共有

142. Dianggurin

作者: Rossy Dildara
last update 公開日: 2026-03-08 11:48:25
Wajah Julia seketika pucat. Tangannya yang memegang koper kecil itu terlihat sedikit gemetar.

“Pergi,” kataku lagi dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Julia menelan ludah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menunduk sedikit lalu berjalan melewatiku. Langkahnya cepat… hampir seperti orang yang melarikan diri.

Begitu dia menghilang di ujung koridor, barulah aku masuk kembali ke kamar.

Pandangan mataku langsung menyapu seluruh ruangan.

Mencari satu benda.

Ponselku.

***

“Halo, Bi.”

Begit
Rossy Dildara

Yang sabar ya, Om 🤣

| 4
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (4)
goodnovel comment avatar
Tina Maryani Simatupang
up yg banyak thor
goodnovel comment avatar
Najwa Alhuda
Qia...kalo marah jangan lama² yaaaa kasian banget dehhhh Dokter Bagas 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
goodnovel comment avatar
Rossy Dildara
oke kak.....
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   178. Singa yang kelaparan

    Perlahan, goncangan itu berhenti.Napas mereka terdengar memburu dan berat, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh. Bagas masih menempelkan dahinya ke dahi istrinya, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang.Dia lalu membawa Qiara kembali rebahan di kasur, lalu memeluk dia dengan sangat erat."Alhamdulillah... satu ronde sudah terlewati, Sayang," gumam Bagas, napasnya masih terdengar berat dan kasar. "Sekarang kita istirahat dulu, ya?""Om tadi kelihatan seperti singa yang kelaparan ...," celoteh Qiara lemah, tapi senyum bahagia terukir di bibir dia."Kan sudah sebulan lebih nahan, wajar dong kalau Om jadi buas," jawab Bagas sambil terkekeh, lalu mengecup bibir istrinya dalam-dalam. "Sekarang tidur dulu, sarapan nanti saja."Dan di pelukan hangat itu, mereka pun terlelap dengan hati yang sangat puas.***"Ayah ... mana Qiara dan Bagas? Kok sampai jam segini mereka belum datang?" tanya Laura dengan nada khawatir yang jelas terdengar. Matanya sesekali melirik jam di ponsel

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   177. Nggak mau berhenti

    "Oh itu. Udah kok, Om. Bahkan sejak tiga hari yang lalu," jawab Qiara dengan santai."Sejak tiga hari yang lalu??" Mata Bagas seketika membulat sempurna, menatap istrinya dengan wajah tak percaya campur kesal manja."Lho, kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin, Sayang? Kok kamu tega sih sama suamimu yang nggak sabar kepengen goyang ini?""Maaf, Om, bukan aku tega. Aku cuma mau mastiin kalau udah benar-benar bersih saja, takutnya nanti pas kita bercinta, darahnya malah masih keluar," jelas Qiara lembut, mencoba memberi alasan yang masuk akal."Kalau begitu kita bercinta sekarang." Tanpa pikir panjang, Bagas tiba-tiba mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah bak membawa bulu kapas.Dia tak membuang waktu lagi, langsung berjalan cepat membawa dia menuju arah kamar."Ya jangan sekarang juga lah, Om. Aku juga lagi bikin nasi goreng, kita 'kan belum sarapan," protes Qiara pelan, meski tangannya sudah melingkar pasrah di leher suaminya."Sarapannya nanti saja, Sayang. Yang pentin

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   176. Buka puasa

    Mata Bagas seketika membulat sempurna, terbelalak kaget mendengar ucapan istrinya.'Jangan-jangan benar lagi... itu kuburannya Nenek Mirna. Tapi kalau benar juga, nggak penting sih,' batinnya berusaha bersikap masa bodoh, meski ada rasa aneh yang menyelinap.Driiinggg!!Suara dering ponsel memecah keheningan, membuat Qiara sontak tersentak kaget. Layar ponsel itu menyala, menampilkan panggilan masuk dari sebuah nomor yang tidak dikenal sama sekali."Eh, siapa ini yang telepon?" tanya Qiara bingung, alisnya terangkat heran.Tanpa menunggu istrinya bertanya lebih lama, Bagas dengan sigap langsung mengangkat panggilan itu. Dia menempelkan ponsel tersebut rapat-rapat ke telinga kanannya, seolah tak ingin suara dari seberang terdengar oleh siapapun selain dirinya."Halo, Qia. Ini Mas Bilal ...."Suara di seberang sana terdengar jelas, dan seketika itu juga mata Bagas kembali membulat lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu dengan cepat karena emosi."Tolong Mas, Qia

