Share

Sentuh Aku, Om Dokter!
Sentuh Aku, Om Dokter!
Penulis: Rossy Dildara

1. Lepaskan saja

Penulis: Rossy Dildara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-24 19:26:24

"Lepaskan saja, Sayang... Om mau mendengar suara desahanmu."

Om Bagas menarik tanganku yang sejak tadi kaku menutupi bibir. Aku sudah berusaha sekuatnya menahan setiap bunyi yang ingin keluar, rasa malu itu terlalu besar, seolah semua mata di dunia memandang.

Hanya sekejap, tanganku terlepas. Suara kecil langsung lolos dari bibirku.

"Aahh ...."

"Naahh... begitu dong! Om 'kan jadi lebih semangat, Sayang!" Dia tersenyum lebar, dan gerakannya sedikit memacu.

Aku tidak bisa menyangkal. Rasanya benar-benar berbeda, lebih dalam, lebih menyentuh bagian yang pernah kubiarkan terpendam. Lebih nikmat dari apa yang pernah aku rasakan bersama suamiku. Tapi tepat pada saat itu, rasa bersalah kembali menyergap dengan kuat.

Wajah Mas Bilal terus muncul di depan mata. Senyumnya yang jarang muncul akhir-akhir ini, juga suaranya yang selalu bicara dengan nada tinggi. Aku merasa gelisah, jantungku berdebar kencang.

Apakah yang kulakukan sudah benar? Atau, aku hanya mencari alasan untuk mengkhianatinya?

Tapi, andai saja dia mau mendengarkan, mau menurunkan sedikit egonya, pasti semua ini tak perlu terjadi.

Aku tak perlu bercinta dengan pria lain, apalagi dengan Om Bagas yang sudah kuanggap sebagai Omku sendiri.

***

Sebelumnya....

"Bagaimana hasilnya?" tanya Mas Bilal—suamiku. Nada suaranya penuh harap, matanya menyorotkan antusiasme yang selalu hadir setiap kali aku melakukan tespek.

Aku baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, alat tes kehamilan masih tergenggam erat di tanganku. Namun, lagi-lagi, aku harus mengubur harapannya dalam-dalam.

"Garis satu, Mas," jawabku lirih, mengulurkan tangan dengan lesu. Kekalahan ini terasa begitu pahit, seperti ada yang meremuk hatiku dari dalam.

"CK!" Pria berkumis tipis itu mendengus kasar. Raut wajahnya yang tadi cerah kini berubah keruh, diwarnai amarah yang kentara. Jangankan menerima benda yang kuulurkan, dia justru menepisnya dengan kasar hingga tespek itu terlempar dan jatuh begitu saja ke lantai. "Promil kita benar-benar nggak ada hasilnya! Ini artinya, kamu harus siap dimadu."

"APA?! Dimadu?" Mataku membulat sempurna, terkejut bukan main dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya.

Apakah aku salah dengar? Kata-kata itu menghantamku seperti petir di siang bolong.

Dua tahun belakangan ini, kami memang sudah melakukan segala cara untuk bisa memiliki anak. Berbagai jenis program kehamilan sudah kami jalani, mulai dari yang alami hingga yang paling mutakhir seperti bayi tabung.

Sayangnya, semua usaha itu seolah menemui jalan buntu. Tak ada satu pun yang berhasil.

Aku benar-benar heran.

Saat kami berdua diperiksa oleh Om Bagas—dokter kandungan kenalan Ayah sekaligus teman dekatnya, dia mengatakan bahwa kami berdua sehat secara reproduksi. Sama-sama subur, katanya. Lalu, mengapa sampai detik ini aku tak kunjung mengandung buah cintanya?

Namun, jika aku harus berbagi suami dengan perempuan lain, tentu saja aku tidak akan pernah mau. Aku sangat mencintai Mas Bilal. Bagiku, dia adalah satu-satunya. Aku tidak bisa membayangkan diriku harus berbagi kasih sayang dan perhatiannya dengan perempuan manapun.

"Iya, Qia. Kita sudah nggak punya banyak waktu lagi. Waktu yang Nenek berikan tinggal dua bulan lagi, dan rasanya itu mustahil untuk kamu hamil dalam waktu sesingkat itu." Nada bicara Mas Bilal terdengar dingin dan tanpa kompromi.

Tekanan untuk segera memiliki keturunan ini memang bersumber dari Nenek Mirna—nenek dari Mas Bilal. Beliau selalu mengatakan bahwa usianya sudah tidak lama lagi, dan satu-satunya keinginannya adalah melihat Mas Bilal memberikan cicit sebelum dia menutup mata.

Nenek Mirna bahkan mengiming-imingi Mas Bilal dengan seluruh harta warisannya jika dia berhasil memberikannya seorang cicit.

