Se connecterAina tertegun, alisnya mengernyit.
Apa maksudnya?
Pandangan Aina lalu mengikuti arah mata Rey yang tertuju pada tubuhnya. Ia baru sadar, pakaiannya masih lengkap, jaketnya masih menutupi gaun tipisnya dengan rapat. Wajahnya langsung memerah, tangannya refleks menyilang pada bagian depan jaket.
“A–aku bisa buka sendiri,” jawab Aina akhirnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Rey mengangguk pelan, tatapannya terus mengunci setiap pergerakan Aina. Jelas, itu membuat Aina merasa gugup.
Dengan pelan Aina membuka resleting jaketnya. Tangannya gemetar, sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
Rey yang mengetahui Aina sangat gugup, berkata. “Tenang Aina tidak usah terlalu gugup seperti itu.”
Aina hanya bisa menghela napasnya, dengan pelan mulai melepaskan jaket yang resletingnya sudah dibuka tadi.
Gaun berwarna hitam dengan belahan dada yang rendah, terpampang jelas di mata Rey. Menampakan tonjolan aset berharga milik Aina yang membuat sesuatu yang ada di bawahnya bangun seketika.
Dengan senyuman manis, Rey mulai berjalan mendekat.
Aina merasakan perasaannya semakin gugun. Namun, tak hanya gugup, ada pun perasaan berdebar dihatinya seiring langkah Rey yang semakin mendekat padanya.
“Rey—” panggilnya, saat jarang antara dirinya dan Rey tersisa beberapa jengkal.
Masih mempertahankan senyum manisnya, Rey mulai menyentuh lembut pipi Aina. “Kamu sangat cantik Aina.”
Aina hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, wajahnya sudah berubah sangat merah.
Sorot mata yang berbinar tampak jelas di mata Rey, dengan lembut ia mulai mengangkat dagu Aina yang menunduk. “Jangan menundukkan wajah cantikmu ini Aina.”
“Bolehkah?” ucap Rey lagi dengan ibu jari yang mulai menyentuh lembut bibir ranum Aina.
Terpesona dengan ketampanan yang dimiliki pria berkulit sawo matang itu, Aina tanpa sadar mulai menganggukan kepalanya pelan.
Mendapatkan persetujuan dari Aina, Rey tanpa berlama-lama langsung menempelkan bibirnya, lalu menggerakkannya dengan lembut dan hangat.
Aina tidak membalas, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya yang semakin berkeringat dingin.
“Nghhh… ” lenguhnya di saat Rey menggigit bibirnya dan membuat ia terpaksa membuka mulutnya.
Lenguhan Aina itu membuat Rey yang awalnya merasa kesal karena wanita yang diciumnya itu tidak kunjung membalasnya, menjadi bahagia. Dengan lihai ia mulai memasukan lidahnya untuk menyeruak masuk ke dalam mulut dan mengobrak-abrik isi mulut wanita itu dengan lidah panasnya.
Tidak hanya lidah dan bibirnya, tangan Rey juga tidak tinggal diam. Dengan jelas salah satu tangannya itu mulai nakal meremas bokong sintal Aina, yang tak lama juga langsung naik ke atas untuk meremas aset berharga sang wanita.
Aina yang memang baru kali ini mendapatkan sentuhan dari seorang pria, apalagi pria itu juga memberikan rangsangan di segala arah. Hanya bisa menahan desahannya.
“Jangan ditahan Aina. Jika kamu ingin mendesah, mendesah saja.” Ucap Rey, saat sudah melepaskan ciumannya dan menyadari bahwa dari tadi Aina terus-menerus menahan desahannya.
Mendengar ucapan pria muda itu, apalagi disaat pria itu yang selesai mengatakannya, langsung beralih mencumbu lehernya. Aina, tanpa sadar benar-benar meloloskan desahannya. “ Ahhh… Rey.”
Mendapati desahan Aina itu, Rey dengan pasti mulai menjatuhkan tubuhnya dan Aina pada ranjang yang ada di sana.
"Kamu sudah sangat siap, ya,"” ucapnya sambil menyentuh pusat sensitif Aina yang masih tertutup oleh pakaian dalam dan gaun tipisnya.
Aina hanya bisa menggigit bibirnya. “Rey…stop.”
Bukannya menghentikan apa yang dilakukannya, Rey malah terus menggerakkan jarinya, membuat Aina semakin menggeliat. Bahkan, entah sejak kapan pakaian itu sudah tidak lagi menutupi tubuh Aina. “Ini kan pertama kalinya buat kamu, jadi semua harus dilakukan dengan benar supaya kamu tidak kesakitan.”
