Share

2. Hamili aku!

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2025-10-28 00:13:53

"Sentuh aku, Om! Hamili aku!" pintaku dengan suara lantang, memecah kesunyian ruangan Om Bagas. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa persiapan, tanpa basa-basi.

Setelah tadi sempat merenung di antara air mata dan keputusasaan, aku akhirnya berhasil mendapatkan ide. Sebuah ide yang gila, ekstrem, dan mungkin juga nekat. Tapi aku pikir, di situasi seperti ini, tidak ada pilihan lain. Dan hanya Om Bagas lah, satu-satunya orang yang bisa menolongku.

Selain Om Bagas adalah dokter kandungan langgananku, yang sudah tahu seluk-beluk masalah reproduksiku, hanya dia satu-satunya pria lain yang kukenal secara akrab. Pria yang kupikir bisa kupercaya.

Selain itu, dia juga berstatus duda. Jadi, secara logika, akan aman. Tidak akan ada istri yang marah, tidak akan ada keluarga yang terluka. Hanya aku dan dia, dalam sebuah kesepakatan rahasia.

"Kamu bicara apa, Sayang?" Om Bagas tampak terkejut. Matanya membulat sempurna, nyaris keluar dari tempatnya. Ekspresinya antara kaget dan tidak percaya. Namun, sedetik kemudian, sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat, tercetak jelas di wajahnya. Seringai yang membuat jantungku berdebar tak karuan.

Entah mengapa, meskipun aku dan dia sudah sangat akrab, sering bertemu, sering bercerita, tapi aku masih bertanya-tanya arti dari seringai yang sering dia berikan padaku.

Apakah itu seringai seorang teman, seorang dokter, atau apa?

"Kenapa kamu datang-datang langsung bilang begitu? Ada apa? Cerita sama Om."

Dia mendekat, langkahnya mantap namun lembut. Tangannya terulur, langsung merangkulku dengan hangat dan mengajakku masuk ke dalam ruangannya. Tidak lupa, dengan gerakan cepat dan sigap, dia menutup pintu ruangannya dengan rapat. Seolah mengunci semua rahasia di dalam sana.

"Mas Bilal hanya memberiku waktu satu bulan untuk bisa hamil, Om. Kalau enggak, dia mau menikah lagi," jawabku memberitahu, dibarengi isak tangis yang tak tertahankan. Air mata kembali membanjiri pipiku, membasahi kerah bajuku. Aku merasa seperti anak kecil yang kehilangan pegangan.

Ini bukan pertama kali Om Bagas mendengar curhatanku tentang Mas Bilal. Sudah tak terhitung berapa kali aku datang ke ruangannya dengan wajah sembap dan hati hancur. Semoga saja dia tidak bosan, meskipun nasihatnya kadang kala tidak pernah kudengarkan. Aku tahu, aku keras kepala.

"Om sudah menebak sih akan begini akhirnya." Om Bagas membawaku duduk di atas ranjang pemeriksaan yang dingin. Dia mengusap lembut puncak rambutku, memberikan sentuhan yang menenangkan. Selalu saja aku merasa ada kehangatan jika di dekatnya, seperti saat aku berada di dekat Ayah. "Padahal Om selalu memintamu untuk bercerai dengannya, tapi kenapa kamu nggak pernah mendengarkan Om, Sayang?"

Selalu saja saran cerai yang Om Bagas berikan, seolah dia berpikir dengan aku menjanda hidupku akan jauh lebih sempurna. Seolah dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Padahal, setelah menjanda aku pun tidak tahu akan bisa mendapatkan suami yang bisa menerimaku atau tidak, karena situasinya sekarang aku sulit untuk bisa hamil.

"Kan Om tau kalau aku sangat mencintai Mas Bilal. Bagaimana mungkin aku menceraikannya, Om?" Aku menjawab dengan suara serak, tercekat oleh air mata. Cinta ini sudah menjadi bagian dari diriku, seperti tulang dan darah.

