Share

4. Bibirmu manis

Penulis: Rossy Dildara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 21:06:27

Ceklek~

Pintu kamar mandi perlahan terbuka, menampilkan sosok Om Bagas yang keluar dengan balutan handuk kimono hotel. Aku refleks menelan ludah dan terkesima sesaat.

Selama ini, aku hanya melihatnya sebagai pria tampan yang ramah. Namun, pemandangan di depanku ini membuka dimensi baru—seksualitas yang tak terduga.

Dia begitu seksi!

Sinar matahari siang yang masuk melalui jendela kamar hotel menerpa tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk ototnya yang terlatih.

"Maaf menunggu lama, soalnya tadi Om mandi pakai banyak sabun biar wangi," ucapnya lembut, langkahnya mendekatiku. Aroma sabun yang kuat dan segar menyeruak, memenuhi indra penciumanku. Bukan pusing yang kurasa, melainkan desiran aneh yang membangkitkan gairah.

"Nggak lama kok, Om. Santai saja," jawabku, berusaha menyembunyikan kegugupan. "Oh ya... tadi hape Om bunyi. Ada yang telepon, namanya Karin," kataku sambil menunjuk ponselnya di atas nakas. Nada bicaraku sedikit khawatir, takut ada urusan penting.

"Karin?" Om Bagas mengulang nama itu dengan dahi berkerut. Dia segera meraih ponselnya, matanya menelisik layar.

"Apa Karin adalah pacar, Om? Maaf ... aku nggak tau Om sudah punya pacar. Tapi bisa-bisa pacar Om marah kalau sampai tau Om dan aku check in di hotel."

Rasa bersalah seketika menghantamku. Jika itu benar, pupus sudah harapanku.

"Dia bukan pacar Om kok, cuma teman doang," jawab Om Bagas santai. Dia meletakkan kembali ponselnya dan duduk di sampingku. Sentuhan lembut terasa di kedua lenganku, lalu satu tangannya beralih menyentuh daguku. "Sudah siap belum? Bisa kita lakukan sekarang?"

Aku mengangguk cepat, kelegaan membanjiri hatiku mendengar jawabannya. "Bisa, Om."

Cup!

Tanpa aba-aba, bibir Om Bagas menyambar bibirku. Ciuman itu begitu mengejutkan, terlalu tiba-tiba, membuatku tersentak dan langsung menolak, melepaskan kontak bibir kita. Napasku terhenti sejenak.

"Lho, kenapa?" tanya Om Bagas, dahinya berkerut menatapku bingung.

"Ma-maaf, Om, tadi terlalu tiba-tiba ... aku kaget jadinya," jawabku. Suaraku terdengar gugup dan terbata-bata, detak jantungku kembali berpacu cepat.

Om Bagas terkekeh pelan, lalu dia menyentuh pipi kananku dengan lembut dan sedikit mengelusnya. "Kamu ini seperti ABG yang baru dicium laki-laki saja, ya? Bisa-bisanya sampai kaget begitu."

Aku tersenyum kikuk, pipiku panas seperti terbakar, bingung harus menjawab apa.

Dia lalu menarikku lebih dekat dengan lengannya yang kuat, hingga tidak ada jarak sedikit pun di antara tubuh kami. Kembali, dia mendekatkan wajahnya, dan kali ini bibirnya menyentuh bibirku dengan lebih perlahan.

Tak lama, ciuman itu terasa semakin dalam dan panas, napas kami saling bersilang. Hingga akhirnya aku merasa kehabisan napas, dan kami berdua terengah-engah saat melepaskan tautan bibir.

Mata Om Bagas menatapku dengan tatapan yang penuh hasrat yang memabukkankan.

"Hari ini kamu cantik sekali, Sayang ... Bibirmu juga manis," bisiknya dengan suara yang serak, napasnya hangat menyentuh telingaku, membuat bulu kudukku meremang sepenuhnya.

Dengan gerakan perlahan, tangannya mulai membuka kancing kemejaku satu per satu. Setiap bunyi kancing yang terbuka membuat jantungku berdegup semakin kencang.

