Home / Romansa / Sentuhan Berondong Sewaanku / 3. Buka Sendiri atau Dibukain?

Share

3. Buka Sendiri atau Dibukain?

Author: Sal.Sal
last update Last Updated: 2025-11-07 11:22:48

Aina menelan ludah, gugup. “Aku… aku pikir kita bisa ngobrol dulu aja mungkin biar lebih enak.”

Rey tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ia menarik napas pelan, lalu duduk di sofa yang ada di dekat ranjang, tanpa mengancingkan kembali kemeja yang telah terbuka separuh. “Oke. Kalau itu yang kamu mau.”

Aina berdeham pelan, mencoba memecah keheningan. Lalu, ia kembali duduk di ujung ranjang. Tatapannya menelusuri wajah Rey yang tampak terlalu muda untuk peran yang sedang ia jalani.

“Kalau boleh tahu, umur kamu berapa?” katanya akhirnya, suaranya pelan, tapi jujur, seolah benar-benar ingin tahu, sekaligus mengubur ketegangannya. 

Rey terdiam sejenak, lalu menatap Aina tanpa banyak ekspresi dan menjawab singkat, “Dua puluh tiga.”

Aina membelalakkan matanya terkejut. Usia itu bahkan 7 tahun lebih muda darinya.

“Kenapa kamu mau kerja begini? Bukannya itu terlalu muda buat… kerja beginian, ya?” Aina mengerjap pelan, tidak menyangka jawaban sejujur itu keluar tanpa ragu.

“Ya karena butuh uang.” Rey tersenyum tipis, lalu mengangkat bahunya pelan. Pandangannya tak sengaja menangkap sebuah cincin yang melingkar di jari manis Aina. “Kamu sendiri … kayaknya udah menikah ya?”

Aina terdiam, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Sekilas, ia menunduk, menatap jarinya sendiri dan baru sadar kalau cincin pernikahannya masih melingkar di sana. Refleks, ia menggenggam tangannya, mencoba menutupi cincin itu seolah tak ada apa-apa. Tapi gerakannya justru terlalu cepat, terlalu terlihat.

Rey memperhatikan tanpa komentar sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kamu udah nikah, tapi masih sewa aku.”

Aina terdiam makin lama, pipinya terasa panas, matanya berpaling ke arah lain.

Rey bersandar sedikit di kursinya, masih menatapnya dengan tenang. “Bukannya… kalau gitu, posisi kita jadi sama aja?” ucapnya, suaranya rendah, tapi lembut.

Aina menatap balik, bibirnya terbuka sedikit, tapi tak tahu harus menjawab apa. Di dada, rasa malu, marah, dan getir bercampur jadi satu.

“Ini karena aku punya alasan,” jawab Aina akhirnya, mencoba lebih berani.

Rey tidak langsung menanggapi. Ia hanya diam, pandangannya tetap terarah pada Aina seolah menunggu kelanjutan dari kalimat yang tadi setengah tertahan.

Aina menarik napas panjang, menunduk sebentar sebelum akhirnya bicara lagi.

“Suamiku… dia nggak pernah bisa,” ucapnya pelan. “Nggak bisa bikin aku merasa puas sebagai wanita. Bahkan… dia yang nyuruh aku sewa orang kayak kamu.”

Rey masih tidak bereaksi, hanya satu alisnya yang naik perlahan.

Aina tersenyum getir, matanya mulai berkaca. “Padahal, kami udah menikah selama lima tahun. Tapi selama itu juga dia gak pernah sekalipun nyentuh aku.”

Suasana di kamar itu mendadak hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, sementara Rey masih menatapnya, tapi kali ini dengan sorot mata yang lebih lembut.

Rey akhirnya berdehem pelan dan berkata, “Maaf, aku gak bermaksud.”

Aina menggeleng pelan dan tersenyum tipis. “Gak apa-apa kok. Aku juga udah merasa capek karena tuntutan mertuaku juga untuk segera punya anak.”

Rey menatapnya sekilas, lalu menunduk sedikit, mencoba memberi ruang.

Aina tertawa kecil, tapi suaranya serak. “Padahal mereka gak tahu, selama lima tahun ini aku bahkan gak pernah disentuh suamiku. Tapi aku yang terus disalahin, aku yang terus disuruh periksa.”

Rey diam, hanya mendengarkan. Pandangannya lembut tapi tenang, tanpa berusaha menghibur secara berlebihan.

Aina menatap kosong ke arah depan, suaranya makin pelan.

“Aku tahu ini gila… tapi aku cuma pengin ngerasa jadi wanita normal. Pengen tahu rasanya disentuh oleh pria dan juga hamil pastinya.” Ia berhenti sejenak, lalu melirik Rey. “Bahkan, aku berharap setelah berhubungan sama kamu ini, aku bisa langsung hamil.”

Rey spontan menegakkan tubuhnya, ekspresinya berubah.

“Tunggu …” katanya pelan tapi jelas, nyaris tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Tapi, aku gak bisa kalau pakai pengaman.”

Aina terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada nyaris berbisik, “Kenapa?”

