Home / Fantasi / Sentuhan Ajaib Mas Yanto / Bab 06: Sentuhan Di Kamar Sang Janda

Share

Bab 06: Sentuhan Di Kamar Sang Janda

Author: Nytheria_Blue
last update publish date: 2026-07-15 17:58:26

Matahari mulai merendah ketika Yanto menyusuri jalan setapak desa. Pemuda dengan kaos oblong dan celana kain longgar itu berjalan tegap, diapit oleh Bu Ningsih dan Dewi.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan megah. "Jadi ini rumahnya?" gumam Yanto seraya memandangi bangunan di hadapannya.

Mata Yanto membelalak pelan. Untuk ukuran orang desa, rumah Bu Broto terbilang sangat mewah. Pagar besi tinggi menjulang membentengi halaman luas yang dipenuhi tanaman hias mahal.

Dewi maju mendekati pagar besi lalu menggetok-getok gembok untuk memberi tanda.

"Iya, Mas Yanto. Ini rumahnya," tutur Dewi pelan.

Tak lama, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu samping. Ia adalah Lastri, orang kepercayaan kepercayaan Bu Broto. Wanita itu berjalan menghampiri pagar dengan alis terangkat sebelah, memasang raut wajah tak ramah.

"Oh, jadi ini toh tukang pijat yang kamu ceritain?" tanya Lastri dengan pandangan menelisik Yanto dari ujung rambut hingga kaki. Tatapannya sarat akan penghinaan.

Yanto menyandarkan sarung tua peninggalan almarhum bapaknya di bahu, berdiri santai tanpa goyah oleh tatapan sinis itu.

Sebelum Yanto sempat bersuara, Lastri kembali mencecar, "Dewi, Bu Ningsih, kalian ini masih waras ora sih? Masa nyuruh orang gembel gini buat mijit Bu Broto?"

"Masa orang kaya kaya Bu Broto dipijit sama kuli panggul pasar? Nggak level, Mbak!" cibir Lastri pedas.

Jemari Yanto mengepal pelan di samping pinggangnya. Aura Gawok dalam dirinya tertantang, namun ia tetap memilih tenang dan mengontrol emosinya.

Dewi yang tak terima langsung pasang badan membela Yanto.

"Mungkin penampilan Mas Yanto kelihatan biasa saja, Mbak. Tapi Mas Yanto ini benar-benar bisa menyembuhkan penyakit orang lewat pijatan," ujar Dewi membela.

Lastri bersedekap dada, menyunggingkan senyum remeh. "Preet!"

"Sumpah Mbak, Mas Yanto ini bukan orang sembarangan. Ibu saya saja yang punya encok menahun langsung sembuh total habis dipijat Mas Yanto," seru Dewi dengan intonasi mantap.

Bu Ningsih mengangguk cepat menyetujui ucapan putrinya.

"Iya, Mbak Lastri, tolong kasih Yanto kesempatan. Yanto ini punya keahlian khusus," imbuh Bu Ningsih. Pipi janda semok itu mendadak memerah ketika teringat kembali sentuhan panas jemari Yanto di pinggulnya kemarin.

Tawa cemooh Lastri justru meledak makin kencang.

"Keahlian khusus opo? Keahlian angkat beras ta?" cerca Lastri kasar. "Lihat penampilannya, kumuh begini. Tangannya pasti kasar kaya amplas!"

"Mbak Lastri—"

"Wis-wis! Pulang sana! Aku nggak srek kalau Bu Broto dipijat sama pemuda nggak jelas kaya dia. Nggak level!" usir Lastri sambil mengibaskan tangannya mengusir.

Yanto melangkah maju satu tapak, menatap lurus mata Lastri dengan tenang namun tajam.

"Kenapa nggak dicoba dulu saja, Mbak?" tanya Yanto datar.

'Nanti kalau majikanmu ini sudah merintih ketagihan di bawah tanganku, baru kamu tahu rasa,' batin Yanto dingin.

"Nggak! Mbok pikir Bu Broto itu bahan perco—" Kalimat Lastri terputus oleh suara erangan dan batuk keras yang bergema dari dalam rumah megah itu.

