LOGIN"Hari ini aku lembur sampai pagi, jadi kamu nggak usah menungguku pulang."
Suara Mas Bilal dari telepon terasa dingin dan singkat, seolah tidak ada waktu untuk berbicara lebih lama. Apakah dia masih marah padaku, karena aku menasehatinya untuk berhenti main judi? "Lembur sampai pagi?!" ulangku dengan dahi yang berkerut rapat, mataku memandang layar ponsel yang sudah mati seolah tidak percaya. Merasa heran sekali. "Kok tumben lembur segala, sampai pagi lagi, Mas?" Rasanya memang aneh, seperti ada yang tidak pas. Selama bekerja jadi CEO, Mas Bilal tidak pernah lembur—bahkan dia lebih sering bolos tak masuk kerja dan memilih nongkrong dengan teman-temannya di cafe untuk bermain judi. "Iya, lagi banyak kerjaan dan nggak bisa ditunda sampai besok. Sudah dulu, ya, aku tutup teleponnya." "Tapi, Mas, aku—" Padahal aku belum selesai bicara, tapi bunyi "klik" dari telepon menandakan dia sudah mematikkannya. Aku menghela napas panjang, dada terasa sesak. Ada bagusnya sebenarnya dia mengatakan lembur. Ini berarti aku tak perlu pusing mencari alasan karena pulang lama dari menemui Om Bagas. Tapi, rasanya masih aneh karena tiba-tiba dia jadi giat bekerja. "Suamimu lembur, ya? Nggak pulang dia malam ini?" tanya Om Bagas. Tampaknya dia mendengar seluruh percakapanku dan Mas Bilal tadi. "Iya, Om." Aku mengangguk lesu, bahuku terkulai. Lalu meletakkan kembali ponselku di nakas. "Kok tumben dia lembur? Itu lembur karena pekerjaan ... apa jangan-jangan ada hal lain?" Om Bagas memicingkan mata, tatapannya tampak curiga. "Maksudnya?" Aku tak mengerti maksudnya, sebelah alisku terangkat. "Ya rasanya aneh nggak sih, Sayang, kalau orang yang males kerja tiba-tiba rajin apalagi sampai lembur? Bisa saja ada sesuatu yang disembunyikan suamimu." Akupun berpikir begitu sebenarnya. Tapi tentu saja berburuk sangka apalagi pada suami sendiri tidaklah baik, seolah aku sedang menusuk hatiku sendiri. "Om ini bicara apa. Apa juga yang disembunyikan dari Mas Bilal? Nggak mungkin ada." Aku mengelak, menggelengkan kepala dengan gerakan yang lemah, mataku menghindari tatapan dia. "Bisa saja suamimu selingkuh. Dia lembur karena ingin tidur dengan selingkuhannya." Mataku membulat sempurna, terkejut dengan ucapan Om Bagas yang menurutku tidak pantas sama sekali. Bisa-bisanya dia memfitnah tanpa bukti apapun. Aku sendiri yakin Mas Bilal pria yang setia. "Justru akulah sekarang yang sedang selingkuh, bukan suamiku, Om." Om Bagas tiba-tiba menyentuh daguku. Tangannya terasa hangat namun membuatku sedikit tersentak. "Oh, jadi kamu mau Om jadi selingkuhanmu? Boleh saja, Om nggak keberatan kok." "Bukan begitu." Aku menggeleng cepat. sepertinya aku salah bicara. "Maksudku, sekarang aku secara nggak langsung sedang berselingkuh, karena 'kan kita habis bercinta." Perlahan aku berusaha beranjak dari tempat tidur, berniat mengakhiri percakapan ini. Tapi tangan Om Bagas menahanku dengan kuat—lengannya yang berotot itu melilit pinggangku sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali. "Mau