Home / Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 01. Enam Tahun Dan Satu Pengkhianatan

Share

Sentuhan Adik Sahabatku
Sentuhan Adik Sahabatku
Author: eslesta

Bab 01. Enam Tahun Dan Satu Pengkhianatan

Author: eslesta
last update Last Updated: 2025-12-10 16:40:45

Pukul sebelas malam, Jakarta masih riuh, tapi bagi Jennar semuanya terdengar seperti dengung jauh. Di dalam dirinya, suara pengkhianatan jauh lebih bising. Enam tahun bersama Daniel runtuh hanya karena satu penemuan bodoh di ponselnya— aplikasi yang menyimpan bukti bahwa ia berselingkuh dengan bosnya sendiri.

Tumit high heels-nya mengetuk lantai lobi Sapphire Pavilion. Bayangan dirinya di dinding kaca memantul mata sembab, riasan luntur, blazer kusut, dan seorang perempuan yang mencoba bertahan. Aroma lavender memenuhi lobi, menampar indra dan membuat dadanya sesak.

Lift menuju lantai sepuluh terasa terlalu sunyi. “Dasar laki-laki brengsek,” gumamnya sambil menempelkan kartu akses dengan tangan gemetar.

Begitu pintu terbuka, lorong sepi menyambutnya. Cahaya kekuningan membuat tempat itu terlihat hangat, tapi Jennar hanya merasa semakin sendirian.

Di depan pintu 101, jarinya mengetik PIN dengan susah payah. Ia mendorong pintu dengan bahu. “Lex!” panggilnya, suaranya pecah.

Apartemen Alexa menyambut dengan aroma linen dan vanilla. Jennar melepaskan heels sembarangan, lalu berjalan sempoyongan ke ruang keluarga. Ia menjatuhkan diri ke sofa, dan seluruh pertahanannya runtuh.

“ALEXAAA!” teriaknya, suaranya pecah, seolah mencerminkan hatinya yang hancur.

Tanpa menunggu sahabatnya muncul, ia menjatuhkan tubuh ke sofa abu-abu empuk—favorit Alexa. Begitu punggungnya menyentuh permukaan lembut itu, pertahanan Jennar runtuh.

Tangisnya pecah. Bukan air mata yang mengalir pelan, melainkan tangis yang hancur, lepas, dan nyaring.

“Lex lo harus tau kalau Daniel selingkuh!” jeritnya sambil memukul sandaran sofa. “Brengsek banget! Apa karena bosnya itu lebih seksi dan berani? Lebih… lebih apa, hah?!”

Rambut kusutnya jatuh menutupi wajah, bahunya berguncang hebat.

“Enam tahun, LEX!” suaranya merendah, serak. “Gue bela dia di depan keluarga! Gue— percaya dia, meskipun dia dari keluarga kacau … gue pikir dia bisa jadi lebih baik…”

Bantal terlempar, meja kecil tergeser, sofa berantakan. Kekacauan itu terasa lebih masuk akal daripada isi hatinya.

Jennar meringkuk, tubuhnya gemetar. Sekilas muncul ruang lega kecil setelah meluapkan semuanya. Ia menarik napas goyah—sampai suara pintu apartemen terbuka dari arah depan.

Jennar tidak melihatnya. Tapi bayangan tinggi mulai mendekat, berhenti di ambang ruang keluarga.

“Mbak?”

Tatapan Birru membeku saat matanya menyapu kekacauan di ruang keluarga—bantal berserakan tak beraturan, selimut kusut terseret ke sudut, meja kecil miring nyaris terjungkal.

Di tengah semua itu, seorang perempuan terdengar menangis dengan suara patah yang menusuk hati.

Birru menelan napas, ragu melangkah masuk. “Mbak Jennar?” suaranya rendah, agak serak, lembut seperti biasanya.

Jennar menyipitkan mata, berusaha fokus. Alkohol membuat dunia di sekelilingnya bergoyang, tapi wajah pria itu sangat jelas.

“Eh…” Ia berkedip lama, memiringkan kepala. “Siapa—” lalu matanya terpaku pada garis rahang Birru yang tegas, kaus hitam yang menempel di badan, dan lengan kokohnya. “Kamu… siapa? Kok ganteng banget, sih?”

Birru menghela napas pelan. “Aku Birru.” Ia menekankan kalimat terakhir, berharap Jennar tersadar. “Aku adiknya Alexa.”

Tapi respons yang datang malah tawa singkat—pecah, nyaring, lalu tercekat.