Rey menatapnya lurus, tenang tapi tegas. “Selain demi keamanan, kalau sampai kamu hamil, aku nggak bisa tanggung jawab. Aku nggak mau terlibat sejauh itu.”

Aina menarik napas dalam, menunduk sejenak sebelum berkata pelan, “Gak masalah. Aku gak butuh kamu tanggung jawab kok.”

Rey mengerutkan kening, jelas tidak menyangka respons itu. “Maksud kamu?”

Aina tersenyum getir, tapi matanya tampak kosong. “Suamiku sendiri yang bilang. Kalau aku bisa hamil dari laki-laki lain, dia bakal ngakuin anak itu. Asal… aku gak minta dia buat nyentuh aku lagi.”

Kata-kata itu membuat suasana kamar mendadak terasa dingin. Rey diam beberapa saat, menatap wanita di depannya yang tampak terlalu tenang untuk sesuatu yang seaneh itu.

Akhirnya, ia menghela napas panjang dan mengangguk pelan.

“Oke,” ucap Rey datar. “Kalau itu memang keputusan kamu.”

Rey tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia berdiri perlahan, menatap Aina dengan ekspresi datar namun matanya tajam dan fokus. Kemejanya memang sudah terbuka setengah sejak tadi, dan kini ia melanjutkan membuka sisa kancingnya satu per satu sampai terbuka seluruhnya.

Gerakannya tidak terburu-buru, tapi cukup untuk membuat jantung Aina berdetak cepat.

Aina refleks menegakkan tubuh, menatapnya dengan gugup. Ia tak menyangka Rey akan langsung bertindak secepat itu.

“K-kamu mau… sekarang?” suaranya bergetar.

Rey berhenti sejenak, menatapnya sambil mengangguk pelan. “Katamu ingin hamil juga kan?”

Aina menelan ludah, matanya bergerak ke arah dada Rey yang terbuka. “T–tapi …”

“Kalau mau langsung hamil, setidaknya butuh banyak yang dikeluarkan, kan?” Rey menatap Aina dengan serius, seolah tak ada yang salah di sini. Ia melempar kemejanya pelan ke sofa. “Jadi, jangan menyia-nyiakan waktu.”

Aina kembali menelan ludah, tubuhnya kaku, tangan menggenggam tepi jaket tipis yang menutupi gaunnya.

Rey menatapnya sebentar, pandangannya menyapu dari kepala hingga kaki. Lalu suaranya terdengar rendah dan tenang, “Mau dibuka sendiri … atau aku bukain?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Akan Menerima Tawaran Anda

    Aina tentu saja merasa sangat tak percaya mendengar ucapan Rey itu. “Jangan bercanda Rey.”Rey menatap Aina lebih dalam lagi. “Aku sama sekali ga bercanda!” Jawabnya menggunakan suara yang sangat tegas.Aina yang masih tak percaya atau lebih tepatnya tak mau percaya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Rey yang tau Aina tak akan mudah menerima kata-katanya barusan. Berusaha kembali menggenggam lembut tangan Aina. Namun, Aina yang terlalu shock hanya bisa menghindari genggaman lembur tangan Rey dan melangkahkan kakinya beberapa langkah ke belakang.Mendapati penolakan itu, Rey kembali menghela napas. “Aina!” panggilnya dengan lirih.Tanpa berniat menyahut panggilan Rey, Aina hanya memperlihatkan raut wajahnya yang tajam.Rey memejamkan matanya sebentar. Lalu saat membukanya kembali, ia berkata. “Kalo kamu memang suatu saat menyesal, lebih baik—”“Cukup Rey!” Aina dengan cepat memotong ucapan Rey dengan marah.Rey yang tau Aina marah. Lagi-lagi hanya bisa menghela napasn

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Kembali Menjadi Seorang Gigolo

    Aina yang duduk kursi luar ruangan, tampak memperlihatkan raut wajah yang sangat resah sambil memegang ponsel yang ia tempelkan pada daun telinga. “Rey, angkat!” ucapnya dengan nada suara yang sangat khawatir.Disela rasa khawatir Aina. Tba-tiba saja dari kejauhan, Rey pria yang membuatnya resah selama berjam-jam muncul juga.“Rey!” Panggil Aina yang mulai berdiri dan menghampiri Rey. “Kamu dari mana? Kenapa lama banget pergi ke toilet nya? Terus kenapa juga, kamu ga angkat telepon aku?” tanyanya secara berbondong-bondong setelah sampai di hadapan Rey.Rey tak menjawab. Nampak, pria yang bertubuh tinggi itu hanya menatap Aina dengan tatapannya yang kosong.Kesal karena merasa diacuhkan, Aina segera berteriak memanggil nama kekasihnya itu. “Rey!”Rey yang tersentak akibat teriakan Aina, segera menjawab. “Ah.. iya kenapa?”Aina menghela napasnya kasar. Lalu menatap Rey dengan tatapan yang sangat kesal. “Kamu kenapa si?”Rey menggelengkan kepalanya. “Gapapa.” Bohongnya dengan ekspresi