ke mana? Suamimu 'kan lembur, jadi kamu nggak usah pulang. Menginap saja malam ini bersama Om." "Enggak, Om. Aku mau pulang saja," tolakku dengan gelengan kepala yang tegas. Tidak mungkin aku menginap dengannya, untuk apa juga. Urusanku dengannya sudah selesai. "Ngapain pulang sih?" Suaranya melembut. Tampaknya dia ingin merayuku untuk tetap di sini bersamanya. "Kita menginap saja berdua di sini, sayang lho Om sudah pesan untuk semalam. Mau, ya?" "Maaf, Om. Meskipun Mas Bilal nggak pulang... tapi bukan berarti aku juga ikut nggak pulang. Kalau sampai Mas Bilal tau 'kan bisa berabe." "Ya jangan sampai suamimu tau lah, Sayang." "Memangnya Om bisa jamin? Lagian, di rumah bukan cuma ada aku dan Mas Bilal saja. Ada pembantu dan satpam penjaga, mereka berdua orang yang dibayar Mas Bilal, Om." Aku menatapnya dengan tatapan tegas, berusaha membuatnya mengerti dan tidak memaksa. Om Bagas menghela napas berat, seolah kecewa, tapi kemudian mengangguk. "Ya sudah deh, kamu boleh pulang. Tapi Om yang antar, ya? Dan sebelum itu, kita mandi dulu biar seger." Tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dengan mudah, seolah aku hanyalah benda ringan. Aku tersentak, tanganku secara otomatis menggenggam bahunya. Kulitku merasa hangat menempel di tubuhnya. "Kita mandi? Apa maksudnya?" tanyaku bingung, melihat dia yang membawaku masuk ke dalam kamar mandi yang berwarna putih dan terang. "Mandi bareng, apalagi?" jawabnya dengan senyum menggoda, matanya berbinar penuh nafsu. "Masing-masing saja, Om. Nggak usah bareng, aku malu." Aku berusaha menutupi bagian-bagian tubuhku yang polos tanpa sehelai benang, jari-jari ku menggenggam kulitku dengan kencang. Rasanya aku takut, jika nantinya dia mengajakku kembali bercinta. Ini sudah cukup, tadi saja kami melakukannya tidak hanya sekali, dan tubuhku sudah lelah sampai tidak bisa berpikir jernih. "Untuk menghemat waktu saja, Sayang." Setelah menurunkan tubuhku di bawah shower, Om Bagas tiba-tiba memberikanku kecupan bibir yang cepat namun penuh hasrat. Aku tersentak, ingin mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga—namun dia sudah lebih dulu memelukku erat, tangannya menggerayangi tubuhku dengan lembut yang membuatku meremang. Aku ingin berontak rasanya, ingin meneriakkan agar dia berhenti. Tapi tenagaku sudah banyak terkuras hari ini. Tak ada yang bisa kulakukan selain menerima apa yang dia berikan. Alhasil, benar dugaanku sebelumnya. Dia kembali mengajakku bercinta, dan gilanya meskipun aku awalnya berusaha menolak, tapi tetap akulah yang keluar duluan. Terbenam dalam gelombang kenikmatan yang tidak kusadari masih mampu kupahami, meskipun hatiku terasa penuh keraguan dan takut. *** "Terima kasih sudah mengantarkanku pulang, dan terima kasih untuk hari ini, Om," ucapku dengan, saat mobil Om Bagas berhenti tepat di depan gerbang rumah. Sebelum aku turun, tangannya tiba-tiba menahan pundakku, dan dia kembali menciumku. Mali ini bukan bibir melainkan hanya kening. Aentuhan yang