ANMELDENHampir sore saat Yanto menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Broto. Pemuda dengan kaos oblong serta celana kain longgar itu berjalan ditemani Bu Ningsih dan Dewi.
"Jadi ini rumahnya?" Itulah yang terlontar dari bibir Yanto ketika tiba di tempat tujuan. Kedua matanya dibuat melotot melihat rumah Bu Broto yang memang tergolong mewah dan besar untuk ukuran orang desa. Halamannya luas lengkap dengan tanaman hias. Temboknya dibuat tinggi dengan pagar besi di bagian depan. "Iya, Mas Yanto. Ini rumahnya," balas Dewi sambil mengetuk-ketuk gembok ke pagar agar dibukakan pintu. Tak lama seorang wanita yang dikenal sebagai orang kepercayaan Bu Broto keluar, namanya Lastri. Dia menyambut ketiga orang itu dengan alis terangkat sebelah, tampak kurang suka. "Oh, jadi ini to tukang pijat yang kamu ceritain?" tanya Lastri sambil memperhatikan penampilan Yanto dari atas ke bawah. Ekspresinya tampak jijik seperti melihat kotoran. Apalagi ketika melihat penampilan Yanto yang kurang meyakinkan, dengan sarung peninggalan sang bapak yang ada di lehernya. Yanto belum sempat mengatakan sesuatu ketika Lastri kembali bersuara, "Dewi, Bu Ningsih, kalian ini waras ora sih? Masa nyuruh orang ini buat mijitin Bu Broto?" cibirnya. "Masa orang kaya seperti Bu Broto dipijit sama kuli panggul pasar. Nggak level, Mbak." Yanto diam saja, tapi tangannya mengepal erat di samping tubuh, tak terima dihina begitu. Dewi langsung maju dan membela. Gadis polos khas wanita desa itu kemudian berkata, "Mungkin penampilan Mas Yanto kelihatan biasa saja, tapi Mas Yanto ini benar-benar bisa menyembuhkan penyakit orang lewat pijatan, Mbak." Lastri melipat kedua tangannya di dada. Tidak yakin. "Preet." "Sumpah Mbak, Mas Yanto ini bukan orang sembarangan. Ibu saya aja yang punya encok menahun langsung sembuh abis dipijet Mas Yanto," katanya dengan suara yang terdengar meyakinkan. "Saya yakin, Mbak, cuma Mas Yanto yang bisa nyembuhin Bu Broto." Bu Ningsih mengangguk mantap, sepakat dengan apa yang anak gadisnya katakan. "Iya, Mbak, tolong kasih Yanto kesempatan. Yanto ini bukan tukang pijit biasa, dia itu punya keahlian khusus," imbuh janda itu dengan pipi sedikit memerah saat teringat pijatan sakti pemuda di sebelahnya. Mendengar itu Mbak Lastri justru tertawa penuh cemooh. "Keahlian khusus opo sih yang dia punya? Keahlian angkat beras ta? Lihat saja penampilannya, kumuh, nggak terawat. Sudah bisa aku pastikan kalau tangannya juga pasti kasar sekali." "Mbak—" "Wes-wes! Pulang sana! Aku nggak srek kalau Bu Broto dipijat ama pemuda nggak jelas sepertinya! Nggak level!" kata Mbak Lastri sambil mengusir ketiganya dengan tangan. "Kenapa nggak dicoba dulu aja, Mbak?" tanya Yanto pada akhirnya. Dia mencoba untuk tetap sabar meskipun sudah ngreget pengen sumpal mulut Lastri pakai sandal jepitnya yang habis nginjak tai pas OTW ke sini. 'Asem tenan.' "Nggak! Nggak!" Mbak Lastri menggelengkan kepalanya. "Mbok pikir Bu Broto itu mainan ta? Pake dicoba-coba! Aku lebih percaya tukang pijat profesional daripada—" Belum sempat Lastri selesai bicara, terdengar suara batuk yang cukup keras dari arah dalam rumah. "Uhuk! Uhuk! Aduuh... Kepalaku..." Mendengar suara kesakitan sang juragan, Lastri segera masuk ke dalam. Dan beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dengan wajah panik. "A-ayo masuk! Cepetan! Sakit Bu Broto kambuh lagi!" ajaknya sambil membuka pintu gerbang. "Tapi awas aja kamu, kalau sampai sakit Bu Broto makin parah!" Yanto mengangguk. Ia langsung masuk setelah pamit dengan Dewi dan Bu Ningsih yang standby di teras. Lastri mengantar Yanto ke kamar Bu Broto yang luas dan ber-AC. Wanita itu terlihat berbaring di ranjang dengan wajah pucat dan kesakitan. Ia tampak memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Yanto tertegun sejenak saat melihat wajahnya. 