LOGIN"Ja-jangan, Om!"
Aku langsung memeluk tubuhnya erat, menahannya saat dia hendak menarik diri dari atas tubuhku. Aku tidak ingin dia marah padaku, aku tidak ingin dia mengakhiri permainan ini. Jika dia beneran marah dan tidak jadi meneruskan aktivitas ini, otomatis aku tidak bisa hamil. Impianku untuk mewujudkan keinginan suamiku akan sirna begitu saja. "Kalau begitu jawab jujur, tapi berikan jawaban yang membuat Om senang." Tatapannya tajam menusuk, seolah bisa membaca setiap pikiran dan perasaanku. Aku tahu, aku tidak bisa berbohong padanya. "Lebih enak bercinta dengan Om!" Jawabku sedikit lantang, berusaha meyakinkan. "Serius?" Dia menatapku penuh selidik, tampak belum sepenuhnya yakin dengan jawabanku. "Iya, serius, Om." Aku mengangguk cepat, dengan wajah memelas. "Kalau begitu, cium bibir Om sekarang juga." Tanpa menjawab, aku menurut untuk mencium bibirnya. Wajah Om Bagas langsung berseri, dia tersenyum senang. "Baiklah... Ayok kita teruskan permainan ini! Om akan membuatmu terus merintih keenakan!" Om Bagas kembali melakukan penyatuan, dan sekali hentakkan membuatku melayang ke angkasa. Sensasi nikmat itu kembali menyerbu, kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku mencengkeram bahunya erat dan menutup bibirku, mencoba menahan diri agar tidak kehilangan kendali. "Lepaskan saja, Sayang... Om mau mendengar suara desahanmu." Om Bagas segera menarik tanganku, hingga membuat suara itu meluncur dibibirku. "Aahh ...." * * * Aku membuka mata dengan sentakan kecil, terkejut mendapati diri terlelap begitu lama. Biasanya, jangankan berkali-kali, satu kali orgasme saja sudah merupakan keberuntungan langka untukku. Karena biasanya Mas Bilal selalu lebih dulu mencapai puncak, meninggalkanku dengan perasaan hampa. Namun kali ini... bersama Om Bagas, kenikmatan itu datang berulang-ulang, membanjiri tubuhku hingga lemas tak berdaya. Bahkan lututku masih terasa bergetar hebat, sisa-sisa gelombang dahsyat yang baru saja berlalu. Dengan gerakan perlahan, hampir tanpa tenaga, tanganku meraih tas yang tergeletak di atas nakas. Jantungku berdebar tak karuan saat melihat jam di ponsel pukul 7 malam. Ya Allah, Mas Bilal pasti sudah pulang kerja. Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan? Tadi siang aku memang sudah pamit, ingin pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi kepada Om Bagas. Tapi jika dilihat jarak jamnya sekarang, itu sudah cukup lama dan bisa mengandung kecurigaan besar. "Kamu sudah bangun, Sayang?" Suara berat dan serak Om Bagas menyapa telingaku, sentuhannya bagai aliran listrik yang membuat bulu kudukku meremang. Tangannya melingkari pinggangku dengan posesif, menarikku mendekat hingga punggungku menempel di dadanya yang bidang. Bibirnya mengecup lembut ceruk leherku, meninggalkan sensasi hangat yang menggelitik. "Kamu tadi liar juga, ya? Om sampai nggak percaya," bisiknya takjub, napasnya menerpa kulitku. Matanya berbinar penuh nafsu. Liar katanya? Apanya coba yang liar. "Om juga nggak kalah liar," jawabku lirih, berusaha menyembunyikan kepanikan yang mulai melanda. Aku mencoba tersenyum, namun bibirku terasa kaku. "Terima kasih sudah membantuku, Om. Aku sangat berharap bisa segera hamil." Tanganku bergerak tanpa sadar, mengelus perutku dengan gerakan lembut dan penuh harap. "Sama-sama, Sayang," balas Om Bagas lembut, namun ada nada posesif yang tersirat dalam suaranya. Aku mencoba bangkit dari tempat tidur, namun dia menahanku dengan erat. "Mau ke mana? Apa kamu ingin ronde berikutnya? Bagaimana kalau kali ini kamu yang memegang kendali? Kamu yang di atas?" tanyanya dengan nada menggoda, menarik selimut yang menutupi tubuhku. Aku menahannya dengan sekuat tenaga. "Bukan begitu, Om. Aku harus pulang." "Pulang? Tapi Om sudah memesan kamar ini untuk semalam, Sayang." Dia mengelus pipiku dengan ibu jarinya, tatapannya memohon. "Maaf, Om, tapi suamiku pasti sudah pulang kerja dari tadi. Dia pasti sekarang sedang menungguku di rumah," ujarku dengan nada memohon. Lagipula, aku memang tidak berniat untuk menginap dengannya. Niatku hanya satu, mendapatkan benih darinya. Jadi, setelah bercinta, aku harus segera pulang. Hanya itu tujuanku. "Apa suamimu menghubungimu? Apa dia bertanya kamu ada di mana?" tanya Om Bagas, menyelidik. "Belum sih, tapi mungkin sebentar lagi dia ...." Kalimatku terhenti saat ponselku