"Cantik."

Om Bagas menatap dadaku dengan tatapan memuja, tapi itu justru membuatku semakin malu hingga tak berani menatapnya.

Aku dapat merasakan wajah Om Bagas mulai mendekat ke dadaku, napasnya hangat menyentuh kulitku, lalu dia mengecup lembut kedua gunung kembarku bergantian, membuat getaran gairah merambat ke seluruh tubuh.

"Mmmhhh ...," Aku mengigit bibir dengan kuat, mencoba menahan diri agar tidak mendesah.

Tanpa ragu, dia mengangkat tubuhku dan membaringkanku. Saat dia memasuki tubuhku perlahan-lahan, lalu mulai menggerakkan tubuhnya dengan irama yang pas, aku merasakan sesuatu yang tak biasa—kenikmatan yang mendalam, sesuatu yang biasanya tidak bisa kudapatkan semudah ini.

Getaran kegembiraan meluap, aku merasa seolah ingin keluar dari diriku sendiri. Namun, tiba-tiba dia menghentikan semua aktivitasnya begitu saja. Ah, sayang sekali. Rasa yang sudah bangkit tiba-tiba terhenti, membuatku merasa kosong.

"Ke-napa berhenti, Om?" tanyaku bingung sambil mengatur napas.

"Kenapa kamu sejak tadi diam saja?"

"Memangnya aku harus gimana?" Aku berbalik tanya, mataku bingung menghadapi pertanyaannya yang tiba-tiba.

"Kamu seperti nggak menikmati," jawab Om Bagas, wajahnya seketika cemberut. Garis-garis di dahinya terlihat jelas. Baru kali ini aku melihat wajahnya seperti itu. Selama ini, aku selalu berpikir Om Bagas tidak bisa cemberut, selalu tenang dan santai. "Meskipun kamu melakukan ini dengan Om secara terpaksa, tapi kalau kamu nggak menikmatinya ... bagaimana bisa Om menghamilimu? Dan katanya kamu ganas di ranjang, berarti itu bohong, ya?" Perlahan-lahan, dia melepaskan miliknya dari milikku—gerakannya lembut, tapi membuatku merasa kehilangan sesuatu yang penting.

Padahal kami sudah sepakat. Masa hanya karena aku tidak bersuara, semuanya jadi gagal? Lagian, siapa juga yang tidak menikmati? Sejak tadi aku menikmati setiap sentuhan, setiap gerakan—hanya saja aku terlalu malu untuk menunjukkan itu secara terang-terangan.

"Aku menikmatinya kok, Om," jawabku dengan cepat, menganggukkan kepala dengan tegas.

"Jangan bohong."

"Aku serius."

"Jadi kamu mau melanjutkan, atau bagaimana?"

"Tentu saja, Om," jawabku dengan nada memohon. Suaraku terdengar serak dan bergetar, napasku masih terengah-engah. Bahkan mataku sudah berkaca-kaca, menahan gejolak emosi dan gairah yang semakin membuncah di dalam dada.

Aku benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Hanya satu keinginan yang memenuhi pikiranku—agar kita bisa melanjutkan apa yang sudah dimulai.

"Baiklah, kita lanjutkan. Tapi sebelum itu ...." Jemarinya perlahan mengusap perutku, membuatku sedikit geli sekaligus merinding. Sentuhan itu membangkitkan sensasi aneh yang membuatku semakin menginginkannya. "Jawab jujur dulu, lebih enak mana, bercinta dengan Om atau dengan suamimu, Sayang?"

Pertanyaan itu bagai petir yang menyambar di siang bolong.

Aku menelan ludah, lidahku mendadak kelu. Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku jujur, ini berarti sama saja melecehkan harga diri suamiku.

Memang kuakui, sejujurnya dari lubuk hatiku yang terdalam, rasanya jauh lebih-lebih nikmat. Sentuhan Om Bagas membangkitkan sisi diriku yang selama ini terpendam, sisi liar dan penuh gairah yang tak pernah kutemukan dalam pernikahan.