singkat, tapi tetap membuatku terasa kesal. Bagaimana kalau sampai dilihat oleh pembantu atau satpam? Tamat sudah riwayatku. "Sama-sama, Sayang. Kalau kamu kesepian dan nggak bisa tidur, kamu telepon Om saja, ya? Biar nanti Om menjemputmu dan kita kembali ke hotel," jawabnya pelan sambil mengedipkan sebelah matanya, mata itu penuh isyarat yang membuatku menggigil sedikit. Itu sih mau dia. "Ya sudah, Om. Om hati-hati dijalan," kataku sambil mencoba tersenyum, meskipun bibirku terasa kaku. Om Bagas baru saja membelok mobilnya, mesin mulai menyala—tapi tiba-tiba dia menginjak rem dengan cepat. Sebuah mobil hitam yang aku hafal betul muncul dari sudut jalan, berhenti tepat di depan gerbang. Itu mobil milik Ayah. Tumben Ayah datang kemari malam-malam begini? Tanpa mengabariku dulu lagi. Ada apa kira-kira? Jantungku seolah berhenti sejenak, lalu berdebar lebih kencang lagi. Tapi semoga saja Ayah tidak berpikir yang tidak-tidak karena melihat Om Bagas ada di sini. Bersambung...Hati Laura bagai teriris melihat sang cucu, Kai, yang terus menangis tanpa henti. Tangisan itu tak kunjung reda meski sudah dibawa ke dokter dan diberi obat penenang. Merasa tak tega lagi dan mendesak, akhirnya dia memutuskan untuk membawa cucunya langsung ke kantor polisi, satu-satunya tempat di mana ayah dan kakek anak itu berada."Mohon maaf Ibu, Nona. Ini masih terlalu pagi untuk menjenguk tahanan. Kalian bisa kembali lagi nanti pukul 10 pagi," ucap salah satu petugas polisi dengan tegas melarang mereka masuk. Matanya melirik jam dinding di ruangan itu yang masih menunjukkan angka 02.00 dini hari."Maafkan kami, Pak. Tapi ini benar-benar darurat. Anakku menangis terus semalaman, dia nggak bisa tidur, nggak mau makan, karena kangen berat sama Ayah dan Opanya. Tolong izinkan kami sebentar saja, biarkan Kai digendong mereka sebentar saja supaya dia tenang," pinta Qiara dengan nada memelas, air matanya hampir menetes melihat kondisi anaknya yang semakin lemas."Maaf sekali, Nona. Saya
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah yang begitu familiar bagi mereka berdua. Suasana halaman rumah terasa tenang dan teduh, seolah menyambut kedatangan mereka kembali."Kamu mau mampir dulu, Mai??" tanya Qiara lembut begitu dia turun dari mobil."Enggak, Mi. Aku mau langsung pulang saja," jawab Maira sambil merapikan sedikit rambutnya. "Nanti titip salam buat Oma Laura saja, ya??" pintanya dengan nada akrab yang biasa mereka gunakan."Oke." Qiara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, senyum tipis terukir di bibirnya.Dia pun tak memaksa, hanya berdiri mematung sejenak di sana, membiarkan Maira membelok mobilnya lalu meninggalkan pekarangan rumah. Hanya setelah mobil Maira benar-benar hilang dari pandangan, barulah Qiara menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah.****"Oooeee... Oooeee ....."Tangisan keras Kai memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya, bayi mungil itu menangis terus-menerus dan tak kunjung bisa tidur nyenyak sejak tadi.
"Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau
"Pak Bagas, ada yang datang menjenguk Anda." Suara tegap petugas polisi itu seketika membuyarkan lamunan panjangnya. Bagas tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Sejak pagi dia memang hanya duduk diam mematung di sudut sel yang pengap dan panas itu. Pikirannya melayang jauh, terus menerus membayangkan wajah istrinya tercinta, Qiara, yang kini entah di mana dan bagaimana keadaannya. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. "Pasti kesayanganku, Qiara? Qiara yang datang 'kan, Pak?" Nada suaranya berubah drastis, tiba-tiba penuh semangat dan berbinar. Matanya yang tadinya lesu kini terlihat hidup kembali. Tanpa menunggu jawaban pasti, kakinya sudah melangkah cepat mendekati pintu jeruji besi itu. "Betul, Pak." Petugas itu mengangguk mantap, lalu segera membuka gembok besar yang mengunci ruangan itu. Namun, baru saja Bagas hendak melangkah keluar dengan antusias, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dikunci dengan borgol besi yang dingin dan keras. "Lho, k
"Tapi kenapa harus aku?? Aku 'kan nggak kenapa-kenapa, Mai.""Lho, bukannya katanya kamu terkena ilmu hitam?" Ustad Yunus bertanya dengan raut wajah yang tampak heran."Ilmu hitam??" Qiara semakin bingung dan kali ini dia terlihat sangat terkejut serta tak percaya. "Ustad kata siapa?? Aku nggak terkena ilmu hitam sama sekali kok.""Kata Maira.""Aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk tentang Mami," sahut Maira cepat. Sebenarnya dia tak berani jujur jika ini semua ada kaitannya dengan Bagas, karena dia tahu itu sama saja dia mencari masalah besar. Bisa-bisa berbahaya nantinya bagi dirinya. "Jadi ya karena aku khawatir... Nggak ada salahnya dong kalau aku bawa Mami ke sini. Lagian diruqyah itu 'kan bagus dan membawa berkah, Mi.""Mimpi buruk gimana?""Banyak lah, Mi. Dari mulai mimpi Mami sakit, Mami jatuh. Intinya mimpi buruk."Qiara diam sejenak, tampak sedang berpikir, lalu akhirnya dia mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Tapi prosesnya kira-kira berapa lama Ustad??""Sebentar
Sebelumnya, tepat setelah menerima telepon dari Laura yang memberitahu bahwa Dylan dan Bagas di tahan polisi lalu Qiara dan Kai akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, sebuah rencana yang sudah lama dia susun bersama kakak seniornya tiba-tiba terlintas jelas di benak Maira. Sepertinya hari ini adalah waktu yang paling tepat. Apalagi saat ini Bagas tidak ada di sisi Qiara, tidak ada yang akan menghalangi atau mencurigai gerak-geriknya. Maira pun segera mengetik balasan untuk Davin: [Jadi, Kak. Ini aku baru bujukin Mamiku supaya mau ikut bersamaku. Nanti semisal aku sudah otewe berangkat, aku akan kabari Kakak.] Setelah mengirim pesan itu, dia menyimpan kembali ponselnya dengan wajah yang kembali tenang dan tersenyum manis. "Ya sudah, Mai. Aku mau mandi terus izin dulu ke Bunda, ya?" pamit Qiara lalu menggendong Kai. "Biar aku saja yang minta izin ke Oma. Mami langsung mandi saja nggak apa-apa," jawab Maira cepat, berusaha memudahkan segalanya. "Ya sudah." Qiara menganggu
(POV Qiara)“Lho, Om Bagas mana, Ayah?” tanyaku heran saat mengantar Maira sampai keluar rumah.Langkah kakiku terhenti sejenak ketika melihat Ayah duduk sendirian di teras. Padahal tadi Bunda sempat bilang kalau Ayah bersama Om Bagas di luar. Sekilas aku menoleh ke sekeliling, berharap sosok pria
"Itu namanya insting.” Dia menunjuk dahinya dengan jari telunjuk, tersenyum bangga pada dirinya sendiri. “Insting seorang pacar. Wajarlah aku tau, kan kita juga sehati. Iya, kan?”Aku mendengus pelan dalam hati. Sehati apanya sih?Aku bertanya dengan serius, tapi jawabannya justru dibungkus oleh ca
"Pi, Papi sudah pulang?" Maira yang sejak tadi duduk di kursi teras dengan perasaan tak menentu langsung berdiri begitu melihat Bagas memasuki halaman rumah. Pria itu baru saja pulang sehabis nge-gym. Tubuhnya tampak segar, kaus hitam yang melekat di badannya mempertegas postur tegap yang masih ter
“Nanti aku ceritakan pas sudah di rumah, Yah,” jawabku. Aku tidak ingin membicarakan semuanya di tempat terbuka, apalagi di hadapan banyak orang. “Ya sudah, kalau begitu kita sekarang pulang ke rumah, ya?” tawar Ayah. Tangannya melepaskan pegangan Om Bagas dari lengannya, lalu berpindah merangkul