'Dia mirip banget sama selir kerajaan yang aku lihat kemarin.' Pemuda itu nyaris tak berkedip. Bagaimana tidak, selain cantik di usianya yang sudah masuk 45 tahun, Bu Broto juga punya dada montok yang masih kencang, pinggangnya lebar tapi tetap proporsional, kulitnya kuning langsat dan tampak halus efek perawatan mahal. Dia terlihat 3M di mata Yanto: matang, menawan, dan menantang. Begitu melihat Yanto, Bu Broto langsung mengerutkan keningnya. "Kamu ini Yanto anaknya Pak Sugeng, kan? Yang dulu jadi tukang pijat di pasar?" "Injih, Bu. Saya anaknya," balas Yanto sambil sedikit menunduk. Bu Broto mendengkus. "Bapakmu itu emang tukang pijit handal sama seperti Mbahmu. Mereka emang punya tangan ajaib kata orang-orang. Tapi kamu—" Ia memperhatikan Yanto dari atas sampai bawah. "Emangnya kamu bisa ta mijit? Kan bapakmu meninggal pas kamu masih kecil?" Ia memandang Yanto dengan tatapan meremehkan. "Jangan-jangan kamu mau nipu demi uang ya?" kata wanita bergincu merah itu lagi. "Aku dengar kamu jadi tukang pijat supaya bisa lunasin hutang ke Pak Karto, kan?" Mata tajamnya memicing awas pada Yanto yang berdiri beberapa langkah di depannya. "Bu Broto, tenang dulu! Kalau emosi terus nanti migren Ibu malah makin parah," ujar Yanto sambil tersenyum lembut. "TENANG! TENANG! Gimana aku bisa tenang kalau yang mijat aja masih amatiran!" omel wanita itu. "Awas aja ya kalau kamu nipu, aku akan suruh Pak Karto tambahin jumlah hutang kamu!" Yanto tersenyum kecil dalam hati. 'Wanita ini benar-benar mirip Raden Ayu, sombong dan jual mahal di awal. Tapi akhirnya luluh juga.' "Tenang saja, Bu. Saya mungkin masih amatir, tapi setelah Bu Broto merasakan pijatan saya, saya bisa jamin Bu Broto bisa tidur nyenyak setelah ini," katanya sambil tersenyum manis. Ia mendekati Bu Broto dan kembali berucap, "Boleh berbaring dulu, Bu! Biar lebih enak posisinya." Bu Broto sebenarnya enggan, tapi karena tak tahan dengan migren kronis yang ia derita, mau tak mau dia langsung patuh. Ia akhirnya tidur telungkup. Yanto mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Ia sempat menarik napas panjang dan mengembuskannya sebentar sebelum memusatkan energinya di telapak tangan. Energi Gawok mulai mengalir pelan saat ia memijat pelipis Bu Broto. "Aaahh... Yanto!!"Hampir sore saat Yanto menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Broto. Pemuda dengan kaos oblong serta celana kain longgar itu berjalan ditemani Bu Ningsih dan Dewi."Jadi ini rumahnya?" Itulah yang terlontar dari bibir Yanto ketika tiba di tempat tujuan. Kedua matanya dibuat melotot melihat rumah Bu Broto yang memang tergolong mewah dan besar untuk ukuran orang desa. Halamannya luas lengkap dengan tanaman hias. Temboknya dibuat tinggi dengan pagar besi di bagian depan."Iya, Mas Yanto. Ini rumahnya," balas Dewi sambil mengetuk-ketuk gembok ke pagar agar dibukakan pintu. Tak lama seorang wanita yang dikenal sebagai orang kepercayaan Bu Broto keluar, namanya Lastri. Dia menyambut ketiga orang itu dengan alis terangkat sebelah, tampak kurang suka."Oh, jadi ini to tukang pijat yang kamu ceritain?" tanya Lastri sambil memperhatikan penampilan Yanto dari atas ke bawah. Ekspresinya tampak jijik seperti melihat kotoran. Apalagi ketika melihat penampilan Yanto yang kurang meyakinkan, dengan s
"Ayo, Yanto! Berpikir! Pikirkan ide yang bisa membantu Bu Ningsih dan Mbak Dewi!" gumam Yanto pada dirinya sendiri.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.Di tengah kebuntuan itu, pikirannya mulai menyusuri serpihan-serpihan ingatan yang terasa asing sekaligus familiar. Memori yang bukan sepenuhnya milik raga kuli panggul ini.Perlahan, bayangan masa lalu bermunculan.Yanto menyaksikan sosok lelaki gagah berpakaian khas Istana Jawa Kuno. Kedua tangannya bergerak luwes, menelusuri tiap lekuk dan titik meridian seorang wanita bangsawan. Setiap usapan hangatnya bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan juga mengalirkan kenikmatan tiada tara.Lelaki itu adalah Sang Gawok—pewaris keahlian pijat sensual legendaris yang sangat disegani.Konon, sentuhan magisnya sanggup menaklukkan hati para selir dan putri keraton hingga mereka berlutut dan selalu mendambakan kehangatan jemarinya.Semakin dalam Yanto menyusuri lorong ingatan itu, kepingan me
