/ Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 02. Godaan Yang Tak Jennar Ingat

공유

Bab 02. Godaan Yang Tak Jennar Ingat

작가: eslesta
last update 최신 업데이트: 2025-12-10 16:42:18

“Eungh...” sebuah lenguhan kecil terlepas dari bibirnya.

Pagi mulai menyelinap lewat celah jendela apartemen lantai 10. Jam digital di atas nakas menyala redup, menunjukkan pukul enam. Dari kejauhan, suara klakson kendaraan bergemuruh samar di jalan raya, tapi di dalam kamar tamu bercat putih itu, sunyi begitu pekat.

Jennar Marissa terbaring tertelungkup di ranjang queen size, selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya yang dingin. Napasnya tersengal halus.

Tubuhnya bergerak pelan, bergeser ke posisi terlentang. Keningnya berkerut, mata berat itu terbuka perlahan, matanya bergerak memandang sekeliling ruangan dengan pandangan samar, lalu mengerang pelan.

“Ini… kamar tamu di apartemen Alexa...” gumamnya serak.

Sakit kepala mendadak menebal, seolah jarum menusuk setiap sisi otaknya. Ingatannya mulai muncul samar: semalam dia mabuk.

Tubuhnya tiba-tiba menggigil, merasa sangat dingin, ia menarik selimut ke samping dengan tangan gemetar. Napasnya tercekat saat menyadari ia terbaring tanpa sehelai pakaian pun menempel.

“Jennar!” bisiknya tercekat.

Tangannya gemetar, bergerak menutupi mulut lalu menggigit kukunya. Itu kebiasaan lamanya setiap kali panik, dan sekarang paniknya jelas membuncah.

Gadis cantik itu memejamkan mata, kedua tangan meremas rambut dan memijat pelipis. Pusingnya masih berdenyut. Ingatan semalam muncul sepotong-sepotong seperti serpihan kaca.

Perlahan muncul kilasan lebih banyak, mulai dari senyumannya, tawa yang menggema, dada bidang yang menjadi sandaran saat itu hingga aroma tubuhnya.

“Kenapa.. Aku gak pakai baju..” bisiknya, ia masih bisa merasakan sentuhan hangat dari tangan yang menahan lengannya.

“Aaaargh! Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi!” ujarnya gusar sambil melirik blouse dan blazer yang teronggok di sudut lantai, kesadarannya terusik oleh sisa kenangan yang membingungkan.

Jennar mengambil napas panjang.

“Tarik napas, Jennar. Tenang dulu. Konsentrasi. Coba ingat lagi,” ia mencoba menenangkan diri sendiri, “Oke, semalam aku mabuk. Pergi ke apartemen Alexa. Dan pria tinggi itu? Gawat! Memangnya itu Birru?” Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dada berdebar tidak menentu.

Pikiran Jennar berputar liar, mencoba menyatukan potongan memori yang hilang. “Aku nggak ingat ciuman atau sesuatu yang lebih. Tapi kenapa aku nggak pakai baju?!”

Tubuhnya tiba-tiba panas oleh rasa malu yang menusuk.

Jennar mengacak rambut lebih keras, frustrasi bercampur takut. Ia meraih selimut, menariknya hingga menutup dada, lalu berusaha bangun untuk mengambil pakaiannya.

Krek.

Tiba-tiba pintu kamarnya bergerak. Sangat pelan. Jennar membeku seketika, jantungnya memukul tulang rusuk.

Di celah pintu itu muncul wajah yang sejak tadi menghantui memorinya. Rambut hitam rapi, rahang tegas, mata tajam yang entah kenapa justru membuat lututnya melemas. Selimut langsung ia tarik setinggi mungkin, hampir ke dagu.

Birru tampak santai sambil tersenyum tipis. Dan senyumnya seperti bisikan yang membuat tengkuk Jennar meremang.

Pria itu menggeser pintu sedikit lebih lebar menggunakan ujung kakinya. Kaus tipis yang melekat di dadanya menonjolkan bahu lebar yang kuat, seolah-olah sedang tanpa sadar memamerkan diri.

Jennar merasakan panas menjalar ke pipinya, jantungnya berdetak tak beraturan.

“Mbak Jennar sudah bangun?” suara Birru keluar dengan nada tenang dan lembut, seperti gelombang hangat yang menggetarkan seluruh bulu halus di tubuh Jennar.

Jennar terpaku sejenak, bibirnya kaku tak mampu berkata banyak. “Su-sudah…”

Birru hanya mengangguk pelan, ketenangannya malah membuat Jennar semakin gelisah. “Kalau begitu, aku tunggu di ruang makan. Sarapan sudah siap,” ujarnya tanpa menunggu balasan, lalu menutup pintu perlahan.

