Home / Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 48. Menjelang Lamaran.

Share

Bab 48. Menjelang Lamaran.

Author: eslesta
last update Last Updated: 2026-01-23 13:52:28

Priska berdiri terpaku di depan kebaya brokat yang baru ia selesaikan. Meteran jahit menggantung di lehernya, ujungnya jatuh menyentuh perut. Ruang kecil belakang rumah, yang biasanya penuh tumpukan barang tak terpakai, kini berubah jadi studio menjahit darurat—aroma kain baru dan benang segar mengisi udara. Jarinya pelan-pelan menyusuri setiap jahitan; rapi dan lurus tanpa benang yang keluar jalur.

“Tangan ini... ternyata masih ingat caranya,” gumamnya pelan, suaranya hampir tertelan oleh hening ruangan. “Apa aku buka usaha sampingan, ya…”

Ia raba lagi tekstur brokat, lembut dan jatuhnya ringan di tangan. Ada kehangatan berbeda dari hasil jahitan yang dibuat dengan sabar dan cinta.

Dengan hati-hati, ia menyampirkan kebaya itu di lengannya lalu berjalan ke ruang keluarga.

Di sana, Jennar tengah bersandar santai, kedua tangan memeluk mangkuk mi rebus. Uap tipis masih mengepul, hujan di luar membuat makanan hangat terasa seperti keharusan.

“Jen,” panggil Priska dengan suara lembut, “Cob
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 50. Teror itu Dimulai.

    Jennar menatap kalender kecil di sudut mejanya. Deretan angka merah itu mengundang senyum tipis yang tanpa sadar menghiasi wajahnya. Dua bulan lagi, ia akan menikah dengan Birru. Matanya perlahan beralih ke cincin di jari manisnya—kilauan kecil yang menghangatkan hati, tapi juga membuat dadanya sesak karena mereka harus menikah tanpa restu orang tua lengkap.“Cie… congrats, Jen!”Suara itu datang tiba-tiba. Jennar mendongak. Helena sudah berdiri di depan mejanya, tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan, matanya langsung tertuju pada cincin itu.“Aku baru tahu kamu pacarnya Pak Birru,” lanjut Helena, setengah menggoda.Refleks, Jennar menyambut uluran tangan itu. “Mbak udah tahu? Dari mana?”Helena mendekat, membisik lembut, “Aku tau dari Gio.”Jennar langsung menoleh ke arah meja Gio. Lelaki itu mengangkat bahu sambil tersenyum lebar, jelas tak merasa bersalah. Jennar sempat ingin memprotes karena dia ingin semuanya tetap rapi, tenang, tersembunyi. Tapi kenyataan sudah terlanjur ter

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 49. Lamaran.

    Priska membuka pintu rumahnya perlahan. Di ambang pintu berdiri Surya—mantan suaminya. Pria yang dulu begitu ia cintai, namun diam-diam menghancurkan segalanya dengan menikah lagi. Waktu memang sudah berlalu, tapi luka itu tak pernah benar-benar sembuh.“Mas,” sapa Priska singkat. Suaranya datar, tapi dadanya terasa sesak.“Pris…” balas Surya dengan nada yang sama.Priska menggeser tubuhnya, memberi jalan. Surya melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada meja makan yang penuh hidangan. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat dan akrab, sekaligus canggung.“Udah semuanya?” tanya Surya.“Udah,” jawab Priska singkat.“Aku nggak perlu bantu, Pris?”“Enggak, Mas.”“Eh, Ayah udah datang?” suara Ghea menyela dari belakang.Surya menoleh. “Udah, Ghea. Kamu nggak bantu Mama kamu?”Ghea tersenyum, meraih tangan Surya, lalu menempelkan punggung tangan ayahnya ke dahinya dengan penuh hormat. “Udah, Yah. Semalam Ghea sama Mbak Jennar bikin backdrop, Ayah nggak l

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 48. Menjelang Lamaran.