“Mhhh… ta—pi, Rey.”
“Udah kamu tinggal nikmatin aja,” ujarnya sambil terus memainkan jarinya di tempat terlarang itu.
Aina yang terus-menerus di perlakukan seperti itu, hanya bisa mendesah keenakan. ”Eum…Ahh—Rey, Ahhh..”
Setengah jam berlalu, Rey terus memberikan sentuhan yang semakin lama semakin panas, hingga akhirnya membuat Aina mendapat pelepasan pertamanya.
“Ahhh… Rey aku sampai ...”
Rey tersenyum puas. Ekspresi Aina sepertimemberi semangat baru untuknya. Tanpa menunggu lebih lama, ia mulai melepas semua pakaian yang tersisa di tubuh Aina dan tubuhnya sendiri.
Sementara itu, Aina hanya bisa terdiam pasrah dan penasaran apa yang selanjutnya akan terjadi. Hingga akhirnya, begitu ia melihat tubuh polos Rey, matanya membulat sempurna.
"Peganglah," kata Rey singkat.
Mendengar perkataan itu, Aina hanya bisa lebih menenggelamkan wajahnya lagi pada kedua telapak tangannya.
Rey yang melihat perilaku Aina itu hanya tersenyum tipis.
Aina merasa masih begitu malu dengan semua ini. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama untuknya melihat tubuh seorang pria dan mendapat banyak serangan nikmat. Sampai taklama kemudian, Aina kembali memekik karena Rey lagi-lagi memberi serangan tak terduga.
“Ahhh, Rey…” desah Aina lagi.
Rey menundukkan kepalanya, berbisik tepat di telanga Aina, "Boleh sekarang?"
Dua hari Aina beserta suami dan anaknya berlibur di Bali berlalu dengan cepat. Selama dua hari itu, mereka selalu menikmati waktu berliburnya dengan penuh semangat.Namun, walaupun dua hari berlibur itu terasa menyenangkan. Tetapi ada sesuatu yang menyebalkan, khususnya untuk Aina. Dimana selama dua hari itu, Rey yang memang diketahui juga ada di Bali ditambah lagi menginap di hotel yang sama dengan Aina dan sekeluarga. Entah kenapa terasa selalu mendekatinya. Ditambah lagi berusaha berkomunikasi dengan Arya, walaupun satu kali pun tak pernah. Karena Aina dan Hans selalu berhasil mencegat dan mendoktrin Arya untuk tak berbicara dengan Rey dengan alasan pria itu adalah orang asing.Tak terkecuali pun pagi ini. Saat Aina, Hans dan Arya sedang menikmati makan pagi mereka di resort. Tiba-tiba saja Rey yang tampak baru selesai makan, berusaha mengajak mengobrol Arya. Namun seperti hari-hari kemarin, Aina dan Hans mencegatnya dan meminta pria itu untuk pergi secara halus karena ada Arya di
Melihat keberadaan Rey. Hans dengan cepat setelah menyadarkan dirinya sendiri dari rasa terkejut. Mulai mengajak anak beserta istrinya untuk pergi dari bandara. “Aina, ayo kita pergi sekarang!” Tanpa bantahan. Aina segera mengikuti keinginan Hans. Tampak, wanita yang sudah berumur 40-an itu segera berjalan cepat dengan menggenggam tangan putranya dengan erat.Saat Hans, Aina dan Arya pergi dari bandara. Tanpa mereka sadari, Rey yang entah sejak kapan sudah memandang mereka. Mulai bergumam pelan. “Sampai ke ujung dunia pun, aku akan kejar kamu Aina!” Kepalan tangan, tampak ia lakukan saat bergumam itu.***Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Akhirnya keluarga Hans sampai juga di hotel tempat mereka akan menginap. “Bunda! Ayah! Ayo cepetan kita simpan barang-barang di kamar. Karena setelah itu, ayo kita pergi jalan-jalan di pantai!” Dengan penuh semangat, Arya mengajak kedua orang tuanya yang sudah check-in untuk segera ke kamar mereka agar setelahnya mereka bisa cepat-cepat jala
