LOGINAlesco mondar-mandir di samping ranjang. Ini masih pukul enam pagi tetapi otaknya dipaksa berpikir keras. Tangannya pun sibuk mengusap-usap rambutnya sendiri.
“Aku harus apa?” Dia menggerutu
Matanya sesekali melirik Leah yang tampak begitu lemah dan pucat. Pikirannya melayang, teringat pada Valeriah. Apakah ini yang dirasakan Leah saat mengandung putri mereka dulu?
Ia tidak tahu, ia tidak pernah ada di sana untuk merawat Leah. Rasa bersalah menghantam dadanya.
Mobil hitam berhenti mulus di depan lobi hotel, supir langsung turun membukakan pintu. Valeriah melangkah masuk lebih dulu, diikuti Damian yang masih tampak linglung. Begitu pintu tertutup, keheningan langsung menyelimuti ruang kabin.Damian menoleh, matanya masih bulat penuh rasa ingin tahu. “Kak…” suaranya tertahan, seolah takut salah tanya, “Apa kau terlibat masalah dengan pria itu?”Valeriah menarik napas dalam, menahan diri agar ekspresinya tetap tenang. Ia menatap keluar jendela, lampu-lampu jalan yang berkelebat menjadi alasan untuk tidak membalas tatapan Damian.“Tidak ada,” jawabnya akhirnya, datar. “Kami hanya bertemu sekali” Ucap Valeriah bohong.Damian mengerutkan kening. “Tapi… cara dia bicara seolah kalian benar-benar pernah—”“Damian.” Suara Valeriah meninggi sedikit, membuat adiknya terdiam. Ia menoleh, menatap Damian dengan sorot tegas. &ldq
“Hallo Nona Maximoff.” Suara berat Kaelmore terdengar tepat di samping telinganya begitu ia berhenti hanya setengah langkah darinya. “Don’t you miss me?”Valeriah menoleh kaku, seolah butuh tenaga ekstra untuk sekadar menghadapi tatapan hijau itu. Jemarinya refleks meremas lebih kuat sisi gaun, mencoba menyalurkan kegugupan yang tak boleh terlihat. Di hadapannya, Kaelmore berdiri dengan postur tegap dan senyum tipis penuh percaya diri, memancarkan aura berbahaya yang selalu berhasil mengusik ketenangannya.Ia tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, tapi tetap tampak anggun di mata orang-orang yang menonton. Aura elegan yang ia pelajari bertahun-tahun dari ruang pesta seperti ini akhirnya bekerja sebagai tameng.“Mr. Roderic,” sapanya datar namun halus, nadanya cukup nyaring untuk menarik perhatian para tamu di sekitar. “Sungguh… kejutan melihat Anda di sini.”Beberapa kepala menoleh, jelas pena
Mobil melaju mulus di jalanan Washington, lampu kota memantul di kaca jendela, menambah kesan dingin namun elegan di dalam kabin. Kaelmore duduk bersandar, jemarinya mengetuk ringan di atas lutut, sorot matanya tajam sekaligus letih.Begitu tiba di sebuah hotel bintang lima, mobil berhenti sejenak di depan lobi. Deretan mobil mewah sudah menunggu giliran, menurunkan tamu-tamu yang mengenakan gaun pesta berkilauan dan setelan jas mahal.Meski ulang tahun ini milik seorang remaja, atmosfer yang tercipta jauh dari sekadar pesta anak muda. Teman-teman sekolah Kristin memang datang, tapi sebagian besar dari mereka muncul ditemani orang tua masing-masing. Para orang tua itu tidak sekadar hadir untuk merayakan, melainkan memanfaatkan kesempatan untuk berbincang, membangun jaringan, atau menjajaki kerja sama baru. Dunia mereka selalu bergerak dengan cara itu, bahkan dalam balutan pesta ulang tahun.Hugo segera turun, membuka pintu belakang dengan sikap hormat. “Ki