Namun, perlukah aku untuk mengungkapkannya?

"Kenapa diam? Kalau kamu nggak mau jawab, kita sudahi saja permainan ini." Kembali, dia memasang wajah cemberut. Nada bicaranya pun terdengar dingin dan tegas.

Kenapa tiba-tiba dia menjadi menyebalkan begini sih? Seumur-umur aku mengenalnya, aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Dia selalu ceria dan penuh canda tawa. Baru kali ini saja aku melihat sisi lain dari dirinya.

Bersambung.....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   98. Kepala lima

    “Itu ….” “Mau siapapun yang duluan, intinya sama saja!” potong Dylan cepat ketika melihat Qiara terdiam terlalu lama. Kebingungan jelas terpancar di wajah putrinya, membuat Dylan tak ingin menyeretnya lebih jauh ke dalam situasi yang tidak nyaman. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menurunkan tensi yang sejak tadi memanas. “Sekarang kita masuk ke rumah, kita makan malam sama-sama.” “Ih nggak mau, Lan! Aku ingin makan malam berdua saja dengan Qiara!” Bagas langsung menolak tegas, tanpa ragu sedikit pun. “Enak saja berdua, kamu pikir kamu mau berkencan dengannya? Nggak boleh!” larang Dylan, nadanya keras dan penuh penekanan. “Lebih baik aku saja yang berdua dengan Qia, Om.” Maira ikut menyela, tak mau kalah, suaranya terdengar ngotot. “Maaf, tapi Om sudah melarang sedari awal Qiara minta izin untuk makan di restoran. Mulai sekarang juga Om akan melarangnya untuk keluar dimalam hari.” Ucapan Dylan membuat Bagas terperanjat. Alisnya langsung berkerut, jelas tak terima. “Lho, ko

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   97. Dikutuk jadi batu

    [Cintaku, nanti malam setelah magrib kita pergi dinner ke restoran favoritmu, ya? Aku kangen. Nanti aku jemput.] [Qia, nanti setelah magrib aku jemput kamu, ya, kita makan malam bareng di restoran favoritmu.] Dahi Qiara langsung berkerut saat dua notifikasi itu masuk hampir bersamaan. Matanya bergantian membaca kedua pesan tersebut, jantungnya berdegup pelan oleh rasa heran yang tiba-tiba muncul. Satu pesan berasal dari Bagas, sementara satu lagi dari Maira. “Kok tumben, mereka ngajak aku makan bareng bertiga begini? Ada apa, ya, kira-kira?” gumamnya bingung. Qiara terdiam sejenak, menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Ada rasa penasaran, tapi tak disertai kecurigaan berlebihan. Tanpa banyak pertimbangan, dia pun bergerak cepat membalas kedua pesan tersebut. [Oke.] [Oke.] Ting! Belum sempat Qiara meletakkan ponselnya di atas nakas, satu notifikasi lain kembali masuk. Namun kali ini bukan dari Bagas ataupun Maira, melainkan dari sebuah nomor yang tidak ters

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   96. Bersekongkol

    Bilal mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya tampak lelah, redup, seolah semua penjelasan ini bukan baru pertama kali dia ucapkan—bahkan mungkin sudah terlalu sering dia ulangi di dalam kepalanya sendiri. Ada gurat putus asa yang sulit disembunyikan. “Nenek ini, kan sudah kujelaskan, kalau sedari awal aku nggak ada niatan untuk selingkuh. Kalau dari awal sudah niat ... aku juga bisa cari yang lebih dari Qiara.” Suaranya terdengar datar, namun sarat tekanan. Seolah kalimat itu adalah pembelaan terakhir yang masih dia pegang. “Terus bagaimana sekarang?” Mirna menyela cepat, tak memberi ruang sedikit pun pada kelelahan Bilal. “Kenapa Qiara akhirnya nggak percaya sama penjelasanmu?” Bilal menghela napas panjang, napas yang terasa berat keluar dari dadanya. Bahunya merosot, tubuhnya tampak kehilangan tenaga. “Nggak tau, aku bingung mau bagaimana.” Nada suaranya terdengar putus asa, nyaris menyerah. “Memang apa yang kamu jelaskan sama dia?” Mirna menatapnya tajam, sorot matanya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   95. Memang bodoh

