MasukSuasana di ruang makan itu begitu tegang hingga udara terasa berat di dada. Piring-piring porselen berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal, namun tak ada yang benar-benar menikmati keindahannya.
Suara denting sendok dan garpu terdengar pelan, diselingi tawa kaku dari keluarga Mike yang sesekali mencoba memecah suasana canggung — tapi gagal total.
Sophia duduk di samping Mike, tangan di pangkuan sambil berusaha sekuat tenaga agar senyum di bibirnya tampak alami.
Namun jantungnya berdetak terlalu cepat, membuat dadanya terasa sesak. Di seberangnya, John duduk tegak dengan kemeja hitamnya yang rapi, wajah tenang seperti biasa. Tapi matanya, matanya terus mencuri pandang ke arah Sophia.
Ia tahu, dari cara Sophia menggigit bibir bawahnya pelan, dari caranya menunduk terlalu lama ke piring, bahwa perempuan itu sedang tidak nyaman.
Dan itu membuat John resah. Ia bisa membaca kegelisahan Sophia sejelas tulisan di kertas putih.
Sementara Mike tampak santai, setidaknya di permukaan. Ia memotong daging steak di hadapannya lalu menatap John dengan senyum sopan.
“John,” katanya tiba-tiba, mencoba memecah keheningan.
Sophia menegang di tempatnya. Sendok di tangannya hampir terjatuh, tapi dia cepat menguasai diri agar Mike tidak curiga padanya.
John mendongak menatap Mike. “Ya?”
“Aku ingin bertanya sesuatu.” Mike menatapnya serius. “Kau sudah menangani Sophia selama beberapa sesi, bukan?”
John mengangguk perlahan. “Benar.”
Mike mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya terdengar lebih rendah dan penuh tekanan. “Menurutmu, apakah Sophia bisa sembuh dari traumanya itu?”
Pertanyaan itu menghantam udara seperti pisau. Suasana meja makan yang sudah kaku kini berubah menjadi dingin. Semua mata kini tertuju pada Sophia terutama sepasang mata tua di ujung meja, milik orang tua Mike.
Tatapan mereka tajam, menilai, dan menuntut. Seolah Sophia adalah proyek gagal yang perlu diperbaiki.
Sophia menunduk merasakan wajahnya jadi panas. Jari-jarinya mengepal di bawah meja. Rasanya dia ingin lenyap saja dari sana, ingin kursinya ambruk, ingin siapa pun memecah situasi ini. Tapi tidak ada yang berbicara.
John menarik napas perlahan sambil menatap Mike dengan tenang. “Setiap trauma berbeda-beda, Mike,” katanya hati-hati. “Dan proses penyembuhan bergantung pada kesiapan pasien. Dalam kasus Sophia, butuh waktu yang cukup panjang.”
Kata-kata itu meluncur pelan, tapi bermakna dalam. Sophia mengangkat pandangannya sekilas dan tatapannya bertemu dengan mata John. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu seperti pengertian, dan juga rahasia.
John tahu. Dia tahu Sophia belum memberitahu Mike bahwa dia ingin menghentikan terapi itu.
Mike mengangguk pelan dan ekspresinya berubah serius. “Aku mengerti,” katanya, lalu menatap Sophia.
“Sayang, kau dengar itu? Kau harus berusaha. Aku tahu ini sulit, tapi aku ingin kau benar-benar berkomitmen.”
Sophia memaksakan senyum kecil di bibirnya. “Ya ... aku tahu.” Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ayah Mike, Benny, pria berusia enam puluhan dengan jas rapi dan wajah tegas, ikut menimpali.
“Aku harap kau tidak menyerah, Sophia. Mike sudah berkorban banyak untuk mendampingimu. Kami semua ingin melihatmu pulih sebelum pernikahan nanti.”
Kalimat itu terdengar seperti perintah, bukan dukungan di telinga Sophia.
Sophia menunduk lebih dalam. Jemarinya menggenggam erat kain serbet di pangkuannya.
Lalu suara Shinta, ibu Mike, terdengar. Nada bicaranya manis tapi mengandung racun.
“Benar kata ayahmu, Mike,” katanya sambil meneguk wine-nya pelan.
“Kita semua ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Aku hanya khawatir,” ia menatap Sophia dengan senyum tipis, “kalau nanti kau belum benar-benar sembuh, bagaimana dengan masa depan keluarga ini? Aku tidak ingin menunggu terlalu lama untuk punya cucu.”
Suara tawa kecil mengiringi ucapannya, tapi tidak ada yang benar-benar tertawa.
Sophia menatap piringnya dengan bibir bergetar. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Shinta bayangkan.John langsung mengangkat wajahnya menatap Shinta—bibinya dengan pandangan tajam tapi sopan.
“Proses terapi bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, Bibi,” katanya dengan tenang, namun nadanya terdengar tegas. “Tekanan justru bisa memperparah kondisi pasien.”