"Kamu memangnya nggak capek, mencintai sendirian? Si Halal Bihalal itu nggak benar-benar mencintaimu, Sayang." Om Bagas menatapku sendu, matanya melembut, seolah ikut merasakan kesedihan yang menggerogoti dadaku. Aku benci tatapan itu, tatapan yang seolah meremehkan cinta Mas Bilal padaku.

"Namanya Bilal, Om, bukan Halal Bihalal." Aku meluruskan, meskipun dengan nada lelah. Om Bagas selalu salah menyebut nama suamiku, entah disengaja atau tidak. Mungkin dia memang sengaja, untuk merendahkan Mas Bilal di mataku.

"Alaaahhh, siapapun itu sama saja. Intinya ... kamu sekarang cerai saja dengannya." Dia kembali mengulang mantra yang sama, mantra yang sudah sering kudengar dari bibirnya.

"Aku nggak mau, Om!" Aku menggeleng cepat, dengan tegas. Aku tidak ingin menyerah pada pernikahanku, meskipun badai menerjang begitu hebat.

"Jadi kamu kepengen dimadu? Om sih kalau jadi kamu ogah banget! Malah ... Om akan potong burung si Halal Bihalal itu sampai buntung! Biar tau rasanya!" geram Om Bagas, tampak emosi sendiri. Dia mengepalkan tangannya, seolah ingin melampiaskan amarahnya pada Mas Bilal.

"Justru itu aku nggak mau dimadu. Mangkanya... Om harus membantuku sekarang." Aku langsung memegang kedua tangan Om Bagas, menggenggamnya erat. Aku bisa merasakan kedua tangannya sedikit tersentak, lalu gemetar.

"Om bisa 'kan, hamili aku? Om 'kan sudah punya Maira, aku yakin aku bisa hamil anak Om." Aku mencoba meyakinkannya, meskipun aku sendiri merasa ragu. Apakah aku benar-benar bisa melakukan ini?

Kebetulan, Maira adalah sahabatku, dan dia adalah satu-satunya anak dari Om Bagas.

"Jadi kamu serius dengan kata-katamu tadi, kamu mau Om hamili?? Tapi ... kenapa harus Om?" Mata Om Bagas terlihat berbinar, ada secercah harapan yang menyala di sana.

"Karena cuma Om satu-satunya pria lain yang aku kenal. Dan selama ini ... Om selalu menjaga rahasiaku tentang Mas Bilal kepada siapapun, termasuk Ayah. Jadi ... kupikir Om adalah orang yang tepat." Aku mencoba memberikan alasan logis, meskipun jantungku berdebar tak karuan.

"Terus kalau kamu beneran hamil, Om akan tanggung jawab gitu, kita menikah?" Dia tersenyum lebar, menatapku penuh harap.

Apa-apaan dia, kenapa bertanya seperti itu. Bercandanya tidak lucu sekali.

"Ya enggaklah, Om. Om ini ngaco." Aku menjawab dengan cepat, sedikit terkekeh.

"Ya terus, untuk apa Om menghamilimu kalau kita nggak menikah? Rugi dong, Sayang." Dia memasang wajah menggoda, namun aku bisa melihat kekecewaan yang tersembunyi di balik senyumnya.

Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba Om Bagas jadi aneh seperti ini?

"Om menghamiliku 'kan untuk membantuku, supaya Mas Bilal nggak menikah lagi. Jadi ... aku bisa menyelamatkan pernikahanku." Aku menjelaskan dengan sabar, mencoba membuatnya mengerti.

"Jadi... ini semua untuk si Halal Bihalal?" Om Bagas tampak sedikit terkejut. Seharusnya dia paham maksud keinginanku dari awal.

"Iya, Om." Aku mengangguk cepat, mencoba meyakinkannya. Aku tahu, permintaanku ini sangat tidak masuk akal, tapi aku berharap Om Bagas bisa mengerti situasiku.

Om Bagas tampak terdiam, membisu. Sorot matanya menatap kosong ke arah jendela, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat. Aku bisa merasakan ketegangan di dalam ruangan ini semakin meningkat. Dia tersentak kaget saat aku menepuk pundaknya, membuyarkan lamunannya.