Jennar setengah bangkit dari sofa, tangannya meraba sandaran untuk menstabilkan tubuh yang masih berputar. “Kamu setan ya?”

Alis Birru sedikit bergerak, satu reaksi halus, tapi jelas ia membaca luka yang masih hangat itu.

Jennar menatapnya lama, terlalu lama. Ada sesuatu dalam diri Birru. Suatu ketenangan, ketegasan, aura maskulin yang tidak ribut tapi terasa, yang membuat Jennar terpaku. Alkohol mengambil alih logikanya.

“Kenapa kamu liatin aku begitu?” suara Birru turun lirih, nyaris bisikan.

Jennar menarik napas dalam-dalam, suaranya turun satu oktaf. “Karena kamu … tampan sekali.”

Birru buru-buru memalingkan wajah, menahan gejolak di dalam dadanya yang berdegup keras. “Mbak Jennar, kamu mabuk. Alexa mana? Apa dia ta—”

“Alexa tidur kali,” potong Jennar cepat, hampir manja. “Gak keliatan dari tadi.”

Ia bergeser, berdiri lebih tegak, jaraknya kini hanya lima langkah darinya. “Dan kamu bukan adiknya! Adiknya Alexa itu masih kecil, tahu?”

Birru menahan titik kerongkongannya yang menegang. Ada sesuatu yang tidak boleh ia respons, tapi ia merasakan tatapan Jennar seperti magnet.

“Kamu pasti mabuk, Mbak," kata Birru.

Jennar tak merespon. Ia tiba-tiba menarik blazernya, gerakan pelan, hampir seperti naluri tanpa sadar. Gadis cantik itu membuka blazer itu dari pundak membiarkannya jatuh ke sofa.

“Eh... jatuh….” ujarnya dengan senyum menggoda.

Blouse tipis warna champagne yang membalut tubuh Jennar memperlihatkan lekukan samar, tidak vulgar, tapi jelas niatnya ingin menggoda. Atau lebih tepatnya tidak ada filter dalam dirinya malam ini.

“Kamu lebih suka aku pakai baju atau enggak?” bisik Jennar, matanya berkilat penuh godaan.

Birru membeku. “Mbak Jennar.” Suaranya tegang sekarang. “Jangan begitu.”

“Kenapa?” Jennar tersenyum kecil, sedikit miring. Matanya berkaca-kaca, tapi ada bahaya tersembunyi di dalamnya. “Laki-laki bukannya suka kalau perempuan gak pakai baju?”

“Kamu nggak suka? Atau belum aku tunjukkin?”

Suara itu, nada menggoda yang lirih, patah, dan penuh luka, membuat dada Birru menegang—sesuatu yang ia lawan dengan keras.

“Kamu mabuk, Mbak.” ujar Birru sambil mundur pelan, berusaha menjaga jarak.

Jennar menatapnya dengan mata yang membesar, merah karena menahan tangis.

“Aku nggak mabuk, ya! Daniel gabolehin aku mabuk tau! Dan kamu bukan adiknya Alexa!”

Jennar mencoba menegakkan diri, sempoyongan tapi tetap melangkah mendekat. Ia berhenti hanya satu langkah di depan Birru. Wangi alkohol, parfum lembut, dan aroma vanilla dari lilin bercampur jadi satu, menusuk hidung.

“Dan kamu…” suaranya serak, hampir seperti helaan napas panjang. Jari telunjuk Jennar terulur, ringan menyentuh dada Birru yang kencang di balik kaos. Sentuhan itu seolah tak bermakna, tapi membuat Birru membeku.

“.... Punya kamu keras?” lirih Jennar, matanya sayu namun penuh intensitas.

Birru mengembuskan napas panjang, berat dan lama saat jemari itu menyentuh bidang dadanya.

Tanpa sadar, Jennar mulai melepaskan kancing blouse yang masih menempel di tubuhnya, sambil menari-nari kecil mengelilingi Birru yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

“Kamu mau bersenang-senang gak? Kata Daniel—aku gabisa disentuh...” katanya sambil bicara kacau, suaranya mengambang dan penuh godaan.

“Mau kamu buktikan, gak?”

Pemandangan itu membuat Birru susah mengendalikan napas, detak jantungnya ikut naik.

Desahan dan umpatan kasar keluar saat ia menatap tubuh Jennar yang ramping, hanya dibalut bra dan celana dalam hitam yang kontras dengan kulit mulusnya.

Gadis itu meliuk-liuk, menjamah bidang dada depan dan punggung Birru, semakin kehilangan kendali.