Shinta menatapnya sejenak, lalu tersenyum seolah tak peduli. “Tentu, aku mengerti, John. Hanya saja, aku rasa setiap perempuan pasti ingin menjadi istri dan ibu yang sempurna, bukan?” Tatapannya beralih ke Sophia, seolah tengah menelanjangi rasa tidak nyamannya.
Sophia merasakan seluruh darah naik ke wajahnya. “Maaf,” bisiknya tiba-tiba, hampir tak terdengar. Ia lalu meletakkan serbet di atas meja dan berdiri pelan. “Aku ... aku perlu ke kamar kecil.”
Mike menatapnya sekilas dengan alis terangkat. “Sekarang?”
Sophia hanya mengangguk cepat tanpa berani menatap siapa pun. Ia berjalan cepat meninggalkan meja makan itu, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.
John memperhatikan punggung Sophia menjauh, tubuhnya kaku di kursi. Ia tahu perempuan itu sedang berada di ambang batas.
Suasana meja kembali hening. Mike mencoba mencairkan keadaan dengan tersenyum canggung, tapi ketegangan sudah terlanjur meresap di udara.
Shinta berbisik pada suaminya, cukup keras untuk terdengar. “Aku benar-benar tidak yakin, Mike. Gadis itu tampak terlalu rapuh. Bagaimana kalau nanti—”
“Bibi,” potong John pelan tapi jelas. “Aku harap Bibi tidak membicarakan pasienku dengan cara seperti itu. Setiap orang punya kapasitas dan cara masing-masing untuk bangkit dari trauma. Kalau Bibi berkata seperti itu, sama saja dengan meragukan kemampuanku.”
Tatapan mata Shinta bertemu dengan John. Ada sedikit keterkejutan di sana, mungkin karena tidak biasa ada orang yang berani menegurnya. Namun John tidak mundur.
Mike berdeham, mencoba menengahi. “Baiklah, baiklah. Kita di sini untuk makan malam, bukan untuk debat. Aku yakin Sophia hanya butuh waktu.”
John mengangguk kecil. “Benar. Tapi waktu itu hanya berguna kalau orang-orang di sekitarnya memberikan ruang yang aman untuk dia tumbuh.”
Kalimat itu menancap di udara seperti pisau.
Mike diam sejenak lalu menghela napas. “Aku mengerti, John. Dan aku berharap kau mau terus membantunya. Aku ingin kau bekerja sama denganku untuk membuat Sophia benar-benar sembuh. Aku hanya ingin dia kembali seperti dulu.”
John menatapnya dalam-dalam. “Kerja sama?”
“Ya. Aku tahu aku bukan terapis, tapi aku tunangannya. Aku ingin tahu apa yang harus kulakukan, apa yang harus dia hindari, agar prosesnya berjalan dengan cepat.”
John berpikir sejenak. Ia tahu niat Mike terdengar tulus, tapi ada nada memiliki dalam suaranya yang membuat John tidak nyaman.
Akhirnya dia hanya berkata pelan, “Setiap perubahan butuh kejujuran di antara semua pihak, Mike. Itu hal yang paling penting.”
Mike tersenyum kecil. “Tentu. Aku selalu jujur padanya.”
John menatap Mike lama, lalu menurunkan pandangannya ke meja. Ada jeda yang panjang dan berat sebelum akhirnya dia menegakkan tubuh, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, suaranya nyaris seperti bisikan tapi cukup jelas untuk seluruh meja mendengarnya, “sepertinya Sophia belum memberitahumu sesuatu yang terjadi di terapi kedua ini.”
Suasana meja makan seketika membeku. Mike menatap John dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu?”