"Bagaimana, Om?" Aku bertanya dengan nada cemas, menunggu jawabannya dengan tidak sabar.

"E-eh!!" Dia tersentak, lalu menatapku dengan tatapan bingung.

"Jadi Om mau apa enggak?" Aku bertanya lagi, dengan nada sedikit memaksa. Aku tidak punya banyak waktu.

"Mau, mau!" sahutnya cepat dengan anggukan kepala. Dia tampak bersemangat, tapi kemudian raut wajahnya berubah menjadi serius. "Tapi ... sebagai timbal baliknya, apa yang akan Om dapatkan darimu? Masa Om nggak dapat apa-apa. Rugi dong."

Aku bisa melihat bahwa dia tidak sepenuhnya ikhlas membantuku.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   139. menginap

    “Bukan.” Dylan menggeleng. “Kata Maira sih tadi ada dari temennya, dari sesama Dokter di sini, para perawat, suster, bahkan satpam segala.”Aku menoleh lagi ke arah tumpukan buket bunga dan parsel buah yang memenuhi meja nakas hingga ke lantai.Berlebihan sekali mereka ini, sampai kompak memberikanku bunga dan buah segala. Padahal setelah kantong infusanku habis aku akan langsung pulang, lalu mengajak Qiara kencan lagi.Aku kembali menatap Dylan.“Yang dari Qiara nggak ada?” tanyaku, karena menurutku hanya Qiara yang paling penting untukku.Dylan mendengus pelan, lalu menunjuk ke arah tempat sampah kecil di samping ranjang, di mana cup plastik bekas minuman yang tadi kuminum masih tergeletak di dalamnya.“Kan air kelapa muda, yang tadi kamu minum.”Aku mengangguk pelan, meski sedikit merasa kurang puas.“Kirain dia juga sambil nitipin buket bunga dari toko Bundanya.”Dylan langsung memutar bola matanya dengan kesal, lalu menatapku tajam.“Udah dikasih hati minta jantung kamu, Gas! Buk

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   138. Tidak mau jauh darinya

    (POV Bagas)Kesadaranku perlahan kembali bersama rasa ringan di kepala. Entah sejak kapan aku tertidur, tapi saat kedua mata ini terbuka, yang pertama kali kulihat adalah langit-langit putih khas ruang rumah sakit. Bau obat-obatan samar tercium di hidungku.Aku berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatan.Saat akhirnya benar-benar sadar, aku mendapati diriku berada di ruang perawatan. Selang infus terpasang di punggung tanganku, cairannya menetes perlahan dari kantong yang tergantung di tiang besi di samping tempat tidur.Mataku langsung berkeliling, mencari-cari keberadaan kesayanganku. Sosok yang ingin kulihat begitu membuka mata. Namun yang justru kutemukan adalah Dylan.Dia duduk santai di sofa yang berada tidak jauh dari ranjangku, tubuhnya sedikit membungkuk dengan ponsel di tangan. Ibu jarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang membalas pesan atau membaca sesuatu dengan serius.Selain itu, ada hal lain yang membuatku sedikit heran.Di atas meja nakas, meja depa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   137. Kelapa muda

    "Maira??"Aku benar-benar terkejut melihatnya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tampak dingin seperti biasa—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui ayahnya dirawat karena muntaber.Padahal baru beberapa menit lalu aku mencoba menghubunginya berkali-kali dan tidak tersambung, dan sekarang dia sudah berada di depan mata."Kamu tau dari siapa kalau—""Sekarang kamu pulang saja, biar Papi aku yang temani."Dia langsung menyela ucapanku. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi.Tanpa menatapku lebih dari dua detik, dia melangkah masuk dengan sepatu haknya yang berbunyi pelan di lantai. Tangan kanannya mendorong sebuah koper berukuran sedang. Isinya mungkin pakaian ganti dan perlengkapan pribadi milik Om Bagas. Dia meletakkannya disudut ruangan."Aku pulangnya nanti saja, setelah Om Bagas bangun, Mai." Aku mencoba bicara selembut mungkin.Maira menoleh cepat. Sorot matanya tajam. "Jangan egois deh, Qia. Aku bilang pulang sekarang ya, sekarang!"