    Priska berdiri terpaku di depan kebaya brokat yang baru ia selesaikan. Meteran jahit menggantung di lehernya, ujungnya jatuh menyentuh perut. Ruang kecil belakang rumah, yang biasanya penuh tumpukan barang tak terpakai, kini berubah jadi studio menjahit darurat—aroma kain baru dan benang segar mengisi udara. Jarinya pelan-pelan menyusuri setiap jahitan; rapi dan lurus tanpa benang yang keluar jalur.“Tangan ini... ternyata masih ingat caranya,” gumamnya pelan, suaranya hampir tertelan oleh hening ruangan. “Apa aku buka usaha sampingan, ya…”Ia raba lagi tekstur brokat, lembut dan jatuhnya ringan di tangan. Ada kehangatan berbeda dari hasil jahitan yang dibuat dengan sabar dan cinta.Dengan hati-hati, ia menyampirkan kebaya itu di lengannya lalu berjalan ke ruang keluarga.Di sana, Jennar tengah bersandar santai, kedua tangan memeluk mangkuk mi rebus. Uap tipis masih mengepul, hujan di luar membuat makanan hangat terasa seperti keharusan.“Jen,” panggil Priska dengan suara lembut, “Cob

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 47. Persiapan Lamaran.

    Jennar berdiri terpaku di depan deretan gulungan kain yang tersusun rapi, warnanya berlapis-lapis seperti palet pelangi. Ujung jarinya bergerak pelan menyusuri permukaan brokat yang berkilau di bawah lampu toko. Teksturnya lembut, dingin, dan halus, sangat berbeda dengan kain-kain murah yang biasa ia temui di kios pinggir jalan.Hari itu, ia datang bersama Priska, menyusuri lorong pasar tekstil dekat rumah. Bukan butik mewah, hanya deretan kios kain yang padat dan riuh.Dengan dana terbatas, Jennar memilih menyiapkan semuanya sendiri. Kebetulan, di tangan Priska—yang dulu pernah menjadi penjahit andalan di masa mudanya—kebaya pertunangan itu akan lahir, bukan dari mesin pabrik, tapi dari kasih seorang ibu.“Ma,” panggil Jennar lirih, matanya berbinar. “Yang itu, brokatnya bagus banget.”Ia mendekat, meraba kain itu dengan hati-hati, seolah takut merusak kilauannya. “Tuh, kan. Halus banget, Ma. Biasanya brokat kasar.”Priska ikut menyentuhnya, ujung jarinya menekan, meremas sedikit, la

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 46. Harga Sebuah Perlawanan.

    Jennar turun dari mobil Birru dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin di kulitnya. Ia melambaikan tangan sekilas saat Birru tersenyum dari balik kemudi.Tak lama mobil Birru melaju, lampu belakangnya mengecil lalu lenyap di tikungan.Jennar berdiri beberapa detik sebelum menengadah. Napasnya terembus panjang, nyaris gemetar. “Tuhan… kuatkan kami. Lancarkan semua rencana yang sedang kami pertaruhkan,” bisiknya, lirih.Jennar berjalan menuju pagar dan membukanya. Lampu teras menyala terang, terlalu kontras dengan dadanya yang terasa sesak. Ia melepaskan sepatu, menatanya rapi di rak.Begitu pintu rumah terbuka, aroma familiar menyambutnya.“Assalamualaikum…” ucap Jennar pelan sambil melangkah masuk.Di ruang keluarga, Priska duduk menghadap televisi. Cahaya layar memantul di wajahnya yang serius, mengikuti kuiz keluarga yang sedang berlangsung. Jennar mendekat, lalu menjatuhkan diri di sofa sebelah ibunya.“Seru banget, Ma,” katanya, datar.Priska menoleh cepat. “Eh, Jen. Kamu u

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 45. Masalah Mulai Berdatangan.

    Jennar mengembuskan napas panjang, kepalanya berdenyut kencang. Hidungnya tersumbat, tenggorokannya gatal. Flu datang tepat saat meja kerjanya penuh berkas yang harus selesai sebelum siang. Tangannya berhenti sejenak di atas keyboard.“Jen,” panggil Gio dari balik mejanya, suaranya menyelip di antara bunyi ketikan. “Lo pucet banget.”Jennar menoleh pelan. “Eh? Iya, kah?”Gio berdiri setengah badan, menyipitkan mata memperhatikannya lebih seksama. “Iya. Are you okay?”Jennar tersenyum tipis, senyum yang bahkan dia sendiri tidak yakin terlihat meyakinkan. “Enggak.”“Nah, tuh,” gumam Gio. “Lo sakit apa?”“Flu, sama batuk dikit,” jawab Jennar sambil menekan pelipisnya dengan dua jari. “Barusan udah minum obat. Cuma masih nggak enak aja.”Gio mengangguk, lalu mendengus kecil. “Syukurlah udah minum obat. Tapi jujur ya, lo satu-satunya partner kerja gue di ruangan ini. Kalau lo tumbang, gue sendirian dong.”Sudut bibir Jennar terangkat. “Thanks, Gio. Gue pasti kuat.”Belum sempat Jennar kemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status