"Uhuk! Uhuk! Aduuh... Kepalaku... Lastriiii, mana obatku?!"

Mendengar jeritan kesakitan juragannya, wajah Lastri seketika pucat pasi. Ia buru-buru memutar kunci dan membuka pintu pagar besi.

"A-ayo masuk! Cepetan! Sakit Bu Broto kambuh lagi!" ajak Lastri panik. "Tapi awas kamu ya, kalau sampai bikin sakit Bu Broto makin parah!"

Yanto hanya mengangguk tipis. Ia melirik Bu Ningsih dan Dewi yang bersiap menunggu di teras luar sebelum melangkah masuk mengikuti Lastri.

Lastri mengantar Yanto menuju kamar utama yang luas, harum, dan sejuk oleh pendingin udara.

Di atas ranjang ukuran king size, tampak seorang wanita matang berbaring meringkuk sambil meremas pelipisnya yang berdenyut hebat. Wajahnya yang terpoles riasan tipis tampak pucat menahan nyeri.

Yanto tertegun sejenak begitu mengamati paras wanita itu dari dekat.

'Beneran mirip banget sama Selir Raden Ayu yang ada di ingatanku!' batin Yanto terkagum.

Di usianya yang menginjak 45 tahun, Bu Broto masih memancarkan pesona wanita matang yang sangat menggoda. Pakaian daster sutra tipis yang melekat di tubuhnya memperlihatkan lekuk dada yang masih padat mengkal serta pinggul lebar yang proporsional. Kulit kuning langsatnya terasa halus bermandi keringat tipis akibat menahan sakit.

Bu Broto perlahan membuka matanya yang sayu, menatap Yanto dengan kening berkerut.

"Kamu... Yanto anaknya Pak Sugeng, kan? Yang dulu kuli di pasar?" tanya Bu Broto dengan suara parau.

"Injih, Bu Broto. Saya Yanto," balas Yanto sopan namun dengan bahu tetap tegap.

Bu Broto mendengkus sinis, meremehkan. "Bapakmu dulu memang tukang pijat desa. Tapi kamu– emangnya kamu bisa mijat?" cecar Bu Broto curiga. "Jangan-jangan kamu cuma mau nipu demi uang? Aku dengar kamu butuh uang buat bayar utang Pak Karto, kan?"

"Bu Broto, tenang dulu. Kalau emosi terus, aliran darah di kepala Ibu makin tegang dan migrainnya makin parah," tutur Yanto lembut dengan senyum menenangkan.

"Gimana bisa tenang kalau yang mijat cuma pemuda amatiran kaya kamu!" bentak Bu Broto, meski matanya terpejam menahan nyeri yang kian menusuk.

Yanto tersenyum tipis dalam hati. Karakter Bu Broto benar-benar persis seperti selir keraton di masa lalunya—sombong dan jual mahal di awal, namun akan berlutut setelah merasakan kehangatan tangannya.

"Saya jamin, setelah merasakan pijatan saya, migrain Bu Broto akan hilang dan Ibu bisa tidur nyenyak sore ini," ujar Yanto percaya diri.

Ia mendekati sisi ranjang, memandang tubuh molek di depannya.

"Boleh tidur terlentang dulu, Bu? Biar posisinya lebih rileks," pinta Yanto lembut.

Bu Broto sebenarnya enggan dipijat oleh kuli miskin seperti Yanto. Namun, rasa sakit di kepalanya yang makin tak tertahankan membuatnya tak punya pilihan lain selain menuruti kata-kata Yanto.

Wanita kaya itu merebahkan tubuhnya terlentang di atas kasur empuk, memejamkan mata erat-erat.

Yanto duduk perlahan di tepi ranjang, tepat di samping bahu Bu Broto. Aroma harum parfum mahal bercampur keringat halus dari tubuh wanita itu menyeruak memenuhi indra penciuman Yanto.

Yanto menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan energi meridian Gawok ke sepuluh jemarinya. Hawa hangat magis mulai berkumpul di telapak tangannya.