Pagi itu, sinar matahari merambat lembut melalui jendela-jendela besar sebuah kapel tua yang terletak di pinggiran kota.Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tidak ada dekorasi yang megah hingga menyilaukan mata.Sesuai dengan keinginan Sophia, pernikahan itu dilangsungkan secara intim, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat terdekat yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya selama setahun terakhir.Aroma bunga melati dan mawar putih segar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang suci dan hangat.Di salah satu baris depan, Aruna, ibu John, duduk dengan sapu tangan yang tak lepas dari jemarinya.Matanya yang sembap menunjukkan betapa dalam rasa haru yang ia rasakan.Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah simbol kemenangan atas segala penderitaan yang sempat mengancam kebahagiaan putranya.Pintu kapel terbuka perlahan. Sophia muncul di ambang pintu, tampak begitu memesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang berbahan sutra le
Dua minggu telah berlalu sejak gema palu hakim mengakhiri tirani Mike di ruang sidang. Meskipun luka psikologis yang ditinggalkan belum sepenuhnya mengering, suasana di hati Sophia mulai menemukan sedikit kedamaian.Malam itu, langit tampak bersih, memamerkan hamparan gemerlap lampu kota yang menyerupai taburan berlian dari ketinggian lantai lima puluh sebuah restoran eksklusif.John sengaja memesan area privat di sudut balkon restoran, di mana embusan angin malam terasa lembut menyapu wajah, membawa aroma samar dari hidangan mewah dan bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja.Sophia tampil anggun dengan gaun satin berwarna biru gelap yang melambangkan ketenangan yang mulai ia rengkuh.Namun, di balik ketenangannya, John dapat melihat sisa-sisa kegelisahan yang masih bersembunyi di balik binar mata wanitanya.Setelah hidangan utama selesai dinikmati dalam percakapan yang ringan, suasana perlahan berubah menjadi lebih intim dan serius.John menyesap air mineralnya, lalu menatap
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu disesaki oleh atmosfer yang mencekam.Cahaya lampu neon yang memantul di atas lantai marmer seolah mempertegas ketegangan yang menggantung di udara.Sophia duduk di kursi penggugat dengan jemari yang tertaut erat, sementara di sisi lain, Mike tampak berusaha mempertahankan raut wajah angkuh, meski kegelisahan mulai terbaca dari ketukan jarinya yang tidak beraturan pada meja kayu di depannya.Hakim Ketua mengetukkan palu satu kali, menandakan sidang memasuki agenda pembuktian terakhir sebelum pembacaan putusan.Daniel, kuasa hukum Sophia yang dikenal dingin dan taktis, berdiri dari kursinya.Ia merapikan jubah hitamnya sejenak sebelum melangkah maju ke tengah ruangan dengan sebuah map tebal dan sebuah perangkat penyimpanan elektronik.“Yang Mulia Hakim, sebelum putusan dijatuhkan, pihak kami memohon izin untuk menyerahkan bukti pamungkas yang baru saja kami validasi keasliannya,” ujar Daniel dengan suara bariton yang menggema di seluruh pen
Setelah menerima kabar tentang bukti baru yang dibawa Sophia, Raka tidak bisa tenang.Raka menghela napas panjang. Selama ini, dia merasa tindakannya yang mengekang hubungan John dan Sophia adalah bentuk perlindungan.Ia melihat Sophia sebagai magnet bagi drama dan bahaya hukum. Namun, melihat kegigihan Sophia dan bagaimana John berdiri tegak di samping wanita itu, sebuah retakan mulai muncul dalam dinding prinsipnya yang keras.Rasa bersalah mulai merayap, menghantui setiap sudut hatinya yang paling dalam.Dan kini, pria itu sedang berdiri di depan pintu apartemen John dan menekan bel tanpa ragu.John menaikan alisnya begitu melihat papanya di sana. “Papa? Apa yang sedang Papa lakukan malam-malam begini di sini?” tanyanya penasaran.Raka menghela napasnya lalu masuk ke dalam tanpa menunggu perintah dari anaknya itu. “Ada terlalu banyak hal yang berputar di kepalaku, John.”Keheningan sempat menyelimuti mereka sebelum Raka akhirnya memecah suasana. “Tentang Sophia ... aku rasa, aku te
Sore itu, sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari gedung pengadilan tampak relatif lengang.Alunan musik instrumental yang lembut mengisi ruang, berpadu dengan aroma kopi yang menenangkan.Sophia duduk di salah satu meja dekat jendela, punggungnya tegak, raut wajahnya tegas tanpa sedikit pun senyum.Di hadapannya, Clara duduk dengan posisi tubuh agak membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di atas meja, menandakan kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan.Sejak awal pertemuan, suasana di antara mereka terasa kaku. Sophia tidak berniat memperpanjang percakapan yang menurutnya tidak perlu.Waktu dan energinya sudah terlalu banyak terkuras oleh persidangan, kebohongan, serta manipulasi yang silih berganti.Sophia menatap Clara lurus-lurus, lalu membuka percakapan dengan suara tenang namun dingin.“Aku tidak ingin bertele-tele,” ucapnya tegas. “Katakan langsung apa yang ingin kau bicarakan denganku.”Clara terkejut sejenak oleh ketegasan itu. Ia mengangguk kecil, menarik napas pan
Dua minggu kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri kembali dipenuhi oleh suasana tegang yang menyesakkan.Deretan kursi kayu tampak terisi hampir penuh oleh para pengunjung yang ingin menyaksikan kelanjutan perkara besar yang melibatkan Mike, Sophia, serta sejumlah nama lain yang turut terseret.Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi tidak mampu menghangatkan atmosfer dingin yang menyelimuti ruangan itu.Hakim ketua memasuki ruang sidang dengan langkah mantap, diikuti oleh dua hakim anggota. Ketukan palu menggema, menandai dimulainya persidangan lanjutan.“Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum,” ucap hakim ketua dengan suara berat dan tegas.“Agenda persidangan hari ini adalah mendengarkan pembelaan terakhir dari pihak terdakwa.”Kuasa hukum Mike berdiri dari kursinya, merapikan jas hitam yang dikenakannya. Wajahnya tampak serius, seolah telah menyiapkan strategi terakhir untuk menyelamatkan kliennya dari jerat hukum yang semakin kuat.“Yang Mulia,” ujar