Namun, di balik iming-iming itu, terselip sebuah ancaman. Jika dalam waktu yang telah ditentukan Mas Bilal belum juga berhasil mendapatkan keturunan, seluruh harta warisannya akan jatuh ke tangan Arta—sepupu Mas Bilal, yang baru menikah sebulan lalu namun istrinya sudah mengandung. Sebuah ironi yang menyesakkan dada.

"Tapi kita 'kan bisa mencobanya lagi, Mas. Lagian ... kata Om Bagas, baik aku maupun Mas Bilal, kita berdua sama-sama sehat, sama-sama subur. Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan." Aku mencoba menenangkannya, berusaha meredakan kekhawatiran yang terpancar jelas dari wajahnya.

"Bagaimana aku bisa nggak khawatir, kalau waktu yang Nenek berikan tinggal dua bulan, Qia," ucap Bilal dengan suara gemetar. Dia lalu menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Enggak, lebih baik aku menikah lagi saja! Mungkin dengan menikah lagi, istri baruku bisa langsung hamil."

"Mas, nggak ada seorang istri pun yang mau dimadu. Begitupun denganku! Aku nggak mau dimadu! Aku nggak pernah mau membagi suamiku dengan perempuan lain!" tegasku, menolak mentah-mentah gagasan gilanya. Dadaku terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit.

"Kamu jangan egois, Qiara. Ini semua demi kebaikan kita bersama."

"Bukan kita, tapi cuma kamu, Mas!"

"Aku? Apanya yang aku?" Dia menunjuk wajahnya sendiri, tampak geram mendengar perkataanku. "Kamu 'kan tau, selama ini kita makan dari uang perusahaan Nenekku. Rumah ini, bahkan semua yang aku miliki adalah uang dari Nenekku! Kalau sampai harta warisan itu diambil alih Arta, otomatis semua yang kita punya sekarang akan menjadi miliknya! Kita akan jadi gelandangan, Qia! GELANDANGAN, tau nggak!" Dia menekankan kata itu dengan nada tinggi, seolah-olah hidup kami sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Padahal, Ayahku juga bukan orang sembarangan. Dia kaya raya, dan aku yakin dia tidak mungkin tega membiarkan anaknya hidup sengsara hanya karena aku menolak dimadu.

"Mas ikhlaskan saja warisan dari Nenek. Nanti aku akan bicara pada Ayah, aku yakin Ayah akan membantu kita. Bahkan memberikan Mas pekerjaan baru dan juga rumah baru untuk kita." Aku mencoba menawarkan solusi.

"Ayahmu?!" Mas Bilal tampak terkejut, namun kemudian dia tertawa sumbang sambil menggelengkan kepala. "Yang benar saja! Itu nggak akan mungkin, Qia! Kamu 'kan tau sendiri kalau Ayahmu dari dulu nggak pernah suka sama aku."

Memang benar, Ayah tidak pernah menyukai Mas Bilal. Bahkan dulu, akulah yang mati-matian memohon agar Ayah mau merestui pernikahan kami. Namun, aku yakin masih ada cara untuk mengubah pandangan Ayah terhadap Mas Bilal.

Aku yakin, meskipun Ayah hanyalah Ayah sambungku, tapi dia sangat menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri. Dan dia tidak mungkin tega membiarkanku hidup susah.

"Kalau Mas mau berubah, aku yakin Ayah bisa menyukai Mas." Aku mencoba memberikan harapan.

"Berubah apanya? Kamu mau aku jadi Superman?" Dia bertanya dengan nada sinis.

"Bukan jadi Superman. Maksudku, Mas harus mengubah kebiasaan buruk Mas yang hobi main judol. Dari dulu Ayah 'kan nggak suka pas tau Mas hobi main slot." Aku mencoba menjelaskan dengan sabar.

Dari awal pacaran hingga sekarang, Mas Bilal memang sudah terbiasa bermain slot. Bisa dibilang, dia sudah benar-benar kecanduan karena tidak pernah bisa lepas dari permainan haram itu.

Aku sudah sering memintanya untuk berhenti, karena menurutku itu sama saja seperti menghambur-hamburkan uang. Selain itu, judi juga haram kata Pak Haji Rhoma. Namun, bukannya mendengarkan nasihatku, dia justru marah-marah dan membentakku.

"Kalau itu aku nggak bisa." Mas Bilal menggeleng cepat, menolak permintaanku tanpa ragu.

"Apa susahnya sih, Mas, berhenti main slot? Lagian nggak ada untungnya juga. Selama ini ... aku selalu lihat Mas kalah." Aku mencoba membujuknya.