Dengan perlahan dan lembut, kedua ibu jari Yanto menempel tepat di kedua titik meridian pelipis Bu Broto.

Zzztt...

Begitu kulit hangat Yanto menyentuh kening mulusnya, sentruman energi halus langsung menjalar masuk membedah saraf-saraf kepala Bu Broto yang tegang.

Tekanan lembut jemari Yanto merayap perlahan melingkari dahi hingga ke pangkal leher, mengalirkan hawa panas yang melelehkan seluruh rasa sakit secara instan. Rasa nyeri berganti menjadi sensasi geli dan nikmat yang luar biasa yang belum pernah dirasakan Bu Broto seumur hidupnya.

Napas Bu Broto mendadak tertahan. Dadanya yang padat di balik daster sutra naik turun memburu.

"Aaaahh... Yanto!!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 100: Tidak Terima

    Mata hitam Yanto yang pekat mengunci satu pemandangan di sudut gudang: Bos kebun teh berbadan gempal itu sedang membungkuk di atas tumpukan karung, dengan tangan kasarnya yang berada dekat dengan leher dan bahu Dewi. Sementara itu, Dewi terkulai lemas di atas karung-karung teh, wajah ayunya merah padam bermandi keringat dan napasnya memburu terengah-engah akibat pengaruh obat racikan yang membakar kesadarannya."Asu kowe!" suara Yanto meluncur rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh. "Lepasin tangan kotormu dari Mbak Dewi!"Si bos kebun teh membeku seketika. Pria gempal bermandi keringat itu memutar kepalanya pelan, terperanjat melihat keberadaan sang kuli pasar. Namun, sebelum niat jahat di otaknya sempat mengintruksikan tubuhnya untuk berdiri atau melawan, Yanto sudah lebih dulu mengikis jarak bagaikan kilat.Brak!Satu ayunan kaki tegap Yanto mendarat telak di bagian tengah dada pria gempal itu. Dentuman keras terdengar saat tubuh gemuk sang bos terpental dua meter ke belaka

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 99: Bos Mau Ngapain?

    “Mbak Dewi gerah ya?” suaranya rendah. “Sini, Pak Bos bantu dinginin.”Dewi hanya mampu menatapnya dengan mata sayu. Pikirannya kosong. Yang keluar hanyalah napas pendek-pendek.Bos itu semakin mendekat. Tangannya yang besar menyentuh punggung tangan Dewi yang bersandar di karung, mengusap pelan. Lalu naik ke lengan, gerakan lambat dan hati-hati."Ahhh..."“Tenang saja… aku akan bantu kamu buat pendinginan,” bisiknya.Jari-jarinya naik ke pipi Dewi, mengusap lembut rona merah di kulitnya. Dewi mengerjap lemah, tubuhnya sedikit menegang, tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Napasnya semakin cepat.Pria itu menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh bibir Dewi yang terbuka karena terengah-engah, mengusap pelan sudutnya. "Ya ampun... Bibir kamu lembut banget, Mbak? Pasti rasanya manis banget ini. Mengalahkan gula dari tebu manapun."Usapan pria mesum itu turun ke dagu, dan akhirnya ke leher yang sudah basah keringat.“Hnn… ahh…” desah Dewi pelan saat jari-jari itu mengusap sisi lehernya.

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 98: Bukan Minuman Biasa

    "Ahh!" Dewi sedikit terperanjat ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh si kuli. Genggaman kuli itu cukup kuat hingga membuat Dewi sedikit mengaduh. "Kamu kenapa to, Wi? Ini loh cuma minuman biasa?" gertak sang bos, raut ramah buatannya seketika luntur, berganti menjadi tatapan penuh intimidasi yang mengerikan. "Cepat ambil airnya, Wi! Ojo nolak rezeki dari bosmu sendiri!" "Lepas, Pak! Lepaskan saya!" jerit Dewi histeris. Ia memutar badannya, mencoba menendang dan mengayunkan keranjang bambu di punggungnya demi membela diri. Namun, si kuli gemuk yang bersiaga di belakangnya bergerak lebih cepat. Dengan kasar, kuli itu mencengkeram kedua bahu Dewi dari belakang, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat. "Uwes, Mbak! Ojo kakehan pola!" desis si kuli seraya menarik kepala Dewi ke belakang, memaksa leher gadis itu mendongak tertekuk. Dewi memberontak liar, kakinya menendang-nendang udara. "Ka— kalian mau ngapain? Tolong! Tolooong...." Sebelum teriakan Dewi tuntas, bos kebun te