Jennar terdiam, dibiarkan sendiri dalam kekacauan perasaan yang campur aduk, antara malu, panas, dan ada sesuatu yang sulit dia pahami di dalam dadanya.

***

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah Birru terdengar menjauh, Jennar menghela napas panjang, dadanya naik turun tak beraturan. Dia langsung bangkit dari tempat tidur, selimut dijepit erat di dada seolah itu satu-satunya pelindungnya.

Saat kakinya menjejak lantai, tubuhnya masih terasa limbung, sempoyongan. Ia menggertakkan gigi, menegakkan badan dengan susah payah.

Dengan jari-jari gemetar, Jennar berlari ke sudut ruangan tempat cermin berdiri. Selimut masih dicengkeram erat di tangannya.

Dia menatap wajahnya sendiri yang tampak kusut, riasan yang belum sepenuhnya luntur menorehkan garis-garis kelelahan di pipi.

Perlahan ia menurunkan pandangan, menelisik pundak, leher, lengan, hingga punggungnya sendiri. Napasnya tertahan ketika matanya mencari-cari tanda yang bisa jadi bukti.

Tak ada bercak merah, tak ada bekas hisapan atau ciuman. Semua bersih.

“Jadi, semalam aku sama dia… gak ngapa-ngapain, kan?”

Jennar berusaha meyakinkan diri dari apa yang ia lihat. Tubuhnya benar-benar tanpa noda, seolah semua yang dia takutkan tak pernah terjadi. Tapi pertanyaan yang sama terus berputar dalam kepala, menghantui.

Kenapa dia bisa bangun dalam kondisi telanjang?

“Aku harus cari tau. Apa tadi itu benar-benar Birru, adiknya Alexa?” gumamnya pelan sambil mundur dari depan cermin.

Jennar masih ragu, ia hanya pernah sekali melihat Birru dari kejauhan, itupun beberapa tahun yang lalu. Kebetulan rumah orang tua Alexa berada di Yogyakarta, jadi wajar mereka jarang bertemu.

Sambil terus berpikir tentang kebenaran sosok pria yang semalam ia goda, tangan Jennar sibuk mengumpulkan helai-helai pakaian yang berserakan di lantai. Ia mengernyit saat mencium aroma blazernya, campuran parfum dan alkohol yang tajam.

“Gila, seberapa parah aku mabuk?” bisik Jennar, pipinya memanas hanya mengingat kemungkinan betapa kacau dirinya semalam di hadapan Birru.

Jennar buru-buru memakai kembali pakaiannya. Gadis cantik itu mengancingkan blouse dengan tangan gemetar. Celana kerjanya nyaris ia pakai terbalik. Beberapa kali ia salah memasukkan kaki karena pikirannya kacau.

Begitu selesai, ia merapikan rambut seadanya, lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menyingkirkan sisa kepala yang berdenyut karena alkohol.

Jennar menarik napas sebelum membuka pintu kamar perlahan.

Dari dapur terdengar suara gelas beradu pelan, disusul aroma biji kopi yang merayap lembut ke hidungnya.

Bibir Jennar menegang, napasnya tercekat ketika sosok Birru tampak membelakanginya, dengan tenang menuang bubuk kopi ke dalam cangkir.

Jennar ingin mundur, namun langkah itu terhenti saat Birru menoleh. Matanya yang dalam menatap Jennar tanpa suara.

“H-hai. Pagi…” sapa Jennar dengan gugup, suaranya lebih terdengar seperti ketakutan daripada sapaan biasa.

“Pagi...” jawab Birru singkat. Tubuhnya yang tinggi menjulang meraih toples berisi gula di kabinet dengan tenang.

Asap dari dua mangkuk bubur ayam di meja masih mengepul tipis, sementara aroma manis teh melati hangat menyelinap ke udara. Namun, tak satu pun dari itu mampu meredam kegelisahan di mata Jennar yang masih berdiri kaku di depan meja.

Birru menatap Jennar sambil menggenggam toples itu, matanya tak lepas menyorot wajah Jennar.

Tatapan Birru tetap terkunci, tenang dan datar tanpa sepatah kata pun, tapi ada kedalaman yang menusuk terlalu dalam untuk sekadar netral.

Jennar refleks menunduk, pipinya yang tadi mulai memanas kini semakin merah membara. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya, berusaha menenangkan detak jantung yang seakan berlomba.

Tiba-tiba, suara Birru terdengar pelan tapi jelas, “Next time…” katanya santai sambil menyendok gula, “kalau mau menggoda seseorang, pastikan kamu sadar dulu.”

Jennar terpaku, tubuhnya kaku, tengkuknya terasa panas seperti terbakar. Napasnya tersendat-sendat, sulit mencari kata-kata.