"Yang kamu lihat mungkin pas kalahnya saja, padahal aku seringnya menang. Dan kamu nggak usah mengatur masalah hobi-ku. Karena Nenekku saja nggak pernah melarang!" tegas Mas Bilal dengan mata sedikit melotot. Seperti biasa, dia paling tidak suka jika aku menasihatinya tentang hobi tidak berfaedahnya itu.

Sejak kecil, setelah ditinggal kedua orang tuanya, Nenek Mirna memang terlalu berlebihan memanjakan Mas Bilal, hingga apa pun yang dia inginkan tidak pernah dilarang, termasuk permainan haram itu.

"Sudah, nggak usah membahas hobi-ku. Begini saja ... aku akan memberikanmu waktu sebulan lagi untuk bisa hamil. Tapi kalau dalam waktu sebulan kamu nggak bisa hamil, mau nggak mau, suka maupun tidak suka ... kamu harus terima kalau aku menikah lagi! Titik!!" tegasnya, membuat mataku seketika membulat karena terkejut.

"Astaghfirullah, Mas ... Mas lebih memilih menikah lagi, ketimbang berhenti main judi? Padahal, jauh lebih baik kalau Mas bisa memperbaiki hubungan Mas dengan Ayah." Aku menggeleng tak percaya.

"Aku nggak peduli!" Mas Bilal tampak acuh. Dia langsung berbalik dan berlalu pergi meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.

Aku tercengang di sofa, tak bisa berkata apa-apa melihat reaksinya. Tubuhku bergetar hebat, hatiku terasa sangat sakit.

Kalau sampai Mas Bilal benar-benar menikah lagi dan Ayah sampai tahu, dia pasti akan memintaku untuk menceraikannya. Aku yakin itu.

Tidak! Aku tidak bisa! Aku tidak mau!

Meskipun Mas Bilal hobi main judi dan orang yang keras kepala, tapi aku sangat mencintainya. Aku benar-benar tidak bisa membiarkannya menikah lagi, juga melihatnya mencintai perempuan lain selain diriku.

Aku... Harus secepatnya mencari solusi untuk masalah ini.

***

Selamat datang dan selamat membaca...

novel ini merupakan sekuel dari novel "Terpaksa Jual Diri" Jangan lupa subscriber dan tinggalkan jejak, ya, Guys 😍 terima kasih 🫶🏻

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   98. Kepala lima

    “Itu ….” “Mau siapapun yang duluan, intinya sama saja!” potong Dylan cepat ketika melihat Qiara terdiam terlalu lama. Kebingungan jelas terpancar di wajah putrinya, membuat Dylan tak ingin menyeretnya lebih jauh ke dalam situasi yang tidak nyaman. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menurunkan tensi yang sejak tadi memanas. “Sekarang kita masuk ke rumah, kita makan malam sama-sama.” “Ih nggak mau, Lan! Aku ingin makan malam berdua saja dengan Qiara!” Bagas langsung menolak tegas, tanpa ragu sedikit pun. “Enak saja berdua, kamu pikir kamu mau berkencan dengannya? Nggak boleh!” larang Dylan, nadanya keras dan penuh penekanan. “Lebih baik aku saja yang berdua dengan Qia, Om.” Maira ikut menyela, tak mau kalah, suaranya terdengar ngotot. “Maaf, tapi Om sudah melarang sedari awal Qiara minta izin untuk makan di restoran. Mulai sekarang juga Om akan melarangnya untuk keluar dimalam hari.” Ucapan Dylan membuat Bagas terperanjat. Alisnya langsung berkerut, jelas tak terima. “Lho, ko

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   97. Dikutuk jadi batu

    [Cintaku, nanti malam setelah magrib kita pergi dinner ke restoran favoritmu, ya? Aku kangen. Nanti aku jemput.] [Qia, nanti setelah magrib aku jemput kamu, ya, kita makan malam bareng di restoran favoritmu.] Dahi Qiara langsung berkerut saat dua notifikasi itu masuk hampir bersamaan. Matanya bergantian membaca kedua pesan tersebut, jantungnya berdegup pelan oleh rasa heran yang tiba-tiba muncul. Satu pesan berasal dari Bagas, sementara satu lagi dari Maira. “Kok tumben, mereka ngajak aku makan bareng bertiga begini? Ada apa, ya, kira-kira?” gumamnya bingung. Qiara terdiam sejenak, menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Ada rasa penasaran, tapi tak disertai kecurigaan berlebihan. Tanpa banyak pertimbangan, dia pun bergerak cepat membalas kedua pesan tersebut. [Oke.] [Oke.] Ting! Belum sempat Qiara meletakkan ponselnya di atas nakas, satu notifikasi lain kembali masuk. Namun kali ini bukan dari Bagas ataupun Maira, melainkan dari sebuah nomor yang tidak ters