    “Waktu itu Pak Bilal pernah mau memecat Bibi, Bu, tanpa alasan,” jawab Bibi pelan. Suaranya terdengar ragu, seolah masih menyimpan rasa bersalah yang belum benar-benar reda. Kedua tangannya saling meremas di depan perut. “Terus Bibi cerita sama Nona Qiara, dan dia berniat membantu Bibi supaya nggak jadi dipecat.”Bibi menunduk, matanya berkaca-kaca. “Lalu akhirnya Pak Bilal nggak jadi pecat Bibi dan nggak jadi terima pembantu baru untuk menggantikan Bibi.”“Oh begitu.” Mirna mengangguk kecil.Dari penjelasan itu, Mirna merasa tak ada benang merah yang kuat dengan perceraian cucunya. Nalarnya berkata bahwa masalah rumah tangga Qiara dan Bilal jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pembantu. Bibi jelas hanya berprasangka, menimpakan kesalahan pada dirinya sendiri, padahal bukan di sana sumber retaknya pernikahan itu.“Bibi minta maaf, Bu,” suara Bibi bergetar, air matanya akhirnya jatuh. “Gara-gara Bibi, hubungan Nona Qiara dan Pak Bilal jadi seperti ini. Semenjak masalah itu juga, No

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   94. Surat gugatan

    Tubuh Maira seolah kehilangan penopang. Lututnya melemas, dan sebelum sempat menahan diri, tubuhnya ambruk ke lantai dengan bunyi pelan namun menyakitkan. Telapak tangannya refleks menopang lantai yang terasa dingin, sementara dadanya sesak—seperti diremas kuat-kuat oleh sesuatu yang tak terlihat.“Ah—” napasnya tersendat.Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata akhirnya luruh. Satu tetes, lalu dua, hingga tak terbendung lagi. Bahunya terguncang hebat, isakannya pecah memenuhi ruang keluarga yang kini terasa terlalu luas, terlalu hening, dan terlalu asing baginya.“Kenapa .…” suaranya bergetar hebat. “Kenapa Papi sampai tega berpikir seperti itu padaku? Kenapa Papi ingin aku mati? Kenapa?”Maira mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, basah, dan penuh kebingungan. Tatapannya tertuju pada Bagas—pria yang selama ini dia panggil Papi, namun saat ini terasa seperti orang asing. Wajahnya dia kenal, suaranya dia hafal, tetapi hatinya… sama sekali tak pernah bisa dia pahami.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   93. Lebih baik mati

    "Pi, Papi sudah pulang?" Maira yang sejak tadi duduk di kursi teras dengan perasaan tak menentu langsung berdiri begitu melihat Bagas memasuki halaman rumah. Pria itu baru saja pulang sehabis nge-gym. Tubuhnya tampak segar, kaus hitam yang melekat di badannya mempertegas postur tegap yang masih terjaga. Rambutnya terlihat masih basah, beberapa helai jatuh ke kening, sementara ransel hitam digendong begitu saja di punggungnya. Namun alih-alih menoleh atau menyapa, Bagas justru melangkah lurus melewati Maira begitu saja masuk ke dalam rumah. Wajahnya datar, dingin—seolah anak perempuannya itu tidak ada di sana. Ada rasa perih yang langsung menyelinap di dada Maira, meskipun hal seperti ini sudah sering dia alami. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari kecil mengejar, lalu meraih lengan Bagas hingga langkah pria itu terhenti. “Pi, aku ingin kita ngobrol sebentar.” “Papi mau mandi.” Bagas menepis tangan Maira dengan cepat. Suaranya singkat dan tegas, seolah tidak ingin memberi ruang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status