tiba-tiba berdering nyaring. Jantungku mencelos ke dasar perut. Mataku membulat ngeri saat melihat nama Mas Bilal tertera di layar. "Tuh kan, Om! Suamiku menelepon! Dia pasti curiga karena aku terlalu lama izin bertemu dengan Om!" seruku panik, suaraku bergetar tak terkendali. Aku membayangkan wajah Mas Bilal yang murka, amarahnya yang meledak-ledak. Jika sampai dia tahu apa yang telah kulakukan di belakangnya... Pasti, tanpa ampun, dia akan menjatuhkan talak padaku saat itu juga. Itu adalah mimpi buruk terbesarku. "Angkat dulu teleponnya, Sayang. Tenang, jangan panik," saran Om Bagas dengan nada lembut yang kontras dengan kekalutanku. Tangannya bergerak mengusap rambutku, mencoba menenangkanku. Berbeda denganku yang sudah seperti kebakaran jenggot, dia justru bersikap tenang, bahkan menyunggingkan senyum manis yang membuatku sedikit kesal. "Tapi Om diam dulu, ya? Jangan bicara apa pun. Biar aku sendiri yang mencari alasan," jawabku memperingatkan, khawatir dia akan keceplosan sesuatu yang membuat Mas Bilal curiga. "Oke, Sayang!" Dia menyahut dengan nada riang, lalu dengan santainya mencium bibirku sekilas. Ya ampun, dia ini! Padahal urusan kami sudah selesai, tapi masih saja berani menciumku seenaknya. "Halo, Mas ....," ucapku dengan suara bergetar, berusaha menahan rasa panik yang bergejolak di dada. Bersambung....“Bukan.” Dylan menggeleng. “Kata Maira sih tadi ada dari temennya, dari sesama Dokter di sini, para perawat, suster, bahkan satpam segala.”Aku menoleh lagi ke arah tumpukan buket bunga dan parsel buah yang memenuhi meja nakas hingga ke lantai.Berlebihan sekali mereka ini, sampai kompak memberikanku bunga dan buah segala. Padahal setelah kantong infusanku habis aku akan langsung pulang, lalu mengajak Qiara kencan lagi.Aku kembali menatap Dylan.“Yang dari Qiara nggak ada?” tanyaku, karena menurutku hanya Qiara yang paling penting untukku.Dylan mendengus pelan, lalu menunjuk ke arah tempat sampah kecil di samping ranjang, di mana cup plastik bekas minuman yang tadi kuminum masih tergeletak di dalamnya.“Kan air kelapa muda, yang tadi kamu minum.”Aku mengangguk pelan, meski sedikit merasa kurang puas.“Kirain dia juga sambil nitipin buket bunga dari toko Bundanya.”Dylan langsung memutar bola matanya dengan kesal, lalu menatapku tajam.“Udah dikasih hati minta jantung kamu, Gas! Buk
(POV Bagas)Kesadaranku perlahan kembali bersama rasa ringan di kepala. Entah sejak kapan aku tertidur, tapi saat kedua mata ini terbuka, yang pertama kali kulihat adalah langit-langit putih khas ruang rumah sakit. Bau obat-obatan samar tercium di hidungku.Aku berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatan.Saat akhirnya benar-benar sadar, aku mendapati diriku berada di ruang perawatan. Selang infus terpasang di punggung tanganku, cairannya menetes perlahan dari kantong yang tergantung di tiang besi di samping tempat tidur.Mataku langsung berkeliling, mencari-cari keberadaan kesayanganku. Sosok yang ingin kulihat begitu membuka mata. Namun yang justru kutemukan adalah Dylan.Dia duduk santai di sofa yang berada tidak jauh dari ranjangku, tubuhnya sedikit membungkuk dengan ponsel di tangan. Ibu jarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang membalas pesan atau membaca sesuatu dengan serius.Selain itu, ada hal lain yang membuatku sedikit heran.Di atas meja nakas, meja depa
"Maira??"Aku benar-benar terkejut melihatnya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tampak dingin seperti biasa—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui ayahnya dirawat karena muntaber.Padahal baru beberapa menit lalu aku mencoba menghubunginya berkali-kali dan tidak tersambung, dan sekarang dia sudah berada di depan mata."Kamu tau dari siapa kalau—""Sekarang kamu pulang saja, biar Papi aku yang temani."Dia langsung menyela ucapanku. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi.Tanpa menatapku lebih dari dua detik, dia melangkah masuk dengan sepatu haknya yang berbunyi pelan di lantai. Tangan kanannya mendorong sebuah koper berukuran sedang. Isinya mungkin pakaian ganti dan perlengkapan pribadi milik Om Bagas. Dia meletakkannya disudut ruangan."Aku pulangnya nanti saja, setelah Om Bagas bangun, Mai." Aku mencoba bicara selembut mungkin.Maira menoleh cepat. Sorot matanya tajam. "Jangan egois deh, Qia. Aku bilang pulang sekarang ya, sekarang!"
