhannya langsung, berdasarkan asumsi bahwa Ben dan Riani bersekongkol untuk menjatuhkannya.Tapi Ben hanya mengangkat alis, terlihat tenang bahkan meremehkan. Dia melangkah lebih dekat, memastikan hanya Rendra dan polisi yang mendengar suaranya.Suuara rendah Ben terdengar lemah, namun jelas dan menusuk, “Anda salah alamat, Pak Rendra. Bukan saya yan