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 97: Mangsa di Depan Mata

    Suara jangkrik sore mulai bersahutan di sela-sela rimbunnya daun teh. Langit di atas perbukitan berubah jingga keemasan. Sebagian besar buruh petik teh sudah mulai merapikan keranjang bambu mereka dan berjalan menyusuri jalan setapak untuk menyetorkan hasil panen ke pos timbangan. Dewi mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju longgarnya. Keranjang di punggungnya sudah terisi penuh oleh pucuk teh muda. "Mbak Dewi, mau barengan ke pos timbangan?" sapa Yu Sum, salah satu buruh wanita paruh baya yang berjalan melintas di sampingnya. Dewi menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, mencoba menutupi gelisah yang masih menggelayuti dadanya sejak siang tadi. "Enggak dulu, Yu. Iki keranjangku sek agak kurang rapi, tak benahi sebentar. Duluan wae." "Oalah, ya wis. Ojo kemalaman yo, Mbak. Buru-buru pulang, sebentar lagi gelap," pesan Yu Sum ramah sebelum berlalu meninggalkan Dewi sendirian di area kebun bagian barat yang mulai sepi. Tanpa Dewi sadari, di balik semak-semak poho

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 96: Kecurigaan Yanto

    Sementara itu di sudut pasar desa yang riuh, siang terasa begitu menyengat. Yanto sedang berkumpul bersama para kuli panggul di balik warung kayu sederhana. Mereka duduk berderet menikmati es teh hangat untuk melepas lelah. Di tengah kebisingan pasar, salah satu kuli berbadan tegap, Mas Sapri, menghela napas panjang lalu membuka suara. “Kalian sudah dengar kabar soal bos kebun teh di perbukitan barat?” “Bos yang perutnya gendut dan berkepala botak itu?” sahut kuli lain menanggapi. “Iya, siapa lagi,” balas Mas Sapri. “Katanya dia lagi kebelet cari istri muda lagi. Sudah punya empat istri di rumah, masih kurang aja itu orang.” Yanto yang semula hanya diam menyimak sambil memegangi gelasnya, mendadak menegakkan posisi duduknya. Sorot matanya menajam. Mas Sapri melanjutkan dengan nada bersungut-sungut, “Orangnya culas banget. Suka godain gadis-gadis pengetik teh yang masih perawan. Kalau sudah naksir, dia bakal pakai segala cara kotor buat dapatin korbannya. Ada yang bilang, bulan la

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 95: Rencana Kotor

    "Hah? Istri kelima? Sampeyan serius?" “Iyo, aku serius!” Bos itu menjilat bibir bawahnya yang basah secara perlahan, memancarkan aura ketagihan. “Perempuan seperti Dewi itu tipeku banget. Masih muda, masih perawan, wajahnya manis manis lugu. Aku beneran naksir. Apalagi sikapnya yang jual mahal dan sombong itu, makin bikin penasaran. Nggak kayak gadis-gadis kampung sini yang gampang dikasih umpan.” "Coba dirayu pakai duit segepok, Bos. Pasti langsung melunak dia." Pria berparut perut buncit itu mendesis geli. "Udah pernah. Tapi tetep nggak mempan. Makanya aku jadi makin gatal pengen naklukin dia." “Tapi Yanto gimana, Pak? Jangan salah langkah..." peringat si kuli ragu. “Yanto itu urusan sepele! Sekali kibas juga beres,” potong sang bos arogan. Ia akhirnya menoleh pada bawahannya, memperlihatkan cengiran mesum yang melekat penuh kepercayaan diri. “Yang terpenting itu aku harus dapetin Dewi. Pengen banget aku ngerasain keperawanannya." Kuli itu sampai menelan ludah berat mendengar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status