Hingga akhirnya Jennar meraba punggungnya dan melepaskan kaitan bra. Dalam hitungan detik, benda itu tersingkir, memperlihatkan tubuh atasnya tanpa penghalang. Kulit putih dan mulus yang mampu meluluh-lantakkan iman lelaki mana pun.

Dua bongkahan besar menggantung indah di sana, padat dan tampak belum terjamah.

“Sentuh...” bisik Jennar.

Sunyi turun di antara mereka.

Sunyi yang menggantung, berbahaya, dan membuka pintu bencana.

Namun Birru tak mengalihkan pandangannya. Tidak malam itu. Tidak pada Jennar.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 75. Akhirnya Sah!

    Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent

  • Sentuhan Adik Sahabatku   bab 74. Sebelum Akad.

    Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 73. Jelang Pernikahan.

    “Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 72. Grand Opening.

    Jam dinding baru menunjukkan pukul 09.12 ketika suara sepatu beradu cepat di lantai keramik TRIPLE BREAK BILLIARD.“Banner depan udah lurus belum? Jangan miring lagi!” seru Tommy dari balik bar sambil memasang botol-botol minuman satu per satu ke rak tertinggi.Raka, salah satu staf, berlari kecil sambil menggendong gulungan kabel tambahan, wajahnya tampak sedikit kesal karena angin yang kencang. “Udah, Bang! Tapi tadi anginnya bener-bener bikin susah,” katanya dengan nafas tersengal.Di sisi lain ruangan, Jordi berdiri goyah di atas kursi, kedua tangan sibuk merapikan balon hitam-hijau yang membingkai pintu masuk dengan bentuk melengkung. Vanya, kekasihnya, menahan kursi di bawah kaki Jordi agar tak tergelincir.“Baby, kalau aku jatuh, kamu yang pegangin ya,” celetuk Jordi sambil tersenyum nakal.Vanya mendengus pelan, matanya menatap tajam. “Turun aja kalau kamu takut.”Jordi terkekeh, menurunkan pandangan, “Enggak, aku cuma wanti-wanti aja.”Tak jauh dari mereka, Birru bergerak cep

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 71. Kabur Dari Masalah.

    Birru berdiri di lantai dua, kedua tangannya menekan pagar besi hitam berlapis doff. Matanya tak lepas menatap hiruk-pikuk lantai satu TRIPLE BREAK BILLIARD—suara gesekan bola yang saling bertubrukan, dentingan logam stik yang diuji coba, dan aroma kayu baru yang masih bercampur dengan bau cat basah memenuhi udara.Lampu gantung bergaya industrial menyala hangat, memantulkan cahayanya ke permukaan meja hijau yang mengkilap. Di atas bar, spanduk Grand Opening terbentang rapi meski banner promosi di sudut masih sedikit miring, sementara para staf sibuk mengelap gelas dan menyusun kursi.Napasnya tersendat. Sepuluh hari lagi ia akan menikah, dan besok tempat ini akan dibuka untuk umum—mimpi yang sempat terasa mustahil, apalagi setelah kejadian beberapa minggu lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Birru menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar pelan. “Semoga besok nggak ada yang meledak lagi... semoga semuanya lancar seperti yang kuharap,” gumamnya sambil menengok ke meja hijau ya

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 70. Perlawanan Alexa.

    Jennar baru saja melintas di depan ruang keluarga ketika suara ibunya menghentikan langkahnya.“Jen.”Nada itu tidak keras, tapi cukup membuatnya berhenti. Priska duduk lebih tegak di sofa, buku kecil bersampul cokelat sudah terbuka di pangkuannya.Jennar menoleh. “Ya, Ma?”“Ada waktu sebentar? Mama mau bahas persiapan nikah kamu.”Jennar menggeser tali tas selempangnya yang hampir melorot, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di ujung sofa, meletakkan tasnya pelan di samping. “Ada kok, Ma. Kenapa?”Priska menghela napas kecil, jari-jarinya merapikan halaman catatan yang dipenuhi angka dan lingkaran tinta biru.“Tadi pihak tenda sama dekorasi datang. Minta uang muka.” Ia menyebutkan angka-angka itu pelan, seolah takut membuatnya terasa berat. “Mama sudah kasih tujuh juta. Sisanya lima juta nanti setelah pesta.”Ia mendongak, mencari reaksi di wajah putrinya. “Make-up pengantin dan keluarga juga sudah Mama lunasi, dua juta. Nggak apa-apa, kan?”Jennar tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Makasih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status