Lampu-lampu kristal berkilau di langit-langit aula hotel, menebarkan cahaya keemasan yang elegan. Musik lembut mengalun, bercampur dengan riuh suara tawa dan percakapan anak-anak muda yang hadir.Damian masuk dengan langkah percaya diri, meski jelas terlihat ia menahan senyum penuh kemenangan. Tangannya terlipat santai di saku celana, sementara di sisi lain berdiri Valeriah dengan gaun simple berwarna biru gelap yang jatuh anggun di tubuhnya. Rambut hitamnya tergerai, membuat wajahnya semakin mencuri perhatian.Seperti yang sudah diprediksi, begitu mereka masuk, beberapa pasang mata langsung melirik. Damian nyaris tidak bisa menahan wajah puasnya.“Lihat kan, Kak? Mereka semua melirikmu” bisiknya, bangga.Valeriah hanya mendesah, matanya menyapu ruangan dengan ekspresi setengah bosan.“Aku tak tertarik dengan berondong seperti teman-temanmu, Damian” Ungkap Valeriah“Aku juga tak berminat menjadikan mereka iparku
“Kudengar dari asistenmu kau ada di Washington. Datanglah ke ulang tahun Kristin malam ini!”Suara ibu tirinya, Kyra, terdengar renyah dari seberang telepon. Kaelmore menatap langit-langit apartemen mewahnya dengan malas, satu tangan bersandar di sofa kulit hitam, sementara kemeja putihnya masih terbuka dua kancing teratas.“Pesta ulang tahun remaja?” suaranya berat, mengandung nada bosan yang kentara. “Aku kira usiaku sudah lewat untuk menghadiri acara semacam itu.”“Dia keponakanmu, Kael.” Kyra menekankan dengan nada lembut tapi tegas. “Kristin akan senang jika kau datang. Dia selalu menanyakanmu. Kau tahu, sejak ayahnya meninggal, kau satu-satunya figur laki-laki yang bisa dia andalkan.”Kaelmore menghela napas, jemarinya menekan pangkal hidung.“Ibu selalu tahu cara membuatku tak bisa menolak, ya?”“Aku ibumu. Tentu saja.” Kyra terkekeh kecil.&ldq
“Oh, sudah selesai dengan tugas dari Papa?” tanya Valeriah begitu melihat Morgan keluar dari lorong bawah menuju koridor utama. Tempat para pengawal berkumpul untuk menentukan jadwal jaga malam mereka.Morgan menghentikan langkahnya begitu mendengar suara sang nona. Mata kecoklatan itu menatap perempuan dengan gaun tidur satin biru muda yang jatuh sempurna di tubuh rampingnya. Rambut hitamnya tergerai, sebagian menutupi wajahnya yang tengah menatap Morgan dengan sorot tenang.Tangan Morgan yang tadi baru saja melepas sarung masih terasa kaku. Ia sempat melirik Magnus yang ikut keluar bersamanya. Pengawal senior itu segera menunduk, memberi hormat sopan pada Valeriah.“Selamat malam, Nona Ria” sapa Magnus, nada suaranya hormat namun ada senyum samar yang Valeriah tangkap sekilas.Valeriah mengangkat dagu sedikit, memberi anggukan tipis sebagai balasan. Pandangannya kembali beralih pada Morgan.“Kalian sudah selesai deng
“Dimana suamiku?” Leah bertanya pada semua pelayan yang ada di rumah. Suaranya tenang, tapi tatapannya tajam dan penuh tanda tanya. Ia berdiri di tengah ruang tengah dengan tubuh tegak.Namun, semua yang ia tanya hanya menggeleng.“Saya tidak melihat Tuan sejak pag
Kenneth Arden menutup pintu kamar.Suara klik dari gagang pintu terdengar ringan, tapi menghantam seperti gendang perang di kepala Valesco. Sunyi. Lalu pekat.Ia menoleh perlahan ke arah meja, ke arah amplop hitam yang ditinggalkan ayahnya. Hitam, tebal, dan lebih mengancam dari pel
Valesco membuka matanya dengan berat. Pandangan pertamanya buram. Atap kamar yang ia kenal samar-samar melayang di atasnya, tapi dunia tampak miring—seolah otaknya belum kembali sepenuhnya dari gelap.Ia menarik napas dalam, dada terasa berat, lalu matanya perlahan menoleh ke kiri&he
"Anak pintar, buburnya sudah habis. Sekarang minum obatmu."Leah mengangkat gelas berisi air dan mengambil dua keping obat dan sebutir kapsul dari box yang baru diambilnya dari atas nakas. Dengan gerakan tenang, ia menyodorkannya pada Valesco, persis seperti merawat seorang anak kecil