Namun, sebelum ia bisa merespon, pintu kamar utama berderit pelan.

Alexa muncul dengan rambut acak-acakan, mata setengah terbuka, masih mengenakan piyama yang kusut. Saat pandangannya jatuh pada kedua sosok itu, ia berhenti di tempat, ragu.

“Loh?! Adik? Kapan kamu sampai?” Alexa bertanya dengan suara penuh keheranan.

Matanya kini beralih ke Jennar.

“Jen, lo tidur disini semalam?”

Jennar mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Baru semalam ia menggoda habis-habisan adik sahabatnya sendiri. Adik yang terakhir kali ia lihat masih remaja kurus berkacamata, bukan pria tinggi dengan suara berat dan bahu seperti itu.

“Tidur dimana? Kan kamar tamu dipakai adik gue?”

Bersambung...

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 75. Akhirnya Sah!

    Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent

  • Sentuhan Adik Sahabatku   bab 74. Sebelum Akad.

    Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 73. Jelang Pernikahan.

    “Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 72. Grand Opening.

    Jam dinding baru menunjukkan pukul 09.12 ketika suara sepatu beradu cepat di lantai keramik TRIPLE BREAK BILLIARD.“Banner depan udah lurus belum? Jangan miring lagi!” seru Tommy dari balik bar sambil memasang botol-botol minuman satu per satu ke rak tertinggi.Raka, salah satu staf, berlari kecil sambil menggendong gulungan kabel tambahan, wajahnya tampak sedikit kesal karena angin yang kencang. “Udah, Bang! Tapi tadi anginnya bener-bener bikin susah,” katanya dengan nafas tersengal.Di sisi lain ruangan, Jordi berdiri goyah di atas kursi, kedua tangan sibuk merapikan balon hitam-hijau yang membingkai pintu masuk dengan bentuk melengkung. Vanya, kekasihnya, menahan kursi di bawah kaki Jordi agar tak tergelincir.“Baby, kalau aku jatuh, kamu yang pegangin ya,” celetuk Jordi sambil tersenyum nakal.Vanya mendengus pelan, matanya menatap tajam. “Turun aja kalau kamu takut.”Jordi terkekeh, menurunkan pandangan, “Enggak, aku cuma wanti-wanti aja.”Tak jauh dari mereka, Birru bergerak cep

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 71. Kabur Dari Masalah.

    Birru berdiri di lantai dua, kedua tangannya menekan pagar besi hitam berlapis doff. Matanya tak lepas menatap hiruk-pikuk lantai satu TRIPLE BREAK BILLIARD—suara gesekan bola yang saling bertubrukan, dentingan logam stik yang diuji coba, dan aroma kayu baru yang masih bercampur dengan bau cat basah memenuhi udara.Lampu gantung bergaya industrial menyala hangat, memantulkan cahayanya ke permukaan meja hijau yang mengkilap. Di atas bar, spanduk Grand Opening terbentang rapi meski banner promosi di sudut masih sedikit miring, sementara para staf sibuk mengelap gelas dan menyusun kursi.Napasnya tersendat. Sepuluh hari lagi ia akan menikah, dan besok tempat ini akan dibuka untuk umum—mimpi yang sempat terasa mustahil, apalagi setelah kejadian beberapa minggu lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Birru menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar pelan. “Semoga besok nggak ada yang meledak lagi... semoga semuanya lancar seperti yang kuharap,” gumamnya sambil menengok ke meja hijau ya

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 70. Perlawanan Alexa.

    Jennar baru saja melintas di depan ruang keluarga ketika suara ibunya menghentikan langkahnya.“Jen.”Nada itu tidak keras, tapi cukup membuatnya berhenti. Priska duduk lebih tegak di sofa, buku kecil bersampul cokelat sudah terbuka di pangkuannya.Jennar menoleh. “Ya, Ma?”“Ada waktu sebentar? Mama mau bahas persiapan nikah kamu.”Jennar menggeser tali tas selempangnya yang hampir melorot, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di ujung sofa, meletakkan tasnya pelan di samping. “Ada kok, Ma. Kenapa?”Priska menghela napas kecil, jari-jarinya merapikan halaman catatan yang dipenuhi angka dan lingkaran tinta biru.“Tadi pihak tenda sama dekorasi datang. Minta uang muka.” Ia menyebutkan angka-angka itu pelan, seolah takut membuatnya terasa berat. “Mama sudah kasih tujuh juta. Sisanya lima juta nanti setelah pesta.”Ia mendongak, mencari reaksi di wajah putrinya. “Make-up pengantin dan keluarga juga sudah Mama lunasi, dua juta. Nggak apa-apa, kan?”Jennar tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Makasih

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status