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   96. Bersekongkol

    Bilal mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya tampak lelah, redup, seolah semua penjelasan ini bukan baru pertama kali dia ucapkan—bahkan mungkin sudah terlalu sering dia ulangi di dalam kepalanya sendiri. Ada gurat putus asa yang sulit disembunyikan. “Nenek ini, kan sudah kujelaskan, kalau sedari awal aku nggak ada niatan untuk selingkuh. Kalau dari awal sudah niat ... aku juga bisa cari yang lebih dari Qiara.” Suaranya terdengar datar, namun sarat tekanan. Seolah kalimat itu adalah pembelaan terakhir yang masih dia pegang. “Terus bagaimana sekarang?” Mirna menyela cepat, tak memberi ruang sedikit pun pada kelelahan Bilal. “Kenapa Qiara akhirnya nggak percaya sama penjelasanmu?” Bilal menghela napas panjang, napas yang terasa berat keluar dari dadanya. Bahunya merosot, tubuhnya tampak kehilangan tenaga. “Nggak tau, aku bingung mau bagaimana.” Nada suaranya terdengar putus asa, nyaris menyerah. “Memang apa yang kamu jelaskan sama dia?” Mirna menatapnya tajam, sorot matanya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   95. Memang bodoh

    “Waktu itu Pak Bilal pernah mau memecat Bibi, Bu, tanpa alasan,” jawab Bibi pelan. Suaranya terdengar ragu, seolah masih menyimpan rasa bersalah yang belum benar-benar reda. Kedua tangannya saling meremas di depan perut. “Terus Bibi cerita sama Nona Qiara, dan dia berniat membantu Bibi supaya nggak jadi dipecat.”Bibi menunduk, matanya berkaca-kaca. “Lalu akhirnya Pak Bilal nggak jadi pecat Bibi dan nggak jadi terima pembantu baru untuk menggantikan Bibi.”“Oh begitu.” Mirna mengangguk kecil.Dari penjelasan itu, Mirna merasa tak ada benang merah yang kuat dengan perceraian cucunya. Nalarnya berkata bahwa masalah rumah tangga Qiara dan Bilal jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pembantu. Bibi jelas hanya berprasangka, menimpakan kesalahan pada dirinya sendiri, padahal bukan di sana sumber retaknya pernikahan itu.“Bibi minta maaf, Bu,” suara Bibi bergetar, air matanya akhirnya jatuh. “Gara-gara Bibi, hubungan Nona Qiara dan Pak Bilal jadi seperti ini. Semenjak masalah itu juga, No

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   94. Surat gugatan

    Tubuh Maira seolah kehilangan penopang. Lututnya melemas, dan sebelum sempat menahan diri, tubuhnya ambruk ke lantai dengan bunyi pelan namun menyakitkan. Telapak tangannya refleks menopang lantai yang terasa dingin, sementara dadanya sesak—seperti diremas kuat-kuat oleh sesuatu yang tak terlihat.“Ah—” napasnya tersendat.Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata akhirnya luruh. Satu tetes, lalu dua, hingga tak terbendung lagi. Bahunya terguncang hebat, isakannya pecah memenuhi ruang keluarga yang kini terasa terlalu luas, terlalu hening, dan terlalu asing baginya.“Kenapa .…” suaranya bergetar hebat. “Kenapa Papi sampai tega berpikir seperti itu padaku? Kenapa Papi ingin aku mati? Kenapa?”Maira mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, basah, dan penuh kebingungan. Tatapannya tertuju pada Bagas—pria yang selama ini dia panggil Papi, namun saat ini terasa seperti orang asing. Wajahnya dia kenal, suaranya dia hafal, tetapi hatinya… sama sekali tak pernah bisa dia pahami.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   93. Lebih baik mati

    "Pi, Papi sudah pulang?" Maira yang sejak tadi duduk di kursi teras dengan perasaan tak menentu langsung berdiri begitu melihat Bagas memasuki halaman rumah. Pria itu baru saja pulang sehabis nge-gym. Tubuhnya tampak segar, kaus hitam yang melekat di badannya mempertegas postur tegap yang masih terjaga. Rambutnya terlihat masih basah, beberapa helai jatuh ke kening, sementara ransel hitam digendong begitu saja di punggungnya. Namun alih-alih menoleh atau menyapa, Bagas justru melangkah lurus melewati Maira begitu saja masuk ke dalam rumah. Wajahnya datar, dingin—seolah anak perempuannya itu tidak ada di sana. Ada rasa perih yang langsung menyelinap di dada Maira, meskipun hal seperti ini sudah sering dia alami. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari kecil mengejar, lalu meraih lengan Bagas hingga langkah pria itu terhenti. “Pi, aku ingin kita ngobrol sebentar.” “Papi mau mandi.” Bagas menepis tangan Maira dengan cepat. Suaranya singkat dan tegas, seolah tidak ingin memberi ruang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status