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   175. Tersambar petir

    Hari berganti.Matahari pagi sudah bersinar terang, menandakan hari yang baru telah tiba.Setelah selesai sarapan, Maira pun bergegas menuju kediaman Dylan. Kebetulan sekali hari ini jatuh pada hari Minggu, dimana Dylan sedang libur kerja, jadi dia ada di rumah dan bisa menyambut kedatangan Maira dengan tenang.Saat Maira sampai, kedatangan gadis itu disambut dengan sangat hangat oleh Dylan. Di tangan Maira, terlihat dia membawa sebuah kado berukuran cukup besar yang dibungkus rapi, persiapan khusus untuk adiknya, Kainoa."Ini untuk Kai, Om," ucap Maira seraya menyerahkan apa yang dia bawa ke tangan Dylan dengan senyum manis."Waduh jadi merepotkan, terima kasih ya, Mai," sahut Dylan sambil tersenyum lebar, wajahnya tampak sangat senang menerima perhatian dari Maira. "Oh ya, Mai. Mulai sekarang jangan panggil Om dengan sebutan Om lagi ya ... tapi panggil Opa. Karena bagaimanapun sekarang Om ini sudah menjadi Opamu, Mai."Sejujurnya, di dalam hati Dylan sendiri merasa agak berat dan an

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   174. Waktu berdua

    "Lho, Om... Kok kita ke apartemen??"Suara Qiara terdengar bingung bercampur heran saat dia menyadari bahwa mobil yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan gedung pencakar langit megah itu.Tempat itu adalah apartemen yang dulu pernah dibelikan Bagas khusus untuknya. Awalnya, perempuan itu beranggapan bahwa setelah selesai makan bubur, mereka akan kembali ke rumah Bagas."Untuk sekarang, Om mau kita tinggal berdua di sini.""Tinggal berdua?" Alis Qiara terangkat, keningnya berkerut dalam menandakan kebingungan yang semakin mendalam. Dia menatap wajah suaminya, mencoba mencari jawaban dari sorot mata itu."Iya." Bagas mengangguk santai, namun ada ketegasan dalam nada bicaranya. "Ayok sekarang turun, Sayang," ajaknya lembut.Pria itu turun lebih dulu, lalu dengan sigap berlari memutar ke sisi lain mobil demi membukakan pintu untuk istrinya, sebuah perlakuan manis yang selalu dia berikan pada Qiara."Kalau kita tinggal di sini, terus Maira—""Jangan sebut nama itu dulu," potong B

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   173. Sakit gigi

    Daging ayam itu ternyata bukan hanya sekadar keras, tapi benar-benar bantat dan alot. Rasanya persis seperti mengunyah karet ban bekas yang sudah mengering dan mengeras.Gigi Qiara rasanya nyeri sekali, berdenyut hebat seolah hendak copot dari gusinya. Belum lagi rasa pahit gosong yang menyengat langsung menyerbu lidah dan tenggorokan, membuat wajahnya yang tadi manis seketika berubah masam mencuka, matanya terpejam kuat menahan perih."Astaga! Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?!"Melihat istrinya meringis kesakitan sambil memegangi pipi dengan kedua tangan, Bagas sontak panik setengah mati.Wajahnya yang tadi tenang langsung berubah pucat dan penuh kekhawatiran. Tangannya yang besar dan kokoh segera memegang wajah Qiara dengan lembut, memutarnya perlahan agar bisa melihat kondisi mulut istrinya lebih jelas."Gigiku, Om ...," rintih Qiara pelan, suaranya terdengar lemah dan kesakitan."Buka mulutmu, Sayang, biar Om lihat. Giginya copot nggak? Atau goyang?" tanyanya panik, matanya me

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   21. Om akan menghukummu!

    "Enggak pernah, Nak. Lagian hape Bunda yang dulu juga hilang," jawab Bunda, jawabannya terdengar meyakinkan. "Oh, gitu. Tapi Bunda sendiri pernah upload fotoku di sosmed Bunda apa enggak?" tanyaku, menatap penuh rasa ingin tahu, berharap mendapatkan jawaban yang bisa menjelaskan rasa penasaran yan

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   8. Pikirkan baik-baik

    "Memangnya kenapa sih? Aku panggil dia sayang 'kan memang aku sayang sama dia, Lan. Kan aku sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri." Oh, jadi itu alasannya. "Tetap saja risih aku dengarnya! Mending nggak usah, panggil nama saja! Atau kalau enggak, panggil Dek saja," saran Ayah. "Cih!

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   7. Masalah ekonomi

    "Assalamualaikum. Cantiknya Ayah habis dari mana?"Suara Ayah terdengar jelas saat dia baru saja turun dari mobil, wajahnya memandangku dengan tatapan yang penuh perhatian. Aku segera berlari mendekat, mencium punggung tangannya dengan gerakan cepat, seolah ingin menyembunyikan rasa takut yang mera

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   12. IGD

    Aku segera mendekat ke arah Mas Bilal, langkahku tergesa-gesa meskipun tubuhku masih terbatuk karena asap. Tapi, pria itu terlihat menyentuh dadanya dengan tangan yang gemetar, jari-jarinya memegang kain baju di dada sambil meringis kesakitan—wajahnya memerah, mata menutup sebagian, dan napasnya te

    last update最終更新日 : 2026-03-17
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status