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Saya Bisa Kasih Aina Kehidupan Seribu Kali Lipat Lebih Baik

    Rey membalikan badannya. Tampak raut wajah terkejut, terpampang jelas di wajah tampannya. “Apa maksud anda?” Hans kembali memperlihatkan senyum menyebalkannya. Tanpa mengeluarkan suara, ia mengisyaratkan Rey lewat matanya untuk kembali duduk. Mengerti atas isyarat yang digunakan Hans. Rey yang penasaran, dengan terpaksa kembali duduk di depan pria menyebalkan itu. “Jadi, bisa jelaskan apa maksud anda?” tanyanya cepat karena merasa tak sabar.Hans menatap Rey dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Maksud saya, apa kamu tau berapa tabungan yang Aina punya?” Rey menggelengkan kepalanya pelan.Mendapati gelengan kepala Rey, Hans tersenyum menyeringai. “Kalo begitu percaya pada saya, uang yang Aina punya di tabungannya itu tidak seberapa!”Tak paham mengapa Hans mengatakan hal tersebut dengan percaya diri, Rey mengernyitkan dahinya heran. “Kenapa saya harus percaya pada anda?” Seperti tak gentar, Hans sekarang menatap Rey dengan tatapan yang tajam. “Karena bagaimanapun saya suaminy

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Apa Kamu Percaya?

    Di dalam bangunan rumah sakit besar. Tampak Rey dengan wajah kusutnya, keluar dari ruangan dan bergegas berjalan menuju kursi yang tak jauh serta segera duduk di sana.Aina yang mengikuti langkah Rey dari belakang. Bergegas menyamakan langkahnya dan saat sampai, ia segera duduk di samping Rey. “Rey!” panggilnya dengan lembut sambil mengusap punggung tegap pria du sampingnya itu.Rey dengan wajah sendunya mengalihkan pandangan pada Aina. “Harusnya dari awal saat Key minta buat sekolah normal, aku ga izinin. Kalo aja aku ga izinin, mungkin aja kondisinya sekarang ga bakal parah lagi.” Ucapnya dengan putus asa.Aina menghela napas. Dengan lembut, ia menangkup kedua pipi Rey menggunakan tangannya. “ Rey denger. Itu bukan salah kamu. Aku tau pasti, kamu ngelakuin itu buat bikin Key bahagia.”“Tapi—”“Udah ga baik terus menyalahkan diri sendiri dan menyesali apa yang telah terjadi.” Aina dengan cepat memotong sanggahan Rey yang belum selesai Rey mengalihkan pandangannya ke segala arah. Tat

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Ga Bakal Paksa

    Di dalam ruangan sederhana, tampak Rey yang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang amat gusar. Disela kegusaran Rey, mata pria itu terus-terusan melirik jam dinding seperti orang yang tak tenang. “Kenapa Aina belum selesai juga bicaranya?” gumamnya yang merasa resah karena wanitanya yang sedang berbicara dengan calon mantan suaminya, sudah satu jam lebih belum selesai dan masuk juga ke dalam kontrakan mereka. “Apa aku intip aja ya?” ucapnya lagi yang mulai menghentikan langkahnya.Namun tak lama, Rey menggelengkan kepalanya tegas. “Kamu harus percaya sama Aina Rey!” tambahnya yang setelahnya kembali berjalan gusar.Di saat Rey merasa gusar menunggu Aina. Tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu dari luar dan tentunya membuat pria yang merasa gusar itu mengalihkan tatapannya. “Aina!” panggilnya denga suara yang amat terdengar senang saat mendapati orang yang masuk adalah kekasihnya.Aina yang berwajah lesu, berjalan cepat menghampiri Rey. Lalu saat sampai, tanpa aba-aba, ia bergega

  • Sentuhan Berondong Sewaanku   Aku Merasa Ga Tahan

    Hans semakin terkejut. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Bola matanya membulat sempurna. Mulutnya tak bisa ia gerakan untuk berkata. Di pikirannya sekarang hanya ada satu hal, ‘Aina tau rahasianya.’Melihat keterdiaman Hans. Aina mengartikannya sebagai pembenaran. Karena hal itu, seketika wajah lesu tampak jelas. Tatapan tajam, ia pancarkan pada pria di depannya. “Udahlah, sekarang kita ga usah lanjutun pembahasan ini dan lebih baik kamu pulang!” usirnya secara halus karena sudah sangat merasa lelah.Hans menggelengkan kepalanya tegas, sorot mata yang dalam ia perlihatkan pada istrinya. “Aku bakal pulang, kalo kamu juga ikut aku buat pulang.”Aina memperlihatkan senyum sinis di bibirnya. Tatapan tajam masih sangat jelas di matanya. “Aku ga mau!” suaranya terdengar sangat dingin dan tajam.Raut wajah Hans seketika memerah, amarah tampak jelas mulai menguasai tubuhnya. Sorot mata tak kalah tajam dari Aina, ia perlihatkan. “Kenapa? Apa itu karena kamu tau rahasia aku?” Aina menghela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status