Malam harinya, tampak di ruang makan yang besar. Hans, Aina serta Arya sedang menikmati makanan mereka dalam keheningan. Di tengah suasana keheningan itu. Hans yang sudah menyelesaikan makannya dan juga melihat Aina dan Arya pun sudah selesai, mulai membuka suara. “Aina! Arya!” Ibu dan Anak yang dipanggil itu, seketika secara bersamaan menatap Hans. Tatapan penuh tanda tanya mereka pancarkan. Hans menatap silih berganti, antara Aina dan Arya. Sorot mata serius lah yang terlihat dari tatapannya itu. “Eum… aku cuma mau bilang. Kita kan udah lama banget ga liburan, jadi gimana kalo lusa kita bertiga ke Bali.” Aina yang terkejut dengan ajakan tiba-tiba Hans, tentu saja bergegas bertanya. “Ko mendadak?”Hans menghela napas pelan. Tatapan lembut, ia perlihatkan pada istrinya, Aina. “Ya, gapapa. Aku cuma pengen aja, kita lebih banyak ngabisin waktu bersama.” Ucapnya secara serius. “Arya mau kan, pergi liburan sama Ayah dan Bunda?” Sekarang, ia juga memulai percakapan dengan Arya yang da
Mendengar kata-kata istrinya itu, Hans tentu saja terkejut. “Ko bisa?” Aina yang tak tau lagi harus menjawab apa. Hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tau istrinya tak bisa menjawab, Hans menghela napasnya kasar. “Yaudah, kita bahas hal ini besok aja. Sekarang karena udah larut malam. Lebih baik, kita istirahat aja.” Tanpa bantahan, Aina menganggukan kepalanya pelan dan setelahnya, saat sang suami berjalan menuju lantai atas. Ia mulai mengikutinya dari belakang. Saat sudah sampai di lantai atas atau lebih tepatnya di depan pintu kamar. Tiba-tiba saja Hans memanggil lagi nama istrinya. “Aina!”Aina kembali menatap Hans. Tatapan mata yang ia berikan, teramat bertanya-tanya. Hans menghela napas. Raut wajahnya tampak sangat serius dalam memandang Aina. “Aku cuma bilang, jangan pernah memikirkan masalah yang kamu hadapi sendirian! Inget ada aku di sini!” Ucapnya dengan suara yang sangat serius.Dada Aina terasa berdetak tak karuan. Rasa gugup, menyeruk masuk ke dalam hatinya. Lida
Tampak di dalam sebuah taxi. Aina dengan raut wajah yang sangat merah, menatap ke jalanan yang ramai.Di sisi lain, supir taxi yang sedang mengendarai mobil itu segera berkata. “Maaf bu, tapi ini tujuannya ke mana ya?” Ucapnya sambil melirik sekilas Aina lewat kaca.Aina yang memang tadi masuk ke dalam mobil, tanpa berpikir apapun. Hanya menghela napas kasar dan setelahnya, tanpa sadar ia mulai mengatakan alamat kosan Amel sebagai tujuannya.Satu jam lebih perjalanan yang Aina lakukan. Akhirnya mobil taxi yang membawanya sampai juga di depan kosan yang dihuni Amel.Setelah membayar ongkos serta tak lupa mengucapkan terima kasih. Aina segera keluar dari taxi dan menghampiri Amel yang berdiri tepat di depan pagar luar, karena sebelumnya sudah dikabarkan bahwa dirinya akan ke kosan wanita itu. “Mel!” panggilnya pada sahabat baiknya itu.Amel yang menyadari kedatangan Aina. Segera menghampiri sahabatnya itu. “Na, ada apa? Tumben-tumbennya lo datang kesini malam-malam? Terus kenapa juga, i
Aina yang merasa ini adalah kesempatan untuk dirinya kabur, bergegas berlari menuju lift yang tak jauh dari tempatnya.Rey yang menyadari Aina kabur, bergegas mengejar. Namun, usaha pengejarannya itu harus sia-sia. Karena Aina yang dikejar, sudah berada di dalam lift dan lift itu sudah tertutup untuk menuju lantai lobby. Tak mau menyerah, Rey memutuskan untuk mengejar Aina lewat tangga darurat dengan langkahnya yang cepat.Di sisi lain, saat Aina sudah sampai di lantai bawah. Wanita itu segera melangkahkan kakinya dengan langkah yang tergesa-gesa, entah akan kemana.Namun, di tengah langkah tergesa-gesanya itu. Entah kurang fokus atau apa. Aina tanpa sadar malah menabrak tubuh seseorang, sampai tubuh keduanya jatuh ke bawah.“Mbak gimana si, kalo lewat itu pake mata.” Ucap marah wanita yang Aina tabrak dan suaranya terasa tak asing.Dengan cepat Aina meminta maaf. “Maaf Mbak, saya…” Namun, sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya. Kata-katanya itu harus terhenti. Karena dengan jelas