"Sekarang Om Bagas lagi diperiksa, tapi aku sih yakin penyebab dia seperti itu karena habis makan rujak, Ayah." "Mana mungkin Om Bagas makan rujak." Ayah tampaknya tidak percaya. Aku menghela napas pelan. "Aku juga awalnya nggak percaya." "Setau Ayah dia itu nggak suka buah-buahan yang asem, dia juga nggak suka pedes." "Setauku juga begitu. Tapi katanya Om Bagas lagi ngidam, makanya tiba-tiba dia kepengen makan rujak. Padahal sih rujaknya nggak pedes manurutku." "Aneh, masa dia ngidam? Kan kamu yang hamil. Bukan dia." Aku terdiam sesaat. Tanganku tanpa sadar menyentuh perut buncitku. "Katanya calon ayah juga bisa ngidam, Ayah. Itu namanya Couvade Syndrome." Ayah mendengus kecil di seberang sana. "Tapi 'kan kamu hamil anaknya si Bilal, bukan anaknya Bagas." Kalimat itu terasa menusukku. "Iya sih," jawabku pelan. "Ah paling itu akal-akalan Om Bagas saja. Aslinya dia nggak kenapa-kenapa. Sekarang kamu pulang, ya? Nanti sopirnya Bunda jemput kamu." Aku menoleh ke arah pintu rua
Pintu bergetar keras, tapi belum terbuka. Dadaku ikut bergetar setiap kali bahu satpam itu menghantam kayu di depannya.Sekali lagi."Satu… dua…"BRAK!!Engselnya mulai longgar. Kayu retak di bagian sisi, serpihannya jatuh ke lantai.Aku menutup mulutku menahan isak yang hampir lolos."Tolong… cepat ,…" bisikku lirih, hampir tak terdengar.Untuk ketiga kalinya mereka menghantamkan bahu ke pintu.BRAAAK!Pintu akhirnya terbuka paksa dengan suara keras yang memantul ke seluruh ruangan, menggema sampai ke dinding keramik.Dan pemandangan di dalamnya membuat mataku membulat.Seorang pria tengkurap tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.Tapi bukan Om Bagas.Tubuh pria itu lebih kurus. Bahunya lebih kecil. Rambutnya pun berbeda. Meski wajahnya belum terlihat karena masih menghadap lantai, aku tahu—itu bukan dia.Jantungku yang tadi hampir berhenti kini justru berdetak semakin kacau.Lalu… di mana Om Bagas?"Astaghfirullah .…" Satpam langsung berjongkok mendekat ke arah pria itu. Dengan ha
Keramaian restoran yang tadi terasa biasa saja kini seperti mendesak telingaku. Suara sendok beradu dengan piring, tawa pengunjung lain, bunyi blender dari dapur—semuanya terasa terlalu keras, terlalu riuh.Seolah dunia tetap berjalan normal, sementara hatiku mulai tidak normal.Aku menggenggam tas di pangkuanku erat-erat.Perasaanku tidak enak.Jangan-jangan benar-benar sakit perut? Atau…Aku menggeleng cepat, menepis pikiran buruk yang mulai liar.Mungkin cuma antre.Tapi tiga puluh menit?Om Bagas bukan tipe orang yang lama di toilet. Bahkan untuk sekadar cuci tangan pun dia selalu cepat.Aku tak tahan lagi.Akhirnya aku berdiri perlahan, meraih ponselku, lalu berjalan menuju arah toilet yang tadi dia masuki. Langkahku terasa menggema pelan di lantai keramik.Di depan pintu toilet pria, aku berhenti.Pintu tertutup. Tidak ada suara.Tidak ada langkah kaki.Tidak ada bunyi air mengalir.Sunyi.Tanganku terangkat hendak mengetuk, tapi langsung ragu. Beberapa pria keluar masuk, menata