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   136. Akal-akalan

    "Sekarang Om Bagas lagi diperiksa, tapi aku sih yakin penyebab dia seperti itu karena habis makan rujak, Ayah." "Mana mungkin Om Bagas makan rujak." Ayah tampaknya tidak percaya. Aku menghela napas pelan. "Aku juga awalnya nggak percaya." "Setau Ayah dia itu nggak suka buah-buahan yang asem, dia juga nggak suka pedes." "Setauku juga begitu. Tapi katanya Om Bagas lagi ngidam, makanya tiba-tiba dia kepengen makan rujak. Padahal sih rujaknya nggak pedes manurutku." "Aneh, masa dia ngidam? Kan kamu yang hamil. Bukan dia." Aku terdiam sesaat. Tanganku tanpa sadar menyentuh perut buncitku. "Katanya calon ayah juga bisa ngidam, Ayah. Itu namanya Couvade Syndrome." Ayah mendengus kecil di seberang sana. "Tapi 'kan kamu hamil anaknya si Bilal, bukan anaknya Bagas." Kalimat itu terasa menusukku. "Iya sih," jawabku pelan. "Ah paling itu akal-akalan Om Bagas saja. Aslinya dia nggak kenapa-kenapa. Sekarang kamu pulang, ya? Nanti sopirnya Bunda jemput kamu." Aku menoleh ke arah pintu rua

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   135. Kelemahan Om Bagas

    Pintu bergetar keras, tapi belum terbuka. Dadaku ikut bergetar setiap kali bahu satpam itu menghantam kayu di depannya.Sekali lagi."Satu… dua…"BRAK!!Engselnya mulai longgar. Kayu retak di bagian sisi, serpihannya jatuh ke lantai.Aku menutup mulutku menahan isak yang hampir lolos."Tolong… cepat ,…" bisikku lirih, hampir tak terdengar.Untuk ketiga kalinya mereka menghantamkan bahu ke pintu.BRAAAK!Pintu akhirnya terbuka paksa dengan suara keras yang memantul ke seluruh ruangan, menggema sampai ke dinding keramik.Dan pemandangan di dalamnya membuat mataku membulat.Seorang pria tengkurap tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.Tapi bukan Om Bagas.Tubuh pria itu lebih kurus. Bahunya lebih kecil. Rambutnya pun berbeda. Meski wajahnya belum terlihat karena masih menghadap lantai, aku tahu—itu bukan dia.Jantungku yang tadi hampir berhenti kini justru berdetak semakin kacau.Lalu… di mana Om Bagas?"Astaghfirullah .…" Satpam langsung berjongkok mendekat ke arah pria itu. Dengan ha

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   134. Jawab aku

    Keramaian restoran yang tadi terasa biasa saja kini seperti mendesak telingaku. Suara sendok beradu dengan piring, tawa pengunjung lain, bunyi blender dari dapur—semuanya terasa terlalu keras, terlalu riuh.Seolah dunia tetap berjalan normal, sementara hatiku mulai tidak normal.Aku menggenggam tas di pangkuanku erat-erat.Perasaanku tidak enak.Jangan-jangan benar-benar sakit perut? Atau…Aku menggeleng cepat, menepis pikiran buruk yang mulai liar.Mungkin cuma antre.Tapi tiga puluh menit?Om Bagas bukan tipe orang yang lama di toilet. Bahkan untuk sekadar cuci tangan pun dia selalu cepat.Aku tak tahan lagi.Akhirnya aku berdiri perlahan, meraih ponselku, lalu berjalan menuju arah toilet yang tadi dia masuki. Langkahku terasa menggema pelan di lantai keramik.Di depan pintu toilet pria, aku berhenti.Pintu tertutup. Tidak ada suara.Tidak ada langkah kaki.Tidak ada bunyi air mengalir.Sunyi.Tanganku terangkat hendak mengetuk, tapi langsung ragu. Beberapa pria keluar masuk, menata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status