Suasana pagi di desa masih diwarnai riak angin dingin yang membawa aroma tanah basah. Yanto sedang membereskan sisa pecahan gedebog pisang di halaman belakang ketika telinganya menangkap suara isak tangis dari arah dalam rumah. Suara memohon itu terdengar begitu menyayat hati."Pak, tolong jangan lakukan ini! Ugh... To—tolong beri kami waktu."Yanto menghentikan kegiatannya seketika. "Itu kan suaranya Mbak Dewi?" Pria itu menajamkan pendengarannya, memastikan jika yang barusan dia dengar benar suara tetangganya. Alisnya sampai berkerut ke dalam saking fokusnya."Mbak Dewi kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" Dipenuhi rasa penasaran bercampur gejolak protektif di dadanya, Yanto melangkah cepat menuju pintu belakang yang sedikit terbuka. Ia menyapu bekas getah pisang di tangannya pada celana pendeknya sebelum mengintip ke dalam.Di ruang tengah yang sempit, seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk dengan kemeja motif bunga-bunga sedang berdiri mengintimidasi. Wajahnya merah padam, menunju
"Iya, Yanto... Di situ... emphmm... Ke bawah dikit lagi To! Aah..." Janda berbody sintal itu semakin tidak bisa mengendalikan suaranya. Matanya setengah terpejam, menikmati sentuhan si pemuda.Yanto sebenarnya ingin menuruti keinginan Bu Ningsih, bahkan tangannya sudah berada di pangkal tulang ekor janda cantik itu. Yang artinya, jika tangannya turun sedikit lagi saja, itu berarti dia dihadapkan oleh dua pilihan: Paha bawah atau malah naik sedikit ke atas menuju bagian intimnya.Bahkan sekarang ini, gerakan tangan Yanto mulai melemah karena kurang fokus, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. 'Gimana ya rasanya anuin janda? Orang-orang di pasar bilang, janda itu lebih pro soal goyangan?'Matanya kembali memandangi pinggang sintal Bu Ningsih. Dengan proporsi badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, wanita ini jelas membuat Yanto penasaran. 'Pegang dikit aja, nggak papa kali ya?' Yanto memperhatikan ibu kandung Dewi itu sekali lagi. Suara desahan beliau, serta gerakan pa
CTAAAAR!!!Belum sempat kutukan itu selesai terucap dari bibirnya, sebuah kilatan cahaya putih benderang membelah langit dan menghantam tepat di dekat kaki Yanto. Yanto mengejang hebat, seluruh syarafnya mati rasa, dan tubuh kurusnya ambruk menghantam tanah berlumpur.Di ambang batas antara hidup dan mati, saat kesadarannya perlahan meredup, dunia di sekitar Yanto mendadak hening. Hujan dan guntur seolah melambat.Di dalam kegelapan pandangannya, lamat-lamat muncul siluet seorang pria gagah berusia sekitar 40 tahunan. Pria itu berdiri tegak dengan wibawa yang luar biasa besar, mengenakan setelan kain keraton Jawa kuno yang agung."Le, Tole, sekarang waktunya Mbah ambil alih. Orang tulus kayak kamu ndak seharusnya dihina dan dicampakkan seperti itu…"Dalam sepersekian detik, bayangan pria gagah itu meledak menjadi seberkas cahaya keemasan sebelum melesat cepat dan menghantam tepat di tengah dada Yanto. Seketika kilatan memori asing satu per satu membanjiri otaknya."Akhhhhh!!!" Tubuh Y
"Ayo To! Cepet angkat semua karung-karungnya ke dalam! Udah mau hujan ini!"Suara lantang Pak Joko menggema di sudut pasar, mengalahkan riuh rendah klakson dan tawar-menawar hari itu. Tangannya yang memegang buku catatan panjang berayun-ayun di udara, memberi isyarat kepada para kuli yang seketika bergerak panik."Iya, Pak," sahut Yanto pendek.Sudah hampir dua tahun Yanto bertahan di tempat ini, menjadi samsak amukan Pak Joko hampir setiap hari. Di antara belasan kuli panggul yang mencari sesuap nasi di pasar ini, Yanto memang yang paling mencolok dalam arti yang menyedihkan. Pria berusia 26 tahun itu memiliki proporsi tubuh yang sama sekali tidak ideal untuk pekerjaan kasar.Badannya kurus kering layaknya mie biting, dengan tulang iga yang menyembul jelas dari balik kaos oblong tipisnya yang sudah bolong-bolong. Kulitnya legam terbakar matahari, pipinya kempis karena jarang menyentuh makanan bergizi, dan rambutnya selalu acak-acakan penuh debu."Iya-iya terus dari tadi! Kerjaanmu lo







